Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — PENGKHIANATAN KECIL
Kegelapan di dalam lumbung padi tua itu bukan sekadar ketiadaan cahaya. Itu adalah zat padat yang menekan gendang telinga dan paru-paru. Udara di dalamnya berbau sekam padi yang sudah membusuk puluhan tahun, bercampur dengan aroma kapur barus yang menyengat—aroma pengawet kenangan, atau pengawet mayat.
Nara terbaring di lantai papan kayu yang kasar. Tali tambang ijuk melilit pergelangan tangan dan kakinya begitu erat hingga aliran darahnya terasa tersumbat. Kesemutan yang menyakitkan mulai menjalar dari ujung jari hingga ke bahu.
Ia sendirian. Atau setidaknya, ia berharap sendirian.
Suara tikus-tikus besar yang berlarian di balok atap terdengar seperti langkah kaki manusia kerdil. Cit... cit... grubuk.
Nara mencoba membalikkan badannya. Tulang rusuknya nyeri hebat, sisa bantingan Kang Jaya tadi. Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa sakit di kepalanya—rasa sakit akibat pengkhianatan realitas.
"Pak Dosen..." desis Nara dalam gelap. Giginya gemeretak.
Ingatannya kembali pada foto polaroid yang ia temukan. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mereka, Pak Haryo, berdiri di belakang Nenek Retno tahun 1974. Wajahnya di foto itu masih muda, tapi tatapannya sama dinginnya dengan saat ia mengantar Nara dan teman-temannya ke desa ini sebulan lalu.
Pak Haryo bukan menghilang karena sibuk. Dia menghilang karena tugasnya sebagai kurir sudah selesai. Dia telah mengantar paket daging segar ke pemesan, lalu pergi menunggu pembayaran di kota.
"Gue bakal bunuh lo, Pak Haryo," sumpah Nara pada kegelapan. "Kalau gue keluar dari sini jadi setan, orang pertama yang gue datengin itu lo."
Tiba-tiba, terdengar suara kunci gembok diputar dari luar.
Krek... Cklek.
Pintu lumbung yang berat berderit terbuka sedikit.
Seberkas cahaya senter menyelinap masuk, membelah debu-debu yang melayang di udara lumbung. Nara menyipitkan mata, silau.
"Siapa?" bentak Nara serak. "Kang Jaya? Mau nyiksa gue lagi? Maju sini bangsat!"
Sosok itu melangkah masuk, lalu menutup pintu kembali dengan cepat, seolah takut ada yang melihat.
Sosok itu tidak besar seperti Kang Jaya. Tubuhnya kurus, sedikit bungkuk.
Ia mengarahkan senter ke wajahnya sendiri.
Dion.
Nara terdiam. Jantungnya melompat. Harapan yang nyaris mati kembali menyala kecil.
"Dion?" bisik Nara. "Lo... lo sadar? Lo nggak jadi gila kayak Siska?"
Dion tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, langkahnya hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi di lantai kayu. Ia berlutut di samping Nara.
Penampilan Dion berbeda.
Kacamatanya yang retak sudah tidak ada, diganti dengan kacamata baru bergagang emas—model kuno. Bajunya yang tadi kotor oleh lumpur dan darah, kini bersih. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi. Dan ia... wangi. Bau badan apek dan keringat ketakutan itu hilang, digantikan aroma minyak cendana yang menenangkan namun asing.
"Yon, bukain talinya," pinta Nara mendesak. "Kita cari jalan lain. Gue tau kelemahan nenek gue. Gue bisa—"
"Minum dulu, Nar," potong Dion pelan.
Dion mengeluarkan botol air mineral dari balik punggungnya. Segelnya sudah dibuka.
"Gue nggak butuh minum! Gue butuh pisau!"
"Minum, Nara. Bibir lo pecah-pecah," kata Dion, nadanya datar namun ada sedikit getaran aneh. "Ini air bersih. Bukan air sumur. Gue ambil dari galon di Balai Desa."
Dion membantu mendudukkan Nara, lalu menempelkan botol ke bibir Nara.
Nara yang kehausan setengah mati akhirnya menyerah. Ia meneguk air itu rakus. Dingin, segar, dan normal. Tidak ada rasa darah atau tanah.
"Oke, thanks," Nara mengatur napas. "Sekarang lepasin tali gue. Lo bawa pisau kan?"
Dion menatap Nara. Di balik kacamata barunya, mata Dion terlihat jernih. Sangat jernih. Tidak ada lagi kebingungan atau ketakutan intelektual yang biasa menghantuinya. Yang ada hanyalah ketenangan fatalistik.
