NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Pukul 08.30 pesawat jet keluarga Tong mendarat di Bandara Makau. Pemandangan pulau kecil Makau di malam hari tidak kalah menakjubkan dengan Hongkong tapi aku tidak datang ke sini untuk pelesir .

"jangan matikan mesin pesawat, Edwin" aku mengingatkan saat melangkah turun

Edwin mengangguk. Tanpa perlu dijelaskan Dia segera tahu situasinya . Itu berarti ada urusan genting . Kapanpun aku bisa kembali ke bandara dan harus segera meninggalkan Makau

Sebuah limosin membawaku ke Grand Lisabon kasino terbesar di Makau . 15 menit tiba di lobi kasino yang didapati mobil-mobil mewah . Para penjudi, memadati kasino malam ini. Dua orang tukang pukul keluarga Lin yang juga menjadi security resmi kasino mengenaliku, segera memintaku berjalan bersamanya.

aku melangkah di belakang mereka, melintasi keramaian mesin judi, meja-meja yang dipenuhi taruhan, gelak tawa, seruan seruan gembira, atau wajah-wajah terkutuk karena kalah.

Mereka membawaku menuju ruangan khusus yang hanya bisa diakses anggota keluarga Lin. Di sana telah menunggu belasan tukang pukul lainnya , masing-masing membawa senapan otomatis sejenis M16 . Mereka berpakaian jas hitam rapi , sepatu mengkilat , dan berwajah tidak ramah . 8 diantara mereka segera mengelilingi ku menyuruh masuk ke dalam lift.

Jelas sekali keluarga Lin tetap siap atas kemungkinan terburuk . Aku mengangguk tipis melangkah ke dalam lift yang segera penuh sesak oleh pengawal dan senjata . Pintu lift menutup . Langsung meluncur ke lantai 40 . Nafasku terkendali dengan santai menatap penanda lantai . Tidak bagi mereka beberapa tukang pukul keluarga Lin . Bisa mendengar terus nafas tegang dan gerakan-gerakan kikuk mereka .

Tiba di lantai 40 pintu lift terbuka , 8 pengawal bergerak cepat dan aku melangkah mengikuti . Kami sekarang melintasi lorong panjang dengan beberapa ruangan di kiri kanannya dengan lebih banyak lagi tukang pukul keluarga Lin yang berjaga-jaga di setiap jarak tertentu . Keramik besar terlihat dipajang di sisi lorong , juga tiang-tiang tinggi pualam. Lantai ini di desain dengan arsitektur Romawi kuno . Beberapa pelayan terlihat membawa nampan-nampan makanan juga petugas yang membersihkan ruangan . Mereka sudah terbiasa dengan orang bersenjata di sekitarnya .

Aku tiba di ujung lorong tempat pertemuan .sebuah pintu baja setebal 12 cm mengadang . Seseorang tukang pukul menekan tombol elektronik bicara dalam bahasa setempat mengumumkan kedatanganku . Pintu baja yang dibuka dari dalam itu menderit halus . Aku menatap pintu baja itu . Aku kagum dengan kekokohan benteng pertahanan keluarga Lin .

Tukang pukul yang mengantarku menyuruh masuk . Setelah melintasi pintu aku tiba di ruangan besar . Ruangan itu masih disekat lagi dengan Dinding Kaca tebal dan barulah di dalam dinding kaca itu terlihat dari kejauhan orang yang harus ku temui .

Salah satu anggota keluarga Lin menahan langkahku . Putra tertua.

"kau tidak boleh membawa senjata" dia menatapku penuh hina.

Aku mengangguk, mengeluarkan pistol colt dari balik jas. Hanya itu senjata yang kubawa-yang kubawa lebih karena nostalgia, bukan untuk mempertahankan diri. Pistol itu diletakkan di nampan atas meja.

"periksa dia."

Dua orang memeriksaku, salah satu dari mereka melepas ikat pinggang, menyita kacamata hitam disaku, juga telepon genggamku mereka hati-hati sekali, apa pun yang tajam dan bisa jadi senjata diamankan. Mereka juga menyuruhku melepas jas dan sepatu.

Aku mengangguk, tidak banyak bicara melepaskannya.

"periksa sekali lagi! pastikan dia tidak membawa apapun ke dalam sana." putra tertua mendesak. Wajahnya sejak tadi merah padam menahan marah.

Kali ini dua orang tukang pukul maju memeriksa. Salah satu dari tukang pukul menemukan kartu nama di saku kemejaku, kertas dengan ukuran sebesar kartu ATM, bertuliskan "Kenzy" serta empat digit nomor teleponku. Aku selalu membawa kartu nama ke mana pun

"kalian akan mengambil kartu namaku juga?" aku mengangkat tangan seolah tidak percaya.

