Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*12
Setelah mobil yang kedua orang tuanya tumpangi menghilang dari pandangan mata, Sha masih tetap berdiri di sana. Bersandar bahu pada tiang yang ada di teras rumah. Menikmati udara malam yang terasa cukup dingin menyapa kulit.
Mata Asha menatap ke langit yang mendung. Berulang kali ia lepaskan napas berat karena beban masalah yang sedang ia pikul, tapi sayangnya, beban itu tak kunjung menghilang. Yang ada, malah terasa semakin berat saja setiap detiknya.
"Ku harap ketemu bintang saat melihat awan, tapi sayangnya, yang ada hanya mendung saja," ucap Asha bicara pada dirinya sendiri.
Dengusan kasar ia lepas. Saat tubuhnya ingin berbalik untuk masuk ke dalam rumah, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumahnya. Mobil itu melambat, lalu berhenti tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
Tidak pula membutuhkan waktu yang lama, seseorang keluar dari mobil tersebut. Siapa lagi dia kalau bukan calon suami Asha. Irza Rahardi yang sedang ingin menepati ucapan untuk bertamu ke rumah mereka.
Entahlah. Saat melihat Irza, hati Sha langsung meras tidak nyaman. Pria itu tampan. Pakaiannya sopan dan selalu rapi. Kemeja dengan celana yang sangat cocok. Setiap memakai baju, jarang sekali lengannya tidak ia lipat sedikit. Terus, kancing kemeja juga tidak ia tutup sampai atas. Selalu menyisakan satu kancing yang terbuka. Oh, andai saja dia pria kekar dengan dada bidang, plus otot perut yang tertata dengan sangat rapi. Di tambah pula jalannya tegap gak lembut. Dia adalah idola kaum hawa yang sesungguhnya. Karena mulai dari wajah hingga pakaian semuanya mendukung. Hanya satu saja yang salah, dia gemulai.
"Irza."
"Asha ... selamat malam."
"Hm. Masuklah."
"Kamu ngapain berdiri di luar?"
"Ngantar orang tuaku tadi, baru mau masuk kamu malah datang."
"Ooo .... " Namun, itu gak lama. Detik berikutnya, Irza malah terlihat kaget. "Apa? Mereka gak ada di rumah?"
"Iya. Aku lupa kalo malam ini mereka ada acara. Kamu bisa masuk. Karena aku gak sendirian di rumah. Ada asisten rumah tangga di dalam sana."
"Oh ... baiklah."
Sha masuk duluan, Irza mengikuti dari belakang. Sampai ke ruang tamu, Asha mempersilahkan tamunya duduk dengan sopan. "Silahkan duduk. Aku ke dapur sebentar."
"Sha, nggak perlu. Aku hanya ingin ngomong dengan nyaman."
"Iya. Kamu bisa ngomong setelah aku buatkan minum untukmu."
"Tapi .... "
"Kamu tamu, aku tuan rumah. Aku harus layani tamu dengan baik."
"Iya ... baiklah," ucap Irza dengan pasrah.
Benar saja, tak lama kemudian, Sha datang dengan membawa napan yang berisikan dua gelas teh panas plus kue bolu kesukaannya.
Irza menyambut kedatangan Asha dengan manik mata bahagia. Seperti biasa, hanya melihat wajah Asha saja sudah membuat hati Irza bahagia.
"Silahkan," ucap Sha sambil meletakkan teh ke atas meja tepat di depan Irza.
"Terima kasih banyak. Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot, Sha. Aku datang hanya ingin bicara saja."
"Hm. Aku tahu, tapi tetap saja kamu tamu, bukan? Nikmatilah apa yang tuan rumah sungguh kan," ucap Sha tanpa. banyak drama.
"Iya. Sekali lagi terima kasih, Sha."
"Hm. Mau bicara apa? Kalo datang untuk minta maaf soal kejadian di kampus, aku gak ingin membahasnya. Aku terlalu lelah untuk semua itu. Dan juga, ku mohon, jangan terlalu sering mengucapkan kata maaf. Takutnya, kata maaf akan kehilangan arti hanya gara-gara terlalu sering diucapkan."
