NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

"Main lima lawan lima!"

Suara pelatih menggema di seluruh gedung.

"Yang kalah beresin lapangan!"

"Siap, Coach!" jawab semua pemain kompak.

Kevin langsung nyengir lebar.

"Waduh... gue nggak mau kalah." Rio nyenggol bahunya.

"Kalau ada Raymond di tim lo, ya enak."

"Makanya." Pelatih menunjuk satu per satu pemain.

"Raymond, Kevin, Dion, Aldi, Fajar... satu tim."

"Rio, Bima, Nando, Arga, Reno... tim satunya."

Rio langsung protes.

"Coach, ini nggak adil."

"Kenapa?"

"Itu tim isinya monster semua." Satu gedung langsung ketawa. Pelatih cuma nyengir.

"Kalau takut, pulang aja."

"Waduh... harga diri saya mau di taruh dimana , Coach."

"Hahaha...!" Peluit dibunyikan.

"Mulai!"

Plak!

Bola langsung dilempar ke atas.

Raymond melompat lebih tinggi dari semua pemain.

Tap!

Bola berhasil direbut. Kevin langsung nerima operan.

"Bos, belakang!"

Raymond udah lari lebih dulu.

Kevin melempar bola panjang.

"Terima!"

Raymond nangkep bola dengan mulus.

Dua pemain langsung menghadang.

"Jangan kasih lewat!"

Raymond cuma ngelirik sekilas.

Sret!

Satu gerakan crossover bikin dua pemain kehilangan keseimbangan.

"Woi! Kiri! Kiri!"

Belum sempat mereka nutup ruang...

Raymond udah melesat ke bawah ring.

BRAKK!

Satu dunk keras kembali mengguncang ring.

"AAAAAAAAA!!"

Tribun langsung meledak.

"EDAN!"

"GILA SIH!"

"KEREN PARAH!" Angela sampai refleks berdiri.

"Masuk lagi!" Begitu sadar dirinya teriak paling kenceng, Angela buru-buru duduk lagi.

Maya langsung ngakak.

"Cieee..." Angela langsung nyenggol bahu Maya.

"Apaan?"

"Tadi siapa yang teriak 'Masuk lagi'?"

Angela langsung menutup muka pakai kedua tangan.

"Aduh..."

"Gue denger, loh."

"Iya... iya... refleks." Maya ketawa makin kenceng.

"Refleks karena siapa?"

"Ih!"

Di lapangan...

Kevin udah ngakak sambil nepuk bahu Raymond.

"Bos!"

"Hm?"

"Fans paling semangat lo udah ketahuan."

Raymond mengernyit.

"Siapa?"

Kevin ngangguk ke arah tribun.

"Itu."

Raymond menoleh.

Angela lagi pura-pura sibuk minum susu, padahal pipinya udah merah banget.

Melihat itu...

Raymond nggak bisa nahan senyum tipisnya.

Kevin langsung nyengir jahil.

"Tuh, senyum lagi." Raymond balik fokus ke lapangan.

"Nggak usah banyak ngomong."

"Siap, Bos."

Permainan lanjut.

Kali ini Rio berhasil mencuri bola.

"Haha! Dapet juga!"

Rio langsung lari kenceng ke depan.

"Skor buat gue!"

Belum sempat dia lay-up...

Tep!

Bola di tangannya tahu-tahu hilang.

Rio melongo.

"Lho?"

Di belakangnya...

Raymond udah berdiri sambil membawa bola.

"Makasih."

Rio langsung ngelus dada.

"Ya Allah... manusia apa dia."

Tribun lagi-lagi pecah.

Pelatih sampai ketawa kecil.

"Makanya jangan lengah."

Beberapa menit kemudian, peluit panjang berbunyi.

"Priiit!"

"Waktu habis!"

Seluruh pemain langsung berhenti.

Skor latihan berakhir telak.

Tim Raymond menang jauh.

Kevin langsung tiduran di lantai.

"Capek banget..."

Rio ikutan rebahan.

"Gue butuh oksigen."

