NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:8.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dini Achdia

Hardi, seorang ayah tunggal yang tidak lagi percaya akan cinta. Dia bertekad untuk merawat putri semata wayangnya yang masih berusia 3 tahun.

Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjaga putri nya tersebut dia yakin dia tidak akan membutuhkan pendamping untuk dirinya bahkan dia sangat khawatir akan kasih sayangnya yang nanti bisa terbagi. Akankah Hardi tetap dengan prinsipnya? Ataukah dia akan goyah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Achdia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan keluarga

Waktu menunjukan pukul 9 pagi, Sarah sedang bermain di halaman rumahnya dengan Cilla juga Lia. Bermain lemoar tangkap bola yang terasa menyenangkan. Tiba-tiba terlihat sebuah mobil mencoba masuk kedalam halaman rumahnya, pak Maman seorang sopir yang mulai hari ini di tugaskan untuk menjadi security membuka pintu gerbangnya.

Mobil pun berhenti di depan rumah Hardi, turunlah bu Yesi dan pak Herman dari mobil tersebut. Melihat mertuanya datang Sarah langsung menghampiri mereka begitupun Cilla.

Sarah mencium kedua tangan mertuanya bergantian dan Cilla pun melakukan hal yang sama.

"Duh.. Cucu oma sudah besar yah sekarang, oma sudah gak kuat gendong Cilla." bu Yesi pura-pura tak bisa mengangkat tubuh Cilla.

"Yaudah, biar opa yang gendong, nih opa masih kuat gendong Cilla yang gembul ini" pak Herman menggendong cucu kesayangannya, walau memang sudah terasa lebih berat dari sebelumnya.

"Papah dan mamah datang tak memberi kabar, kalau memberi kabar kan Sarah bisa menyiapkan sesuatu dulu." ucap Sarah dengan sopan.

"Tak perlu repot-repot seperti sama siapa saja, kalian asik sekali mainnya. Kalian bertiga saja, Hardi kemana? padahal kan ini hari minggu" tanya Bu Yesi yang tak melihat putranya.

"Pak Hardi ada kok mah, masih tidur. Apa perlu saya bangunkan." Sarah hendak beranjak menuju ke dalam rumah.

"Tak usah di bangunkan, biarkan saja mungkin capek. Kita main saja dulu di halaman dengan Cilla. Lagian mamah dan papah kangennya sama kalian bukan sama Hardi" ucap bu Yesi bergurau.

Orang tua Hardi sangat senang bermain dengan cucu dan menantu mereka, mereka melanjutkan main lempar tanggap bola, tak lama bi Entin membawakan makanan ringan dan es jeruk yang diminta Sarah sebelumnya.

"Yaudah, mah, pah, kita istirahat dulu. Minum dan ngemil dulu. Biar tidak terlalu capek." ucap Sarah melihat mereka sudah mulai kegerahan dan ngos-ngosan.

Mereka pun perhenti bermain dan duduk di kursi teras rumahnya. Mereka menikmati cemilan dan minumannya sambil terus bercanda gurau terutama dengan Cilla. Sekitar pukul 10.30 siang Hardi keluar dari rumah dan melihat ada orangtuanya datang.

"Mamah, papah kapan kalian datang?" tanya Hardi masih mengucek matanya dengan rambut yang masih berantakan.

"Mamah dan papah sudah datang dari tadi bahkan sudah bermain dan makan cemilan. Kamu ini tidur lama banget sampai siang kayak gini, tumben banget" ucap pak Herman melihat Hardi tak seperti biasanya.

"Ah... papah kayak gak tahu aja, mungkin semalam tenaganya terkuras habis. Ia kan Sarah." ucap bu Yesi melirik Sarah dengan tatapan penuh arti, Sarah hanya diam dan tersenyum canggung.

"Apaan sih mah? gak gitu kok" ucap Hardi malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sebenarnya Hardi tidur pulas karena pengaruh obat yang diminumnya semalam, obat yang dimssukan kedalam kopinya yang tadinya ingin menjebak Hardi oleh Aini namun gagal total.

Sementara itu Sarah merasa sikap Hardi berubah jika di depan kedua orangtuanya. Ia lebih normal layaknya seorang anak yang manja terhadap orangtuanya. Tak bersikap dingin ataupun angkuh yang selama ini Hardi tunjukkan kepadanya. Sisi lain yang baru Sarah ketahui tentang Hardi hari ini.

"Kalian menikah sudah sekitar 4 bulan kan? Hardi, apa istrimu sudah ada tanda-tanda begitu." tanya bu Yesi penasaran.

"Maksud mamah?" Hardi terlihat bingung.

"Yah maksud mamah udah hamil belum." jelas bu Yesi.

Hardi sekali lagi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung akan menjawab apa pada kedua orangtuanya. Karena memang selama mereka menikah tak pernah melakukan sentuhan Fisik yang intens sama sekali kecuali pas Hardi mencium istrinya waktu Sarah tidur dan itu pun hanya sekali tanpa sepengetahuan istrinya.

"Belum mah, seperti nya belum di kasih rejeki sama tuhan" Sarah yang menjawab pertanyaan ibu mertuanya karena melihat Hardi yang begitu gelisah tak bisa menjawab.

"Yaudah mah, kan udah ada Cilla. Jadi tak perlu buru-buru untuk punya cucu lagi. Iya kan Sarah." ucap Hardi melirik kepada Sarah dan Sarah pun menjawabnya dengan anggukan.

"Dasar kamu ini, yah bedalah. Kami ingin dapat cucu dari Sarah dan kamu, ngerti gak. Dasar bocah gemblung" pak Herman memukul-mukul punggung Hardi gemas dengan tingkah putranya.

"Ampun pah, ampun, udah dong pah. Iya iya deh, aku janji secepatnya mamah dan papah dapat cucu baru, aaww udah dong pah" ucap Hardi mencoba menghindar dari pukulan gemas papahnya, pak Herman pun berhenti memukul putranya.

"Janji yah, awas loh kita tagih janji kalian" ucap pak Herman mencubit gemas Hardi.

Sarah, Cilla dan bu Yesi tertawa renyah melihat kedekatan ayah dan anak tersebut, Sarah senang sekali ternyata Hardi bisa tertawa lepas seperti itu. Padahal selama ini ia melihat Hardi itu selalu bersikap dingin dan hanya sesekali melihat senyuman tipis di bibirnya. Yah memang jika dengan Cilla, Hardi juga sering bercanda gurau tapi tak begitu jika mereka hanya berdua saja.

Mereka pun masuk kedalam rumah karena hari sudah semakin siang. Sarah menuju kedapur di ikuti oleh bu Yesi. Sarah menyiapkan bahan masakan untuk makan siang nanti.

"Sini mamah bantu" Suara bu Yesi membuat Sarah terkejut karena ia tak tahu kalau ibu mertuanya mengikutinya.

"Tak apa mah, biar Sarah saja" balas Sarah.

"Tak masalah, lagian gak tiap hari juga kan kita bisa masak bareng. Lagian mamah ingin memasakan makanan kesukaan Hardi. Nanti mamah ajarin yah agar kamu bisa masak masakan kesukaan suamimu. Biar ia betah dirumah" Celetuk bu Yesi membuat Sarah tersenyum.

Sarah memotong beberapa sayuran sementara bu Yesi menyiapkan bumbu-bumbunya. BI Lilis membersihkan ikan dan bi sumi mengupas buah mangga mengkal.

Menu makan siang hari ini yaitu sup ayam, ikan goreng sambel mangga, bakwan udang, tumis cumi asam manis serta tumis kangkung tak ketinggalan kerupuk udang. Terlihat sederhana sih namun itu semua makanan kesukaan Hardi.

Satu jam sudah mereka memasak, akhirnya selesai juga. Masakannya sudah di tata di atas meja dengan sangat cantik. Bi Sumi menyiapkan air minumnya dan menatanya di atas meja.

Bu Yesi kemudian memanggil semuanya untuk mulai makan siangnya bersama. Tak berapa lama Cilla, Hardi dan pak Herman pun datang dan langsung duduk manis.

Para istri menyiapkan untuk suaminya masing-masing dan Cilla yang sangat suka sekali dengan sup ayam dan kerupuk udang.

"Kalian tak ada rencana bulan madu?" pertanyaan itu membuat Hardi tersedak lalu Sarah menyerahkan segelas air padanya.

"Bulan madu? apa udah terlambat mah. Kita kan menikah sudah 4 bulan" balas Hardi setelah minum.

"Gak ada kata terlambat untuk bulan madu, karna bulan madu kan bisa dilakukan kapan aja yang penting kitanya mau atau tidak" jelas pak Herman.

"Bagaimana Sarah?" tanya bu Yesi pada Sarah.

"Kalau saya sih terserah, pak Hardi saja" balas Sarah malu-malu.

"Tuh dengar istrimu, dia tak menolaknya" ujar pak Herman.

"Iya deh iya, nanti Hardi akan melihat jadwal kerja Hardi dulu baru menentukan waktunya" jawab Hardi santai.

Bu Yesi dan pak Herman sudah tahu akan watak anaknya yang sudah gila kerja. Hingga waktu buat keluarga itu lebih sedikit dibanding waktunya mengurus pekerjaannya.

Bersambung.....

***

Hayo terus tunggu up dari author, untuk tahu apakah Hardi mulai jatuh cinta!

Jangan lupa yah Like dan Vote untuk mendukung Author.

Tinggalkan jejak juga dengan menulis di kolom komentar jika ada saran ataupun kritik untuk membangun Author kedepannya.

Terimakasih 😊

1
siti Hasanah
Biasa
Dorina Pakpahan
masih permulaan
siti Hasanah
Kecewa
Anik
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Arisha Putri
alurnya bagus walau kadang ada yg salah ketik wajarlah gak masalah,👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾👍🏾
Jaenah Susanti
utama group jangan ortunya Adrian ya thor
Jaenah Susanti
biasanya klo kembar perutnya cpt kliatan besar, wlpun usia kandungannya muda
rama
bagus
wonder mom
maapkeun y, thor. ceritanya melompat. mendadak bilang cinta pdhl g sekalipun mengisyaratkan cinta. maapkeun y..berhenti baca
wonder mom
sy yg tll lbay ato mmg tll datar y? konflik rasa bersalah di diri Hardi jg tertekan sarah krn kesalahan Hardi blm muncul. kebahagiaan ortu hardi jg kabur. maaf3x
wonder mom
stereotype bgt. smp chapter n..knp jg g beda alur. sll dilecehkan pdhl g salah. knp jg pintu g dikunci, jlas2 g sndirian di rmh. tp...seterah penulis jg c. tp klo beda alur kn lbh menarik✌✌✌
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
Enung Samsiah
udah 4 bln blm ada oerubhn msih pnggil suami pak hardi
Enung Samsiah
HaSa = Hardi Sarah
Enung Samsiah
knp sarah nggk hamil????
Enung Samsiah
dasar hardi bkn mncoba baik tapi hrs mnerima sbgai istri
Enung Samsiah
asyiiik meski dingin tpi kasih kartu
black care perhatian lgi, sabar sarah sabar bntar lgi bucin akut kynya
Enung Samsiah
skrg kmu mmng dendam sama larisa nnti kdepannya kamu berterima kasih sm larisa,,, karna larisa kamu mau nikah coba klu ngg ada kjdian kmu bkl hidup sndiri smpai mati taurasa
Enung Samsiah
pantesan dulu wulan selingkuh dasar hardi hardi
Enung Samsiah
kasian sarah,,,,, ya biasa nya klu nolongin orng kn obtprngsang/mabuk pasti sllu gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!