Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Galuh masih ternganga ketika Safwan menepuk halus pundaknya. "Galuh ... maukah kamu menjadi pacarku?" ulang pemuda berhidung mancung itu.
Galuh terkesiap, langsung menundukkan pandangan. Jemari tangannya saling meremat. Jantungnya berdentam hebat. "A Safwan serius?" tanyanya pelan tak berani menatap wajah Safwan.
"Serius, Galuh. Bagaimana, apakah kamu mau menjadi pacarku?" Untuk ketiga kalinya, Safwan mengulang pertanyaannya.
Galuh kian menundukkan kepala. Batinnya bergejolak, antara bahagia karena lelaki yang dicintainya juga punya perasaan yang sama. Tapi dia cukup tahu diri dengan perbedaan status sosial antara dirinya dan Safwan.
Galuh merasa tidak pantas.
"Galuh ..."
Perlahan, Galuh mengangkat wajahnya, menatap mata Safwan yang bening dan menyimpan ketulusan. "A Safwan ... terima kasih sudah mencintaiku. Aku ... aku juga cinta sama A Safwan."
"Aaaa! Yes! Yes!" Safwan bersorak, sontak berdiri dan berjingkrak-jingkrak. Senyum lebar membingkai wajahnya yang tampan dan menyejukkan. "Makasih ..." Dia duduk kembali dan menggenggam kedua tangan Galuh. "Berarti sore ini, kita resmi berpacaran ya, Galuh?"
Galuh mengangguk malu-malu, wajahnya memerah. "Tapi bagaimana kalau Pak Lurah dan Bu Lurah tahu, A? Nanti mereka marah ... aku kan bukan anak orang kaya dan gadis berpendidikan ..." cicitnya mengutarakan kecemasan yang sejak tadi bergelung dalam benak.
"Kamu tidak usah mencemaskan hal itu. Biar itu menjadi urusanku," balas Safwan menenangkan.
"Baiklah, A." Galuh tersipu.
"Besok sore ... setelah kamu pulang kerja dari rumah Pak Zainal, aku ingin mengajakmu ke pasar malam yang ada di desa sebelah. Kamu mau kan?"
Jantung Galuh berdetak tak karuan. Dia tak kuasa menolak. "Mau sekali, A."
"Alhamdulillah." Wajah Safwan nampak semringah. "Kalau gitu, yuk kita pulang. Aku antar kamu sampai rumah," ajaknya.
Awalnya Galuh menolak, karena takut kebersamaannya mengundang bermunculannya pertanyaan dari para tetangga, namun Safwan tetap memaksa dan akhirnya Galuh mengiyakan.
Motor matic itu pun melaju menyusuri jalanan perkebunan.
Tanpa keduanya ketahui, sejak tadi ... ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Lelaki itu berdecih sambil tersenyum miring.
_____
Galuh tak henti tersenyum, ingatannya terus tertuju pada kejadian tadi. "Ya ampun ... aku tidak menyangka kalau sekarang, aku dan A Safwan adalah sepasang kekasih. Rasanya seperti mimpi," gumam Galuh sambil membalik tempe yang ada di wajan. "Mana besok sore mau first date lagi." Galuh memejamkan mata sambil tertawa bahagia.
Di tengah bunga-bunga hatinya yang sedang bermekaran, ponselnya yang ia simpan di rak piring berdenting. Galuh lekas mematikan kompor. Meniriskan tempe dan beranjak mengambil ponsel.
Terpampang lah satu pesan masuk dari nomor baru.
Galuh ragu untuk membuka, tapi takut pesan yang penting.
Gadis berambut sepunggung itu akhirnya membuka pesan tersebut.
08______: Tolong datang ke rumah sunyi sekarang juga, Galuh. Aku mau tempat itu dibersihkan sekarang. Karena nanti malam ... mau aku pakai untuk acara pertemuanku bersama kawan-kawanku. Nanti aku kasih uang tambahan. Kamu langsung masuk saja, pintunya tidak dikunci. (Lingga Buana)
Galuh sempat ragu. Rumah sunyi adalah rumah kedua milik keluarga Buana ... rumah peristirahatan yang jarang ditempati, berdiri agak jauh dari kebun teh.
Biasanya hanya petugas kebun yang ke sana untuk menyapu halaman atau mengecek lampu.
Namun karena pesan itu memakai iming-iming ' uang tambahan', Galuh tak berpikir panjang. Kesempatan dapat uang lebih tak datang dua kali, begitu pikirnya.
"Baik, Den."
Galuh membalas singkat.
Ia gegas mencari ibunya ke belakang untuk meminta izin, tapi ternyata ibunya tidak ada. "Ah, biarlah aku tak meminta izin dulu. Kutitip pesan saja sama Galih." Dia kembali masuk ke dalam rumah.
