Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taken
Pak Pras dan Bu Siti yang baru pulang dari check up kesehatan kini kebingungan mendapati adanya mobil polisi dan beberapa orang di rumahnya.
"Selamat malam, Pak Pras." Seseorang menyambut kedatangan mereka.
"Malam. Ada apa ini?"
"Nirmala di mana?" gumam Ibu Siti ketika hendak memasuki rumah.
"Maaf, Bu. Tidak seorang pun boleh masuk."
"Apa maksudmu, ini rumahku! Katakan apa yang terjadi? Di mana anakku? Sedang apa kalian di sini?" cecar Ibu Siti dengan panik.
***
Dak
Dak
Dak
Kepala si mahasiswa keriting terantuk anak tangga beberapa kali saat Tomi menyeretnya. Tanpa mempedulikan Dharma yang sedang mengamati dari jarak beberapa meter darinya, Tomi asyik menyiapkan peralatannya. Dua buah kait mirip mata pancing dengan rantai tergantung pada sebuah pipa diturunkan.
Dharma memang tidak diperlakukan seperti si keriting yang berada sekitar 2,5 meter di sebelah kirinya itu. Namun kengerian yang sedang ia hadapi tetap saja tak bisa diingkari. Keberadaan rumah ini yang jauh dari pemukiman lain membuat penghuninya leluasa berbuat apa pun.
Setelah mengikat kedua tangan si keriting menjadi satu di depan, Tomi menelungkupkannya. Kemudian dia menutup tirai plastik putih yang membuat pandangan Dharma tak lagi jelas, memisahkan mereka layaknya sekat di ruang rumah sakit kelas termurah. Entah apa yang terjadi kemudian, tak ada respon dari si keriting selain dua kali hentakan napas yang seakan tersedak.
Krak!
Krak!
Krak!
Terdengar suara sebuah lakban atau plester dibuka untuk digunakan. Terlihat bayangan Tomi menggerakkan tangan memutar beberapa kali. Ini seperti melihat pertunjukan wayang kulit dari belakang layar, hanya saja wayang tak punya darah dan nyawa untuk dipertaruhkan.
Hmmpph!
Hmpphh!
Teriakan si keriting tertahan oleh plester di mulutnya. Sesuatu yang dilakukan Tomi berhasil membuat si keriting sadar. Dentingan rantai dan derit besi terdengar semakin berisik bisa dipastikan dia sedang mengatrol naik si keriting. Jika saja tak ada plester semestinya akan terdengar rintihan atau teriakan kesakitan yang luar biasa.
Tak ada lagi teriakan terdengar, hanya lenguh napas tersengal dan bayangan gerakan berontak yang tak karuan. Tampaknya tarikan rantai katrol sudah berhenti, dari selah di bawah tirai plastik hanya terlihat kaki si keriting berjinjit dengan sangat terpaksa. Tomi mendekat ke tirai plastik itu dan mengelapkan suatu benda tajam, meninggalkan noda merah kecoklatan.
Bayangan di tirai menunjukkan si rambut keriting itu menggelengkan kepala beberapa kali. Dengan segala ketakutannya, Dharma masih berusaha mencuri pandang lewat celah tirai plastik bagian bawah. Mungkin disiram sesuatu atau entahlah, setelah Tomi pergi terdengar seperti ada guyuran air berwarna kekuningan menetes cukup deras dari celana si keriting itu.
Srakk!
Si keriting itu berhasil menyibak tirai plastik dengan tangannya yang terikat. Mendapati Dharma di ranjang membuatnya kaget, demikian juga Dharma melihat mahasiswa tersebut yang dalam kondisi sangat mengenaskan.
Hmmph!
Hmph!
Hmmh!
Hanya itu komunikasi yang bisa terjalin antara satu orang yang terplester mulutnya dengan satu orang yang tersumpal mulutnya. Melihat tangan Dharma terikat semacam sabuk di ranjang tiba-tiba si keriting merogoh saku belakangnya dengan menahan kesakitan di punggung. Dikeluarkannya sebuah korek gas yang kemudian dilemparkan tepat di dekat tangan kiri Dharma.
