NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Insiden Hujan

​Jakarta punya dua kepribadian: panas terik yang membakar kulit, atau hujan badai yang menenggelamkan harapan. Sore ini, langit memilih opsi kedua.

​Langit yang tadinya jingga cantik mendadak berubah menjadi abu-abu pekat dalam hitungan menit. Angin kencang bertiup, menerbangkan daun-daun kering dan sampah plastik di halaman sekolah.

​"Gawat," gumam Alea sambil mendongak ke langit.

​Ia baru saja keluar dari gerbang sekolah bersama Julian. Hari ini jadwal bimbel mereka sedikit molor karena Julian bersikeras Alea harus menyelesaikan 20 soal Termodinamika tanpa kalkulator.

​"Kenapa? Kamu takut petir?" tanya Julian, merapikan tas ranselnya.

​"Bukan petir, Jul. Motor gue!" Alea menunjuk area parkir motor siswa yang terbuka. "Jok motor gue bocor dikit. Kalau hujan gede, busanya nyerap air. Nanti pas gue dudukin, pantat gue basah kayak ngompol. Malu woy di lampu merah!"

​Julian baru membuka mulut untuk memberikan solusi logis (seperti: "beli lakban"), ketika tiba-tiba...

​DUAARRR!

​Guntur menggelegar dahsyat, disusul tumpahan air dari langit yang tidak tanggung-tanggung. Bukan rintik-rintik romantis, tapi hujan deras yang seperti ditumpahkan dari ember raksasa.

​"Lari!" teriak Julian.

​Tanpa sadar, Julian menyambar pergelangan tangan Alea. Mereka berlari menembus tirai air menuju halte bus tua yang terletak lima puluh meter dari gerbang sekolah.

​Hanya dalam sepuluh detik lari, seragam mereka sudah basah kuyup.

​Mereka melompat masuk ke bawah atap halte yang sempit. Napas mereka memburu. Hosh... hosh...

​"Gila! deres banget!" seru Alea sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang lepek. Air menetes dari ujung hidungnya. Kemeja putih seragamnya basah, mencetak samar tanktop hitam di baliknya.

​Julian melepas kacamatanya yang penuh titik air, mengelapnya dengan ujung kemeja yang (sedikit) lebih kering.

​"Ini hujan frontal," gumam Julian analitis, meski napasnya juga ngos-ngosan. "Pertemuan massa udara panas dan dingin. Biasanya durasinya lama."

​"Lo bisa nggak sih sehari aja nggak jadi ramalan cuaca berjalan?" keluh Alea sambil memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin langsung menusuk tulang begitu angin berhembus.

​Mereka terjebak.

​Halte itu sepi. Hanya ada mereka berdua. Mobil-mobil melintas cepat di jalan raya, menyipratkan genangan air kotor ke trotoar. Lampu jalan mulai menyala otomatis, memancarkan cahaya oranye yang berpendar di tengah hujan deras.

​Alea menggigil. Bibirnya mulai terlihat pucat. Ia cuma pakai seragam tipis, sementara jaket denim andalannya tertinggal di jok motor (yang sekarang pasti sudah basah kuyup).

​Julian melihat Alea yang gemetaran sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

​Tanpa bicara, Julian melepaskan tas ranselnya. Lalu, ia membuka kancing jas almamater OSIS-nya yang berwarna biru tua. Jas itu terbuat dari bahan yang cukup tebal dan untungnya tidak terlalu basah karena tadi Julian melindunginya dengan tas saat berlari.

​"Pakai ini," kata Julian, menyodorkan jas itu ke Alea.

​Alea menoleh, kaget. "Hah? Nggak usah. Lo nanti masuk angin."

​"Saya pakai kaos dalam. Kamu tidak," kata Julian datar, tapi tegas. "Pakai, Alea. Hipotermia itu bukan lelucon. Kalau kamu sakit, jadwal belajar kita berantakan."

