NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di antara dua tatapan

Di sebuah resto yang berada di dalam salah satu mall begitu ramai, berbagai macam aroma rempah tercium harum dari jauh.

Sehingga semakin siang pengunjung ramai berdatangan silih berganti, sepetinya mereka juga tengah menghabiskan waktu weekend bersama keluarga.

Berbeda dengan keramaian di sekitarnya, Azura justru duduk kaku di kursinya. Jemarinya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Sesekali ia melirik Rafael, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika mata mereka hampir bertemu

'kapan pergi sih? Gue laper anjim'

Setelah memanggilnya, Rafael justru malah bergabung dengan mereka, membuat Azura harus bisa menjaga sedikit image nya.

Dia mati-matian tak memarahi Excel yang tengah tertawa ngakak karna sedang bercanda dengan Leon, yang hanya menampilkan senyum simpul menanggapinya.

'Excel!!! Bisa diem gak Lo? Gue tampol kepala Lo ya nanti!'

Ingin sekali dirinya memarahi Excel karna terlalu berisik. Namun dia hanya bisa membatin dongkol.

Lalu melirik Rafael yang hanya senyum-senyum tidak jelas pada dirinya.

Azura ingin sekali segera pergi dari sana. Dia bahkan belum menyentuh makanannya sedikit pun.

Dia berdehem canggung. Yang mengalihkan atensi Excel. "Minum kak, kenapa gak makan? Katanya tadi laper?" Celetuknya.

Azura tersenyum manis, yang mana membuat Leon mengangkat alis samar. "Iya, kamu aja duluan abisin itu, mami udah nelpon" ucapnya lembut.

Rafael sempat mengangkat alis. Baru kali itu ia melihat Azura berbicara selembut itu. Gadis yang biasanya selalu berteriak di sekolah kini justru terdengar begitu pelan.

Excel mengangguk singkat, melirik Rafael yang terus terdiam. "Om?"

Rafael sedikit melebarkan mata menatap Excel. "Iya"

"Om ngapain sih ke sini? Bukannya om gak boleh Deket sama ka Azura ya?"

Azura spontan melotot seram menatapi Excel yang nyelatuk polos. 'DIEM LO ANAK SETAN!!!'

Rafael sedikit tersentak, dia menatap Azura dengan canggung. Lalu terkekeh pelan.

"Gak Deket kok, tuh. Kita duduk nya aja sebrangan" canda Rafael, membuat Excel terkikik pelan.

" Hihi om bisa aja, om gak makan, mau makan apa, nanti ka Azura pesenin, dia juga loh yang bayarin hihi" kekeh Excel tanpa memperdulikan wajah Azura yang merah menahan marah.

"Om udah makan, kamu aja makan yang banyak biar cepet gede" kata Rafael mengelus sedikit kepala Excel.

Lalu matanya melirik Leon yang fokus makan dengan tenang, seolah tidak terganggu sama sekali dengan keributan di sekitarnya, karna dia sudah terbiasa berada di rumah Azura yang dekat sekali dengan kata berisik.

Rafael menelisik penampilan pria itu, walaupun Leon hanya memakai pakaian sederhana, namun pria itu tampak berkelas, apalagi cara Leon duduk. Bahunya tegap, setiap gerakannya tenang dan teratur. Bahkan cara pria itu memegang sendok pun terlihat begitu anggun.

Wajah tampan tanpa cela dipadukan tubuh atletis membuat Rafael tanpa sadar membandingkan dirinya dengan pria itu.

Entah kenapa Rafael merasa seperti sedang dibandingkan dengan seseorang yang berasal dari dunia berbeda.

Dia lalu melirik lengannya yang berotot, lalu membandingkannya dengan lengan Leon. Sungguh berbeda jauh.

Merasa di perhatikan, Leon menatap Rafael dengan sorot dingin. "Ada apa? Ada yang salah" tanya pelan tanpa ekspresi.

Rafael tersentak, dia merasa terpergok karna sudah memperhatikan pria itu diam-diam.

Dia menjadi kiku, menggaruk pelipisnya dengan canggung.

"Ah..enggak, gue cuma baru liat Lo aja" jawabnya berusaha santai, tatapan Leon terasa mengintimidasi Rafael, membuat pria itu gugup tak karuan.

Leon mengangguk pelan, dia lalu melirik Azura yang terdiam sembari mengulum bibir.

"Bukankah kau bilang tadi ingin makan ini?" Tunjuknya pada rendang yang sudah hampir dingin "Lalu kenapa kamu mendiamkannya?"

Azura menggeleng, berusaha tersenyum walaupun kini perutnya terasa perih karna menahan lapar, dia malu kalo harus makan di depan Rafael, karna makan dia itu berantakan.

