Follow IG : othor_barbar
Siapa yang tak terluka jika kita menikah dengan orang yang tak pernah menganggap kita ada.
Hari-hari disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hati kita terhempas dan jatuh berkeping-keping, akankah kita bisa bertahan dengan rumah tangga yang dijalani penuh dengan kepalsuan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyambutnya
Seusai makan makan malam, kini Gracia dan Brian tidur di ranjang yang sama dengan saling membelakangi. Brian membalikkan badan, lalu menatap punggung Gracia.
Sial! Kenapa bayangan semalam selalu menghantuiku sih? Aku selalu bergair*h saat menatapnya. Bibirnya yang lembut dan kenyal membuatku ingin menikmatinya kembali, batin Brian.
Entah kenapa? Akhir-akhir ini aku selalu salah tingkah saat di dekatnya. Bayangannya selalu menari-nari saat aku jauh darinya. Rasanya aku tidak ingin jauh meskipun hanya sesaat. Mungkinkah perasaan ini sudah tumbuh untuknya? Tetapi bagaimana mungkin? Brian membatin sambil menatap punggung Gracia.
"Grac..." panggil Brian.
"Iya Mas!" jawab Gracia.
Gracia membalikkan tubuhnya, lalu tatapan mereka bertemu dan membuat jantung keduanya berdetak kencang seakan mau perang.
"Bolehkah aku memelukmu malam ini?" tanya Brian. Gracia tersenyum lalu mengangguk tanda setuju.
"Bukan hanya malam ini Mas, selamanya juga boleh karena ini memang hak mu." Gracia mendekat lalu tidur pada lengan Brian sebagai bantalan. Sedangkan tangan Brian yang satunya lagi memeluk Gracia erat.
"Terima kasih, Mas. Karena Mas Brian sudah memberiku kesempatan untuk menjadi istri yang sesungguhnya." Gracia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Brian.
Brian tersenyum, dan entah mengapa ia merasakan kebahagiaan juga kedamaian saat memeluk istrinya.
"Grac... Bolehkah aku memintamu lebih malam ini? Aku janji akan memperlakukanmu lembut, tidak seperti kemarin!" ucap Brian.
Gracia tersenyum lalu mengangguk malu saat menatap suaminya yang menatapnya berbeda.
"Terima kasih sayang," ucap Brian.
Brian langsung menyambar bibir Gracia lembut
mengecap benda kenyal itu dengan penuh damba, yang membuat Gracia mabuk akan sikap Brian yang berbeda dari biasanya.
Malam itupun menjadi malam bersejarah bagi Brian dan Gracia. Mereka menikmati surga dunia yang tiada tara. Brian pun melakukannya bukan hanya sekali tetapi berkali-kali.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Kini genap sudah usia pernikahan Brian dengan Gracia 6 bulan, hubungan mereka semakin membaik dengan Brian yang memperlakukan Gracia bagaikan ratu.
Sedangkan Maudy sudah kembali ke Paris untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai model. Surat perjanjian mereka pun sudah dirobek oleh keduanya. Mereka sepakat untuk menjalani kehidupannya dengan penuh cinta bukan dengan kesepakatan.
Kini Gracia dan Brian hidup penuh dengan kebahagiaan setelah mereka saling mencintai dan tanpa ada pengganggu di antara mereka. Begitu pun dengan kedua sahabat Brian, baik Ryan maupun Anton sudah melupakan masalah mereka.
Gracia hampir tiap hari datang ke kantor Brian untuk membawa makan siang dan mereka makan bersama di ruang kerja itu, Brian menikmati waktu bersama Gracia dengan penuh kebahagiaan, karena perhatian Garacia, Brian merasa jadi berharga dan dicintai hingga Brian tak punya celah untuk tidak mencinta istrinya itu.
Juga karena perhatian itulah yang membuat Brian melupakan masa lalunya, dan mencintai Gracia melebihi cintanya pada Maudy.
"Sayang, apakah kau sudah siap menjadi ibu dari anakku?" tanya Brian.
Mereka tidur di ranjang dengan posisi Brian tidur di paha Gracia, Sedangkan Garacia duduk selonjoran kepalanya bersandar pada ujung tempat tidur.
"Kenapa kau menanyakan hal itu Mas? Bukankah kau sudah hampir tiap saat menanam benihmu dalam rahimku?" tanya Gracia sambil membelai rambut Brian.
"Aku hanya takut kau belum siap menjadi seorang ibu." Brian tersenyum sambil mendongak menatap senyum manis istrinya.
"Jika kita memang sudah dikasih kepercayaan untuk memiliki seorang anak, maka aku akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan," ucap Garacia.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat bahagia mempunyai istri Sholehah sepertimu." Brian duduk lalu mengecup bibir Gracia.
Setelah itu, terjadilah malam panas seperti yang dilewati mereka berdua setiap malamnya, dan seperti biasa Brian tidak puas dengan hanya satu kali pelepasan saja.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Di pagi harinya.
Dua insan yang sedang berjalan menuruni tangga, tersenyum indah mengalahkan sinar mentari yang sedang malu-malu menampakkan sinarnya.
Mereka berjalan bergandengan tangan dengan senyum yang terus terukir di bibir keduanya, membuat seluruh penghuni mansion itu iri melihat keromantisan mereka. Tidak ada lagi wajah sendu yang singgah di wajah Gracia. Brian memperlakukan perempuan itu dengan sangat baik.
Sesampainya di meja makan, Brian memperlakukan Gracia bagaikan ratu, tak lupa pula Brian juga menyuapi istrinya dengan sangat telaten dan begitupun sebaliknya.
Setiap hari mereka makan dengan suap suapan, hingga para penghuni mansion itu menundukkan kepalanya karena malu sendiri melihat kelakuan kedua majikannya itu.
...💋💋💋💋💋...
Assalamualaikum Readers sayang 😍
Update sore lagi 😉
Jangan lupa like, komen and Votenya 😘
Kalau udah bosen, jangan lupa bilang sama Othor, Othor akan segera tamatin 🤭