Bacaan khusus dewasa (***)
Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.
Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.
Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.
Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.
Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awan yang galau
💥Ketika restu terasa berat, bukan berarti cintamu akan berakhir begitu saja💥
"Nak, kamu jadikan minggu ini pulang. Mama ingin mengenalkan gadis yang kemarin mama ceritakan."
Ameera nampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat membaca pesan tersebut, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia baca.
"Mama nggak mau tahu, pokoknya kamu harus pulang. Mama sudah siapkan perjodohan ini sejak lama, tolong jangan bikin mama kecewa, kamu sayang mama kan."
Setelah membaca pesan berikutnya, dunia Ameera seperti runtuh. Ia memikirkan bagaimana masa depannya kelak, ia sudah tidak suci lagi bagaimana jika Awan menerima perjodohan tersebut lalu siapa yang mau menikah dengannya.
Memikirkan hal itu membuatnya langsung menitikkan air matanya, ia bingung harus berbuat apa. Kini ia hanya bisa menangisi keadaannya.
"Sayang, kamu kenapa ?" Awan yang baru masuk langsung terkejut saat melihat kekasihnya sedang menangis di kursinya, gadis itu nampak terisak dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Sayang, kamu kenapa ?" tanya Awan lagi seraya duduk berjongkok di hadapan Ameera, kedua tangannya memegang lengan gadis itu.
Ameera masih saja terisak dan enggan menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Apa ada yang menyakitimu? katakan siapa? akan ku habisi dia." geram Awan hingga membuat Ameera berhenti menangis lalu menatapnya.
"Apa minggu ini kamu akan pulang lagi ?" tanyanya kemudian.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" Awan nampak tak mengerti.
"Katakan apa kamu akan pulang lagi ?" tanya Ameera lagi.
"Nggak sayang, kamu kenapa sih ?" Awan masih belum mengerti dengan arah pembicaraan kekasihnya tersebut.
"Apa ada wanita lain yang kamu sukai selain aku ?" tanya Ameera kemudian.
"Nggak ada sayang, cuma kamu. Lagipula kamu kenapa sih ?" Awan balik bertanya.
"Beneran nggak ada ?" sepertinya Ameera masih belum percaya.
"Iya nggak ada sayang." sahut Awan dengan jujur.
"Tapi bukannya mas sudah di jodohkan." tukas Ameera yang langsung membuat Awan terkejut.
"Apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti ?" tanyanya menyelidik.
"Aku sudah baca pesan dari Mama kamu mas, hari minggu nanti akan ada pertemuan keluarga. Katanya mas akan di jodohkan." sahut Ameera dengan berkaca-kaca menatap Awan.
"Nggak ada itu perjodohan, sayang." Awan mencoba meyakinkan.
"Tapi jelas-jelas mama kamu yang mengatakannya." Ameera langsung memperlihatkan pesan yang di kirim oleh ibunya Awan tadi.
Awan segera membacanya, setelah itu ia nampak geram. "Aku nggak akan pulang minggu ini." ucapnya kemudian.
"Lalu mas akan beralasan apa ?" tanya Ameera.
"Nggak ada alasan sayang dan nggak butuh alasan apapun itu." tegas Awan.
"Tapi mas, bagaimana kalau...." Ameera belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Awan nampak menciumnya dengan rakus dan tak memberikannya kesempatan untuk berbicara lebih banyak.
"Mas." teriak Ameera dengan kesal saat Awan baru melepaskan panggutannya, bibirnya nampak memerah dan sedikit bengkak karena ciumannya tadi.
"Mau nambah lagi ?" goda Awan sembari menahan kekehannya.
"Aku mau ngomong serius mas." Ameera langsung bersungut-sungut.
"Baiklah, kamu mau ngomong apa sayang? bukankah tadi sudah ku bilang aku nggak akan pulang." sahut Awan.
"Kita udahan ya, aku nggak bisa menjalin hubungan tanpa restu ibumu." ucap Ameera, bibirnya nampak bergetar saat mengucapkan itu.
Mendengar itu Awan langsung mengeraskan rahangnya, matanya memerah seperti menahan amarah.
"Jadi segini aja perasaanmu padaku ?" ucapnya dengan nada dingin menatap Ameera.
Sedangkan Ameera nampak menggelengkan kepalanya, ia mencintai Awan bahkan kesuciannya pun sudah di rengguut oleh pria itu lalu kenapa masih meragukan perasaannya.
