"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Ditinggal
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah semua yang aku berikan, Zia?!"
Suara bariton Alfa menggelegar, memantul di dinding apartemen mewah berlantai marmer itu. Napasnya memburu. Matanya yang biasa menatap tajam penuh wibawa sebagai CEO Abraham Group, kini menyalang merah, sarat akan amarah yang tak tertahankan.
Zia melangkah mundur hingga punggungnya membentur tepian meja makan. Tangannya gemetar hebat, namun jemarinya mencengkeram erat selembar kertas berlogo Fashion Institute of Paris, sebuah mimpi yang baru saja mekar beberapa jam lalu, kini terancam layu sebelum sempat berkembang.
"Alfa, tolong dengarkan aku dulu," suara Zia bergetar, menahan tangis yang mendesak di tenggorokan.
"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
"Aku tidak bersenang-senang! Aku mau belajar, Alfa! Aku ingin menjadi desainer profesional, bukan cuma pembantu di butik yang membersihkan sisa kain!" Zia memberanikan diri menatap mata pria itu.
"Selama sepuluh tahun sejak orang tuaku meninggal, Ibu Amara yang menghidupiku. Sekarang, saat dia memberikan jalan untuk masa depanku, kenapa kamu harus menahanku?"
Alfa mencengkeram kedua bahu Zia, tidak sampai menyakiti, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakan wanita itu.
"Masa depan apa yang kamu cari di sana, hah? Apa uangku kurang? Apa apartemen ini kurang mewah? Apa fasilitas yang aku berikan tidak cukup untuk menghidupimu?!"
"Ini bukan soal uang, Alfa! Ini tentang hargadiriku, tentang impianku!"
"Impianmu adalah di sini, bersamaku!" potong Alfa tajam.
"Kamu tidak butuh gelar dari Paris untuk menjadi wanita yang pantas di sampingku. Cukup turuti apa kataku, Zia. Tetap di Jakarta, tetap di dalam jangkauanku,"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Zia mengira Alfa hanya terlalu takut kehilangannya, mengingat pria itu memiliki trauma masa kecil yang kelam, ditinggalkan oleh ibu kandungnya yang memilih pergi dengan laki-laki lain.
"Alfa... kalau kamu memang sayang padaku, tolong izinkan aku pergi," bisik Zia lirih.
"Aku berjanji akan menjaga hatiku. Aku tidak akan berpaling. Aku hanya ingin membuat Ibu Amara dan dirimu bangga,"
Tangan Alfa perlahan turun dari bahu Zia, beralih mengambil selembar kertas tiket pesawat dan surat kelulusan beasiswa yang dipegang Zia.
"Alfa? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Zia panik saat Alfa merebut kertas-kertas itu.
Alfa tidak menjawab. Dia berjalan menuju dapur, mengambil korek api gas yang tergeletak di dekat kompor.
"Alfa, jangan! Aku mohon, jangan!" Zia berlari, mencoba merebut kertas-kertas berharga itu.
Klik.
Api kecil menyala. Tanpa ragu, Alfa menyulut ujung kertas surat beasiswa dan tiket penerbangan ke Paris milik Zia. Api dengan cepat merayap, membakar tinta-tinta yang mencetak nama Zia Anastasia. Alfa melemparkan kertas yang terbakar itu ke dalam wastafel aluminium, membiarkannya menjadi abu dalam hitungan detik.
"TIDAK! ALFA!" Zia berlutut di depan wastafel, menangis histeris menatap abu hitam yang tersisa. Hancur sudah. Semua kerja kerasnya malam-malam tanpa tidur, semua sketsa yang dia gambar hingga jarinya kapalan, lenyap begitu saja.
"Kenapa kamu jahat sekali, Alfa? Kenapa?!"
Alfa berbalik, menatap Zia yang terduduk lemas di lantai dapur dengan air mata yang terus mengalir deras. Tidak ada raut penyesalan di wajah tegas sang CEO.
Dia justru berjongkok, menyamakan tingginya dengan Zia, lalu mengusap air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya yang dingin.
"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Zia," kata Alfa, suaranya kini melunak, namun justru terdengar mengerikan di telinga Zia.
"Dunia luar itu kejam. Paris itu jauh. Aku tidak bisa mengawasimu di sana. Di sini, kamu aman. Aku bisa menjamin hidupmu,"
"Tapi kamu membunuh mimpiku, Alfa..." ratap Zia, tubuhnya berguncang hebat.
"Mimpimu adalah bersamaku, melayaniku, dan menjadi milikku sepenuhnya," Alfa mengecup kening Zia dengan lembut, kontras dengan perbuatan kejam yang baru saja dia lakukan.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, Zia. Karena jika kamu melakukannya, aku bisa melakukan hal yang lebih nekat dari ini,"
Zia hanya bisa terdiam, memeluk lututnya sendiri di atas lantai yang dingin. Rasa hangat dari kecupan Alfa tidak lagi terasa seperti cinta, melainkan seperti rantai tak kasatmata yang mengikat kedua kakinya erat-erat.
