"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.
"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.
"Gak akan!"
"Berani apa?"
"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.
"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
034
034
Emosi
"Seandainya lo masih jadi pacar gue, pasti gue gak akan seemosi ini."
.....
Keluarga. Keluarga adalah tempat semua orang untuk berpulang, mengadu, dan membagi suka duka. Keluarga adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan seseorang. Di dunia ini tak ada yang ingin mempunyai keluarga yang hancur ataupun bermasalah. Broken home adalah faktor terbesar yang melatarbelakangi adanya bad boy and bad girl di dunia ini.
Mungkin bagi sebagian orang keluarga yang tak utuh tak masalah dan tetap akan berjalan seiring meski tak bersama. Namun, ada juga yang lebih memilih benar-benar menjauh dari keluarganya bak seperti musuh. Ya, hal kedualah yang dilakukan oleh Elvan. Laki-laki super tampan di sekolahnya itu mengalami broken home karena sang papa dan mamanya memilih berpisah. Bagi Elvan semua ini salah mamanya. Mamanya yang membuat Elvan berpisah dengan sang papa. Dia sungguh sial saat pengadilan memutuskan hak asuhnya dimenangkan oleh sang mama.
"Makan dulu, Van. Mama masak kesukaan kamu," kata sang mama.
Wanita paruh baya itu kini tengah membungkuk menata beberapa piring dan makanan di atas meja makan. Meja makan dengan ukuran cukup besar yang mampu menampung sekitar delapan orang itu terisi penuh makanan yang begitu menggoda. Ada seperti ayam semur, ikan kembung goreng bumbu kuning, udang crispy, tempe goreng, capcai, sup, dan beberapa makanan penutup dan buah. Nampaknya sang mama begitu mempersiapkan ini semua untuk anaknya.
"Gue gak lapar," sahut Elvan yang berlalu meninggalkan sang mama begitu saja di ruang makan. Baginya usaha mamanya tak akan pernah bisa menghilangkan rasa sakit karena kehilangan kasih sayang papa. Mamanya tak pernah mengerti bagaimana hari-hari Elvan gara-gara sang mama memilih selingkuh.
Dara berlari menyusul Elvan yang menghilang di balik tangga. Langkahnya tertatih, namun usia tak menghentikan usahanya agar Elvan mau kembali berbaikan dengannya.
"Elvan makan, nak. Mama mau ngobrol dan jelasin sesuatu," kata Dara pelan sambil mengetuk pintu kamar Elvan beberapa kali. Dia tahu bahwa pintu di depannya tak akan pernah terbuka untuk dirinya. Pintu itu akan selalu terkunci rapat, tidak seperti dulu.
"Nak, mama harus jelasin sesuatu yang tidak pernah kamu tahu selama ini. Elvan, dengarkan mama."
Tak ada jawaban dari Elvan. Laki-laki itu benar-benar mengabaikan sang mama. Dia sudah terlalu lelah karena memikirkan Aleta yang tak jua memaafkannya. Dia juga sudah pusing karena penghianatan yang dilakukan Aksa. Dan sekarang sang mama justru menambah kerepotannya.
Prang
Terdengar bunyi pecahan dari dalam kamar. Dara yang mendengar berhenti kaget sambil memegang dada dengan tangan kanannya. Saat akan kembali berucap, Elvan lebih dulu mengucapkan kata yang membuat Dara tak bisa berbuat apa-apa.
"Pergi. Gak usah dekatin gue atau gue yang pergi dari rumah ini."
Tangan Dara perlahan menurun, berhenti mengetuk pintu. Baginya merosot pelan dengan air mengalir di sudut matanya. Kenapa? Kenapa Elvan tak pernah mendengarkannya? Kenapa anak itu menyimpulkan sendiri tentang apa yang terjadi? Dan apa ini? Dia mengusir Dara tanpa menatap wajahnya.
Dengan perlahan akhirnya Dara memilih berbalik. Kembali ke meja makan dan membereskan semuanya tanpa menyentuh. Jika anaknya saja tidak makan, bagaimana mungkin ia tega memakan semua ini?
.....
Kamar yang biasanya terlihat sedikit kacau menjadi semakin kacau. Bantal guling bertebaran di ujung ruangan. Seprai telah terlepas dari kasur dan menggunung bersama dengan selimut di bawah lantai. Buku-buku tidak tertata pada rak yang seharusnya. Dan ini semua karena Elvan sedang melampiaskan emosinya.
Jleb
Anak panah kecil yang dilepasnya berhasil mengenai titik merah pada papan lingkaran. Matanya nyalang menatap papan yang berjarak sekitar empat meter dari dirinya.
"Sial! Kapan gue bisa pindah dari rumah ini?" gerutunya kesal sambil mengambil anak panah yang ada di atas nakas.
Jleb
Lagi-lagi anak panah itu mendarat di titik merah sebelah anak panah pertama. Wajah Elvan yang memerah menahan emosi tak bisa lepas memandang papan.
