Revan seorang pria tampan pengusaha muda sukses, ia pernah mengalami kegagalan saat akan menikah dengan gadis yang di cintainya, kegagalan itu membuat ia enggan menjalin lagi hubungan dengan seseorang, hingga ia di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan gadis SMU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Alika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sore hari Kiara baru pulang ke rumah, entah apa yang gadis itu lakukan padahal ia tidak pergi ke sekolah. Yang di lakukan gadis itu hanya bermain-main saja. Jika di tanya orang tuanya tau atau tidak dengan kelakuannya, tentu saja orang tuanya tidak tau. Di mata orang tuanya Kiara adalah anak yang sangat rajin dan penurut . Karena itulah Sandra sangat bangga dengan anaknya Kiara.
"Mah, pah lagi pada ngapain ? tanya Kiara kepada orang tuanya yang sedang mengobrol di ruang tamu. "Kami lagi membahas sesuatu sayang, kamu baru pulang dari mana saja kenapa sore kamu baru sampai ke rumah " tanya Hendra.
"Kiara abis kerja kelompok pah" jawab Kiara berbohong
"Kiara ini anaknya rajin pah, dia ga pernah bilin ulah di luar mamah bangga sama Kiara" ucap Sandra bangga ke pada putrinya. Andai saja mereka tau apa yang putrinya lakukan di luar sana, bahkan hari ini putri kesayangan mereka tidak sekolah dan malah bolos dan berkeliaran di jalan bersama temannya.
"Ya udah kamu istirahat dulu, kamu pasti capek kan " ucap Sandra.
"Iy mah " jawab Kiara sambil berlalu meninggalkan.kedua orang tuanya yang masih duduk di sana.
"Pah coba deh papa tanyain sama pak Anton itu, kenapa dia ngelakuin hal itu ke kita, kita besannya.loh pah " Sandra membujuk Hendra untuk bicara pada Anton. Terang saja, sebenarnya kini wanita.ini sedang ketakutan. Dia takut jatuh miskin kalau saja Hendra menarik semua dana yang menjadi sumber dana perusahaan suaminya itu.
"Baiklah nanti papa akan ke rumahnya sekalian ingin bertemu dengan Yura, sudah lama papa tidak bertemu dengannya "
"Iya bilang aja kalo papa itu kangen sama Yura pura-puranya" jawab Sandra enteng
"Papa tidak pura-pura, papa memang sangat merindukannya" ucap Hendra, Sandra memutar bola matanya malas mendengar suamimya merindukan Yura, putri kandungnya.
Di kediaman Maheswara
"Yura sayang ayo minum susu nya " Revan memberikan segelas susu untuk Yura yang sengaja ia buat untuk istri kecilnya.
Yura mengambil susu buatan suaminya dengan tersenyum riang. Yura merasa sangat bahagia dengan Revan. Karena hanya Revan lah yang memberikannya ribuan kasih sayang padanya. Yura merasa jadi wanita yang paling di cintai oleh Revan.
"Makasih mas...." Yura pun langsung meminumnya sampai habis dan memberilan gelas yang sudah kosong pada Revan.
"Anaku sedang apa sekarang " ucap Revan sambil mengelus perut Yura yang masih rata.
"Lagi bobo kayanya..." jawab Yura
Melihat istrinya tiduran membuat Revan ingin ikit naik ke atas kasur dan menemaninya. Revan menarik Yura ke dalam pelukannya dan Yura pun membalas pelukan Revan dengan melingkarkan tangan kecilnya di pinggang Revan.
Melihat istri kecilnya bermanja Revan merasa sangat bahagia. Hingga kecupan pun ia berikan di kening Yura. "Bagaimana keadaanmu sekarang, apa lebih baik " tanya Revan
"Iya lumayan, Yura ga terlalu lemes sekarang "
"Kalau begitu apa aku bisa menyentuhmu" kecupan lembut pun mendarat di pipi Yura . "Biasanya juga ga pernah minta malah langsung nyosor aja " ucap Yura yang di sambut tawa oleh Revan. "Kenapa kau selalu menggodaku gadis kecil" ucap Revan dan kini Revan pun mencium lembut bibir mungil Yura.Ciuman yang awalnya sangat lembut kini berubah menjadi ciuman yang menuntut. Hingga Revan mulai melepaskan ciumannya karena Yura yang kehabisan nafas.
