Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 34
Matahari mulai menyongsong, menyambut aktivitas penduduk bumi yang penuh harapan. Byakta mengerjab saat mendengar suara rintihan di dekatnya, ia bangun dan mendapati Audrey yang sudah sadarkan diri.
Tidak menunggu lama dan berucap apapun, ia segera berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter, lalu kembali dengan tergesa.
Dokter pun menghampiri dan melihat ternyata benar Audrey sudah sadarkan diri, gadis itu terus menyebut-nyebut nama Rayyan di gumamnya yang belum begitu jelas.
Byakta tercekat saat tahu nama siapa yang disebut istrinya, tak terasa hatinya ikut terluka saat mendengar suara lemah itu.
Ini adalah hari ke empat Audrey di rumah sakit, "Alhamdulillah, dia sudah melewati masa kritisnya," ucap dokter
Hati Byakta bahagia mendengar dokter mengatakan istrinya sudah melewati masa kritisnya, namun akan jadi apa setelah ini.
Saat Audrey tahu jika semuanya telah pergi, adik yang disayanginya, bayi yang di khawatirkannya tidak akan hidup bahagia.
Bukan Byakta tidak tahu atas kegundahan Audrey setelah datangnya Melisa dan mengaku jika wanita itu sedang mengandung anaknya.
Namun, rasa gengsi itu menekan Byakta untuk terus berlagak acuh atas kekhawatiran Audrey sebagai penjelasan kalau itu bukan urusannya.
Ia hanya punya hak mengandung dan melahirkannya, akan tetapi tidak berhak untuk mengurus kehidupannya setelah dilahirkan.
Byakta tersentak saat dokter menjelaskan perkembangan kondisi Audrey setelah memeriksanya.
"Baik dok, terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Byakta sambil berjalan menghantarkan dokter dan suster tersebut keluar dari ruangan.
Byakta kembali menghampiri Audrey yang masih terlihat lemah, kini gadis itu hanya di infus saja, sebab kondisinya memang sudah lebih baik dan tidak lagi memerlukan yang lain lagi.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Byakta lembut.
Audrey yang sedari tadi hanya diam dan tidak lagi menggumamkan nama adiknya melengos begitu saja.
"Aku ingin pulang," ucapnya tanpa melihat Byakta yang berusaha tersenyum.
"Tapi kau masih harus disini, kau belum sembuh," sahut Byakta berusaha selembut mungkin.
Ia berniat mulai hari ini akan memperlakukan Audrey penuh perasaan, mungkin bisa dibilang kini laki-laki itu sudah termakan oleh isi perjanjiannya sendiri.
Semua seakan berbalik tidak sesuai dengan isi dari perjanjian yang ia dan Bastian buat untuk mendapatkan keturunan seharga lima miliar.
"Untuk apa? Aku ingin pulang dan mengakhiri semuanya," sarkas Audrey lemah.
Deg
Jantung Byakta bertalu mendengar kalimat sarkas dari bibir mungil yang mulai menjadi candu untuknya itu.
"Kenapa? Bukankah semuanya sudah pergi? Bayi yang aku kandung dan juga adikku?"
Ia ingat semuanya, semuanya sebelum ia berada di tempat ini, kini ia tidak bisa lagi menangis apalagi depan laki-laki yang sangat ia benci ini.
Hatinya sudah kuat, ia ikhlas dan sangat ikhlas, adiknya tidak lagi sakit, adiknya tidak lagi menderita, lalu bayinya, ia tidak akan lahir dan menjadi anak yang menyedihkan karena tidak punya ibu.
"Jangan pikirkan apapun dulu untuk saat ini, fokuslah pada kesembuhan mu." Usap Byakta pucuk kepala Audrey.
Membuat gadis itu mendengus kasar, "Apa sekarang kau mengkhawatirkan ku, telah mengacuhkan adikku sampai ia meninggal? Cih! Kau bukan manusia Tuan Byakta Arsena," cibir Audrey pada laki-laki yang bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun saat ini.
"Baiklah. jika kau hanya diam. Keluarlah, aku akan tidur agar cepat pulih dan mengakhiri semuanya di meja perceraian." Pejamkan Audrey matanya, tiba-tiba ia menjadi muak dengan laki-laki yang kemarin begitu tegas dan datar.
Ia muak melihat netranya bahkan kini menunjukkan begitu banyak penyesalan dan Audrey tidak akan iba melihatnya.