​"Dasar perhitungan," cibir Alea, tapi tangannya menerima jas itu.

​Saat Alea menyampirkan jas kebesaran itu ke bahunya, aroma Julian langsung menyelimutinya. Aroma mint, sedikit aroma buku tua, dan aroma hujan. Hangat.

​"Makasih," gumam Alea, mengeratkan jas itu di tubuhnya. "Ternyata jas OSIS yang gue benci ini anget juga."

​"Itu simbol tanggung jawab. Tanggung jawab memang berat dan hangat," jawab Julian filosofis. Ia berdiri bersandar pada tiang halte, menatap hujan. Kemeja putihnya yang basah kini menempel di tubuh, memperlihatkan siluet bahunya yang tegap.

​Hening sejenak. Suara hujan yang konstan menciptakan dinding privasi bagi mereka berdua. Dunia luar terasa jauh.

​"Jul," panggil Alea.

​"Ya?"

​"Lo beneran nggak mau main musik lagi?" tanya Alea tiba-tiba. Pertanyaan yang sudah ia simpan sejak kemarin.

​Julian menoleh. Tatapannya sendu di balik kacamata.

​"Kenapa kamu tanya itu terus?"

​"Karena lo beda pas main piano kemarin," kata Alea jujur. Ia bergeser sedikit mendekat agar suaranya tidak kalah dengan suara hujan. "Lo keliatan... bahagia. Bukan Julian si Ketua OSIS yang mukanya kayak kanebo kering."

​Julian tersenyum miring. "Kanebo kering. Metafora yang menarik."

​Ia menghela napas panjang, menghembuskan uap putih di udara dingin.

​"Dulu... ibu saya guru piano," Julian mulai bercerita. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh hujan. "Setiap sore, rumah saya penuh musik. Ibu main piano, saya main gitar. Ayah... ayah dulu juga suka mendengarkan kami. Dia dulu sering senyum."

​Alea mendengarkan dengan seksama, tidak berani memotong.

​"Tapi sejak Ibu meninggal karena kanker enam tahun lalu... musik di rumah itu mati," lanjut Julian. Pandangannya kosong menatap aspal basah. "Ayah berubah. Dia benci suara piano. Dia bilang musik cuma bikin kita lemah, bikin kita larut dalam kesedihan. Dia membuang piano Ibu. Dia membakar gitar saya."

​Mata Alea membelalak. "Dibakar? Serius?"

​Julian mengangguk pelan. "Sejak hari itu, saya berjanji sama diri sendiri. Saya akan jadi anak yang Ayah mau. Penurut. Pintar. Dokter. Supaya Ayah nggak sedih lagi. Supaya Ayah bangga sama saya."

​Hati Alea mencelos. Ia bisa merasakan rasa sakit dalam suara Julian. Ternyata, kesempurnaan Julian dibangun di atas puing-puing trauma.

​"Lo ngelakuin itu semua buat bokap lo?" tanya Alea lirih.

​"Buat siapa lagi? Cuma dia keluarga saya yang tersisa."

​Alea menatap Julian dengan pandangan baru. Bukan kasihan, tapi empati yang mendalam. Ia mengerti rasanya ingin membanggakan orang tua. Bedanya, cara Alea adalah dengan memberontak agar dilihat, sedangkan cara Julian adalah dengan menekan dirinya sendiri sampai hilang.

​"Lo hebat, Jul," kata Alea lembut. "Gue nggak bakal sanggup hidup kayak lo. Tapi..."

​Alea menyentuh lengan Julian pelan.

​"...lo juga berhak bahagia, Jul. Lo bukan robot Ayah lo. Lo Julian. Manusia. Punya perasaan, punya mimpi."

​Julian menatap tangan Alea di lengannya. Sentuhan itu hangat.

​"Mimpi saya sudah saya kubur," kata Julian pesimis.

​"Gali lagi dong!" seru Alea semangat. "Mimpi itu kayak zombie, Jul. Nggak bisa mati. Dia bakal terus ngejar lo. Liat aja kemarin, baru nyentuh piano dikit, jiwa musisi lo langsung bangkit dari kubur."

