Syafira, 18 tahun. Mahasiswi semester satu, jurusan ekonomi, di perguruan tinggi swasta di Jakarta. Gadis sebatangkara, yang hanya memiliki satu orang terpenting dalam hidupnya Viktor Erlanga.
Viktor Erlangga, 32 tahun. Merupakan sahabat mendiang kedua orang tua Syafira. Dia tampan, kaya raya, dan merupakan seorang presdir di perusahaan keluarga.
12 tahun yang lalu, kedua orang tua Syafira meninggal dunia akibat kecelakaan beruntun yang terjadi di kota London. Sejak saat itu, Viktor merawatnya, menyekolahkan, dan membesarkannya.
Dan suatu hari nanti, akan menikahkan Syafira dengan pria yang baik.
"Om, aku mencintaimu," ungkap Syafira.
Entah kapan perasaan itu ada. Yang jelas hanya satu yang paling berharga dalam hidupnya Viktor Erlangga.
"Jangan gila Syafira, aku bahkan lebih pantas menjadi kakakmu! Seleramu memang tinggi, tapi maaf kamu bukan tipeku!" balas Viktor kejam.
Syafira tidak menyerah. Bagaimana kegigihan gadis itu menggoda si Om?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Victory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada pilihan lain.
Syafira baru selesai mandi. Ia berada di dalam kamarnya di lantai dua. Bersebelahan dengan kamar Xander, dan dipisahkan lorong yang mengantarnya ke balkon utama yang luas.
Rencananya, setelah istirahat sejenak ia akan menemui Nyonya Hani Atau Xander. Ya, dengan beda di samping salah satu dari dua manusia itu. Victor tidak benari macam-macam. Tidak akan terus menggodanya dengan berbagai candaan yang selalu membuatnya bersemu merah karena tersipu malu.
Terdengar suara ketukan pintu pelan. Syafira tidak berani langsung menyahutnya. Ia takut jika seseorang di belakang pintu adalah Victor. Kalau di pikir kembali benar juga apa yang dikatakan Victor. Semakin sering kita menerima sesuatu dari orang lain, semakin sungkan pula kita menolak permintaan dari orang tersebut.
Bukan mengenai Arsyan yang mentraktirnya makan malam tadi. Tapi ini mengenai Victor, jika benar pria itu ingin tidur dengannya. Syafira benar-benar tidak bisa menolak.
“Syafira, kamu sudah tidur?” Suara Nyonya Hani terdengar nyaring.
“Sebentar,” sahut Syafira merasa lega. Bukan Victor melainkan wanita itu yang memanggilnya.
Cklek.
Pintu terbuka, dan wanita paruh baya itu berdiri di hadapan Syafira. Tersenyum ramah seperti biasanya jika ia menginginkan sesuatu dari Syafira.
“Kamu belum mau tidur kan?” tanya Nyonya Hani seraya menuntun Syafira keluar dari kamar. Lantas, ia mengajak Syafira duduk di ruang keluarga yang ,merupakan ruangan paling luas di lantai dua.
Syafira melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Namun, ia memang belum mengantuk. “Belum Nyonya,” sahutnya sembari menggelengkan kepala.
“Begini kuenya sudah Tante makan rasanya enak sekali, terima kasih ya.” Nyonya Hani masih menyunggingkan senyum mencurigakan, apalagi tangan kanannya masih menggenggam jemari Syafira dengan erat.
“Iya Nyonya, sama-sama.” Syafira membalas senyuman dan semakin mendapatkan firasat buruk.
“Syafira, maukah kamu menanyakan tentang hubungan Natasha dan Victor. Kamu tahukan, Xander sangat membutuhkan sosok mama. Kalu bisa aku ingin kamu menanyakannya pada Victor,” pinta wanita itu. Entah mengapa ia tidak pernah mau berbicara sendiri dengan putranya dan selalu menyuruh Syafira untuk menghadapi Victor. Ya, hubungannya dengan Victor sedikit renggang setelah perceraian dengan istri pertamanya.
Syafira menunduk, ia tahu jika hubungan Victor dengan Natasha itu sudah kandas. Namun, kali ini ia tidak akan bertindak lebih jauh seperti sebelumnya. Mau tidak mau ia harus bertemu dengan Victor untuk menanyakan perihal itu.
“Sya, kau mau kan bicara dengan Victor dan menanyakan tentang hubungannya dengan Natasha?” desak Nyonya Hani.
“Iya Nyonya, saya mau bicara dengan Om Victor. Bagaimana kalau besok pagi saja.” Mengingat ucapan Victor saat di pintu tadi membuat Syafira bergidik. Bagaimana kalau si Om benar-benar ingin tidur dengannya.
“Malam ini saja, Aku baru saja mengantar segelas kopi untuk Victor. Ia masih berada di ruang kerjanya. Kamu mau kan? Plis tante mohon . tante sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari mereka!” desak Nyonya Hani.
Syafira menunduk, Nyonya Hani memang selalu tahu cara membuatnya tidak berkutik. Kalu tidak sabar, mengapa menunggunya pulang ke rumah untuk menanyakan hal itu pada Victor.
“Baik Nyonya, saya akan menemui Om Victor sekarang juga!” balas Syafira.
“Kamu mau ke mana?” tanya Nyonya Hani bukannya berjalan ke ruang kerja Victor, Syafira melangkah ke dalam kamarnya sendiri.
“Saya hanya ingin mengambil baju hangat,” sahutnya. Bahaya bertemu dengan Om Victor dan hanya mengenakan tanktop saja. Pria itu bisa-bisa merealisasikan apa yang menjadi candaan nya saat di depan pintu tadi.
“Baik!”
Nyonya Hani tersenyum, tidak sabar menunggu kabar dari Syafira. Memilih untuk ke kamar Xander sembari menanti kabar baik.
* * *
Bakalan up lagi....
Jangan lupa Like dan Komen.
mampir thor🙋🏻♀️🙋🏻♀️