Menyakitkan jika mengingatnya, menyedihkan saat menjalaninya, mengecewakan saat melihatnya, itulah cinta.
"Naura ?" ucap orang tersebut memastikan orang dihadapannya ini
"Siapa ? hiks,,, hikss,,," tanyaku tidak mengenali orang yang mengajakku bicara
"Kamu Naurakan ? yang bermain bersamaku saat di panti asuhan ?" tanya anak itu lagi
"Deg !" Bayangan itu muncul, potongan mimpi yang terasa nyata itu hadir. Rasa sakit saat dipukuli oleh wanita yang ku anggap ibu, rasa menyalahkan diri karna tidak patuh, rasa yang menyesakkan dada
"Tidak, aku tidak bermain ke panti asuhan. Aku bukan anak yang nakal... hiks,,, hiks,,, " ucapku sambil menahan sakit diperut, ada perban dikepala menutupi luka yang cukup dalam dan besar serta beberapa lebam yang nyeri diwajahku
Itu semua ku dapatkan dari orang yang ku anggap tulus ternyata palsu, dari seorang yang ku anggap pelindung ternyata penjahat, Cinta dari segala bentuk itu menyedihkan Bukan ? Adakah Cinta yang tulus di dunia ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ralia Imutz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33_ Saingan
Setelah beberapa jam mereka berkutat dengan rutinitas yang menyenangkan bagi wanita, namun Naura merasa itu tidak perlu karena dirinya tidak terbiasa. Beberapa kali Naura proters dengan ajakan Zahra.
“Nau habis ini kita cat kuku yuk” ucap Zahra
“Untuk apa ? kuku memang seharusnya begini warna untuk apa diberi warna. Lagipula kita dokter saat menangani pasien tidak boleh memakai cat kuku” ucap Naura menolak
“Nau kita waxing kuy, biar mulus” ajak Zahra lagi
“Hei, rambut ditubuh manusia itu banyak manfaatnya tau. Rambut ditangan dan kaki punya sensor yang baik untuk mengetahui apa saja yang tersentuh oleh kita, untuk apa menghilangkannya” ucap Naura kembali menolak, Zahra yang dijawab dengan jawaban selogis itu hanya bisa diam
“Nau, Kita cat rambut kuy !” ajak Zahra lagi
“Cat rambut banyak bahan kimianya, bisa-bisa merusak rambut” ucap Naura lagi berkomentar
“Haih… ya sudah….” Ucap Zahra pasrah
Setelah kesalon merekapun pergi ke toko pakaian untuk mulai memilih gaun. Dengan rambut bergelombang dan riasan natural sehabis keluar dari salon membuat Naura nampak elegan dan cantik walau masih dengan baju casualnya.
“Nau yang ini gimana ?” Tanya Zahra memilih gaun hitam dengan gliter
“Gak, lo pikir gue lampu jalan” ucap Naura kembali melihat-lihat baju
“Nau kalo yang ini gimana ?” Tanya Zahra lagi menunjuk dress berwarna pink dengan belahan yang mencolok
“Kau ingin aku masuk angina ? itu sangat terbuka Ijah…” ucap Naura
“Lo sukanya yang gimana sih ?” Tanya Zahra sudah lelah berdebat, semua pilihannya ditolak oleh Naura sedangkan dirinya tidak menemupkan pilihan apapun
“Gua mau yang sederhana dan elegan. Udah kek gitu aja” ucap Naura
“Hm, gua nanya sama mbaknya deh” ucap Zahra kemudian berlalu
“Nau sini deh” ucap Zahra setelah beberapa saat pergi dan kemudian membawa sorang pegawai toko
“Ada ?” Tanya Naura
“Terimakasih sudah berkunjung ke toko kami, untuk model dress yang kakak suka ada beberapa rekomendasi dari kami. Silahkan lewat sini kak” ucap si pegawai dengan sopan
“Hm” ucap Naura kemudian berjalan mengikuti arahan si pegawai
“Silahkan kak, dilihat-lihat dulu. Ini beberapa model yang kami rekomendasikan untuk kakak” ucap si pegawai membawa Naura pada 5 buah dress yang terjejer rapi
“Hm… saya mau yang ini” tunjuk Naura pada sebuah dress hitam selutut dengan tangan balon dan bahu lebar
“Ini terlalu simple Nau” ucap Zahra berkomentar saat Naura mencoba dress tersebut
“Ya, gua emang suka yang simple” jawab Naura langsung membungkus gaun yang menarik perhatiannya
Setelah perdebatan ditoko pakaian merekapun lanjut ke toko sepatu. Kembali lagi beberapa perdebatan terjadi dan akhirnya dimenangkan kembali oleh Naura, hils hitam yang tidak terlalu tinggi menghiasi kaki jenjangnya.
