Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 - Anak yang Tidak Tercatat di Darahku
Hasil tes datang pada hari ketiga pukul sembilan pagi.
Siska tidak mengirim lewat WhatsApp. Ia datang sendiri ke apartemen Ratna dengan map cokelat yang tidak tebal, tapi terlihat seperti membawa seluruh bangunan runtuh di dalamnya.
Ratna sudah duduk di meja makan sejak subuh. Kopinya dingin. Roti di piring tidak disentuh. Dari jendela, Jakarta bergerak seperti biasa, seolah dunia tidak peduli ada seorang ibu yang sedang menunggu keputusan tentang hidupnya.
Siska masuk pelan.
"Ratna."
"Baca saja."
"Kamu yakin?"
"Kalau kamu duduk terlalu lama, aku malah mati duluan."
Siska menarik kursi. Ia membuka map, mengeluarkan satu lembar, lalu berhenti. Matanya yang biasanya tegas berubah basah.
Ratna tertawa pendek. "Jangan begitu. Kalau pengacaraku sudah begitu, berarti aku kalah."
"Ini bukan perkara menang kalah."
"Baca."
Siska menelan ludah.
"Berdasarkan pemeriksaan awal, probabilitas hubungan biologis ibu-anak antara sampel A dan sampel B... tidak mendukung."
Ratna tidak langsung paham.
Atau lebih tepatnya, tubuhnya menolak paham.
"Artinya?"
Siska menatapnya.
"Raka bukan anak biologismu."
Tidak ada suara pecah. Tidak ada teriakan. Ratna hanya merasa ada sesuatu yang terlepas dari dadanya, jatuh ke lantai, lalu tidak bisa ditemukan lagi.
Ia mengangguk sekali.
"Begitu."
"Ratna..."
"Aku mau minum."
Ia berdiri, tapi lututnya gagal. Gelas di meja tersenggol dan jatuh. Air tumpah ke lantai. Siska melompat menahannya sebelum kepala Ratna membentur kursi.
"Ratna!"
"Jangan panggil ambulans." Suara Ratna keluar seperti gesekan kertas. "Aku tidak mau masuk berita keluarga Wijaya."
"Aku panggil Arga."
"Jangan."
Siska sudah mengambil ponsel.
Ratna ingin merebutnya, tapi tangannya tidak kuat.
Arga datang kurang dari dua puluh menit kemudian. Kali ini ia tidak bertanya apa-apa. Ia masuk, melihat map di meja, melihat Ratna duduk di lantai bersandar ke lemari dapur, lalu berlutut di depannya.
"Ratna."
Ratna menatapnya.
"Dia bukan anakku."
Arga tidak menjawab.
"Aku melahirkan siapa, Arga?"
Pertanyaan itu mengubah wajah Arga.
Ratna memukul dadanya sendiri pelan. "Aku ingat sakitnya. Aku ingat darahnya. Aku ingat suara bayi menangis. Aku ingat bidan bilang anak laki-laki. Aku ingat Hendra tidak datang karena katanya sedang mengejar proyek. Aku ingat Mama Sulastri mengambil bayi itu dari ruang perawatan dan bilang aku harus istirahat. Aku ingat semua. Tapi ternyata anak itu bukan Raka."
Siska menyeka air matanya diam-diam.
Ratna tertawa tanpa suara. "Jadi selama ini aku mencintai anak orang lain."
Arga berkata pelan, "Dan mungkin anakmu dicintai oleh orang yang salah."
Kalimat itu membuat Ratna mengangkat kepala.
Di sana, luka berubah menjadi ketakutan baru.
"Di mana dia?"
Tidak ada yang bisa menjawab.
Sore itu Raka datang tanpa diundang. Maya yang memberitahunya bahwa Ratna sedang tidak sehat. Ia masuk dengan wajah panik, masih memakai jaket ojek online karena motornya diparkir sembarang di bawah.
"Ma!"
Ratna berdiri dari sofa. Ia sudah mencuci muka, mengganti baju, dan menyimpan map di kamar. Namun wajahnya tidak bisa berbohong.
Raka berhenti di depan pintu.
"Mama sakit?"
"Masuk, Rak."
Raka melihat Arga di ruang tamu. Ada kebingungan dan rasa tidak nyaman di wajahnya, tapi kali ini ia tidak bersikap kasar.
"Om Arga..."
Arga mengangguk. Ia berdiri. "Aku di balkon."
"Tidak," kata Ratna. "Tetap di sini."
