NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Terpesona

“Aku kos,” jawab Melati datar, tak merasa ada yang aneh dengan nada bicara sepupunya itu.

“Kos?” Mawar mendelik, mendekatkan wajahnya untuk mengorek informasi berharga demi uang tiga miliar. “Kos daerah mana? Siapa yang membiayaimu?”

“Kos Wak Kaji, daerah Latsari.”

“Oh, daerah situ.” Mawar mengangguk, tersenyum penuh maksud terselubung. Kilat keserakahan melintas cepat di matanya. Kemudian, ia memaksakan tawa ramah untuk mengalihkan pembicaraan. “Jadi kamu lamaran? Wah, selamat ya!”

Satya melihat Mawar seperti dua orang berbeda dibanding saat pertama bertemu. Apalagi gadis itu tak lagi menatap wajah parutnya dengan pandangan jijik, melainkan menyapanya ramah.

“Calon Kakak ipar, kenapa diam saja? Duduklah. Aku akan buatkan minum untuk kalian,” tawar Mawar, berpura-pura baik sembari melirik Satya.

“Tidak usah.” Satya yang semula hanya diam di ambang, akhirnya masuk. Ia meletakkan kotak martabak di meja tamu. “Aku hanya berharap kamu dan ibumu bisa datang ke acara lamaran besok Minggu.”

“Minggu ini?” Mawar terbelalak kaget. “Cepat sekali! Bukankah kalian baru kenal beberapa bulan?”

“Kami sudah kenal lama, Mai,” sahut Melati, tersenyum kecil sembari menggenggam tangan Satya erat. “Satya ini dulu, satu panti denganku.”

“Oh, begitu. Jadi dia juga yatim piatu sepertimu?” Mawar memancing.

“Ya. Benar.” Satya mengangguk. “Aku yatim piatu seperti Mawar. Makanya kami cocok, mungkin karena senasib.”

‘Lebih ke karena Melati buta sih, jadi nggak bisa lihat wajah burukmu itu,’ batin Mawar mengolok. ‘Andai Melati bisa melihat, aku kok nggak yakin dia milih kamu. Tapi wajah Satya ini, sepertinya bukan bawaan lahir deh.’

“Ya sudah, kami hanya ingin mengatakan itu.” Satya membantu Melati bangkit dari sofa, merangkul pinggang kekasihnya dengan protektif. “Kami permisi. Tolong kasih tahu ibumu supaya datang ke Latsari nomor 5. Itu rumah kontrakanku, acara diadakan di sana jam sembilan pagi.”

“Baiklah.” Mawar kembali melirik pintu kamar Turi, memastikan ibunya tidak keluar dan merusak rencana rahasianya. “Aku turut senang. Semoga lamaran kalian minggu depan sukses.”

“Amin.” Melati tersenyum lebar. Ada rona bahagia tampak di wajah ayunya, membayangkan masa depan indahnya bersama Satya. Tanpa tahu niat tersembunyi sepupunya.

Sementara Mawar, meski sunggingan ramah ia tampakkan, tapi dalam hati dia kesal luar biasa. Ia mengepalkan tangannya di balik punggung, menahan dongkol. ‘Si buta sialan! Dia bahagia di atas kesakitanku yang pernah melayani tua bangka. Sampai terpaksa memeras pria incaranku. Awas saja, akan aku sebar alamatmu! Bukan hanya ke Bagas demi tiga miliar, tapi juga ke Herwanto agar pernikahan kalian hancur total!’ batinnya mulai menyusun rencana.

Setelah pintu ditutup rapat seiring kepergian pasangan itu, Mawar secepat kilat merogoh gawainya dengan seringai kemenangan. Mengetikkan pesan alamat tersebut kepada dua orang sekaligus.

Bagas turun dari mobil sport-nya. Menatap rumah kos yang ada di depannya. “Jadi … pacar Bram tinggal di sini?” gumamnya, sambil terus mengamati bangunan sederhana itu dengan tatapan penuh intrik dewasa yang berkecamuk di dalam benaknya.

“Eh, ada Akang kasep, nyari siapa, teh?” Seorang gadis muda menyapa ramah dari ambang pintu gerbang.

Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Bagas tergagap, lekas mematikan layar gawainya yang sedari tadi menampilkan peta lokasi Latsari.

“Em, apa di kos ini ada gadis, ‘maaf’, buta bernama Melati?” tanya Bagas, mencoba menata wibawanya kembali sebagai pria mapan.

“Teh Melati?” Si gadis muda menatap Bagas dari atas kepala sampai kaki, terpesona sekaligus heran melihat pria borjuis masuk ke kawasan padat tersebut. “Akang kasep siapanya Teh Melati, atuh?”

“Saya kakaknya,” balas Bagas cepat. Tanpa pikir panjang, ia memainkan peran baru dalam sandiwara yang ia buat sendiri, demi mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

“Kakak? Kandung?” Gadis itu terus mengamati setelan kasual mewah Bagas. Ia memicingkan mata, menyimpan curiga yang mendalam karena Melati yang ia kenal, adalah gadis sebatang kara.