Revan pun mengusap bibir Yura yang basah karena ulahnya. Kini ciumannya ia daratkan si leher dan tengkuk Yura ia senang bermain-main di sana dan tangannya pun tidak tinggal diam sudah menjalar kemanan-mana membuat erangan kecil keluar dari mulut Yura . Revan pun tidak ingin menunggu lama ia langsung melakukan penyatuan dengan Yura dengan perlahan mengingat istrinya sedang hamil.
Yura sangat menikmati curahan cinta dari Revan hingga beberapa kali ia menyebutkan namanya membuat Revan semakin terbuai saja karena nya. Hingga kini mereka tengah selesai dengan kegiatan mereka berdua. Setelah selesai Revan membantu Yura untuk mandi, selesai mandi Yura pun tertidur karena kelelahan. Revan menghujani wajah Yura dengan ciuman. Tadinya Revan akan melanjutkan.pekerjaannya namun ia urungkan karena terdengar suara ketukan pintu di luar.
Revan.pun bergegas membukanya dan melihat ada Regan di sana, Revan merasa heran kenapa tiba-tiba Regan mengetuk pintu kamarnya karena adalah hal yamg tidak biasa di lakukannya.
"Ada apa Regan....?" tanya Revan
"Ada mertuamu di depan, sepertinya dia merindukanmu" jawab Regan
"Ternyata secepat ini dia datang kemari" ucap Revan
"Kau akan menemuinya " tanya Regan
"Tentu saja, ini yang aku tunggu dari tadi " jawab Revan
Revan dan Regan pun turun ke bawah untuk bertemu dengan Hendra. Saat sampai di ruang tamu Revan melihat mertuanya sedang mengobrol serius.dengan papa nya.
"Selamat malam nak Revan " sapa Hendra sambil bersalaman dengan Revan dan Regan.
"Dimana Yura ?" tanya nya
"Dia sedang istirahat di kamar " jawab Revan dingin Hendra pun menganggu, ia kecewa karena tidak bisa bertemu dengan putrinya.
"Langsung saja pak Hendra apa yang membawa anda datang kemari, tidak biasanya anda datang menengok putri anda " ucap Revan penuh penekanan.
"Ah itu, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu kenapa dana di perusahaanku di tarik " jawab Hendra tanpa basa-basi .
"Kenapa bertanya padaku, kenapa tidak bertanya pada putrimu " jawab Revan
"Yura ? memangnya apa yang dia lakukan sampai dana perusahaan semua di ambil, kesalahan apa yang dia buat ? tanya Hendra, ucapan Hendra membuat kemarahan Revan semakin menjadi tangannya mengepal dengan kuat.
"Apa di matamu hanya Yura lah yang selalu terlihat bersalah ? " geram Revan, sedangkan pak Anton dan Regan hanya diam karena mereka sudah tau permasalahannya.
"Memangnya putri yang mana lagi ?" tanya Hendra
"Apa kau hanya memiliki satu putri ?" Revan balik bertanya.
"Aku punya dua putri, tapi Kiara tidak ada hubungannya dengan ini kan, memangnya apa yang dia lakukan dia hanya seorang pelajar yang setiap hari pergi ke sekolah" Revan hanya tertawa mendengar ucapa Hendra.
"Memangnya kau melihat dia sekolah ?" tanya Revan
"Tentu saja setiap hari aku melihatnya berangkat sekolah, bahkan aku yang mengantarnya ke sekolah"
"Itu tidak membuktikan kalau dia sedang sekolah, karena bisa saja setelah kau pergi meninggalkannya putri kesayanganmu itu juga meninggalkan sekolah" ucap Revan.
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa di sini kita malah membahas Kiara" jelas Hendra merasa bingung.
"Karena putri kesayanganmu itu hampir saja melukai.istri dan calon anaku dan aku tidak akan pernah.memaafkan hal itu.....!!!!" ucap Revan dengan marah
"Apa...."