ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA
Cinta adalah sesuatu yang misterius. Tidak ada yang tahu kapan akan terjadi, dan kepada siapa akan berlabuh. Cinta tak memandang kasta, harta, tahta ataupun usia. Pun cinta tidak memandang fisik.
Sama halnya kisah cinta Alda dan Ibnu. Mereka dua insan yang dipertemukan dan dianugerahi cinta. Namun harus berakhir karna restu orang tua. Kini, Alda berakhir bersama Adam. Notabenenya usia terpaut delapan belas tahun.
Garis takdir tetap pemenangnya.
Mereka berdua telah melangsungkan prosesi akad yang begitu melelahkan, hingga malam ini adalah awal dari kehidupan takdir mereka.
Adam duduk bersandar pada headboard. Terlihat ia sudah berganti pakaian menjadi lebih casual dan memainkan jemarinya diatas macbook. Terlihat ia sedang memeriksa pekerjaannya yang terpending karna kesibukan akhir-akhir ini.
Alda telah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia masih di toilet mengerikan rambut menggunakan hairdryer. Setelah selesai, ia memakai pakaian tidurnya. Stelan piyama pendek berwarna putih.
Alda keluar dari kamar mandi. Beruntunglah ia tidur di kamarnya. Jadi ia lebih leluasa.
Namun matanya terpaku melihat Adam yang sedang sibuk dengan benda di depan. Ternyata ia tak sendirian. Alda menelan ludah. Tidak mungkin baginya untuk meninggalkan pria itu.
Adam yang menyadari itu melipat macbook-nya membuka kacamata dan menyimpan di atas nakas.
“Kemarilah ….” Adam tersenyum simpul. Ia menepuk tempat tidur yang kosong. Yah, di sampingnya.
Alda dengan ragu berjalan mendekat. Apa yang akan dilakukan? Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk berbaring membelakangi Adam. Ia menarik selimut.
“Segar, yah, habis mandi ….”
Andi Adam meringsut perlahan mendekat ke arah Alda. Ia mengikuti wanita itu berbaring. Jemarinya mulai membelai lembut rambut Alda.
Wanita itu hanya memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Ia menegang.
“Andi Alda …,” panggil pria itu lembut. “Kamu maukan ikut denganku?”
Alda yang mendengar itu terdiam. Yah, dia tahu maksud pembicaraan suaminya. Ia akan mengajak ikut ke Jakarta tempat dimana ia ditugaskan. Mau tidak mau ia harus meninggalkan pekerjaannya di sini.
Adam membalikan tubuh Alda dengan pelan hingga mata mereka saling bertatapan.
“Mau, kan?” Pria itu kembali mengulang pertanyaan. Matanya jelas menggambarkan permohonan.
“A-aku ….” Sialnya suara Alda tercekat. Ia menarik napas dalam dan mengeluarkan. “B-bagaiamana dengan … p-pekerjaanku ….”
Adam kembali membelai pipi Alda dengan lembut. Takut-takut tangannya melukai wanitanya. “Kamu … tidak perlu bekerja. Cukuplah duduk diam di rumah kita,” tuturnya. “Aku sanggup menafkahimu. Mintalah, apapun akan kuberikan untukmu,” ia berucap dengan serius.
Alda memikirkan sejenak. Karir yang selama ini dia bangun harus kandas di tengah jalan, bersamaan dengan kisah cinta dengan Sang Kekasih. Ada baiknya juga ia meninggalkan kota ini untuk menghapus kenangan bersama …
Ibnu.
Adam semakin mendekatkan dirinya kepada istrinya. Sungguh, ini momen yang selama ini ia nantikan. Pria itu menghirup wangi istrinya sehingga memancing hasrat yang lama terpendam. Yah, semenjak perceraian dengan istri pertama, ia tak pernah lagi berhubungan dengan wanita manapun.
Alda memejamkan mata. Membiarkan Adam melakukan apa pun yang ia inginkan. Rasanya percuma jika menolak.
“Sayang ….”
Adam mengecup dahi Alda lama, kemudian turun ke hidung dan berakhir di bibirnya.
Rasanya sangat manis.
Adam kembali mencium bibir Alda lama. Kali ini dengan penuh nafsu yang bergejolak dalam dadanya. Meski begitu, ia tetap melakukan dengan hati-hati.
Lidahnya berusaha menyusup masuk pada bibir wanita itu yang masih tertutup. Namun setelah terdesak, Alda pun membukanya dengan sempurna.
Adam menikmatinya. Rasa ini, ia sudah lama tak merasakan. Jemari kokohnya membelai kulit Alda yanh teramat sangat halus.
Betapa cantiknya wanitaku.
Adam memberi jeda sebentar membiarkan oksigen dan karbondioksisa bertukar tanpa penghalang.
“Aku sayang kamu ….” Adam kembali mengucapkan itu. Ia menyatukan hidungnya dengan Alda. Tangannya kembali menyusup memasuki piyama Alda.
Membuat wanita itu kembali menegang.
“Aku sayang kamu ….” Adam melepaskan pengait kain tipis yang masih bertengger di tempat istimewanya.
Berhasil.
Adam kembali mencium Alda. Jemarinya bekerja membelai dan meremas bagian atas tubuh Alda yang paling istimewa.
Sangat cantik.
Napas Adam mulai memburu saat ia memainkan puncak bagian itu. Tiba-tiba … bibirnya terasa asin. Ia menyadari kalau Alda …
Menangis.
Adam menghentikan aktivitasnya. Ia mungkin terburu-buru hingga mengagetkan wanita itu, pikirnya.
“A-aku minta maaf.” Adam menghapus air mata Alda. Ia memeluk erat istrinya, hingga terasa kaos yang digunakan basah. “Maafkan, aku.” Ia mengusap kepala istrinya. “Aku akan menunggu sampai kamu siap.”
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak yah🥰
Salam
AAH❤️
smg ibnu jg bisa mncintai nana