Karena dosa yang dia lakukan dan janjinya kepada neneknya Aleta, membuat Faris harus bertanggung jawab atas keselamatan dan masa depan Aleta, sedangkan Aleta yang kesuciannya telah di renggut Faris sangat membenci Faris. Tapi dengan berjalannya waktu kebencian Aleta berubah menjadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Faris merasa bersalah atas kematian Bram.
Selesai makan malam Aleta langsung melangkah naik ke lantai atas menuju kamar, sampainya di kamar dia segera menuju kamar mandi untuk menyikat gigi juga membasuh mukanya, karena itu kebiasaan yang selalu di lakukan Aleta sebelum tidur.
Setelah selesai semuanya, Aleta langsung keluar dan melangkah menuju meja rias yang terletak di samping tempat tidur, awalnya meja rias besar itu ada di kamar sebelah yang Aleta tempati, tapi karena dia sudah pindah di kamar Faris, jadi meja rias itu juga ikut di pindahkan.
Di saat dia sedang memoles wajahnya dengan krem yang ada di tangannya, tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Melda dan Almira, yang membuat Aleta langsung berdiri sambil berbalik menatap ke dua adik iparnya itu dengan mata terbelalak.
"Astaga Melda Almiraaaa,,! Aku bisa jantungan tahu ngga,,? Kata Aleta sambil mengusap-ngusap dadanya.
"Ya kita kan mau kasih kejutan sama pengantin baru. Jawab Melda.
"Kejutan bikin mati itu namanya,,! Kata Aleta sambil kembali duduk dan melanjutkan kegiatannya yang belum selesai.
Sedangkan Faris sedang duduk bersama keluarga besarnya di ruang keluarga, keluarga Alira yang dari bandung juga keluarga besar Fahri termasuk Refan dan Meymey masih menginap di rumah Fahri, karena Alira dan Fahri masih belum mau mereka untuk pulang.
Di saat yang lainnya lagi asik mengobrol, Faris malah duduk bersandar di sandaran sofa sambil malamun, dia melamum memikirkan Bram yang meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Faris sangat menyesal karena di belum sempat menjelaskan semuanya kepada Bram, atas apa yang terjadi dengan Vina, dia juga sangat merasa bersalah, karena Alex dan Kelvin yang sempat datang di acara pernikahannya tadi, mengatakan padanya kalau Bram pergi ke Italia bertujuan mencari Vina, karena keluarga besar Vina memang sudah menetap di sana.
"Apa yang harus aku lakukan,,,? Aku memang manusia yang sangat berdosa. Faris berkata-kata dalam hatinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Maafkan aku Bram,, aku terpaksa melakukan semua itu, demi melindungi wanita yang tidak berdosa yang sangat aku cintai. Gumam Faris lagi.
Alira yang sedang asik mengobrol dengan keluarganya, merasa bingung dan hawatir di saat melihat putranya seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, karena Faris yang sedang terdiam itu, sesekali mencakar-cakar rambutnya juga mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Ris,, kamu kenapa nak,,? Tanya Alira dan membuat yang lainnya ikut menatap Faris yang sudah kaget dengan suara mamanya.
"Ngga ma,, aku ngga apa-apa. Jawab Faris sambil menggaruk-garuk kepanya.
"Kalau kamu sudah ngantuk tidur saja sayang,,! Kata Alira.
"Iya nak,, ayo tidur sana,,! Kamu tu pasti kecapean. Sambung ibu Alira neneknya Faris.
Akhirnya Faris pun berdiri dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Sampainya di depan pintu kamar, Faris melihat Aleta sedang mengobrol dengan Melda sambil memainkan rambut Almira, yang sudah tertidur di pangkuannya.
Faris sangat terkesan melihat pemandangan di hadapannya itu, dalam hatinya dia sangat bersukur memiliki istri yang berhati tulus seperti Aleta, apalagi Faris sangat menyayangi dan mengasihi Almira juga Melda ke dua adik perempuannya itu, jadi dia merasa sangat bahagia melihat keakrapan mereka bertiga.