"Gue nggak bawa pisau, Nar," kata Dion.
"Terus lo ke sini ngapain? Pake baju batik rapi gitu?" Nara mulai curiga. Ia memundurkan badannya sedikit. "Lo... lo nggak lagi cosplay jadi warga desa kan?"
Dion tersenyum tipis. Senyum yang sedih.
"Gue ke sini buat pamit, Nar."
"Pamit?"
"Dan buat minta maaf," lanjut Dion. Ia merogoh saku kemejanya. Bukan pisau yang ia keluarkan, melainkan sebuah buku kecil.
Bukan jurnal kulitnya yang lama—yang sudah dibakar Nara. Ini buku baru. Buku tulis bergaris biasa, tapi sampulnya sudah ditulis rapi dengan tinta hitam:
BABAD WANASARI: SIKLUS 2024
Penulis: Dion Mahesa
Nara menatap buku itu, lalu menatap Dion.
"Lo... lo nulis lagi?"
"Gue Juru Tulis, Nar. Itu peran gue," kata Dion lembut. "Lo Pemimpin. Raka Petarung. Siska Pendoa. Bima Pembuka. Lala Wadah. Kita semua punya role-nya masing-masing. Nggak ada yang bisa tuker peran."
"Lo ngomong apa sih? Kita bisa ngelawan peran itu!"
"Nggak bisa," Dion menggeleng. "Tadi di hutan... pas kita lari... lo inget nggak gue sempet jatoh terus bilang kaki gue sakit?"
Nara mengangguk kaku.
"Itu gue bohong," aku Dion.
Nara terbelalak. "Apa?"
"Kaki gue nggak sakit. Gue sengaja jatoh biar kita lambat," Dion menunduk, memainkan ujung bukunya. "Dan kompas gue... kompas gue nggak ilang di gua. Gue kantongin."
Nara merasa darahnya mendidih. "Lo... lo nyabotase pelarian kita?"
"Kompasnya bener kok, Nar. Arah utara itu bener," kata Dion cepat, seolah membela diri. "Tapi gue arahin kita ke selatan. Gue arahin kita muter balik ke Balai Desa."
"KENAPA?!" teriak Nara. Ia mencoba menendang Dion dengan kakinya yang terikat, tapi Dion gesit menghindar. "LO GILA?! KITA BISA SELAMET!"
"KITA NGGAK BISA SELAMET, NARA!" Dion membentak balik. Untuk pertama kalinya, ia meninggikan suara. Wajahnya memerah, topeng ketenangannya retak.
"Lo nggak ngerti matematikanya!" Dion menunjuk ke arah dinding lumbung, seolah bisa melihat tembus ke hutan. "Gue udah itung. Gue udah simulasi di kepala gue ribuan kali sejak gue baca jurnal itu. Peluang kita keluar dari sini nol koma nol sekian persen. Itu mustahil."
Dion mendekatkan wajahnya ke Nara.
"Kalau kita terus lari... kita bakal mati konyol di hutan. Dimakan macan jadi-jadian, atau mati kelaparan, atau jadi gila kayak Siska. Mayat kita bakal busuk di semak-semak, nggak ada yang nemuin, nggak ada yang ngubur."
Nara menatap Dion dengan jijik. "Jadi lo milih nyerah? Lo milih jual temen lo sendiri biar lo bisa dapet... apa? Baju batik? Makan enak?"
"Gue milih buat hidup, Nar," bisik Dion. "Dan gue milih buat nyatet cerita ini. Biar kematian kalian nggak sia-sia. Biar ada arsipnya."
"Lo pengecut, Dion. Pengecut egois."
"Mungkin," Dion mengangkat bahu, air mata mulai menggenang di matanya, tapi ekspresinya tetap keras kepala. "Tapi pengecut ini yang bakal hidup sampe tua. Pengecut ini yang bakal pulang ke kota, lulus wisuda, dan punya masa depan."
"Lo pikir mereka bakal lepasin lo gitu aja?" cibir Nara. "Lo naif. Lo cuma alat."
"Gue udah bikin perjanjian," kata Dion yakin. "Sama Mbah Sakir. Sama Pak Wiryo. Posisi Juru Tulis itu sakral. Juru Tulis nggak boleh dibunuh karena dia yang megang memori desa. Gue gantiin posisi Pak Dosen Haryo. Gue bakal jadi penghubung untuk siklus sepuluh tahun lagi."
Nara meludah tepat ke wajah Dion.
Cuih.
Ludah itu mengenai pipi Dion dan kacamata barunya.
Dion tidak marah. Ia menyekanya perlahan dengan sapu tangan.