Irza langsung menundukkan wajahnya.
"Iya, aku tahu aku salah. Jadi, aku-- "
"Tolong jangan minta maaf. Kamu tahu kamu salah? Sebenarnya, salah kamu apa sih? Gampang banget ngakuin kesalahan terus minta maaf."
Irza langsung mengangkat wajahnya Kata-kata Asha memang agak ketus dan juga mungkin agak kasar bagi sebagian orang. Tapi saat ini, Irza sama sekali tidak merasa terluka akan kata-kata tersebut. Hatinya baik-baik saja. Entah karena itu memang tidak mampu melukai hatinya, atau mungkin karena orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah Asha. Yang jelas, dia tidak terluka sekarang.
"Sha. Aku sudah buat harimu sulit. Gara-gara aku, kamu jadi bahan omongan seluruh kampus. Aku minta maaf karena hal itu. Aku bersalah padamu, Sha."
"Kamu tidak ingin membahas apa yang terjadi di kampus, tapi aku tetap akan membahasnya. Aku harap, kamu bisa memaafkan aku untuk hal ini. Dan, kedatangan ku malam ini juga menyampaikan keputusan yang telah aku ambil. Ashanti, aku senang karena telah dijodohkan dengan mu. Tapi aku gak ingin buat hari-harimu kedepannya jadi lebih buruk. Untuk itu, aku putuskan agar perjodohan kita dibatalkan. Aku sudah bilang pada kedua orang tuaku untuk membatalkan perjodohan ini, dan mereka setuju."
"Apah?" Asha menaikkan kedua alisnya. "Kamu ingin batalkan perjodohan setelah kabarnya tersebar dengan luas, Irza?"
"Iy-- iya ... karena aku sudah tahu aku salah. Aku akan tebus kesalahan yang telah aku perbuat. Jadi aku ... aku batalkan perjodohan itu agar kamu bahagia."
Asha langsung terkekeh pahit. Tentu saja bukan karena bahagia. Melainkan, karena sebaliknya. Karena bingung plus rasa lain yang entah kenapa bisa hadir ke dalam hatinya.
Harusnya ia bahagia akan hal tersebut. Irza membatalkan perjodohan mereka. Dia harusnya puas dan sangat-sangat senang karena tidak menikah dengan pria kemayu yang tidak ia inginkan.
Tapi, kabar perjodohan itu sudah tersebar. Papa dan mama bahkan terlihat sangat berharap ia bisa menikah dengan Irza entah apapun itu alasannya, yang jelas, kedua orang tuanya sangat ingin bermenantukan pria gemulai ini.
"Kamu ingin batalkan perjodohan setelah namaku kamu seret dalam gosip besar tadi siang, Za? Kamu mikir gak sih? Jika perjodohan ini kamu batalkan, yang akan malu bukan hanya satu keluarga, tapi kedua keluarga kita. Papa dan mama ku pasti akan sangat malu, Za. Kamu ngerti gak sih?"
"Asha .... "
"Andai saja kamu batalkan sebelum kabarnya tersebar luar, maka aku akan sangat bahagia. Tapi sekarang, aku akan sangat malu. Karena kabar itu sudah di dengar dan sudah jadi buah bibir seluruh kampus."
"Tapi kalau kita lanjutkan, kamu juga tidak akan bahagia, Sha. Hidup dengan ku yang berbeda ini akan membuat kamu terus ada dalam masalah."
"Aku lebih memilih hal itu dibandingkan melihat orang tuaku malu karena aku, Irza. Untukku, gak papa jadi bahan omongan orang. Tapi orang tuaku, jangan. Aku gak siap mereka terluka dan kecewa."
"Awalnya, aku memang sangat menentang perjodohan ini. Tapi perlahan, saat aku melihat wajah mama dan papa yang penuh akan beban, aku sadar, sepenting itu perjodohan ini buat mereka. Aku adalah anak mereka, jasanya tak mungkin aku balas. Tapi setidaknya, aku ingin membuat mereka merasa lega. Setidaknya, hanya sedikit saja merasa bahagia dengan terlepas dari beban hati yang sedang mereka derita. Hanya itu yang aku inginkan saat ini."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi