Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahaatan Daging dan Sidang Bayangan
Lokasi: Markas Rahasia Void Sect (Bekas Dungeon Gorgon's Pit).
Waktu: Malam Hari, Tiga Jam Setelah Eksekusi Alun-Alun.
Aula utama markas bawah tanah itu bukan lagi sekadar gua lembap tempat monster bersarang. Varian telah mengubahnya menjadi sebuah istana kematian yang sunyi dan agung. Stalaktit-stalaktit tajam di langit-langit meneteskan air yang berirama, tes... tes... tes..., memecah keheningan abadi seperti detak jam kematian. Obor-obor sihir api biru menempel di dinding batu basah, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari, seolah menyambut kedatangan tuan mereka.
Di tengah aula, udara berdistorsi hebat. Sebuah portal bayangan berbentuk spiral ungu terbuka, memuntahkan hawa dingin yang membekukan tulang.
Tiga sosok melangkah keluar dari ketiadaan.
Yang pertama adalah Shadow Lord. Varian mengenakan jubah hitam yang tepiannya terus bergerak seperti asap, menyembunyikan postur tubuh aslinya. Wajahnya tertutup rapat oleh topeng porselen putih tanpa fitur wajah—hanya ada satu simbol retakan ungu yang bercahaya di bagian mata kanan. Dia tidak melepas topengnya. Di tempat ini, dia adalah hukum, dan hukum tidak memiliki wajah manusia.
Di belakangnya, Agna si Death Knight berjalan dengan langkah berat yang menggetarkan lantai. Di tangannya, dia menyeret tubuh Leon Gremory yang masih terjebak dalam wujud monster setinggi 2,5 meter. Agna melempar tubuh besar itu ke lantai di depan singgasana tanpa kelembutan sedikitpun.
BRAK!
Namun, mereka tidak disambut oleh kekosongan.
Di samping singgasana tulang yang terletak di ujung aula, berdiri sesosok pria tegap yang memancarkan aura pembunuh yang pekat dan disiplin.
Dia mengenakan jubah sutra hitam gaya timur yang robek di beberapa tempat namun tetap elegan, memperlihatkan kulit abu-abu pucat yang penuh bekas jahitan sihir. Wajahnya tertutup separuh oleh masker besi yang menutupi mulut dan hidung, namun mata matinya yang berwarna kelabu menatap tajam ke depan. Di pinggangnya, tergantung dua pedang katana panjang (daisho) yang memancarkan hawa dingin.
Itu adalah Loid.
Mantan Ketua Guild Black Lotus yang legendaris. Pria yang dulu menguasai dunia bawah tanah dengan tangan besi, yang dibunuh oleh Varian dalam kudeta berdarah, dan kini dibangkitkan menjadi Undead Samurai—penjaga pribadi sekaligus eksekutor sang Raja Kehampaan.
Melihat tuannya datang, Loid berlutut dengan gerakan presisi, cepat, dan tanpa suara. Kepalanya menunduk, tangannya tetap siaga di dekat gagang pedang, siap menebas siapa pun yang mengancam rajanya.
"Selamat datang kembali, Raja," suaranya berat dan serak, seperti gesekan dua batu nisan tua. "Markas aman terkendali."
Varian tidak menjawab dengan kata-kata basa-basi. Dia hanya mengangguk pelan, sebuah pengakuan minimalis atas loyalitas itu. Dia berjalan melewati Loid menuju singgasananya yang terbuat dari tulang belulang monster tingkat tinggi. Dia duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, dan menatap ke bawah.
Di lantai, tubuh monster Leon mengejang. Sisik-sisiknya yang kasar bergesekan dengan batu, menciptakan bunyi yang ngilu. Napasnya memburu, uap panas keluar dari moncong reptilnya. Mata merahnya liar, menatap sekeliling dengan kebingungan dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Melihat ada "binatang buas" yang berani menggeram di hadapan Rajanya, Loid bergerak.
Sreeet.
Hanya dalam sekejap mata, bahkan sebelum Leon sempat berkedip, Loid sudah berdiri di samping kepala monster itu. Ujung pedang katananya yang tajam sudah menempel di leher bersisik Leon, menembus sedikit kulit kerasnya.
"Apakah saya harus memenggalnya, Tuan?" tanya Loid dingin. Matanya tidak berkedip. "Makhluk ini kotor dan tidak memiliki sopan santun di hadapan tahta."
"Tahan pedangmu, Loid," perintah Varian. Suaranya diubah oleh sihir topeng menjadi berat dan bergema ganda. "Dia bukan musuh. Dia adalah... bahan baku. Dan bahan baku tidak boleh rusak sebelum diproses."
"Dimengerti." Loid menarik pedangnya kembali dan mundur ke dalam bayangan di samping singgasana, patuh mutlak. Gerakannya sehalus asap.
Varian menatap Leon yang terengah-engah. "Menyedihkan," ucap Varian datar.
Leon mendongak. Kesadarannya timbul tenggelam antara sisa manusia dan insting iblis. Dia melihat sosok bertopeng di singgasana itu, dan sosok samurai mayat hidup di sampingnya. Ketakutan instingnya muncul.
"Tuan... sakit... Tolong aku..." rintih Leon. Suaranya parau, hancur.
"Tentu saja sakit. Kau adalah produk gagal dari eksperimen yang terburu-buru," kata Varian kejam. Dia berdiri dan menuruni tangga singgasana, jubah asapnya menyapu lantai.
"Bentukmu jelek. Terlalu besar. Terlalu mencolok. Jika kau berjalan di kota dengan tubuh raksasa ini, kau hanya akan jadi sasaran tembak meriam sihir dalam lima detik. Aku tidak butuh monster bodoh yang hanya bisa mengamuk. Aku butuh pisau bedah, bukan palu godam."
Varian berdiri tepat di depan wajah Leon.
"Diam dan terima ini. Aku akan memahat ulang daging dan jiwamu."
Varian meletakkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan besi hitam di dahi Leon yang bertanduk.
"Void Reformation (Reformasi Hampa)."
Varian mengaktifkan Jantung Naga dan Inti Void di dalam tubuhnya.
WUUUUUNG.
Energi ungu-hitam yang sangat padat mengalir deras dari tangan Varian, masuk secara brutal ke dalam tubuh Leon.
"ARGHHHHH!"
Leon menjerit. Itu adalah jeritan penderitaan murni saat tulang-tulangnya dihancurkan menjadi bubuk dan disusun ulang. Otot-ototnya yang membengkak dipadatkan. Sisik-sisiknya ditarik masuk ke bawah kulit. Varian membuang semua mutasi yang tidak efisien.
Sepuluh menit berlalu. Asap hitam berbau belerang mengepul dari tubuh Leon.
Di lantai, sosok raksasa itu hilang. Digantikan oleh seorang pemuda yang berlutut dengan napas terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat hitam.
Tingginya kembali normal. Namun, dia bukan lagi Leon sang Pahlawan.
Rambut emasnya telah hangus, digantikan oleh rambut Hitam Legam.
Mata birunya hilang, digantikan oleh mata Merah Darah dengan pupil vertikal.
Kulitnya pucat dan keras seperti baja.
Di punggungnya, sepasang sayap naga hitam bisa muncul dan menghilang sesuai kehendak.
Leon—kini bernama Shien—melihat tangannya sendiri. Dia merasakan kekuatan baru yang mengalir di tubuhnya. Jauh lebih padat. Jauh lebih terkendali.
"Bangun," perintah Varian.
Shien mencoba bangkit. Namun, insting naga barunya membuatnya agresif dan waspada. Dia merasakan ancaman dari Loid yang berdiri diam di dekatnya.
Shien menggeram, matanya berkilat, dan dia secara refleks mengayunkan cakarnya ke arah Loid dengan kecepatan tinggi.
TRANG!
Serangan Shien ditahan dengan mudah. Loid bahkan tidak mencabut pedangnya. Dia hanya menggunakan sarung pedangnya untuk memblokir cakar Shien, lalu memutar tubuhnya dan menendang dada Shien dengan kecepatan kilat.
BUAGH!
Shien terpental mundur, berguling di lantai batu.
"Kurang ajar," desis Loid, suaranya mengandung ancaman nyata. "Baru lahir sudah berani memamerkan taring pada senior? Belajarlah tempatmu, Bocah Naga."
Shien terbatuk, memegangi dadanya yang sakit. Dia menatap Loid dengan kaget dan hormat. Kuat... Mayat hidup ini kuat sekali. Dia menahan kekuatan nagaku dengan mudah.
Varian tertawa pelan di balik topengnya.
"Cukup," kata Varian.
Shien segera berlutut menghadap Varian. "Maafkan saya, Tuan. Insting saya..."
"Tidak apa-apa. Itu tanda kau punya semangat," kata Varian. Dia menunjuk Loid.
"Shien, perkenalkan. Dia adalah Loid. Dulu dia adalah 'Raja' di dunia bawah tanah. Sekarang, dia adalah Penjaga Markas, Kepala Strategi Militer, dan instruktur bela dirimu."
Varian menunjuk Agna yang berdiri diam seperti patung.
"Dan dia adalah Agna. Death Knight yang tak bisa mati. Tanker terkuat."
Varian merentangkan tangannya, seolah memeluk kegelapan gua itu.
"Kalian bertiga... adalah pilar dari Void Sect. Pilar Kematian (Agna), Pilar Perang (Loid), dan Pilar Kebencian (Shien)."
Varian menatap Shien tajam.
"Mulai hari ini, namamu adalah Shien. Leon Gremory sudah mati di alun-alun. Kuburkan dia bersama kenangan menyedihkan itu."
"Hamba mendengar dan mematuhi, Tuanku Shadow Lord," ucap Shien, menundukkan kepala hingga menyentuh lantai. Dia menyadari posisinya. Di sini, dia bukan pahlawan yang dipuja. Dia adalah prajurit di antara monster-monster elit. Dan dia menyukainya.