​Julian tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih lepas dari biasanya.

​"Kamu ini... optimis sekali untuk ukuran orang yang nilai Matematikanya 40."

​"Heh! 45 ya! Ada kemajuan!" protes Alea.

​Mereka tertawa bersama. Di bawah atap halte yang bocor sedikit, di tengah hujan Jakarta yang kejam, jarak di antara mereka terkikis habis.

​Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan halte. Kaca jendela belakang turun.

​Wajah tegas Dokter Prasetyo, ayah Julian, terlihat di sana.

​Tawa Julian langsung mati. Tubuhnya menegang seketika. Posturnya kembali kaku.

​"Julian," panggil ayahnya dingin.

​"Pa..." Julian maju selangkah, seolah siap menerima hukuman.

​Ayahnya menatap Julian yang basah kuyup, lalu tatapannya beralih ke Alea yang memakai jas OSIS Julian. Tatapan Dokter Prasetyo meneliti Alea dari ujung rambut yang berantakan sampai sepatu kets yang kotor. Tatapan menilai yang tajam.

​"Masuk. Kamu bisa sakit," perintah ayahnya tanpa menyapa Alea.

​Julian menoleh pada Alea. Wajahnya terlihat bingung dan serba salah.

​"Alea..."

​"Gue nggak apa-apa, Jul," potong Alea cepat, sadar situasi. Ia melepaskan jas OSIS itu dan memberikannya pada Julian. "Nih. Thanks ya pinjemannya. Lo duluan aja."

​"Kamu gimana? Hujan masih deras," tanya Julian cemas, merendahkan suaranya agar tidak didengar ayahnya.

​"Santai. Raka lagi OTW jemput gue bawa mobil bak terbuka," bohong Alea sambil nyengir. "Udah sana. Nanti bokap lo marah."

​Julian menatap Alea ragu, lalu menatap ayahnya yang sudah mengetuk-ngetuk pintu mobil tidak sabar.

​"Besok. Jam istirahat. Review materi," bisik Julian cepat.

​Alea mengangguk dan memberikan gestur 'oke'.

​Julian masuk ke dalam mobil mewah itu. Pintu tertutup rapat. Kaca jendela naik kembali, memisahkan dunia mereka yang hangat dan dingin. Mobil itu melaju menembus hujan, meninggalkan Alea sendirian di halte.

​Alea memeluk dirinya sendiri yang kembali kedinginan tanpa jas Julian.

​"Raka jemput pake mobil bak terbuka? Halu banget lo, Le," rutuk Alea pada kebohongannya sendiri.

​Ia mengeluarkan HP-nya, memesan ojek online mobil meski harganya melambung tiga kali lipat.

​Sambil menunggu, Alea tersenyum tipis mengingat percakapan tadi.

​"Mimpi itu kayak zombie," gumamnya. "Dan gue bakal jadi pawang zombie-nya Julian."

​Di dalam mobil yang hening, Julian menatap spion. Sosok Alea yang kecil semakin menjauh dan hilang ditelan hujan.

​"Siapa gadis itu?" tanya Dokter Prasetyo datar tanpa menoleh.

​"Teman sekolah, Pa. Anak didik saya untuk program peningkatan nilai," jawab Julian formal. Tangannya meremas jas OSIS-nya yang basah, jas yang masih menyisakan sedikit aroma parfum Alea—aroma vanila murah dan stroberi.

​"Jangan terlalu dekat. Dia terlihat... tidak teratur," komentar ayahnya singkat.

​Julian tidak menjawab. Ia hanya menatap tetesan hujan di kaca jendela.

​Tidak teratur, batin Julian. Tapi justru ketidakteraturan itu yang membuat hidup jadi menarik, Pa.

​Untuk pertama kalinya, Julian tidak sepenuhnya setuju dengan ayahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!