Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 ~ Perasaan Yang Terkunci
Belum sempat Felicia melanjutkan kata-katanya, Garra tiba-tiba mendorong tubuhnya dengan cukup keras. Dorongan itu membuat Felicia terhuyung mundur, nyaris terjatuh jika tidak segera menahan dirinya pada tepi meja kerja.
Brukk.
Wajahnya langsung berubah pucat karena kaget, matanya membelalak tak percaya.
"Garra!" serunya dengan suara melengking, bercampur rasa terkejut dan sedikit sakit hati.
Garra berdiri tegak dari kursinya, tatapannya kini terasa lebih dingin dan tajam dari sebelumnya, seolah ada tembok tinggi yang terbentang di antara mereka. Suaranya terdengar berat, tegas, dan tak memberi ruang untuk tawar-menawar.
"Aku sudah memperingatkanmu sejak awal," ucapnya perlahan namun setiap kata terasa menusuk. "Hubungan kita hanyalah kesepakatan kontrak kerja. Tidak ada yang lain, tidak lebih dari itu."
Ia melangkah selangkah mendekat, sorot matanya tak lagi menyisakan sedikit pun kelembutan.
"Jangan pernah berani mencampuradukkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan, apalagi bertindak seenaknya seperti ini. Batas itu sudah jelas, Felicia. Jika kau tidak bisa menghormatinya, maka kontrak ini pun bisa segera diakhiri kapan saja."
Felicia tercengang, matanya membelalak tak percaya mendengar ucapan Garra yang setegas itu. Wajahnya yang tadi masih terlihat penuh harapan dan godaan, kini seketika berubah pucat pasi. Ia mundur selangkah lagi, tangannya masih menempel di meja untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas.
"Garra, tapi..." ia mencoba membela diri, suaranya mulai terbata-bata.
Namun Garra langsung memotongnya dengan nada yang makin keras dan dingin, tak ada lagi ruang untuk berdebat.
"Keluar!" bentaknya singkat namun menusuk.
Felicia tertegun, mulutnya terbuka hendak melanjutkan kata, tapi tatapan tajam pria itu membuatnya ragu sejenak.
"Garra, tolong dengarkan aku dulu..."
"Jangan buat aku mengulangi lagi!" tegas Garra, matanya menyala penuh amarah yang tertahan. "Keluar dari ruanganku sekarang juga!"
Tanpa berbicara lagi, Felicia langsung membalikkan badan dan melangkah cepat menuju pintu dengan langkah yang terasa berat dan penuh kekesalan. Begitu sampai di ambang pintu, ia menarik gagangnya dengan kasar lalu membantingnya hingga berbunyi keras memecah keheningan ruangan.
BRAKK!
Felicia keluar dengan langkah tergesa dan penuh kekesalan, seolah setiap langkahnya ingin meluapkan amarah yang tertahan di dada. Ia benar-benar tidak menyangka Garra akan bersikap sekasar itu padanya, sampai membuatnya diperlakukan seperti orang asing yang tidak diinginkan kehadirannya.
Rasa malu dan sakit hati bercampur menjadi satu, namun segera berubah menjadi tekad yang membara di hatinya. Ia menggenggam tangannya erat, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tajam dan penuh ambisi.
"Aku tidak akan menyerah!" desisnya pelan namun penuh penekanan, cukup terdengar hanya untuk dirinya sendiri.
••
••
Di sisi lain...
"Kael, kamu memanggilku?" tanya Hezlin begitu masuk ke dalam ruangan kerja yang luas dan tenang itu.
Kael mengangkat wajahnya sebentar dari tumpukan berkas di meja, lalu mengangguk pelan dengan nada datar namun tidak terlihat marah.
"Hm, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Duduk."
Hezlin menuruti perintah itu, lalu duduk di kursi yang berada tepat di seberang meja. Ruangan itu kini hanya terisi oleh kehadiran mereka berdua, membuat suasana terasa hening dan menimbulkan sedikit rasa penasaran di hati Hezlin.
Ia menatap Kael dengan ekspresi was-was, lalu bertanya hati-hati.
"Ada apa, Kael? Apakah aku membuat kesalahan dalam pekerjaanku?"
Kael hanya diam sejenak, lalu tiba-tiba terbahak pelan melihat ekspresi cemas di wajah Hezlin.
"Kamu terlalu serius, Hezlin..." ucapnya sambil masih tersenyum tipis. "Aku tidak memarahi atau menegurmu. Aku hanya ingin mengajakmu pergi nanti malam... Apa kamu tidak keberatan?"
Hezlin mengerutkan kening sedikit, masih penasaran. "Pergi? Kemana?"
"Ke suatu tempat," jawab Kael singkat, tidak mau menjelaskan lebih dulu. "Kita berangkat setelah semua pekerjaan hari ini selesai."
Melihat nada bicaranya yang santai dan tidak ada niat buruk, Hezlin pun mengangguk pelan.
"Baiklah..."
•
•
Malam harinya...
Setelah jam kerja usai, Hezlin sudah menunggu di lobi kantor sesuai kesepakatan. Tak lama kemudian, Kael keluar menyusul.