Tukang pukul mengembalikan kartu nama itu ke saku kemejaku.

"bersih"

Putra tertua keluarga Lin mendengus, dia akhirnya menekan tombol. pintu kaca terbuka.

"tuan Lin menunggu anda di dalam"

aku melewati pintu kaca anti peluru, masuk ke dalam ruang pertemuan. memperhatikan sekitar, aku seolah berada di dalam akuarium dengan puluhan tukang pukul berjaga di luar, memperhatikan tanpa berkedip apa yang terjadi. Ruangan itu dipenuhi hamparan karpet tebal, terasa lembut saat kaki ku menginjaknya. Pendingin udara menyala maksimal sehingga suhu lebih dingin di sini. Tidak ada perabotan, hanya ada satu meja kecil. Tuan Lin duduk bersila di ujung ruangan, dekat meja itu, dia sedang meditasi mengenakan kimono berwarna putih dengan sulaman burung Phoenix emas, dan simbol huruf Lin. Aku melangkah melintasi karpet, terus menghitung segala kemungkinan , memperhatikan detail. Melirik jendela jendela kaca besar. itu pastilah kaca anti peluru. Aku tidak bisa melarikan diri dari sana. Satu satunya pintu keluar adalah pintu kaca, dan kemudian pintu baja dengan puluhan tukang pukul.

"cukup" tuan Lin berseru pelan, suaranya serak. Mata sipitnya terbuka.

"duduk"

Aku mengangguk, ikut duduk bersila dihadapannya.

"apakah kau, Kenzy?" orang tua berusia enam puluhan bertanya.

aku mengangguk lagi.

"reputasimu ternyata tidak omong kosong," orang tua itu menatapku. "malam ini, berani sekali kau datang ke sarang harimau seorang diri, mengganggu meditasi ku, aku bisa membunuhmu dengan mudah"

Aku balas menatapnya tajam, "tidak. kalianlah yang berani sekali membiarkan seekor hewan buas masuk dan berkeliaran di dalam rumah. Dan sekarang , kau membiarkan aku duduk di depanmu sedekat ini. Akulah yang kapanpun bisa membunuhmu"

Ruang meditasi itu lengang sejenak.

tuan Lin akhirnya tertawa " kau akan membunuhku dengan apa? Kau tidak membawa senjata apa pun"

Aku tidak menjawab. tetap menatapnya tanpa berkedip

"aku suka dengan anak muda ini. Kau benar benar tidak punya rasa takut. Berapa keluarga Thong membayarmu, hah? akan aku lipat gandakan jika kau mau bergabung bersamaku"

Aku menggeleng " tidak semua di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Aku tidak datang untuk basa basi, apalagi belajar meditasi. Aku datang untuk mengambil teknologi pemindai yang kalian curi"

Tuan Lin kembali tertawa, tawa yang menghina. Dia menoleh ke meja sampingnya. Prototype pemindai itu ada di sana, hanya sebesar tablet atau laptop, didalam kotak yang terbuka. Benda kecil yang sangat bernilai. "Kau pikir aku akan mengembalikannya? Keluarga kalian picik sekali jika berharap aku akan mengembalikannya. Kami tidak takut dengan siapapun."

"kau seharusnya takut, tuan Lin"

"oh ya? Bukannya kau datang seorang diri? Aku cukup mengangkat tanganku sekarang maka pertemuan ini akan berakhir. Dan besok pagi pagi kami akan mengirim potongan kepalamu ke tauke, membuatnya terkencing kencing ketakutan."

aku menggeram. Percakapan ini sudah tiba di ujungnya.

"kau telah melakukan kesalahan fatal, tuan Lin"

Tuan Lin terkekeh, kepalanya mendongak. "kau mengancamku, anak muda? astaga. Bahkan saat istri profesor itu kami bunuh, apa yang dilakukan keluarga Thong? Tidak ada. hanya merengek meminta bertemu denganku, kemudian putus asa mengadu pada master dragon. Kalian hanya..."

"cukup!!" aku mendesis, tanganku cepat sekali meraih kartu nama di saku kemeja. Lantas dengan keahlian seorang ninja terlatih, kartu nama itu telah kulemparkan ke leher tuan Lin yang sedang terkekeh mendongak.

Kartu nama itu secara kasat mata hanyalah kertas, tapi tukang pukul yang memeriksaku tertipu. Di dalam kartu nama itu, pipih dengan tebal hanya sepersekian milimeter, ada logam titanium. Saat kartu itu dilemparkan dengan kekuatan penuh, kertas kecil itu bisa menjadi senjata mematikan, melesat cepat. Kurang dari sedetik, kartu sudah terbenam separuhnya di leher tuan Lin

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!