Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
Pagi itu jadwal rapat mendadak berubah. Bu Tia memberi tahu Rima untuk segera membawa salinan rancangan desain ke ruang rapat nomor 3 di lantai atas, sebelum rapat dimulai sepuluh menit lagi.
"Pastikan sudah di tangan pemimpin rapat sebelum jam sepuluh ya Rima," pesan Bu Tia saat menyerahkan map tebal itu. "Rapat ini penting sekali, jangan sampai terlambat atau salah ruangan."
"Siap Bu Tia! Saya pastikan aman sampai tujuan," jawab Rima dengan semangat, lalu segera berjalan cepat menuju lift.
Sesampainya di lantai atas, Rima berhenti sejenak di depan peta denah ruangan di dinding. Ia menghitung ruangan satu per satu dari ujung lorong. Ruang rapat nomor 1, nomor 2... seharusnya nomor 3 ada di sebelah kanan, di ujung lorong dekat jendela. Namun karena renovasi bagian tengah lorong, penunjuk arah sementara dipasang berantakan, membuat letak ruangan tampak berbeda dari biasanya.
Rima berjalan menyusuri lorong yang sepi. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar memantul di dinding. Ia melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit, tidak ada papan nama besar di depannya, dan posisinya persis di mana seharusnya ruang rapat nomor 3 berada.
"Pasti ini dia," gumamnya pelan. "Pintunya belum tertutup rapat, berarti sudah ada yang datang."
Tanpa melihat papan nama kecil yang tersembunyi di sisi bingkai pintu, Rima mendorong pintu itu perlahan sambil berniat masuk dengan sopan.
"Permisi, maaf mengganggu..."
Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Ruangan itu bukan ruang rapat. Itu adalah ruang kerja pribadi Andre.
Di tengah ruangan yang luas dan tertata rapi, Andre berdiri di dekat jendela besar membelakangi pintu, sedang memegang telepon genggam di telinga. Suaranya rendah, tegas, dan terdengar sangat serius. Berbeda jauh dari nada biasanya saat berbicara pada staf.
"Saya sudah jelaskan syaratnya dengan jelas," ucapnya dingin. "Jika tidak bisa dipenuhi minggu ini, batalkan saja perjanjiannya. Saya tidak menerima kompromi untuk hal ini."
Rima membeku di tempat. Kakinya terasa berat menancap di lantai, mulutnya otomatis tertutup rapat dengan kedua tangan. Ia tidak bermaksud menguping, tidak bermaksud mengganggu pembicaraan penting itu. Ia hanya salah masuk pintu lagi.
Jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak. Ia tahu betul betapa Andre menghargai privasi dan ketenangan saat bekerja. Sekarang ia malah masuk seenaknya saat beliau sedang berbicara urusan penting.
Andre mendengar suara langkah dan kalimat singkat di belakangnya. Ia menoleh sebentar, matanya bertemu dengan mata Rima yang memancarkan kepanikan luar biasa. Ia tidak berteriak, tidak memarahi, hanya melirik sekilas dengan tatapan datar, lalu mengangguk pelan memberi isyarat agar gadis itu keluar saja. Tanpa menunggu lebih lama, ia kembali menatap ke luar jendela dan melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang sama tenang.
"Pikirkan baik-baik sebelum menjawab. Saya tunggu kabar terakhirmu sore ini."
Rima mengerti isyarat itu. Ia langsung membungkuk dalam-dalam sampai punggungnya melengkung, berusaha meminta maaf lewat gerakan saja karena takut suaranya mengganggu.
Maaf Pak! Saya salah masuk! Saya pergi sekarang! teriaknya dalam hati.
Karena terlalu panik ingin segera keluar, Rima tidak berani berbalik badan membelakangi pimpinan. Ia memilih berjalan mundur perlahan, berharap bisa mencapai pintu dengan aman.
Satu langkah mundur... dua langkah... tiga langkah... Kakinya bergerak hati-hati, matanya tak lepas dari Andre yang masih berbicara serius. Namun saat ia pikir sudah sampai di ambang pintu, tumit sepatunya justru menyentuh kusen pintu. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan tak sempat menyeimbangkan diri.