Tanpa mengetuk pintu Faris melangkah masuk ke dalam kamar, dan kemunculannya membuat Aleta juga Melda yang lagi asik mengobrol mengenai masalah kuliah langsung terhenti.
"Mas mau tidur,,? Tanya Melda sambil menatap Faris yang sudah duduk di sampingnya.
"Iya,,! Besok mas harus bangun pagi-pagi ada rapat di kantor. Jawab Faris.
"Ya sudah kalau gitu,, besok baru kita lanjutin ya Al. Kata Melda pada Aleta sambil melangkah menuju pintu.
Dan Aleta yang masih tetap memangku kepala Almira hanya mengangguk, tapi di saat Melda berada tepat di depan pintu dan hendak keluar, tiba-tiba Faris memanggilnya yang membuat langkah kakinya seketika langsung tertahan.
"Mel,,! Panggil Faris.
"Ada apa mas,,? Tanya Melda yang sudah berbalik menghadap ke arah Faris dan Aleta.
"Ada yang kamu lupa,,! Kata Faris.
"Lupa apa,,? Tanya Melda bingung.
"Ni bayi besar. Kata Faris yang membuat Aleta dan Melda langsung tertawa.
"Ayo mas bangunin dia,,! Kata Melda kepada Faris.
Tanpa menunggu lama, Faris langsung membangunkan Almira yang tidur dengan nyenyaknya di pangkuan Aleta.
"Mir,, Mira bangun,,! Miraaa,, Almiraa,,! Suara Faris yang makin keras karena Almira tidak bangun-bangun.
Karena Almira belum juga bangun, akhirnya Melda dengan segera langsung bertindak, dia melangkah ke samping tempat tidur dan langsung menarik-narik kaki Almira sambil memanggil-manggil namanya.
"Miraaa,, Mira banguuun,,! Almiraaaa,,!
Karena Almira belum juga bangun, akhirnya Melda yang sudah mulai kesal, langsung mencubit lengannya dan membuat dia terbangun dan menangis.
"Hiks,,hiks,,hiks. Suara tangis Almira.
"Dasar cengeng,,! Tidurnya kaya kebo, di cubit sedikit langsung nangis. Gerutu Melda yang membuat Faris juga Aleta langsung tersenyum, tapi tidak di sadari Melda karena dia sedang fokus dengan Almira.
Begitulah sifat Melda, sikapnya terhadap Almira terlihat sedikit tua dari umurnya, karena dari kecil dialah kakak sekaligus teman sejati untuk Almira, dia tidak punya waktu untuk bermain sama teman-temannya karena hari-harinya hanya menemani dan bermain dengan Almira.
"Ayo turun,,! Kata Melda sambil menarik tangan Almira yang masih terus menangis.
"Ngga mauuu,,! Hiks,,,hiks,,,hiks. Jawab Almira sambil terus menangis.
"Ngga mau apa,,? Ngga mau jalan,,? Maunya gendong kan,,? Tanya Melda dan Almira yang masih terus menangis hanya menganggukan kepalanya.
"Mas ayo dong mas gendong dia,,! Aku takut jatuh sama dia di tangga. Kata Melda.
"Makanya,, kamu tu kalau malam-malam mau ke atas, jangan bawa-bawa dia. Kata Faris.
"Apa-apaan kamu mas,,! Dia kan mau ikut,, lagian jarang-jarang kan mas gendong dia,, aku aja yang dari kecil gendong dia terus ngga protes. Ketus Melda yang membuat Faris tidak bisa menjawab apa-apa.
Faris dengan segera langsung menggendong Almira, setelah itu dia melangkah keluar dari kamar dan di ikuti Melda dari belakang, sedangkan Aleta yang belum bisa untuk berdiri karena kakinya sudah mati rasa, hanya tersenyum melihat tingkah ke tiga bersaudara itu.
Faris menggendong Almira dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan yang satunya di letakan di pundak Melda, dan Aleta yang melihat mereka hanya tersenyum. Tapi tiba-tiba kristal bening menetes membasahi wajah cantik Aleta, karena pemandangan itu, membuat dia teringat dengan Reza saudara laki-laki yang dia miliki dan begitu sayang padanya.