“Iya.” Bagas mengangguk mantap, melempar senyum menawan untuk meluruhkan kecurigaan sang gadis. "Saya baru kembali dari luar kota, untuk mencarinya."

“Oh, kalau begitu tunggu sebentar. Saya panggilkan. Tapi Akang tunggu di sini. Laki-laki meski saudara kandung nggak boleh masuk.” Dengan polos, si gadis muda masuk ke ruang lebih dalam. Meninggalkan Bagas dalam perasaan yang campur aduk di ruang tunggu kos milik Wak Kaji.

---

“Teteh!”

Suara panggilan diselingi ketukan pintu membuat Melati meraba udara. Mencari handle untuk pintu kamarnya yang sempit. Setelah berhasil membukanya, ia menatap lurus dengan pandangan kosong yang teduh.

“Salsa? Ada apa?” tanyanya lembut.

“Ada pria muda. Kasep pisan, euy. Nyariin Teteh,” jawab Salsa, matanya masih berbinar menceritakan sosok tampan borjuis di luar.

“Pemuda tampan? Siapa?” Melati mengernyit gundah, mendadak terusik oleh firasat buruk tentang sosok pria yang mendatanginya.

“Salsa nggak tanya nama. Lupa, hehe.” Salsa mengelus tengkuknya, merasa bersalah. “Tapi katanya, Teh, dia akang Teteh. Baru pulang dari luar kota katanya.”

“Tapi aku tidak punya saudara.” Melati menggeleng pelan, tangannya mencengkeram kusen pintu. “Sejak kecil aku yatim piatu, tinggal di panti. Saudaraku ya cuma Bibi Turi dan sepupuku, Mawar.”

“Nggak tahu. Mungkin dia pacar sepupu Teteh itu. Entahlah.” Salsa mengangkat bahu, lalu memegang jemari Melati dengan protektif. “Coba aja Teteh temui dulu. Salsa akan temani, Teh. Jaga-jaga kalau pria itu orang jahat."

“Baiklah.” Melati mengangguk pasrah. Salsa sigap membantu Melati, menuntun langkah ringkihnya berjalan perlahan sampai menuruni anak tangga kos.

Begitu sampai di tempat tamu, Bagas yang melihat paras wajah Melati langsung terpesona. Kecantikan murni gadis itu seketika memukul dada dewasanya, memicu gejolak drama yang tak biasa. “Kamu Melati, ya?” tanyanya, mengabaikan rasa gugup yang mendadak menyerang.

“Benar. Anda siapa? Mengapa mengaku menjadi kakakku?” tuntut Melati, nadanya beralih tegas, merasakan atmosfer penuh kepalsuan dari pria asing di hadapannya.

“Aku Bagas. Sepupu Bram Satya.” Bagas bersedekap, mencoba menguasai keadaan dengan wibawa kekayaannya.

Pengakuan Bagas membuat Salsa, yang mengenal Satya sebagai pemuda biasa, langsung menutup mulut kaget. “Kang Satya punya sepupu kaya?” celetuknya, tanpa sadar. "Kenapa dia kelihatan lusuh begitu? Dan kenapa tapi Akang ngaku kakaknya, teteh?"

"Aku sengaja mengaku, supaya ... gadis ini mau bertemu." Bagas menoleh ke Salsa sejenak, melemparkan seringai sombong. “Dan mengenai Bram Satya. Dia sebenarnya kaya. Hanya saja keadaan yang membuat dia … terpaksa pura-pura miskin.”

Kembali wajahnya mendongak angkuh, menatap Melati dengan pandangan merendahkan. “Gadis buta, aku tahu kamu mau sama Satya pasti karena menyimpan maksud, kan?”

"Apa maksudmu?” Melati tercekat, dadanya bergemuruh hebat menahan emosi.

“Maksudku adalah, kau mau sama Satya karena tahu dia kaya. Berharap mendapat uang untuk operasi matamu yang buta itu!” tuding Bagas tanpa basa-basi, melancarkan kalimat kejam demi bisa menuruti keinginan ayahnya. "Orang miskin, ngincar pria kaya, kalau bukan karena harta ... karena apa? Tampang pun, Bram jauh dari sempurna. Wajahnya rusak, karena bekas tertimpa reruntuhan, waktu kebakaran."

1
Lianty Itha Olivia
semakin byk nama tokoh pemerannya sampai GK kenal alur ceritanya, rumit dan berliku
ELIYONA: semangat
total 1 replies
Lianty Itha Olivia
semoga sebelum pernikahan mawar dan Bagas sudah ketahuan KLO hamilnya mawar BKN Krn Bagas biar mampus tu mawar berduri
Lianty Itha Olivia
kubusukan ht mawar hanya akan berbuah petaka utnya sendiri
Lianty Itha Olivia
ibu turi kebanyakan makan pecel sayur Turi makanya otaknya pekok
Lianty Itha Olivia: 😆😆😆💪💪💪💪💪💪💪
total 2 replies
Lianty Itha Olivia
😭kasihan melatinya
ELIYONA: banget sis🤭
total 3 replies
Ery Sithi Badriyyah
seru kak😍
Lianty Itha Olivia
waaaoo mawar yg sangat berduri dan kejam
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!