Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pria yang tertangkap basah itu langsung berbalik. Wajahnya pucat pasi dan seluruh tubuhnya gemetaran. Kantong plastik hitam di tangannya langsung jatuh ke lantai, menampilkan beberapa pasang sepatu baru yang berhamburan.
Budi yang melihat wajah pria itu langsung melotot tidak percaya. "Doni?!"
"Om kenal dia?" tanya Raka.
"Lumayan kenal, tapi nggak akrab banget. Dia pernah cerita ke aku kalau keluarganya lagi kesusahan ekonomi..." Budi bergumam pelan.
Mendengar hal itu, Raka terdiam. Matanya menatap tajam ke arah Doni yang menunduk ketakutan.
Para pekerja lain yang ikut mengepung mulai heboh. Bi Asih berjalan ke depan dengan langkah gemetar. "D-Doni? Kenapa kamu nekat begini, Don? Kalau lagi butuh uang, harusnya ngomong ke Bibi atau yang lain. Siapa tahu kita bisa bantu, bukan malah mencuri kayak gini."
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para pekerja.
"Wah, nggak nyangka banget si Doni bisa kayak gini."
"Padahal sehari-hari kelihatan sopan dan rajin."
"Gara-gara dia, kita semua tadi kena semprot pengawas."
"Iya, kita juga jadi malah sempat mikir Pak Kurniawan sendiri yang nyolong."
Raka tidak memedulikan drama di sekitarnya. Dia melangkah maju mendekati Doni.
Doni yang semakin panik langsung memelas, takut dilaporkan ke manajemen. "R-Raka, tolong jangan laporin aku ke pengawas... Bisa langsung dipecat aku kalau sampai ketahuan."
Raka tidak menjawab. Dia mendekat lalu berjongkok untuk memungut kantong plastik hitam tersebut dan memeriksa isinya.
"Jumlah sepatunya banyak banget. Agak aneh. Orang ini kan cuma buruh biasa dan nggak punya akses kunci gudang. Mustahil dia bisa tahu celah jam patroli satpam sedetail ini tanpa bantuan orang dalam," batin Raka menganalisis.
Raka berdiri, lalu mendongak menatap langit-langit gudang. Di sana ada beberapa kamera CCTV yang posisinya sengaja diputar atau mungkin sengaja dimatikan.
"Pencurian ini pasti udah berlangsung lama, tapi baru ketahuan sekarang karena stok barang di gudang mulai kelihatan menyusut," batin Raka lagi.
Raka kembali menatap Doni, menuntut jawaban. "Lu dapet kunci duplikat dari mana? Terus gimana caranya lu bisa tahu kalau CCTV area belakang lagi mati?"
"A-apa... i-itu... anu..." Doni langsung gagap. Matanya melirik panik ke arah kerumunan pekerja di luar gudang dan tidak bisa menjawab sepatah kata pun.
Melihat reaksi Doni, Raka langsung mengalihkan pandangannya untuk memperhatikan wajah para pekerja satu per satu. Dari sana, dia mulai mendapatkan petunjuk baru.
"Sepertinya Doni ini cuma kaki tangan atau orang suruhan dari pelaku utamanya," ujar Raka lantang.
Budi dan para pekerja lain langsung melongo terkejut. "Apa maksudmu, Rak? Jadi Doni bukan pelaku tunggal? Terus siapa otak di balik ini semua?"
Raka menjawab dengan tenang, "Simpel aja. Doni terpaksa nurut karena kemungkinan diancam atau diiming-imingi sesuatu. Dia baru nekat mindahin sepatu curian ini ke gudang belakang karena gua tadi sengaja nyebarin rumor bohong soal pemeriksaan loker tadi."
Suasana gudang mendadak kembali tegang.
"Hah? Jadi soal penggeledahan loker itu bohong?"
"Kenapa harus pakai bohong segala sih?"
Raka tersenyum tipis. "Tenang dulu semuanya. Kalau nggak pakai rumor bohong itu, mana mungkin tikus utamanya bakal panik dan nyuruh Doni buat singkirin barang bukti?"
Budi menelan ludah, dahinya mulai berkeringat dingin. "L-lalu... siapa pelaku utamanya, Rak?"
"Iya, siapa?"
"Gua sih jelas bukan ya."
Raka diam sejenak. Dia memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Saat membuka mata, telunjuknya langsung mengarah ke salah satu orang di kerumunan pekerja yang berdiri tidak jauh dari Budi.
Seketika, semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk Raka dengan tatapan tidak percaya. Para pekerja langsung heboh membantah tuduhan itu.