Dion ngakak.

"Padahal baru latihan."

Raymond cuma ngelap keringat pakai handuk.

Napasnya masih stabil.

Seolah latihan barusan belum bikin dia lelah.

Pelatih menghampiri sambil melipat kedua tangan.

"Kerja bagus."

"Terima kasih, Coach."

"Tapi..."

Pelatih melirik ke arah tribun yang masih penuh.

"Lain kali, fokus jangan kebanyakan nengok ke tribun."

Kevin langsung batuk keras.

"Uhuk! Uhuk!"

Rio buru-buru nunduk biar nggak ketawa.

Sedangkan pemain lain saling sikut sambil senyum-senyum.

Raymond tetap memasang wajah datar.

"...Saya fokus, Coach."

Pelatih mengangkat sebelah alis.

"Oh ya?"

"Iya."

"Tiga kali kamu noleh ke tribun."

"..."

"Dan tiga-tiganya ke orang yang sama."

Seketika...

Seluruh tim basket langsung pecah ketawa.

"Hahahaha!"

"Waduh, ketahuan!"

"Coach ternyata merhatiin juga!"

Kevin sampai nepuk-nepuk lantai karena kebanyakan ketawa.

Sementara Raymond cuma mengembuskan napas pelan.

Untuk pertama kalinya...

Dia nggak bisa membantah ucapan pelatihnya.

Dari atas tribun, Angela yang nggak sengaja denger itu langsung mematung.

Pipinya berubah merah dalam sekejap.

"Ya ampun..."

Maya menoleh sambil nyengir lebar.

"Ange..."

"Hm?"

"Kayaknya..."

"..."

"...bukan cuma satu kampus yang sadar."

Angela menelan ludah pelan.

"Coach-nya juga."

Peluit latihan akhirnya benar-benar berakhir.

"Priiit!"

"Oke, selesai! Besok latihan jam yang sama. Jangan ada yang telat!" seru pelatih.

"Siap, Coach!"

Para pemain langsung bubar.

Ada yang duduk selonjoran di pinggir lapangan, ada yang sibuk minum, ada juga yang saling ngeledek habis latihan.

Kevin langsung nyamperin Raymond sambil nyengir usil.

"Bos."

"Hm?"

"Coach tadi ngomong bener, kan?"

Raymond lagi masukin botol minumnya ke dalam tas.

"Bener apanya?"

"Lo dari tadi nyariin Angela mulu."

Raymond berhenti sebentar.

Lalu menatap Kevin datar.

"Nyariin?"

"Iya."

"Nggak."

Kevin melirik Rio.

"Tuh, dia ngeles."

Rio ngakak.

"Padahal kita semua lihat."

Dion ikut nimbrung sambil nyenggol bahu Raymond.

"Bang..."

"Hm?"

"Kalau kangen tuh bilang aja."

Raymond langsung melirik tajam.

"Dion."

"Iya?"

"Lari keliling lapangan."

"Hah?!"

"Sepuluh putaran."

Dion langsung ngumpet di belakang Kevin.

"Woi! Bercanda, Bang!"

Kevin sama Rio malah ketawa makin keras.

"Rasain!"

Di sisi lain...

Angela berdiri sambil merapikan tasnya.

"Nah, May. Yuk pulang."

Maya belum sempat jawab.

"Angela."

Suara Raymond terdengar dari belakang.

Angela langsung memejamkan mata.

"Ya Allah... lagi?"

Ia membalikkan badan pelan.

"Iya?"

Raymond menghampiri sambil membawa handuk di bahunya.

"Kamu buru-buru?"

"Eng... nggak juga."

"Bagus."

"Lho?"

"Aku anter pulang."

Angela langsung melongo.

"Ray..."

"Hm?"

"Kamu habis latihan."

"Iya."

"Kamu capek."

"Nggak."

Angela langsung mendelik.

"Keringat kamu aja masih netes."

"Nanti juga kering."

Angela sampai nggak bisa ngomong.

