"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 27
Cuaca di luar sel rumah sakit terlihat cerah hari ini. Namun berbanding terbalik dengan Bennedict yang ada di dalamnya. Ia semakin terlihat depresi, meringkuk di pojok ruang sel.
Tatapannya yang kosong menggambarkan isi hatinya.
Lantai sel rumah sakit yang dingin dan kesendirian kini selalu menemaninya.
Penyesalan yang mendalam masih melekat dalam hatinya. Ia selalu menangis mengingat Layla.
''Layla..." ucap Bennedict perih.
Tak lama kemudian beberapa petugas kepolisian mendekati sel di mana Bennedict dikurung.
"CEKLAK CEKLEK" bunyi pintu sel dibuka dari kuncinya.
Bennedict menoleh ke petugas dengan tatapan pasrah. Hari yang cerah itu adalah hari penentu hidupnya dan masa depannya.
Ruang sidang...
Siang itu ruang sidang terlihat sepi dan hening. Layla dan Zhao Lee duduk di bangku tamu. Sedangkan hakim duduk di tempatnya.
Beberapa saat kemudian..
Bennedict digiring petugas memasuki ruang sidang kembali. Dengan tangan dan kakinya yang masih di borgol seperti kemarin.
Layla terpaku, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya hampir menetes.
Sakit rasanya melihat Ben dalam kondisi seperti itu. Namun kali ini terlihat lebih parah dari pada sebelumnya. Banyak bekas luka lecet di tubuh Bennedict.
Layla mengerti kesulitan yang di hadapi Bennedict sekarang ini.
"Andai aku bisa di mendampingi mu, Ben," ucap Layla dalam hati.
Sidang putusan pun di buka.
Hakim mengetuk palu satu kali.
"Sidang perkara pidana atas nama terdakwa Bennedict dinyatakan dibuka. Atas pertimbangkan perlindungan terhadap korban maka sidang diadakan secara tertutup," ucap Hakim Ketua.
Seluruh ruangan kembali hening.
Hakim membuka berkas putusan yang tebal, lalu mulai membacakan.
Hakim : "Majelis Hakim telah mempertimbangkan seluruh alat bukti, keterangan para saksi, keterangan terdakwa, hasil visum, serta barang bukti yang diajukan selama persidangan."
Hakim : "Majelis juga mempertimbangkan bahwa terdakwa mengakui tindakan yang terekam dalam rekaman kamera pengawas, namun menyatakan tidak mengingat peristiwa tersebut. Akan tetapi, dalil tersebut tidak didukung alat bukti yang cukup untuk mengesampingkan pertanggungjawaban pidana."
Hakim berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Hakim : "Oleh karena itu, Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Penuntut Umum."
Ruangan kembali sunyi.
Hakim : "Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Bennedict berupa pidana penjara selama sepuluh tahun,"
Layla menutup mulutnya menahan tangis.
Bennedict hanya memejamkan mata.
"Apakah terdakwa mengerti putusan yang telah dibacakan?" tanya Hakim Ketua.
Bennedict mengangguk pelan.
"Saya mengerti, Yang Mulia," jawab Bennedict pelan
"Apakah terdakwa menerima putusan ini atau akan mengajukan upaya hukum?" Hakim bertanya tegas.
Bennedict terdiam beberapa detik.
"Saya menerima putusan ini." ucap Bennedict.
Kemudian Hakim mengetuk palu tanda persidangan telah selesai.
Ben di giring petugas untuk keluar dari ruang sidang. Saat melewati bangku saksi, Bennedict berhenti sesaat. Ia menatap Layla dengan mata yang sembab.
"Yang Mulia... boleh saya mengatakan satu kalimat?" tanya Bennedict kepada Hakim.
Hakim mengangguk singkat.
Bennedict menoleh ke arah Layla.
"Layla... terima kasih karena masih percaya aku bukan monster."
Setelah jeda panjang, ia menundukkan kepala.
"Maaf...," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Bennedict.
Layla ingin menjawab, tetapi bibirnya bergetar tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Sementara itu, Bennedict hanya menatapnya untuk terakhir kali sebelum petugas kembali menggiringnya keluar ruang sidang.
Petugas kembali menggiring Bennedict keluar ruang sidang.
Zhao Lee menatap Layla di sebelahnya sambil tersenyum,
"Sekarang kau sudah aman, Layla. Semua orang yang menyakitimu sudah pergi,'' ucap Zhao Lee.
Layla menunduk, air matanya jatuh. Kemudian Zhao Lee mengusap air mata itu dengan lembut.
"Tenanglah semua sudah berakhir sekarang,'' ucap Zhao Lee lembut.
Kemudian mereka berdiri dan berjalan keluar dari ruang sidang.
Saat di luar gedung pengadilan Layla tak sengaja melihat Ben yang sedang di giring menuju mobil tahanan. Dengan refleks Layla berteriak memanggil nama Bennedict.
"Ben!!," teriak Layla.
Ben menoleh kebelakang, ia memberontak hendak menghampiri Layla. Namun ditahan oleh para petugas keamanan.
Melihat reaksi Ben, Zhao Lee sigap berdiri di depan Layla sebagai tameng dengan ekspresi wajah yang dingin sambil memegang erat salah satu tangan Layla agar tak lari ke arah Ben.
Bennedict berhenti memberontak. Ia hanya menatap Layla untuk beberapa detik, lalu perlahan mengangguk kecil. Senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia sendiri tidak lagi mempercayainya.
Mobil tahanan perlahan meninggalkan halaman pengadilan. Zhao Lee memandangi kendaraan itu hingga menghilang dari pandangan. Zhao Lee menggenggam tangan Layla sedikit lebih erat. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
"Mulai hari ini," batinnya pelan, "dunia kecilmu hanya akan berisi tentang aku."
Layla tidak menyadari bahwa jemari Zhao Lee yang menggenggam tangannya bukan sedang memberi rasa aman.
Itu adalah cara Zhao Lee memastikan bahwa Layla tidak lagi memiliki tempat lain untuk kembali selain dirinya.
****************
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
bener² keinginan author yang dicurahkan ke tulisan loh gaa🤭🤭