"Seandainya lo masih jadi pacar gue, Ta. Gue gak akan seemosi ini."
Elvan merosot berlutut dengan bahu tak sekokoh biasanya. Badannya gemetar menahan geram dengan kedua tangan mencengkeram rambutnya kuat.
"ARRGGHHH! SIALAN!"
Ya, dia benar-benar sialan. Kenapa dia tak mendengarkan Gavin yang selalu menyuruhnya untuk jujur? Kenapa pula dia tak memutuskan semua pacarnya? Ya mungkin Aleta belum tahu, tapi kalau sampai Aleta tahu bagaimana?
Cepat-cepat Elvan mengambil ponselnya dan mencari nama-nama kekasih yang belum diputuskannya. Namun saat ia akan memencet gambar telpon, niatnya langsung terhenti. Nanti kalau dia memutuskan semua, lalu Aleta tetap tidak ingin bersamanya bagaimana? Masa seorang Elvan harus jomblo? Tidak-tidak!
"****! Gue harus gimana?" Tanya Elvan sambil memukul kepalanya pelan.
Drt drt drt
Tanpa melihat si penelpon Elvan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hmm?"
"Van, lo gak mau ke sini?" Suara dari seberang berhasil membuatnya mendengus. Apa-apaan Gavin ini?
"Lo di mana?" tanya Elvan masih dengan nada tak enak.
Di seberang sana Gavin nampak berpikir. Sesekali matanya mengedip genit kepada suster yang menyapanya. "Gue sih baru di rumah sakit."
Elvan mendadak diam menahan geram. Bukankah anak ini sudah bertanya tadi siang sebelum dia berangkat? Ck. Gavin ini selalu suka mengganggunya.
"Gak."
"Van, lo gak mau baikan gitu sama Aksa? Siapa tau bikin Aleta simpati."
Ya ampun anak ini pandai sekali. Ucapan sembrononya berhasil membuat Elvan berpikir dan menatap foto Aleta sendu. Sepertinya boleh juga.
"Hm. Gue ke sana," jawabnya berhasil menimbulkan pekikkan senang di seberang sana. Hem.. Sepertinya sekarang Gavin sedang bergumam maaf kepada seseorang.
........
"Boss!" Panggil Gavin sambil berteriak bak di gua saat melihat Elvan berjalan tergesa-gesa ingin cepat sampai.
"Ruang Aksa." Dengan dingin Elvan bertanya kepada Gavin tanpa menjawab sapaan anak itu. Tetapi matanya jauh dari nada kalimat tanya.
"Ayo boss ikut aku."
"Ada Aleta?" tanya Elvan yang berhasil membuat Gavin tersenyum jahil.
"Ciee si bos, nyariin neng Aleta," ejek Gavin berhasil membuat Elvan memberikan jitakan dan umpatan kepadanya.
"Gue ke sini ya demi itu, beg*."
"Ya ampun bos, gue gak bilang ada Aleta tadi."
Elvan mendengus keras. Dia langsung membalikan badannya tak jadi menjenguk Aksa. Buat apa coba kalau Aleta gak ada?
Gavin langsung mencekal tangan kanan Elvan dengan kedua tangannya. Laki-laki itu merengek bak anak kecil kepada Elvan agar tetap mau menjenguk Aksa. Elvan sampai geleng-geleng sekaligus menahan malu karena tingkah Gavin.
"Bos ... ayolah!"
"Gak. Gue gak mau," ketus Elvan malas karena Gavin terus merengek.
"AYOLAH BOS, nanti Aleta kalau tiba-tiba dateng 'kan lebih bagus," bujuknya membuat Elvan berhenti sebentar nampak berpikir.
"Ya," jawaban singkat, padat, dan jelas dari Elvan membuat Gavin tersenyum lebar. Cowok itu langsung menarik tangan Elvan seperti anak yang ingin menunjukan sesuatu kepada orang tuanya.
Dalam hati Elvan hanya mampu bergumam sabar. Jiwanya selalu melayang memikirkan malam itu, malam di mana Aksa memeluk Aletanya dengan erat. Pelukan yang dulu ia kira hanya untuk darinya ternyata salah. Elvan benar-benar kecewa.
"Ayo masuk, bos," ajak Gavin membuatnya kembali ke dunia. Matanya yang menatap bersitubruk dengan milik Aksa. Cowok dengan muka yang lebih parah dari miliknya itu tersenyum kecut saat tahu Elvan menjenguknya.
"Gue pulang aja."
Elvan melepas cekalan tangan Gavin dan hendak berbalik pergi. Sungguh jika bertemu dengan Aksa bawaannya hanya ingin menonjok muka itu sampai benar-benar tak bisa dibilang bahwa itu muka.
"Lari gak bikin masalah selesai. Sini, gue jelasin sesuatu." Aksa berkata begitu ringan seolah tak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Elvan. Dia memaksakan senyum tipis di bibir agar terlihat baik-baik saja.
"Apa?"
"Tentang Aleta. Dan taruhan lo."
........
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