Berkisah tentang seorang aktris cantik bernama Intan Rahardian berusia 20 tahun. Dalam dunia hiburan namanya sedang melambung tinggi. Namun di balik kesuksesan karirnya, dia sedang diterpa masalah, menghadapi perjodohan dari kedua orang tua. Intan berusaha mencari cara agar bisa terbebas dari perjodohan itu. Dia tak ingin menikah di usia muda, apalagi di saat karirnya sedang melejit. Namun cara yang dilakukan malah mendatangkan masalah besar.
Di hari pertunangannya, aktris cantik itu berusaha melarikan diri dari dalam sebuah hotel bintang lima, yang sudah dipenuhi begitu banyak tamu undangan. Dia di kejar oleh keluarganya, juga keluarga calon suaminya. Di saat hampir tertangkap, tanpa berpikir panjang dia langsung mencium seorang pria, yang datang sebagai tamu penting di depan semua orang temasuk calon suaminya. Dan apa yang dilakukan wanita cantik itu, pada akhirnya menjebak dirinya sendiri dalam sebuah hubungan yang sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tim Pengintai.
Kedatangan Richards dan Intan di sambut Amara dengan senyum bahagia. Wanita sepu itu kembali teringat dengan kebersamaan dia dan mendiang suami tercinta. Apalagi Richard begitu mirip dengan Opanya disaat muda. Sama-sama tampan, tinggi, bertubuh suspek, juga memiliki jambang, yang membuat mereka sedikit terlihat sangar namun juga menarik.
Intan masih saja memeluk lengan sang kekasih walaupun sudah berada di samping tempat tidur. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan Amara. Sepertinya keberadaan wanita sepu itu sudah seperti boneka penghias ranjang, sehingga Intan tidak merasa terganggu walaupun ditatap sedemikian rupa.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi. Oma sampai teringat dengan masa muda Oma bersama Opa," ujar Amara yang membuat Intan semakin melebarkan senyuman.
Wanita cantik itu memang sangat suka dipuji. Berbanding terbalik dengan Richard, yang malah tidak menyukai pujian. Pria itu hanya terdiam tanpa ekspresi menanggapi ucapan Oma nya.
"Chat, ayo naik! Kita bercerita di tempat tidur saja," seru Amara sembari berpindah pada tempatnya, di samping dinding. Kebetulan tempat tidur berukuran besar itu menempel pada dinding kamar.
"Tan, sampai kapan kamu mau memeluk lengan saya seperti ini?" tanya Richard seraya menatap wanitanya, yang sudah seperti bayi monyet menempel pada induknya.
"Ma–maaf Mas. Jadi lupa," ujar Intan sambil tersenyum.
"Lupa apa nyaman?" Richard kembali bertanya, dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tuh, kamu tahu."
Tanpa ada rasa malu Intan malah membenarkan ucapan Richard. Kemudian dia beranjak naik ke atas tempat tidur, dan berbaring di samping Oma Amara. Sementara Richard sudah duduk bersandar pada kepala ranjang tepat di samping Intan. Intan yang tadinya mau terus bertempelan, kini malah beebalik menggadap Oma Amara tanpa mempedulikan Richard. Richard pun tidak mempermasalahkan hal itu. Dia lebih memilih untuk memainkan game di ponselnya tak menghiraukan pembicaraan kedua wanita itu.
Sementara di luar kamar, ada beberapa orang yang sudah merapat ke arah pintu kamar seperti tim pengintai. Mereka tidak alain adalah Astrid, Rara, dan kedua putri Astrid. Saking penasaran ingin mengetahui keadaan di dalam kamar, mereka saling mendorong, sampai Rara tidak sengaja menubruk pintu kamar tersebut.
–Bruuuuk–
"Apa itu?" tanya Amara sembari menatap ke arah Richard yang seketika mengalihkan pandangan ke arah pintu dengan ekspresi wajah penuh amarah.
"Bukan apa-apa Oma," jawab Richard dan langsung membaringkan tubuh di samping Intan.
Detak jantung wanita cantik itu seketika tidak beraturan. Dia mulai gugup dengan keberadaan Richard yang begitu dekat dengannya. Buru-buru dia segera berbalik ke arah Oma Amara, berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang mulai tak menentu. Sementara Richard malah terlihat tenang melanjutkan permainannya.
"Tan, kamu kenapa sayang? Kok sepertinya gugup?" tanya wanita tua itu, yang membuat Intan semakin salah tingka.
"A–aku nggak apa-apa kok, Oma."
"Nggak apa-apa tapi salah tingka. Kamu nggak perlu gugup sayang. Nantinya juga kalian akan tidur di dalam satu kamar, dan di ranjang yang sama setelah sudah menikah nanti."
Intan terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan wanita sepu itu. Dia hanya bisa tersenyum simpul tanpa bisa bersuara. Namun jauh di lubuk hatinya, dia sangat menantikan momen seperti itu. Tidur di atas satu ranjang bersama Richard, sambil memdekap satu sama lain.