"Simpen tenaga lo, Nar," kata Dion dingin. "Besok malem ritual puncak. Lo butuh energi buat teriak pas nenek lo masuk ke badan lo."
Dion berdiri, merapikan bajunya.
"Oh ya, satu lagi," kata Dion. "Gue ke sini disuruh Bu Kanti. Katanya lo harus 'dilemaskan' dulu ototnya biar nggak ngelawan pas dimandiin besok."
"Lo mau ngapain?" Nara waspada.
Dion tidak menyentuh Nara. Ia hanya mengambil botol air mineral yang tadi diminum Nara.
"Air itu..." Dion menggoncang botol yang isinya tinggal setengah. "Itu air Balai Desa, bener. Tapi udah dicampur sari bunga kecubung sama sedikit... getah opium."
Nara merasakan dingin merambat di perutnya.
"Lo bius gue..."
"Dikit kok. Cuma bikin lemes. Bikin lo fly," kata Dion. "Biar lo nggak ngerasain sakit hati yang berlebihan."
Efek itu mulai bekerja. Nara merasa ujung jari-jarinya kebas. Pandangannya mulai berbayang. Lidahnya terasa tebal.
"Dion... anjing..." umpat Nara, tapi suaranya keluar seperti gumaman orang mabuk.
Kepala Nara terkulai ke lantai. Ia masih sadar, tapi tubuhnya lumpuh. Ia bisa melihat, mendengar, dan merasakan, tapi saraf motoriknya diputus.
Dion menatap Nara yang tak berdaya. Ia berjongkok lagi, lalu mengeluarkan spidol permanen dari sakunya.
"Maaf ya, Nar," bisik Dion. "Ini bagian dari prosedur."
Dion menarik lengan baju Nara ke atas. Di kulit lengan Nara yang putih, Dion mulai menulis sesuatu dengan spidol hitam.
Ia menulis deretan angka.
1974 - 2024
Dan di bawahnya, ia menggambar sebuah simbol. Simbol Ouroboros—ular yang memakan ekornya sendiri. Tapi kepala ularnya diganti dengan wajah wanita.
"Sudah ditandai," kata Dion, menutup spidolnya. "Sekarang lo resmi jadi inventaris."
Nara ingin berteriak, ingin menggigit leher Dion, tapi ia hanya bisa menatap dengan mata sayu yang penuh kebencian.
Dion berdiri, memandang Nara untuk terakhir kalinya.
"Jangan benci gue, Nar," kata Dion. "Di cerita horor manapun... survival instinct selalu ngalahin moralitas. Gue cuma manusia biasa. Dan manusia biasa itu... takut mati."
Dion berjalan menuju pintu.
"Selamat tidur, Ratu," bisik Dion.
Ia keluar, menutup pintu lumbung, dan menguncinya kembali.
Cklek.
Suara langkah kaki Dion menjauh, diiringi suara siulan kecil. Ia bersiul lagu Lingsir Wengi, tapi dengan nada yang ceria, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya.
Nara terbaring sendirian dalam gelap. Obat bius itu menarik kesadarannya ke dalam pusaran mimpi buruk. Tapi di tengah kelumpuhannya, satu hal tetap menyala terang di otak Nara.
Bukan rasa takut. Bukan rasa pasrah.
Melainkan dendam.
Dendam pada Raka yang lemah.
Dendam pada Siska yang munafik.
Dendam pada Lala yang berkhianat.
Dan sekarang, dendam yang paling besar pada Dion—si rasionalis yang menjual jiwanya demi selembar nyawa.
"Tunggu aja..." batin Nara, saat kesadarannya mulai hilang. "Kalau gue jadi Ratu... orang pertama yang gue makan adalah Juru Tulisnya."
Dan di sudut lumbung yang gelap, sepasang mata merah kecil mengawasi Nara. Tikus-tikus lumbung itu tidak mendekat. Mereka tahu, daging perempuan yang terikat itu bukan untuk mereka. Itu hidangan khusus untuk Yang Dipertuan Agung.
Malam semakin larut. Dan Nara mulai bermimpi.
Dalam mimpinya, ia duduk di singgasana yang terbuat dari tulang belulang teman-temannya. Dan di kakinya, Dion berlutut, memohon ampun dengan lidah yang sudah dipotong.
Nara tersenyum dalam tidurnya. Senyum yang bukan miliknya.
Racun pengkhianatan itu ternyata bekerja lebih cepat daripada ritual apapun. Ia telah mulai mengubah Nara menjadi monster, bahkan sebelum hantu neneknya menyentuhnya.