Drap
Drap
Drap
Si keriting menutup kembali tirai plastiknya setelah mendengar ada seseorang datang. Dharma segera mengamankan korek gas tadi dalam genggamannya. Tomi tampaknya sedang sibuk saat ini, tak lama pergi kini dia datang kembali dengan si mahasiswi pirang tersampir di pundaknya. Dengan perlahan ia meletakkan mahasiswi pirang itu di ranjang besi sebelah kanan Dharma. Sebuah peti kotak berwarna merah di tariknya dari bawah ranjang.
Dharma terbelalak tak percaya melihat adanya sosok mayat wanita dikeluarkan oleh Tomi dari kotak tersebut. Meski mayat itu masih utuh tetapi bau busuk sudah menyeruak. Si pirang yang sedang tak sadarkan diri itu kini dimasukkan Tomi ke dalam peti merah.
Brak!
Cklek!
Tak ada gembok, kotak merah itu hanya terkunci dengan sebuah gerendel di atas. Jelas sudah si pirang memang dimasukkan peti untuk menggantikan mayat wanita itu. Namun, apa yang dilakukan Tomi tepat di ranjang besi sebelah kemudian membuat Dharma mual.
Hal gila apalagi ini?
Tomi yang tak doyan daging manusia itu seorang necrofil?
Bersetubuh dengan mayat?
***
Tersadar dengan posisi rebahan di dalam mobil yang sedang berjalan, Nirmala belum mampu menggerakkan tubuhnya bahkan untuk sekedar duduk. Pandangannya pun belum bisa fokus menatap pengemudi di depannya, bagai tertutup kelambu abu-abu. Namun, sudah bisa dipastikan bahwa orang itulah yang menculiknya dari dapur rumah beberapa jam yang lalu.
Gerimis membasahi jendela yang membingkai pemandangan hutan yang sedang mereka lintasi. Mobil itu terasa lebih banyak berjalan menanjak dan menikung. Lalu lintas sangat sepi, hanya beberapa kali tampak sorot lampu dari arah depan. Pekatnya kabut malam menandakan bahwa Nirmala tengah dibawa menyusuri daerah pegunungan.
Dalam gelapnya mobil itu Nirmala berusaha mengumpulkan tenaga dan fokusnya. Ada yang aneh, tak ada ikatan atau apapun yang membelenggunya. Namun, dia belum mempunyai rencana bagaimana cara meloloskan diri dari penculik itu. Nirmala baru saja menggerakkan tangannya memegang handle pintu, tiba-tiba suara pengemudi itu mengagetkannya.
"Apa kamu mau melompat?"
Deg!
"Ti--tidak!" Nirmala mendapati sepasang mata menatapnya melalui kaca spion tengah saat dia berusaha beralih ke posisi duduk.
Dari suara yang dia ucapkan sepertinya bukan intonasi seorang penjahat. Potongan rambutnya pun rapi layaknya seorang yang selalu merawat diri. Dalam kondisi gelap pun sebelah wajahnya terlihat putih bersih. Posturnya menunjukkan bahwa penculik itu masih di usia sekitar 25 tahun. Kilauan jam tangan yang dipakainya menyadarkan Nirmala bahwa saat ini sudah mendekati tengah malam.
Wush
Crat!
Sebuah mobil berkecepatan tinggi berpapasan dan memercikkan genangan air. Sinar lampunya sempat membuat Nirmala silau dan mengernyit. Whipper yang terus bergerak membersihkan kaca depan tampak seperti halnya jarum jam yang menghitung detik-detik terbuang. Senyap, tak ada suara selain rintik air yang tak menunjukkan akan mereda atau justru semakin deras. Sunyi. Sepi, seperti hati sang author yang menulis cerita ini.
"Siapa kamu?" Nirmala berusaha tenang menghadapi penculik yang aneh itu.
"Toni."
Jawaban itu justru lebih aneh lagi bagi Nirmala karena tak mungkin seorang penculik menampakkan wajah atau menyebutkan nama. Nirmala kebingungan menyusun rencana meloloskan diri merasa tengah berada di suatu daerah yang begitu sepi dan tak dikenal. Tampaknya lompat dari mobil yang melaju tak mungkin dia lakukan, apalagi sepanjang jalan hanya terlihat hutan dan jurang.
"Mengapa menculikku? Apa maumu?" tanya Nirmala dengan gemetar.
"Bayimu"
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.