***
Keesokan harinya, di kantor pusat Abraham Group, suasana tidak kalah mencekam. Pintu ruang kerja CEO terbuka kasar, menampilkan sosok pria paruh baya berwajah angkuh dengan setelan jas mahal. Azad Abraham, sang pemilik garis keturunan utama Abraham Group.
"Apa-apaan ini, Alfa?!" Azad melempar sebuah map tebal ke atas meja kerja Alfa hingga menimbulkan suara deburan yang keras.
Alfa yang sedang memeriksa laporan keuangan, bahkan tidak berkedip. Dia bersandar pada kursi kebesarannya, menatap ayahnya dengan pandangan datar.
"Ada apa, Pa? Datang tanpa mengetuk pintu, sangat tidak mencerminkan etika seorang komisaris utama,"
"Jangan bercanda dengan Papa, Alfa!" Azad menunjuk wajah putranya dengan murka.
"Mata-mata Papa melaporkan kalau kamu masih memelihara wanita miskin itu di apartemen distrik selatan! Zia, atau siapa namanya itu? Desainer tidak jelas dari butik pinggiran!"
Raut wajah Alfa langsung mengeras.
"Jaga bicaramu, Papa. Zia punya nama. Dan dia bukan peliharaan,"
"Bagi saya dia tidak lebih dari wanita oportunis yang mengincar hartamu!" Azad memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Sadar, Alfa! Kamu itu penerus Abraham Group! Silsilah keluarga kita bersih, terhormat! Kamu mau merusaknya dengan menikahi wanita miskin yang bahkan tidak jelas siapa orang tuanya? Dia itu yatim piatu, tidak punya latar belakang bisnis, hanya seorang babu jahit!"
"Cukup!" Alfa berdiri, tatapannya menghunus tajam pada Azad.
"Aku tidak peduli tentang silsilah atau latar belakangnya. Zia adalah urusanku. Papa tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa aku menghabiskan waktu,"
Azad tertawa remeh, matanya menyipit penuh ancaman.
"Ooh, begitu? Kamu merasa sudah cukup kuat karena memegang jabatan CEO saat ini? Ingat Alfa, saham terbesar Abraham Group masih ada di tangan Papa. Papa yang menempatkanmu di kursi itu, dan Papa juga yang bisa menyeretmu turun dalam sekejap!"
"Papa mengancamku?"
"Ini bukan ancaman, ini pilihan!" Azad mengeluarkan selembar foto dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja. Foto seorang wanita cantik, elegan, dengan senyum berkelas.
"Ini Helena. Putri tunggal dari Wijaya Corp. Bulan depan, kalian akan bertunangan. Hubungan bisnis kita dengan Wijaya Corp akan memperkuat posisi Abraham Group di Asia Tenggara,"
Alfa melirik foto itu dengan muak sebelum kembali menatap Papanya.
"Aku tidak akan menikahi wanita pilihanmu. Aku bukan boneka jendralmu, Pa,"
"Kalau begitu, bersiaplah angkat kaki dari perusahaan ini!" suara Azad meninggi, urat-urat di lehernya menegang.
"Papa beri kamu waktu sampai besok untuk memutuskan hubungan dengan wanita miskin itu dan menemui Helena. Jika tidak, besok malam Papa akan mengadakan rapat pemegang saham darurat untuk mencabut statusmu sebagai CEO dan Komisaris Abraham Group! Kamu akan keluar dari rumah ini tanpa membawa satu sen pun uang Abraham!"
Setelah memberikan ultimatum yang mematikan itu, Azad berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu ruangan dengan keras, meninggalkan Alfa yang kini berdiri mematung dengan kepalan tangan yang memutih.
Tekanan dari segala arah membuat kepala Alfa serasa ingin pecah. Di satu sisi dia terobsesi untuk mempertahankan Zia, di sisi lain, kekuasaan dan posisi di Abraham Group adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa punya kendali atas hidupnya agar tidak ditindas seperti saat dia kecil dulu.
Malam harinya, sebuah bar mewah di kawasan SCBD menjadi pelarian Alfa. Musik jazz mengalun pelan, namun tidak mampu menenangkan badai di kepala Alfa. Di sampingnya, Zia setia menemani.
Zia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, matanya masih sedikit sembab akibat kejadian kemarin, namun dia tidak bisa menolak ketika Alfa memintanya datang untuk menemani pertemuan dengan klien penting.
"Alfa, kamu sudah minum terlalu banyak," bisik Zia, mencoba menjauhkan gelas wiski kelima dari tangan Alfa.