Maya yang berdiri di samping udah senyum-senyum sendiri.

"Ya ampun... orang sedingin Raymond ternyata kalau perhatian begini ya."

Angela menghela napas panjang.

"Kamu tuh keras kepala banget."

Raymond mengangguk santai.

"Iya."

"Nah, iya lagi."

Angela nyubit pelan lengan Raymond.

"Bisa nggak sih sekali-kali jawab yang panjang?"

Raymond ngelirik bekas cubitan di lengannya.

"Lumayan sakit."

Angela langsung panik.

"Lho! Beneran?"

Raymond diem dua detik.

Terus...

Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Bercanda."

Angela langsung melotot.

"Raymond!"

Kevin yang ngelihat dari kejauhan langsung nyaris keselek minum.

"Woi!"

Rio ikut melongo.

"Anjir..."

"Apa?"

"Bos..."

"...barusan bercanda."

Kevin langsung nepuk bahu Dion.

"Sumpah, gue kayak lihat gerhana."

Dion manggut-manggut.

"Lebih langka."

Sementara itu, Angela masih manyun.

"Kamu sekarang bisa ngerjain orang juga ya?"

Raymond mengangkat sebelah alis.

"Belajar."

"Belajar dari siapa?"

Raymond melirik Kevin yang lagi ngakak.

"Dari mereka."

Kevin langsung tunjuk dirinya sendiri.

"Lho? Kok gue dibawa-bawa?"

Semua yang ada di sekitar mereka langsung ketawa. Suasana yang tadinya santai jadi makin hangat.

Namun...

Nggak jauh dari sana, Clarissa berdiri di balik tiang gedung olahraga.

Tatapannya lurus ke arah Raymond dan Angela yang lagi bercanda.

Jantungnya seperti diremas.

Selama ini...

Raymond yang dia kenal selalu dingin.

Jarang senyum.

Apalagi bercanda.

Tapi sekarang...

Di depan Angela...

Raymond berubah sedikit demi sedikit.

Dan perubahan itu...

Bukan karena dirinya.

Clarissa mengepalkan tangan sampai kukunya menekan telapak.

Tatapannya berubah tajam.

"Kalau aku terus nunggu..."

"Aku bakal kehilangan dia."

Perlahan, bibirnya membentuk senyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali nggak menunjukkan kehangatan.

"Angela..."

"Mulai besok..."

"Permainan kita baru dimulai."

****

Angela mengembuskan napas pelan.

"Oke, tapi aku pulang naik motor."

Raymond mengangguk.

"Iya."

"Nah, terus ngapain dianter?"

"Aku ikut di belakang."

Angela langsung mengernyit.

"Buat apa?"

"Memastikan kamu sampai."

Angela langsung menatap Raymond beberapa detik.

"Ray..."

"Hm?"

"Kamu tuh emang selalu segini overprotective?"

Raymond terlihat berpikir sebentar.

"Nggak."

"Terus?"

"Cuma ke kamu."

Deg!

Jantung Angela langsung berdetak nggak karuan.

Pipinya mulai terasa panas.

Sebelum sempat membalas, Kevin tiba-tiba datang sambil nyengir lebar.

"Waduh..."

Rio ikut nimbrung.

"Kita datang di waktu yang salah, nih."

Angela buru-buru mundur selangkah.

"Nggak... nggak kayak yang kalian pikirin!"

Kevin pura-pura manggut-manggut.

"Iya, iya. Kita percaya."

"Serius!"

"Serius juga."

Angela mendelik.

"Kak Kevin!"

Kevin langsung ngakak.

"Udah, udah... nggak usah panik."

Raymond malah terlihat santai.

"Ayo."

Angela meliriknya.

"Mau ke parkiran."

"Oh..."

Mereka berempat akhirnya jalan bareng menuju area parkir kampus.

Sepanjang perjalanan...

Bisik-bisik mahasiswa kembali terdengar.

"Itu mereka lagi."

"Raymond nganter Angela lagi."

"Kayaknya gosip kemarin bener."

Angela langsung mendesah.