Leon mengambil piring kosong tanpa berkata apa-apa. Dengan tenang ia menyendok nasi, lalu mengambil beberapa potong rendang dan meletakkannya di atas piring.

"Makanlah. aku tau kau lapar. kau belum makan sejak tadi pagi." kata Leon menyodorkan piring pada Azura, yang di terima gadis itu dengan sedikit menolak.

"Gue belum lapar sih, tapi yaudah sayang kalo gak di makan"

Excel mendelik sinis, mengembuskan napas pelan.

Walaupun masih kecil, ia tahu persis kebiasaan kakaknya.

Setiap Rafael muncul, Azura selalu berubah menjadi orang lain.

Dan itu... sangat aneh menurutnya.

Azura tengah mengobrol ringan di parkiran dengan keempat temannya sebelum pulang.

"Jadi kemarin Lo bawa Excel sama Leon ke bioskop?" Tanya Tiffany.

"Hem... Tuh anak tiap gue main ikut mulu, di kira gue emak nya apa? Mana papi gue malah nyuruh Leon di bawa segala. Dan yang paling gong nya Lo tau" katanya heboh seraya melebarkan mata. "Gue ketemu kak Rafael dong di resto!! Apa gak mungkin dia mikir Leon pacar gue? Mana si Leon ngasih gue nasi lagi. Gue takut dia salah paham terus jauhin gue!!! Gimana dong?" Rengeknya heboh, menghentak hentakan kakinya.

Ke empat temannya agak menarik diri.

"Ya kenapa juga Rafael salah paham? Kan Lo berdua gak ada hubungan apa-apa" kata Angkasa sadis, yang langsung tepat mengenai ulu hati Azura, membuat gadis itu sedih.

Gavin langsung menabok pundak lelaki itu keras, membuat Angkasa menggaduh.

"APA SIH? Kan gue bilang fakta!"

" Gak usah di jelasin juga tolol!" Sentak Azura sinis.

Gavin cengengesan bodoh, menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Tiffany terkikik geli seraya menabok Gavin.

"Gue sama Sherina nanti ke rumah Lo jam delapan." Kata Tiffany sambil naik ke atas motor Gavin.

Azura mengangguk singkat.

"Huftt. Sayang banget ya kita gak sekelompok" celetuk Tristan.

Azura mendelik sinis. "Gue sih gak mau ya, satu kelompok sama orbod kayak Lo!" Cibirnya.

" Orbod? Apaan tuh? Baru denger" sahut Angkasa.

" ORANG BODOH!" sarkas Tiffany dan Azura serentak.

Mereka terkikik menyaksikan wajah Tristan yang sudah merah kesal." Awas ya Lo pada," sentaknya.

" Dahlah, duluan yaa"

Mereka meninggalkan parkiran. Hanya tersisa Azura yang masih setia duduk di motor sembari merunduk pada ponsel.

Saat sedang fokus, matanya tak sengaja melihat sepasang sepatu yang berdiri di sebelahnya.

Azura mengangkat alis samar, Mendongakkan kepalanya.

Dia sedikit tersentak melihat Rafael yang berdiri di sebelahnya.

Dia tersenyum lebar, sedikit melebarkan mata. jantungnya mendadak gugup.

" HAII- kak"

Pekiknya antusias.

Rafael tersenyum lembut, mengangguk pelan. "Belum pulang?"

Azura menggeleng cepat. "Belum sih kak, tadi kata pak Yanto ada latihan bulu tangkis bentar lagi." Jawabnya. "Kaka sendiri belum pulang?" Tanyanya seraya mengulum bibir senang.

"Belum, kan aku ada rapat OSIS hari ini"

Azura mengangguk pelan, menolehkan kepalanya untuk menyembunyikan senyum nya.

'*YES!! Ini kesempatan emas*!'

Lalu kembali menatap Rafael yang masih menatapnya. Dia berdehem canggung.

'*duhh! Kok jadi sunyi gini sih, ngomong apa ya, otak gue kenapa jadi ngelag sih. Ayo dong mikir*!'

"Kamu-" "Kak rafael-"

Ucap mereka serentak.

Mereka sama-sama terdiam.

Hanya suara kendaraan dari parkiran yang terdengar di antara keheningan itu.

Rafael menggaruk pelipisnya pelan, mengulum bibir dengan senyum kecil.

Rafael terkekeh kecil.

"Kamu dulu aja."

Azura mengigit gemas bibir dalamnya, menggerakkan matanya tak tentu arah.

'*YAAMPUN YAAMPUN!! APA INI YANG NAMANYA JATUH CINTA*?'

Teriak batinnya salting.

Saat ini Azura ingin sekali berteriak sambil lompat-lompat karna kegirangan.

**Bersambung**...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!