Raka makin bingung.
Ratna duduk. "Ada yang harus Mama katakan."
"Soal Papa lagi?"
"Bukan hanya itu."
Siska pernah menyarankan agar Ratna tidak memberi tahu Raka sebelum tes resmi. Tapi Ratna tidak bisa menatap anak itu sambil menyimpan kertas seperti pisau di balik punggung. Ia sudah terlalu sering hidup dengan rahasia orang lain.
"Beberapa hari lalu, Clara membawa informasi. Dia bilang ada kemungkinan bayi tertukar saat kamu lahir."
Raka tertawa, lalu berhenti saat tidak ada yang ikut tertawa.
"Ma, itu omong kosong."
"Mama berharap begitu."
"Berarti?"
Ratna menarik napas.
"Mama melakukan tes awal."
Wajah Raka berubah. "Tes apa?"
"DNA."
Raka berdiri. Kursinya mundur dan menabrak meja kecil.
"Mama tes aku diam-diam?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena Mama takut."
"Takut aku bukan anak Mama?"
Ratna terdiam.
Raka menunjuk dirinya sendiri. "Jadi aku apa selama ini? Anak titipan? Orang asing yang Mama besarkan karena salah ambil di klinik?"
"Raka..."
"Jawab, Ma!"
Ratna berdiri juga. Air matanya jatuh, tapi suaranya tidak naik.
"Hasilnya bilang kamu bukan anak biologis Mama."
Raka seperti ditampar.
Ia mundur satu langkah.
"Tidak."
"Mama juga berkata begitu."
"Tidak mungkin." Raka menggeleng cepat. "Aku anak Mama. Aku tahu aku brengsek, aku tahu aku sering menyakiti Mama, tapi aku anak Mama."
Ratna menutup mulut dengan tangan. Tangisnya akhirnya pecah.
Raka menatapnya lama. Kemarahannya runtuh digantikan takut yang sama.
"Kalau aku bukan anak Mama..." ia berbisik, "aku anak siapa?"
"Mama belum tahu."
"Papa tahu?"
"Belum."
"Atau dia tahu dari dulu?"
Pertanyaan itu menggantung.
Ratna tidak berani menjawab.
Raka mengambil ponsel. "Aku telepon Papa."
Arga bergerak cepat. "Jangan sekarang."
Raka menatapnya tajam. "Ini keluargaku."
"Justru karena itu jangan beri dia waktu mengatur cerita."
Raka ingin membantah, tapi kata-kata Arga masuk akal. Itu membuatnya makin marah karena ia tidak punya sasaran.
Ia memandang Ratna. "Apa Mama masih mau aku panggil Mama?"
Pertanyaan itu mematahkan Ratna.
Ia melangkah dan memeluk Raka.
Raka kaku. Lalu tubuhnya bergetar. Ia menangis seperti anak kecil, tersedu tanpa malu.
"Aku jahat sama Mama," katanya. "Aku banyak sekali jahat."
"Kamu tetap anak yang Mama besarkan."
"Tapi anak Mama yang asli di mana?"
Ratna memejamkan mata.
Itulah lubang yang lebih dalam.
Malam itu, setelah Raka pulang dengan wajah kosong, Ratna duduk bersama Arga di balkon. Jakarta menyala di bawah, tapi ia tidak melihat apa pun.
"Aku ingin menemukan dia," kata Ratna.
"Kita temukan."
"Kalau dia membenciku?"
"Dia punya hak untuk marah."
"Aku tahu." Ratna menatap tangannya. "Aku hanya takut tidak punya cukup waktu untuk memperbaiki hidup dua anak sekaligus."
Arga menoleh. "Kamu tidak harus memperbaiki semuanya sendirian."
Ratna menatapnya.
"Arga, jangan janji kalau kamu hanya kasihan."
"Aku tidak pernah mencintai seseorang karena kasihan."
Kata mencintai itu jatuh tenang, tidak dramatis. Namun justru karena tenang, Ratna percaya ia tidak sedang memakai kalimat indah untuk menutup luka.
Ia berbisik, "Aku sedang sangat hancur."
"Aku tahu."
"Mungkin aku tidak bisa membalas perasaanmu dengan cara yang rapi."
"Aku tidak sedang meminta rapi."
Ratna menunduk. Untuk pertama kalinya sejak hasil tes datang, ia bernapas sedikit lebih dalam.
Di dalam kamar, map cokelat masih ada di meja.
Di luar balkon, seseorang sedang menunggu ditemukan.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