Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
[ Makan Malam Pertama ]
Pagi itu, Rhea Azlyn baru saja selesai menyusun bunga-bunga segar di etalase ketika bel kecil di pintu toko berbunyi.
"Selamat pagi."
Rhea menoleh dan langsung membeku.
Vincent Lawson berdiri di ambang pintu dengan setelan jas hitam seperti biasa.
"Selamat pagi," balas Rhea sambil tersenyum.
Vincent melirik jam tangannya.
"Sudah sarapan?"
Rhea menggeleng pelan.
"Belum sempat."
"Kalau begitu..."
Vincent terdiam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Makan malam denganku nanti."
Rhea terkejut.
"Makan... malam?"
"Hanya makan."
"Aku tidak menggigit."
Rhea terkekeh pelan, tetapi jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ini bukan sekadar ajakan makan.
Ini adalah kesempatan emas bagi operasi penyamaran.
"Aku... akan pikirkan dulu."
Vincent mengangguk.
"Aku jemput pukul tujuh."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan meninggalkan toko.
Rhea menghela napas panjang.
"Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menolak..."
Malam harinya, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan toko bunga.
Vincent turun sendiri dan membukakan pintu mobil untuk Rhea.
"Silakan."
Rhea sedikit canggung.
"Terima kasih."
Selama perjalanan, tidak ada percakapan.
Keheningan justru terasa nyaman.
Sesekali Vincent melirik ke arah Rhea yang sibuk memandangi lampu-lampu kota dari balik jendela.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah restoran kecil di pinggir sungai.
Rhea tampak bingung.
"Bukannya restoran mewah lebih cocok untukmu?"
Vincent tersenyum tipis.
"Di tempat seperti itu, semua orang melihat siapa aku."
"Lalu di sini?"
"Mereka hanya melihatku sebagai pelanggan."
Rhea mengangguk pelan.
Entah mengapa, jawaban itu membuat hatinya terasa sesak.
Setelah makanan datang, mereka mulai berbincang ringan.
"Kenapa memilih membuka toko bunga?" tanya Vincent.
Rhea tersenyum.
"Karena bunga bisa membuat orang tersenyum."
"Sesederhana itu?"
"Iya."
"Kalau kau?"
Vincent menatap gelas di depannya.
"Aku sudah terlalu lama hidup di dunia yang tidak mengenal bunga."
Rhea terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi begitu berat.
"Apa kau pernah menyesal?" tanya Rhea lirih.
Vincent tersenyum pahit.
"Setiap hari."
Jawaban itu membuat Rhea kehilangan kata-kata.
Untuk pertama kalinya, ia melihat penyesalan yang begitu nyata di mata pria itu.
Di saat yang sama, dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari restoran, dua orang anggota kepolisian memperhatikan mereka menggunakan kamera.
"Target bersama Zhava."
"Laporkan ke Komandan."
Tak lama kemudian, ponsel Rhea bergetar.
Ia melihat layar ponselnya diam-diam di bawah meja.
Komandan: Jangan larut dalam peranmu. Ingat tujuanmu.
Rhea langsung mematikan layar.
"Kenapa?" tanya Vincent.
Rhea tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
Vincent mengangguk, meski tatapannya sempat menangkap kegelisahan di wajah Rhea.
Usai makan malam, Vincent mengantar Rhea pulang.
Saat mobil berhenti di depan toko bunga, Rhea hendak membuka pintu.
"Rhea."
Rhea menoleh.
Vincent mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
Jantung Rhea berdegup kencang.
Namun saat kotak itu dibuka, isinya bukan cincin.
Melainkan sebuah gantungan kunci berbentuk mawar putih.
"Aku melihatnya kemarin."
"Kurasa... ini cocok untukmu."
Rhea menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Vincent tersenyum tipis.
"Itu hadiah pertama yang kuberikan pada seorang wanita."
Rhea menatap gantungan kunci itu cukup lama.
Ia tahu...
Hadiah sekecil ini bukan sekadar benda.
Melainkan tanda bahwa Vincent mulai membuka pintu hatinya.
Dan semakin hati pria itu terbuka...
Semakin berat pula langkah Rhea menuju akhir dari misi yang telah dipercayakan kepadanya.