Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Bocah laki laki tampan
"Sudah siap untuk bekerja Bu guru?” seloroh Tari ketika mereka sudah sampai di depan sekolah yang nantinya Zea akan mengajar di sana.
“Siap dong Tari…” sahut Zea dengan wajah sumringah, karena Ia akan memulai menata hidupnya lagi dengan mengajar di sekolah mahal ini.
“Nah gitu dong cantik, Ayo kita masuk” ajak Tari, Ia senang melihat Zea penuh semangat untuk memulai hidup barunya.
“Tunggu sebentar…” Zea menatap bocah laki laki yang sedang berdiri di depan pagar sekolah ditemani oleh susternya.
“Ada apa Ze?” Tari menghentikan langkah kakinya dan ikut melihat ke arah pandangan mata Zea.
“Itu Tar, bocah laki laki itu..” Zea menunjuk ke arah depan gerbang sekolah.
“Iya kau tau kalau itu anak laki laki, memangnya kamu kenal Ze?” Tari balik bertanya karena dia penasaran dengan sikap Zea
“Nggak! aku nggak kenal Tari…” Zea menggelengkan kepalanya, Ia masih menatap bocah laki laki itu yang terlihat sangat tampan dan lucu, Zea tersenyum kecil melihat anak laki laki tersebut.
“Oh aku pikir kamu kenal sama anak laki laki itu, hal yang biasa seperti itu Zea! kayak belum pernah menghadapi murid murid seperti itu, ayo Ze! kita sudah janjian dengan kepala sekolah, jangan sampai telat”
Tari kembali mengajak Zea masuk ke halaman sekolah, karena mereka akan bertemu dengan kepala sekolah.
“Ayo!...” Zea kembali sadar kalau tujuannya ke sekolah ini untuk mengajar dan sebentar lagi Zea harus menemui kepala sekolah yang ada di sini, untuk mengurus semua administrasi untuk menjadi seorang pengajar di tempat ini.
“Aku bisa pastikan pasti kedua orang tuanya tampan dan juga cantik deh Ze he he he” Tari malah membahas kedua orang tua bocah laki laki tersebut sambil terkekeh geli.
“Ha ha ha akhirnya kamu menyadari juga kalau anak laki laki tersebut sangat tampan dan lucu!” Zea tergelak kencang setelah Tari bergosip mengenai kedua orang tua anak laki laki tersebut.
“Ha ha ha, jadi kamu tertarik karena ketampanan anak tersebut Ze? atau sedang membayangkan ayah dari bocah laki laki tersebut”
goda Tari, Ia tergelak kencang ketika melihat wajah Zea yang langsung tersipu malu mendengar candaan temannya itu.
“Iya nggak dong Tar, nggak sopan tau, membayangkan suami orang” sahut Zea
“Uupss sorry Ze…tapi memang tampan aslinya ayah anak laki laki itu, lihat saja tampangnya, sangat menggemaskan! jadi pengen meluk papa anak itu ha ha ha” Tari tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan keinginannya yang sangat aneh.
“Iishh Tari! nggak boleh gitu…” tegur Zea
“Ha ha ha iya Ze, aku hanya bercanda…” balas Tari masih tertawa.
“Masih jauh nggak ya? memang beda ya sekolah anak anak orang kaya” ucap Zea sambil tersenyum tipis.
“Iya Ze, aku doakan ya semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik di sekolah ini” sahut Tari sambil menahan tawanya, karena dia masih menyimpan kelanjutan dari ucapannya barusan, yang pasti akan membuat Zea kesal padanya.
“Jangan senyum senyum kayak gitu, aku tau apa yang ada di pikiran kamu sekarang” Zea yang sudah paham dengan watak sahabatnya itu hanya bisa menegur sambil tersenyum.
“Banyak duda keren loh Ze di sini, mana tahu ada yang nyantol satu” seloroh Tari
“Nyantol sama kamu ya” balas Zea nggak mau kalah.
“Ha ha ha iya Zea, doakan ya” tanpa ragu Tari meminta doa pada sahabatnya tersebut sambil tertawa.
“Iya aku doakan kamu ketemu jodoh yang kamu inginkan secepatnya..” jawab Zea mengucapkan doa untuk Tari.
“Semoga nanti kita menikahnya bisa barengan ya Ze” ungkap Tari dengan mimik wajah yang sangat serius membuat Zea tergelak kencang.
“Kamu apaan sih Tar ha ha ha, kamu duluan aja aku masih trauma dengan pernikahan, lagian surat cerianya juga belum ada, dan satu lagi Tari, aku belum sampai satu minggu menjadi janda, kok malah bahas menikah lagi sih”
protes Zea, Ia merasa lucu dengan tingkah Tari.
“Jangan kelamaan traumanya Ze, nanti keburu datang jodoh pria tampan kaya raya atau duda kaya raya yang sangat tampan, rugi tahu Ze”
nasehat Tari, Ia mengerti dan paham dengan apa yang Zea rasakan saat ini, makanya dari tadi Tari bicara asal agar Zea terhibur.
“Iya nggak dong Tar, sebenarnya bukan trauma dengan pernikahan sih, untuk saat ini aku lebih ingin menikmati kesendirian ku dulu Tari, kalau masalah jodoh buatkan waktu yang akan menjawabnya” sahut Zea
“Pinter Bu guru cantik…gitu dong Ze! harus semangat menyongsong hidup baru, jangan biarkan Ryan memang! dia saja sekarang enak enak sama mantan kekasihnya itu, masa kamu tenggelam dalam kesedihan”
Kembali Tari mengeluarkan kata kata ajaibnya untuk menghibur Zea.
“Aku nggak akan kalah dengan keadaan ini Tari, aku hanya butuh waktu untuk menghilangkan rasa sakit karena dikhianati Ryan” ungkap Zea
“Caranya kamu mau tau nggak, agar cepat bisa melupakan Ryan?” tanya Tari
“Kalau untuk melupakan Ryan bukan hal yang sulit Tari, tapi rasa sakit karena pengkhianatan Ryan membuat aku selalu merasa marah kalau mengingatnya” ungkap Zea lagi.
“Semangat Zea…” Tari memberikan semangat pada Zea yang sekarang sedang menyembuhkan luka hatinya karena diselingkuhi oleh pria yang dicintainya.
“Semangat..” Zea mengepalkan kedua tangannya menyemangati dirinya sendiri, dan setelah itu mereka tertawa bersama.
***
Dan hari ini Zea langsung mengajar setelah menyelesaikan semua syarat dan memberikan dokumen yang dibutuhkan sekolah untuk menjadi seorang pengajar di sekolah ini.
“Ze aku tinggal ya, kamu nanti bisa pulang sendirikan?” goda Tari ketika mau pulang karena Zea langsung mengajar hari ini.
“He he he memangnya aku bocah yang nggak bisa pulang ke rumah sendiri, kamu tenang saja Tari, terima kasih ya sudah mengantarkan aku ke sekolah hari ini” jawab Zea
“Sama sama Ze, kamu hati hati ya, kalau ada apa apa hubungi aku Ze” sahut Tari, Ia sedikit cemas membayangkan Zea pulang ke apartemen sendiri nanti, karena Zea belum kenal jalan di kota ini.
“Siap cantik, kan ada taksi online..” sahut Zea, Ia menenangkan sahabatnya yang tengah khawatir padanya.
“Oke Ze, see you ya..”
“Sampai ketemu di rumah ya, nanti aku akan cerita pengalaman mengajar hari pertama di sekolah mahal ini” ucap Zea
Tari mengacungkan jempolnya setelah cipika cipiki mereka pun berpisah, Tari berjalan menuju lapangan parkir, menuju mobilnya yang terparkir di sana.
Sedangkan Zea menghampiri kepala sekolah yang sudah menunggunya, tadi Zea izin pada kepala sekolah untuk menemui Tari.
“Ayo Miss Zea kita langsung ke kelas tempat miss Zea mengajar” ajak kepala sekolah sambil tersenyum manis.
“Iya Bu…” sahut Zea dengan sopan, karena kepala sekolahnya sudah berumur mungkin sepantaran kedua mantan mertuanya Zea.
Mereka berdua melangkahkan kakinya menuju kelas yang akan menjadi tempat Zea mengajar untuk pertama kalinya di sekolah ini.
Ketika masuk ke dalam kelas, Zea terpaku melihat bocah laki laki yang tadi jadi bahan pembicaraannya dengan Tari.
“Oh anak laki laki itu ada di kelas ini” senyum manis Zea tanpa sengaja menghiasi bibirnya, hatinya merasa senang bertemu dengan bocah laki laki yang sudah menarik hatinya sejak pertama bertemu di depan sekolah tadi.