"Ray..."

"Hm?"

"Lo denger, kan?"

"Iya."

"Terus?"

Raymond memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Emang kenapa?"

Angela sampai geleng-geleng kepala.

"Kamu tuh kebal gosip, ya."

"Biasa aja."

"Tapi aku nggak biasa."

Raymond berhenti melangkah.

Angela yang nggak sadar hampir aja nabrak dada Raymond.

"Eh!"

Raymond menatapnya lurus.

"Angela."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti..."

"..."

"...ada orang yang ngomong jelek soal kamu..."

Angela menatap balik mata Raymond.

"..."

"...jangan didengerin."

"Kenapa?"

"Soalnya mereka nggak kenal kamu."

Nada suaranya tetap datar.

Tapi setiap katanya terdengar tulus.

Angela perlahan tersenyum.

"Iya."

"Nah."

Raymond baru melanjutkan langkahnya.

Kevin yang jalan di belakang langsung berbisik ke Rio.

"Bos kita udah bahaya."

Rio mengangguk pelan.

"Parah."

"Ini udah bukan perhatian lagi."

"Terus?"

"Udah masuk fase jagain."

Rio sampai ketawa kecil.

"Semoga aja Kak Angela cepat sadar."

Sayangnya...

Ucapan Rio itu terdengar oleh seseorang.

Clarissa.

Ia berdiri beberapa meter dari mereka, pura-pura sibuk membuka ponselnya.

Namun telinganya menangkap jelas setiap kata.

"Fase jagain..."

Clarissa menggigit bibir bawahnya pelan.

Rasa cemburu yang selama ini ia tahan mulai berubah menjadi tekad.

"Kalau Raymond terus melindungi Angela..."

"Berarti yang harus kulakukan adalah membuat Raymond meragukan Angela."

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Kali ini...

Ia sudah mulai menyusun langkah pertama.

Sementara itu, Angela dan Raymond sama sekali nggak sadar.

Mereka terus berjalan berdampingan menuju parkiran.

Dan tanpa mereka ketahui...

Seseorang sedang mengawasi setiap langkah mereka.

Area parkiran kampus masih lumayan rame.

Mahasiswa berlalu-lalang sambil ngobrol. Beberapa masih melirik ke arah Raymond dan Angela yang berdiri di dekat motor Angela.

Angela membuka jok motornya, mengambil helm, lalu tersenyum kecil.

"Oke... aku balik dulu, ya."

Raymond mengangguk pelan.

"Hm."

Angela mulai memasang helm.

Baru aja helm itu mau dipakai...

"Tunggu."

Suara Raymond bikin tangannya otomatis berhenti.

"Hm?" Angela menoleh. "Kenapa lagi?"

Raymond melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depan Angela.

Angela langsung gugup.

"R-Ray...?"

Raymond nggak langsung jawab.

Tatapannya tertuju ke rambut Angela yang tertiup angin.

Lalu dia mengangkat tangan.

Refleks Angela memejamkan mata.

Jantungnya langsung berdebar nggak karuan.

"Ya ampun... dia mau ngapain, sih?"

Beberapa detik berlalu.

Nggak ada apa-apa.

Angela pelan-pelan membuka satu matanya.

Raymond sedang menjepit sesuatu di ujung jarinya.

"Daun."

Angela berkedip.

"...Hah?"

"Ada daun nyangkut."

Raymond memperlihatkan sehelai daun kecil sambil mengangkat sebelah alis.

"Kamu nggak sadar."

Angela langsung memegang rambutnya.

"Oh..."

Pipinya seketika memanas.

"Hehe... kirain...."

"Kirain apa?"

Angela buru-buru menggeleng cepat.

"Nggak! Nggak jadi!"

Raymond menatapnya beberapa detik.

"Kamu aneh."

Angela langsung manyun.

"Enak aja."

"Emang."

Angela mendengus pelan sambil memutar bola mata.

"Ih... nyebelin."

Dari kejauhan, Kevin yang lagi minum langsung menyikut Rio.