Akhirnya Ameera hanya bisa terisak, air matanya nampak meleleh dari sudut matanya, mengalir dan membasahi pipinya.
"Kenapa kamu begitu bodoh sih sayang, apa kamu tidak pernah memikirkan masa depanmu yang sudah ku renggut? kenapa harus menyerah? kenapa kita tidak berjuang bersama-sama saja? aku yakin suatu saat mama pasti akan luluh." bujuk Awan kemudian.
"Aku takut mas." Ameera semakin terisak, lalu Awan membawanya ke dalam pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, ada aku yang akan selalu melindungimu. Tetap di sisiku dan jangan menyerah." ucapnya sembari membelai rambut panjang Ameera.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu Awan terlihat berada di Cafe belakang kantornya, nampak beberapa kaleng bir ada di atas mejanya.
"Bro, bagaimana kalau Ameera melihatmu seperti ini ?" tegur Rangga saat melihat Awan menghabiskan beberapa kaleng minuman berakohol tersebut.
"Dia nggak akan tahu kalau kamu tutup mulut." sahut Awan.
"Kamu ada masalah? bukannya kamu sudah lama nggak menyentuh minuman itu lagi sejak pacaran sama Ameera." tanya Rangga penasaran.
"Mama berniat menjodohkanku dengan gadis pilihannya." sahut Awan lalu meneguk minumannya kembali.
"Bilang saja kalau kamu sudah punya pacar bro." saran Rangga.
"Kamu tidak tahu bagaimana perangai mama, mama selalu menilai sesuatu dengan materi." keluh Awan.
Mendengar itu Rangga hanya bisa menghela napasnya, kemudian ia menepuk pelan bahu Awan. "Semangat bro, kalau kalian jodoh pasti akan di permudah jalannya." ucapnya memberikan semangat.
Awan nampak terdiam, ia harus segera mencari cara agar Ameera bisa di terima oleh sang ibu.
"Apa kamu punya ide ?" tanyanya kemudian seraya menatap pria yang sedang duduk di depannya itu.
"Kalau masalah materi berat bro, lagipula sudah tahu kalian sangat berbeda kenapa masih saja menggoda Ameera. Itu sama saja kamu sengaja ingin menyakitinya." sahut Rangga.
"Aku meminta saran, bukan menyuruhmu untuk berkomentar Ga." gerutu Awan dengan kesal.
"Aku tidak mempunyai saran yang benar jadi jangan meminta saran padaku." tukas Rangga kemudian.
"Memang saran yang nggak benar seperti apa ?" tanya Awan penasaran.
"Bikin Ameera hamil anakmu mungkin, tapi ku sarankan jangan lakukan itu karena kamu akan berhadapan langsung denganku." sahut Rangga memperingati.
Mendengar saran Rangga, Awan nampak terdiam. Semoga saja Ameera beneran hamil mengingat waktu itu ia membuang cairan percintaannya di rahim gadis itu.
Kemudian ia nampak menaikkan sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tipis.
Beberapa hari kemudian Ameera nampak bernapas lega setelah melihat alat pengetes kehamilan di tangannya tersebut.
Ia sangat khawatir jika hamil, mengingat Awan waktu itu tidak menggunakan pengaman. Meski ia merasa tabu dengan hal seperti itu, tapi ia sudah mencari tahu di lamam internet sebelumnya.
"Syukurlah." gumamnya, sungguh ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa.
Saat ia akan membuang testpack tersebut kedalam tempat sampah, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. "Sayang." panggil Awan hingga membuatnya urung melakukannya.
Ameera mendesah kesal. "Bisa nggak sih mas, mengetuk pintu dulu sebelum masuk." gerutu Ameera.
"Kalau aku mengetuk pintu keburu ada yang melihat, lagipula kenapa kamu nggak menguncinya ?" sahut Awan sembari berjalan mendekat.
"Aku lupa." Ameera nampak tersenyum nyengir, mengingat ia tadi sempat keluar sebentar.
"Kebiasaan, itu apa yang kamu pegang ?" tanya Awan kemudian saat melihat Ameera memegang sesuatu.
"Bukan apa-apa." Ameera segera menyembunyikannya, namun Awan langsung merebutnya.
tinggal saja laki laki sampah itu merra
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/