"Nggak mungkin Bi Asih! Dia kan orang lama dan paling baik di sini!"
"Iya, jangan asal nuduh deh, Rak. Nggak masuk akal!"
"Jangan fitnah orang tua, Raka!"
Bi Asih sendiri langsung menutup mulutnya dengan wajah syok. "A-astaga... Bibi nggak mungkin melakukan hal serendah itu, Raka."
Meskipun sekarang gantian dirinya yang disudutkan oleh rekan-rekan kerjanya, Raka tetap tenang. Pengalaman hidupnya sebagai orang kantoran berusia 30 tahun membuatnya bisa mengendalikan emosi dengan baik.
"Tenang dulu, gua punya alasannya," kata Raka memotong keributan. "Coba pikir, siapa orang pertama yang tahu kalau ada sepatu hilang malam ini?"
Para pekerja terdiam sejenak sebelum ada yang menyahut, "Bi Asih. Tapi kan wajar, bisa aja Bibi dapet kabar langsung dari pengawas."
"Nah, di situ poinnya," jelas Raka percaya diri. "Gimana kalau Bi Asih sebenarnya udah tahu duluan karena dia yang buka pintu gudang? Dia sengaja menyebarkan info itu biar terjadi kepanikan dan kecurigaan kita teralih ke orang lain."
Raka melanjutkan penjelasannya, "Terus waktu gua pura-pura nemuin gantungan kunci karatan tadi, semua orang emang bingung. Tapi cuma Bi Asih yang keringetan parah dan tangannya gemeteran. Saat gua bilang takut pelakunya kabur, Bi Asih langsung ngasih kode mata ke Doni supaya buru-buru singkirin sepatu yang masih disimpan di tas atau loker."
Para pekerja mulai saling pandang. Logika Raka mulai masuk akal, tapi mereka masih butuh bukti fisik.
Raka paham situasi itu, dia menoleh ke arah Budi. "Om Budi, coba tolong periksa tas atau kantong baju Bi Asih. Lihat ada kunci gudang asli atau nggak di dalam sana."
Bi Asih menelan ludah, wajahnya mendadak berubah pucat pasi. "T-tunggu! Kalian nggak boleh asal geledah barang orang. Itu nggak sopan!"
"Geledah aja, Om. Kalau emang gua salah dan nggak terbukti, gua yang bakal minta maaf langsung dan ganti rugi," tantang Raka sambil menatap tajam Bi Asih.
Para pekerja yang awalnya membela Bi Asih kini mulai balik menaruh curiga melihat reaksi panik wanita tua itu. Mereka akhirnya membantu Budi.
"Jangan takut, Bi. Kalau emang nggak salah, buktiin aja biar Raka malu."
"Iya, biar ketahuan siapa yang bener."
Benar saja, begitu tas Bi Asih digeledah, Budi menemukan sebuah kunci gudang utama yang seharusnya hanya dipegang oleh pengawas dan kepala gudang.
Semua orang langsung terdiam seribu bahasa.
Raka berbalik menatap Doni. "Mending lu ngaku sekarang biar hukuman lu diringankan!"
Doni yang sudah ketakutan setengah mati akhirnya blak-blakan. "Iya! Saya dijanjiin dapet bagian tiga puluh persen dari hasil penjualan sepatu curian itu. Tapi pas saya mau berhenti karena takut, Bi Asih ngancem bakal laporin saya pakai bukti pencurian yang pertama. Tolong jangan penjarain saya!"
Raka tersenyum puas, lalu menepuk pundak Doni. "Ya, alasan apa pun itu, tindakan kalian berdua tetep salah. Gua juga nggak bisa jamin hukuman lu bakal diringankan, karena gua bukan penanggung jawab pabrik ini."
Mendengar itu, lutut Doni langsung lemas dan dia terduduk di lantai.
Tidak lama setelah itu, Pengawas Kurniawan dipanggil ke lokasi.
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Raka bisa menyelesaikan kasus pencurian ini hanya dalam waktu beberapa jam.
Bi Asih selama ini memang sangat dipercaya oleh manajemen karena citranya yang baik, tapi ternyata dialah otak kriminalnya.
Sambil melihat Bi Asih dan Doni dibawa oleh pengawas dan satpam untuk diproses lebih lanjut, Budi menatap Raka dengan tatapan takjub.
"Gila, hebat banget kamu, Rak! Ajarin aku dong, udah kayak detektif di film-film saja kamu tadi," puji Budi heboh.
Raka cuma terkekeh pelan. "Halah, skill biasa ini mah, Om wkwk. Ayo balik, tuh lihat, matahari udah mulai naik."