"Woi."

Rio menoleh.

"Apaan?"

"Kak Angela tadi merem."

Rio langsung nyengir lebar.

"Jangan-jangan..."

Kevin nyenggol lagi.

"...dikira bos mau nyium."

"HAHAHAHA!"

Suara tawa mereka lumayan kenceng.

Angela spontan menoleh.

"KAK KEVIN!"

Kevin langsung ngangkat dua tangan.

"Ampun! Bercanda!"

Rio ikut ngakak sambil mundur beberapa langkah.

"Kita nggak lihat apa-apa!"

Angela langsung menutup wajahnya.

"Ya Allah... malu banget...."

Raymond menoleh ke Kevin dan Rio, lalu menggeleng pelan.

"Kalian berisik."

Kevin masih ketawa.

"Soalnya lucu, Bos."

Raymond balik menatap Angela.

"Udah?"

Angela masih nutup muka.

"Belum."

"Kenapa?"

"Aku lagi nahan malu."

Raymond terlihat berpikir sebentar.

"Kalau gitu..."

Dia melirik Kevin dan Rio.

"...yang harus malu mereka."

Kevin langsung nunjuk dirinya sendiri.

"Lho? Kok kita?"

Rio langsung nyenggol Kevin.

"Tuh, dimarahin."

"Salah sendiri."

Angela akhirnya nggak kuat nahan tawa.

"Hahaha..."

Melihat Angela ketawa, Raymond ikut tersenyum tipis.

Meski cuma sebentar...

Senyum itu cukup bikin Kevin dan Rio saling pandang.

"Woi..."

"Bos senyum lagi."

"Iya..."

"Bahaya."

Angela akhirnya selesai ketawa, lalu kembali memakai helm.

Namun saat mengaitkan talinya...

"Ih..."

Dia mengernyit.

"Kenapa?" tanya Raymond.

"Tali helmnya muter."

Angela mencoba membetulkan sendiri.

Tapi malah makin kusut.

"Aduh... kok malah nyangkut, sih?"

Dia mendesah pelan sambil mengembuskan poni yang jatuh ke depan mata.

Raymond mengulurkan tangan.

"Sini."

"Nggak usah, aku bisa."

Angela mencoba lagi.

Klik.

Gagal.

Klik.

Gagal lagi.

Angela langsung mendecak pelan.

"Ih... kesel."

Raymond menahan senyum.

"Sekarang?"

Angela mendesah pasrah.

"...Iya deh."

Raymond berdiri lebih dekat.

"Jangan gerak."

"Iya."

Angela otomatis diam.

Raymond merapikan tali helm dengan telaten.

Sesekali jemarinya menyentuh pelan bagian bawah dagu Angela saat membenarkan posisi pengait.

Klik.

"Nah."

"Udah." Angela menatap Raymond beberapa detik.

"Makasih."

Raymond mengangguk.

"Hati-hati di jalan." Angela tersenyum jahil.

"Iya, Pak Polisi." Raymond mengangkat sebelah alis.

"Aku kelihatan kayak polisi?"

"Iya. Galak suka nyuruh-nyuruh juga cerewet."

Raymond menghela napas pelan.

"Aku cuma khawatir." Kalimat itu langsung bikin Angela terdiam. Senyumnya perlahan berubah jadi lebih lembut.

"Iya..." Angela mengangguk pelan.

"Aku bakal hati-hati." Raymond membalas anggukan itu.

"Bagus." Angela menyalakan motor. Sebelum pergi, dia membuka kaca helmnya sedikit.

"Ray."

"Hm?"

"Makasih... udah jagain aku." Raymond menatapnya beberapa detik, lalu menjawab singkat dengan nada yang lebih hangat dari biasanya.

"Selalu."

Satu kata itu. Entah kenapa berhasil bikin senyum Angela makin susah disembunyikan.

"Oke... aku berangkat."

"Hati-hati." Motor Angela pun perlahan keluar dari area parkir. Sementara Raymond tetap berdiri sampai motor itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!