Brak!
Punggungnya menabrak dinding di sebelah pintu dengan cukup keras. Suara benturan itu terdengar nyaring di ruangan hening. Rima meringis menahan sakit di punggung, matanya terpejam rapat menunggu teriakan atau teguran keras.
Namun tidak ada yang terjadi. Andre hanya menoleh sekilas lagi, meliriknya sebentar seolah melihat kejadian biasa, lalu kembali fokus pada pembicaraannya.
"Ya, sampai jumpa sore nanti."
Ia mematikan sambungan telepon, lalu menaruh ponselnya di meja dengan tenang. Baru setelah itu ia menatap Rima yang masih menempel di dinding dengan wajah pucat dan mata melotot kaget.
"Sudah selesai mundurnya?" tanyanya singkat.
Rima langsung berdiri tegak, wajahnya memerah padam menahan malu yang luar biasa. "Maaf Pak Andre! Saya benar-benar minta maaf! Saya cari ruang rapat nomor 3, tapi denahnya berubah, pintu ini terbuka sedikit, jadi saya kira ini ruang rapat... Saya tidak bermaksud mengganggu pembicaraan Bapak, saya tidak bermaksud masuk sembarangan..."
Ia berhenti sebentar menarik napas, lalu menunduk lagi. "Saya salah jalan, saya ceroboh, saya lupa cek papan nama... Maaf sekali lagi Pak, saya janji akan lebih teliti melihat tanda ruangan mulai sekarang."
Andre berjalan mendekat ke arah pintu, menunjuk papan nama kecil di sisi bingkai yang bertuliskan RUANGAN DIREKTUR UTAMA.
"Tanda itu ada di sana sejak gedung ini selesai dibangun," ucapnya datar. "Ruangan rapat nomor 3 ada di lantai bawah, sebelah ruang arsip sementara. Ruangan ini tidak pernah digunakan untuk rapat umum."
"Ba... baik Pak," jawab Rima pelan sambil memegang erat map di dadanya. "Saya benar-benar tidak tahu. Maaf sudah mengganggu Bapak."
Andre melihat wajah gadis itu yang tampak sangat ketakutan namun tetap berdiri dengan sopan. Ia tidak memarahi lebih jauh, hanya berkata singkat:
"Hati-hati berjalan. Jangan mundur tanpa melihat ke belakang."
"Iya Pak! Terima kasih Pak sudah memaklumi," Rima membungkuk sekali lagi, lalu berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang kali ini tidak salah arah lagi.
Setelah Rima pergi, Dino datang membawa berkas. Ia melihat Andre yang menahan senyum tipis sambil menatap pintu yang baru saja ditutup.
"Ada yang lucu Pak?" tanya Dino penasaran.
"Tadi anak magang itu masuk ke sini," jawab Andre sambil kembali duduk di kursinya. "Dia masuk salah ruangan. Lalu begitu mau keluar malah berjalan mundur. Jadinya menabrak dinding."
Dino tertawa pelan. "Masih saja penuh kejadian ya dia Pak. Tapi setidaknya dia masih bersikap sopan."
"Ya," Andre mengangguk pelan. "Dia memang sering salah langkah, tapi dia tahu batas. Itu lebih penting daripada sekadar tidak pernah melakukan kesalahan."
Sementara di lorong lain, Rima menepuk-nepuk dadanya yang masih berdegup kencang. Ia mengelus punggungnya yang masih terasa sakit, lalu bergumam sendiri.
"Lagi-lagi aku berbuat yang memalukan hari ini. Sudah ya, sudah cukup malu untuk hari ini. Lain kali aku harus benar-benar baca sebelum masuk pintu apa pun!"
Ia berjalan menuju lift dengan langkah lebih hati-hati, memastikan setiap pintu yang ia lewati sudah dibaca namanya dengan benar. Pelajaran berharga hari ini. Jangan pernah berasumsi, selalu cek sendiri, dan jangan pernah mundur tanpa melihat ke belakang!
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