Klien mereka baru saja pulang beberapa menit lalu, meninggalkan mereka berdua di ruang VIP yang remang-remang.
"Biarkan aku, Zia," racau Alfa, suaranya sudah serak akibat pengaruh alkohol. Dia menarik Zia ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
"Papa... bajingan tua itu mau memisahkanku darimu. Dia mau mengambil perusahaanku,"
Zia tertegun, hatinya mendadak diselimuti rasa bersalah. Jadi karena ini Alfa begitu stres? Karena mempertahankan dirinya di hadapan sang Papa? Rasa sakit hati akibat tiket yang dibakar kemarin mendadak sirna, digantikan oleh rasa iba yang mendalam.
"Alfa... kalau memang kehadiranku menyulitkan posisimu, mungkin kita memang harus..."
"Jangan berani-berani mengatakannya!" Alfa mendongak, menatap Zia dengan pandangan sayu namun penuh tuntutan.
"Kamu tidak boleh pergi. Jika kamu pergi, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Mamaku pergi, Papaku kejam... hanya kamu, Zia. Hanya kamu yang tersisa,"
Air mata Zia menetes melihat kerapuhan pria di depannya. Alfa yang perkasa di luar, ternyata begitu hancur di dalam.
"Aku di sini, Alfa. Aku tidak akan ke mana-mana,"
Dalam kondisi setengah sadar dan terbawa emosi yang meluap-luap, Alfa menarik tengkuk Zia, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut dan penuh keputusasaan.
Aroma alkohol berbaur dengan rasa manis dari bibir Zia. Malam itu, di dalam ruang VIP yang terkunci, benteng pertahanan keduanya runtuh sepenuhnya oleh gairah yang berbaur dengan rasa takut kehilangan.
***
Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah gorden apartemen mewah milik Alfa. Zia terbangun dengan rasa pening di kepalanya, namun senyum tipis terukir di bibirnya saat merasakan lengan kekar Alfa memeluk pinggangnya dari belakang.
Zia berbalik, menatap wajah tidur Alfa yang tampak begitu damai tanpa beban. Kejadian semalam berlalu begitu cepat, namun Zia merasa ikatan di antara mereka kini semakin kuat. Dia yakin, setelah malam ini, mereka akan bisa melewati badai apa pun bersama-sama, termasuk tentangan dari Azad.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Alfa mulai melenguh, matanya perlahan terbuka. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya dan menyadari posisi mereka di atas ranjang tanpa busana, sorot mata Alfa tidak memancarkan kehangatan sama sekali. Sebaliknya, kilatan kepanikan dan kengerian mendadak muncul di kornea matanya.
Alfa langsung bangkit berdiri, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, menjauh dari Zia seolah-olah wanita itu adalah monster yang menakutkan.
"Alfa? Ada apa?" tanya Zia bingung, ikut duduk di atas ranjang dengan raut wajah cemas.
Napas Alfa memburu, wajahnya mendadak pucat pasi. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi sambil menatap noda di atas seprai.
"Sial... sial! Kenapa bisa sampai lepas kendali begini?!"
Zia mengerutkan kening, hatinya mendadak mencos mendengar reaksi Alfa.
"Alfa, kenapa kamu berekspresi seperti itu? Kita... kita melakukannya karena kita saling mencintai, kan? Kenapa kamu seolah menyesali kejadian semalam?"
Alfa menatap Zia dengan pandangan yang membuat darah Zia mendadak berdesir dingin. Pria itu menggelengkan kepala dengan cepat, suaranya bergetar hebat saat mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak pernah Zia duga.
"Kamu tidak mengerti, Zia... Ini bencana. Kita tidak boleh melakukan ini. Aku... aku tidak boleh membuatmu hamil!"
Zia tertegun, tercengang melihat kepanikan Alfa yang terasa sangat berlebihan.
"Hamil? Tapi kalaupun aku hamil, kenapa harus disebut bencana? Kita bisa menikah, Alfa. Aku bisa melahirkan anakmu..."
"TIDAK! KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA HAMIL ANAKKU, ZIA!" teriak Alfa histeris, membuat ruangan itu seketika hening mencekam.
Zia mematung di atas ranjang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat melihat Alfa yang mondar-mandir seperti orang gila di depan lemari pakaian.
"Apa maksudmu, Alfa? Kenapa kamu begitu yakin aku tidak akan bisa hamil?" tanya Zia dengan suara yang nyaris habis.
Alfa menghentikan langkahnya, berbalik menatap Zia dengan mata merah dan senyum getir yang tampak menyedihkan.
"Karena aku sudah mematikan kemungkinan itu, Zia. Sepuluh tahun lalu, setelah Mamaku pergi... aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada anak yang lahir dari darah dagingku untuk merasakan penderitaan yang sama. Aku sudah melakukan vasektomi,"