"Ayo," ajaknya singkat sambil berjalan lebih dulu menuju mobil yang sudah terparkir di depan.
Mereka berdua masuk ke dalam kendaraan, dan Kael segera mengemudi melaju meninggalkan area perkantoran. Hezlin hanya duduk tenang di sampingnya, sesekali melirik ke luar jendela melihat pemandangan malam kota yang mulai ramai dengan lampu-lampu jalan.
"Kael... Sebenarnya kita mau ke mana?" tanyanya lagi setelah beberapa menit perjalanan, masih penasaran.
Kael hanya tersenyum tipis tanpa menoleh. "Nanti juga kamu akan tau. Percayakan saja padaku."
Hezlin tidak memaksakan diri bertanya lagi, hanya menarik napas pelan dan mencoba menikmati perjalanan itu.
Tak lama kemudian, mobil itu melambat dan berhenti di depan sebuah tempat yang cukup luas, kawasan yang ramai, penuh cahaya lampu warna-warni dan suara riuh tawa serta musik.
"Sampai," kata Kael sambil mematikan mesin.
Hezlin membuka matanya lebar, terkejut sekaligus senang melihat pemandangan di depannya. Ternyata mereka tiba di Pasar Hiburan Malam, tempat yang ramai dengan deretan lapak jajanan, pedagang pakaian, dan di bagian tengahnya terlihat jelas undaran, komidi putar, serta ayunan yang berputar diiringi alunan musik.
"Pasar Malam..." gumam Hezlin, matanya berbinar melihat suasana yang akrab dan hangat itu.
"Kenapa? Sudah lama tidak datang ke sini?" tanya Kael sambil membukakan pintu.
"Iya..." jawabnya sambil turun, tersenyum kecil.
Mereka berjalan masuk menyusuri lorong lapak, diterpa aroma sate, bakso, dan gorengan yang menggugah selera. Suara riuh orang berbicara, tawa anak-anak, dan denting musik dari arena hiburan bercampur jadi satu suasana yang sederhana, tapi terasa hidup dan menenangkan hati.
Kael berhenti sejenak di salah satu kios, lalu membelikan satu es krim rasa cokelat kesukaan Hezlin, sebelum kembali berjalan beriringan di antara keramaian.
Setelah beberapa langkah, ia menoleh perlahan.
"Hezlin... kamu masih ingat, kapan terakhir kali kita kemari?"
Hezlin menggigit bibirnya pelan, matanya menerawang jauh ke masa lalu.
"Hm... Saat itu kita baru saja pulang kuliah, dan..."
Ucapannya terputus tiba-tiba. Ia menunduk dalam, senyumnya memudar perlahan. Kenangan pahit itu langsung terlintas di benaknya. Malam itu juga, sebuah panggilan telepon masuk, memberitahunya bahwa ibunya baru saja menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.
Melihat perubahan raut wajah itu, Kael segera menepuk pundaknya lembut.
"Sudahlah... lebih baik kita nikmati malam ini saja. Bagaimana kalau kita naik yang itu?" Ia menunjuk ke arah komidi putar yang berputar perlahan diiringi alunan musik ceria.
Hezlin mengangkat wajahnya kembali, lalu mengangguk pelan setuju. "Hm, baiklah."
Keduanya pun melangkah mendekat, membayar tiket, lalu naik ke salah satu kursi yang tersedia. Begitu komidi putar mulai bergerak naik turun dan berputar perlahan, Hezlin tanpa sadar tertawa kecil, merasakan sedikit kelegaan yang menghapus sejenak beban di hatinya.
Namun di sisi lain, di dalam hati Kael terpendam satu rahasia yang tak pernah ia sampaikan. Sebenarnya malam itu bukan hanya malam di mana kabar duka datang, tepat sebelum Hezlin mengangkat telepon itu, Kael sudah berniat menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam. Sayangnya, keadaan berubah drastis, dan kata-kata itu pun terkunci rapat, tak pernah sempat terucap sampai bertahun-tahun kemudian.
Sementara itu, dari balik jendela mobil yang sedikit terbuka sesosok pria duduk diam mengamati kedua orang yang sedang asyik menikmati suasana.
"Bagaimana, Tuan? Apakah kita masuk ke sana?" tanya Ervan yang duduk di kursi kemudi, menoleh sebentar ke arah belakang.
Garra tidak menjawab segera. Matanya tetap terpaku pada satu sosok wanita yang sedang tertawa lepas di atas komidi putar. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat jelas senyum di wajah Hezlin, bahkan tawa yang terdengar begitu tulus dan ringan. Tawa yang belum pernah sekalipun ia lihat selama bertahun-tahun hidup bersama.
Hatinya terasa teriris, perasaan cemburu dan sesak menyelinap masuk tanpa diundang.
Sebenarnya, mereka sudah mengikuti mobil Hezlin sejak wanita itu keluar dari area kantor tadi. Garra hanya ingin memastikan ke mana istrinya pergi, tanpa menyangka akan menemukan pemandangan yang membuatnya semakin sadar betapa jauhnya wanita itu telah bahagia tanpanya kini.
Drrrt...
Drrrt....
•
•
❤️