"Galih ... Teteh mau pergi dulu. Ada kerjaan. Tolong bilangin ke Ibu ya?"
Galih yang sedang menonton televisi mengalihkan pandangan. "Kerjaan di rumah siapa, Teh? Ini kan sudah mau jam lima," tanya anak itu heran.
"Ke rumah peristirahatan keluarga Buana. Lumayan ... ada uang tambahan. Udah ya, Teteh berangkat dulu. Kamu nggak papa kan Teteh tinggal?" kata Galuh sambil mengikat rambut panjangnya.
"Nggak papa. Hati-hati, Teh."
"Iya." Galuh berangkat dengan langkah cepat. Membawa ember dan alat kebersihannya seperti biasa. Galuh mengambil jalan pintas, dan tak lama ia pun sampai juga di rumah besar itu.
Rumah itu sunyi ketika ia tiba.
Pintu depan benar-benar tidak dikunci, sesuai pesan dari Lingga tadi. Tirainya tertutup rapat.
Angin sore menjelang magrib meniup daun-daun teh yang kering di jalan setapak menuju teras.
"Permisi ..." seru Galuh pelan. Meski dia sudah diperintahkan Lingga untuk langsung masuk, tapi Galuh tetap bersikap sopan. "Den Lingga!" panggilnya. Namun tidak ada jawaban. "Hm, sepertinya Den Lingga tidak ada di sini," gumam Galuh sambil masuk ke dalam rumah, ia meletakkan ember di dekat sofa, dan mulai membersihkan debu di meja.
"Rumah masih bersih gini kok masih aja harus dibersihkan ..." monolog Galuh merasa heran. "Orang kaya memang tidak bisa melihat debu secuil saja. Semuanya harus super duper kinclong," sambungnya berpindah ke ruang tengah.
Langkah kaki terdengar dari lantai atas. Galuh menoleh cepat. Matanya sedikit melebar. "Eh, ternyata Den Lingga ada di sini," batinnya kaget.
Lingga muncul menuruni tangga, mengenakan kaos hitam, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang. "Oh ... ternyata kamu sudah datang?" katanya dengan nada ringan.
Galuh mengangguk. "Sudah, Den. Tadi saya sudah memanggil nama Aden. Tapi tidak ada jawaban. Saya kira, Aden ada di rumah utama."
"Dari tadi saya nungguin kamu di sini," balas Lingga. "Galuh ... tolong beresin dulu kamar yang di atas," titahnya.
"Iya, Den," jawab Galuh hati-hati. Ia menunduk, berusaha tetap sopan seperti biasanya.
Lingga berjalan mendekat.
Tatapannya menelusuri wajah Galuh, lalu berhenti di jemarinya yang menggenggam lap kain. Ada sesuatu di balik senyumnya ... dingin, samar, membuat udara di ruangan itu berubah berat. "Ayo ikut aku ke atas!"
Sekali lagi, Galuh mengangguk.
Mereka berdua menaiki tangga dengan Lingga yang berjalan lebih dulu.
"Masuk ..." Suara Lingga terdengar berat di telinga Galuh, seperti sedang menahan sesuatu. Namun gadis itu tak ambil pusing. Ia segera masuk ke kamar bercat putih itu. Galuh ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang supaya bisa bertukar pesan dengan kekasih hatinya, Safwan Haidar.
Galuh mulai menyapu dan Lingga memperhatikan gadis berkemeja putih itu sambil bersandar di kusen pintu kamar. "Kerjamu bagus," katanya memecah kesunyian. "Kamu gadis yang rajin, Galuh. Tapi sayang ... orang-orang kayak kamu jarang dihargai, ya?"
Galuh tidak mengerti arah omongan Lingga. Ia hanya tersenyum kaku sambil terus menyapu. "Itu tidak penting, Den. Yang penting saya bisa bantu Ibu."
Lingga menatapnya lama, lalu berbalik menutup pintu kamar.
Kunci berputar dengan bunyi klik yang terdengar lebih nyaring dari detak jantung Galuh sendiri. Sontak Galuh menghentikan pekerjaannya. Mengangkat wajah, menatap anak majikannya. "Kenapa pintunya dikunci, Den?" Suaranya mulai gemetar.
Lingga tidak menjawab.
Ia berjalan perlahan ke arah Galuh, langkah demi langkah, seperti bayangan yang menelan cahaya.
Galuh mundur, tapi punggungnya sudah menabrak dinding. Dalam kepalanya, suara ibunya bergema.
"Kalau ada yang mau berbuat macam-macam kepadamu ... lari, Galuh!Jangan diam saja."