“Nau, Apapun yang terjadi di dalam sana kabarin gua gimana ekspresi mertu lo saat ngelihat lo ! Gua udah gak sabar iiih !” ucap Zahra yang mengantar Naura ke rumah Aydin
“Untuk apa aku melapor ?” Tanya Naura
“Hei, kau tidak lihat perjuanganku untuk membuatmu cantik ?” ucap Naura
“Hehe, iya, iya” ucap Naura terpaksa
“Waaah, rumahnya besar Nau. Ini nih istana masa depan lo !” ucap Zahra kagum saat memasuki pekarangan rumah Aydin
“Lo gak sekalian masuk jah ?” Tanya Naura saat mobil mereka berhenti dipintu utama
“Gak, gue gak diundang dan gua mau ngedate juga sama pacar kesayangan gua” ucap Zahra dengan santai
“Hm, dasar bucin” ejek Naura
“Eeeh, enak aja ngatain gue buu…” percakapan Zahra terhenti karena melihat mobil lain didepan
“Bu kades…” sambung Naura ingin bercanda
“Nau, nau,,, itu lihat…” ucap Zahra sambil menepuk pundak Naura
“Apa ?” Tanya Naura sambil menoleh kedepan
“Ternyata lo ada saingan !” tunjuk Zahra kedapan
“Tuh Aydin, tuuh… Buruan keluar hampirin dia, jangan sampai kalah saing sama cewe itu” ucap Zahra mendorong-dorong Naura
“Aduh, pelan dong Jah, jangan dorong-dorong. Iya nih gua turun” ucap Naura terdorong
“Good luck !” ucap Zahra pada sahabatanya
“Thanks udah diantar” ucap Naura tersenyum
“Sana buruan Nau ! hus,,, hus,,,” ucap Zahra didalam mobil dengan tangan mengusir
“Iya,,, iya…” jawab Naura kembali cemberut kemudian dengan malas berjalan menghampiri Aydin
“Cih, ternyata acara bersama teman. Kira hanya dengan Naura” gumam Zahra melihat rekan kerjanya dirumah sakit juga ada disana
“Aih, sudahlah… seberapa banyakpun saingannya, Naura pasti yang paling terbaik” ucap Zahra kemudian kembali melajukan mobilnya untuk keluar dari rumah tersebut.
Sementara itu Naura dengan sedikit ragu berjalan menghampiri mereka.
“Hai…” sapa Naura sambil melambaikan tangannya ragu
“Wah ini beneran lo Nau ?” Tanya Aydin
“Hm, ya” jawab Naura agak malu karena ditatap Aydin
“Cantik” komentar aydin dengan tersenyum
“Terimakasih” ucap Naura
“Hai, Naurakan ?” ucap Siti menengahi mereka
“Iya, Hai…” balas Naura bingung memanggilnya siapa
“Gua Siti teman masa kecilnya Aydin” ucap Siti menyalami tangan Naura
“Naura” jawab Naura kembali
“Oh ya Nau, mereka ini temen-temen aku waktu SD. Siti, Heru, Adi dan Nazib. Kabetulan Siti bisa mengumpulkan mereka semua hari ini. Jadi aku ajak sekalian untuk berkumpul” ucap Aydin menjelaskan
“Hai, gua….” Ucap teman masa kecil Aydin lainnya mengenalkan diri sendiri
“Ya, Naura. Salam kenal…” jawab Naura mengangguk canggung
“Ayo semuanya, silahkan masuk” ucap Aydin
“Waah, bro rumah lo makin gede aja” komentar Adi
“Bukan rumah ku, ini rumah orang tuaku Di. Aku masih belum punya apa-apa. Hahaha” ucap Aydin
“Ay, inget gak kita dulu suka main disini kan” ucap Siti segera mendekat dan berada disamping Aydin
“Iya, kamu suka banget main bola disini. Padahalkan lapangan bola ada” ucap Aydin
“Hehe, itukan masa lalu. Sekarang aku udah gak main bola lagi” ucap Siti
“Iya, terus lo suka banget ngumpet disini kalau lagi ngambek” ucap Heru ikut menimpali
“Hahahha, iya…. Iya…” ucap geng masa kecil tersebut mengenang masa lalunya
Naura hanya diam karena tidak bisa ikut bergabung dengan percakapan mereka, dirinya berjalan paling belakang diantara yang lainnya.
“Nau, aku ada kebun strawberry loh. Entar aku tunjukkin sama kamu” ucap Aydin yang menyadari jika Naura merasa canggung
“Benarkah ?” Tanya Naura kini berani mengangkat kepala
“Ya, nanti setelah makan bersama kita kesana” jawab Aydin tersenyum
“Baiklah” jawab Naura membalas dengan senyum malu-malu kucing
.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣
Thanks All ✨✨✨
tak enteni iki🤭
meski menanti sedikit membuat hati galau😬
Akhirnya
sama2 tua kekanak kanakkan sumua