Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Terbesar Chapter 7
Tengah malam taxi yang dibawa Narto tiba di Pekalongan. Narto turun, sementara Safana masih terlelap tidur di jok belakang.
Narto mengetuk pintu rumahnya yang sederhana, istrinya membukakan pintu dan terkejut. Ia melihat khawatir pada suaminya, mengira suaminya sedang tertimpa musibah hingga datang malam-malam sekali dari Jakarta.
"Pak, kok mendadak malam-malam begini balik ke rumah ?"
Narto menunjuk ke kaca pintu belakang taxinya. Dari kaca Safana taxi-nya terlihat sosok wanita muda yang tertidur pulas di kursi belakang.
"Itu siapa Pak ?" Istrinya melihat bingung.
"Itu penumpangku. Suaminya menghamili wanita lain. Dia memutuskan pergi dan mencari penghidupan sendiri. Ijinkan ia menginap semalam disini Bu. Besok Aku akan membantunya mencari sewa rumah tinggal sekaligus tempat usaha" Narto menjelaskan dan memberi pengertian pada istrinya.
Istrinya melihat iba dan mengangguk setuju, ia membuka pintu belakang mobil dan menyentuh lengan Safana. Safana terjaga dari tidurnya.
"Mba, silakan meneruskan tidur di dalam" istri narto mengajak masuk.
Safana terangguk lemah, Ia beranjak turun dari taxi dan mengikuti langkah perempuan paruh baya itu masuk ke rumahnya.
Di rumahnya Bu Awi menggeleng\-gelengkan kepala kecewa saat menerima daftar hantaran yang diminta Heidy.
Bu Awi dan putranya baru saja selesai makan siang. Sejak Prapta dirumahkan, Pak Awi yang mengambil alih semua urusan diperusahaan.
"Frank & Co, Victoria's Secret, LV, Christian Loubutin, Camry" Bu Awi menggeleng-geleng kaget.
Ia meremas kertas ditangannya dan melempar ke wajah Prapta. Prapta hanya bisa tertunduk, Ia sudah bisa menebak reaksi ibunya akan sama sepertinya ketika membaca daftar permintaan Heidy.
"Keterlaluan. Ia benar-benar ingin memanfaatkan kehamilannya untuk mengeruk materi dari keluarga Kita" Bu Awi tampak geram.
"Aku tahu." Prapta merasa bersalah. Ia menyesal ketika masih menjabat direktur utama Ia tak pernah menyisihkan gajinya untuk ditabung. Sebagian besar gajinya Ia gunakan untuk bersenang-senang dengan perempuan.
Kesadaran untuk menyisihkan uang muncul ketika Ia mulai jatuh cinta pada Safana dan ingin mengajak istrinya berlibur ke luar negeri.
Tapi saat itu baru dimulai, Safana sudah menghilang dari kehidupannya.
"Kalau Kau tahu seharusnya Kau tak bermain-main dengannya" Bu Awi menyiram wajah Prapta dengan air minumnya.
Prapta mengusap wajahnya, sekarang Ia benar-benar tak punya muka didepan orang tuanya.
Sri istri Narto menemani Safana berkeliling dari sentra batik satu ke sentra batik yang lain disekitar Pekalongan.
Landungsari, Kergon, Medono, Buaran, Jenggot sudah mereka jelajahi. Namun tak ada satupun dari kabupaten tersebut yang terdapat rumah sekaligus kios untuk disewa.
Safana sebenarnya belum punya gambaran akan membuat usaha apa. Yang Ia pikirkan jika dekat dengan sentra batik maka akan mudah baginya memulai usaha. Baik itu rumah makan atau toko kelontong. Apapun itu, jika dekat dengan keramaian pastilah mendatangkan pembeli.
"Bagaimana kalau Kita cari rumah sewa di Pekajangan. Disana dekat dengan kampus, pasti ada rumah yang disewakan." Sambil naik ke angkutan umum Sri mengusulkan.
"Lalu tempat usahanya ?"
"Safana putuskan dulu mau usaha apa, kalau rumah makan cocok itu di pekajangan yang banyak pemukimannya. Tapi kalo batik, Safana bisa ambil bal-balan dari sentra batik dan menjual kembali di pusat grosir Setono. Nanti Ibu bantu cari kios sewanya di Setono"
Safana mengangguk paham, Ia tak lagi bertanya. Matanya sibuk menerawang ke jendela angkot memikirkan bagaimana Ia bisa bertahan jika tanpa anak yang dikandungnya. Itu satu-satunya kekuatannya untuk terus menatap masa depan.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya