"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Pesan
4 Syawal
Pagi ini suasana tampak berbeda, tidak seperti biasanya. Entah kenapa terasa sedikit suram. Suasana hati yang tak dapat ditebak.
Pagi ini mak pamit pergi untuk menjual rebung rebus pesanan orang-orang kota. Mak sering melakukan ini, menjual rebung rebus saat ada yang memesan.
Aku, Aceng, dan teteh duduk bersama di depan televisi. Ada abah pula di sana yang ikut duduk bersandar. Mengenakan sarung dan kaos seperti biasanya. Di tangannya memegang tasbih yang tak henti berputar. Abah masih puasa, masih ada tiga hari lagi sebelum lebaran ketupat. Katanya.
"Abah jatuh, ya, semalam? Aceng denger suara gedebugh di sini," tanya Aceng. Abah diam tak menanggapi. Aku dan teteh bersama-sama menoleh padanya.
"Beneran, Ceng?" tanya teteh sembari melayangkan tatapan penuh tanya pada Aceng.
"Iya, Abah dari kamar mandi terus jatuh waktu balik lagi ke sini," jawab Aceng membenarkan. Kulirik abah tak ada minat untuk merespon ucapan Aceng. Ia hanya terdiam fokus pandanganya ke depan dengan tangan yang terus berputar.
"Nur ... buatin Abah wedang!" pinta abah sedikit tak jelas terdengar di telingaku. Aku beringsut mendekat, dan meminta abah mengulangnya.
"Kenapa, Bah?" tanyaku setelah berada di sampingnya. Teteh dan Aceng tak melanjutkan pembicaraan, mereka hanya melihat kami lalu kembali menonton televisi.
"Buatin Abah wedang!" katanya lagi mengulang meski tak jelas aku masih bisa menangkap. Buatin Abah wedang? Bukanya abah puasa? Tarikan napasnya sedikit berbeda.
Meski bingung, aku tetap beranjak ke dapur membuatkan abah wedang seperti biasanya. Membawanya lengkap dengan penutup.
"Ini, Bah!" kataku seraya meletakkan wedang itu di dekat abah. Abah meraih gelas wedangnya dan menyesapnya sedikit.
"Kurang manis!" katanya kembali menyerahkan gelas itu padaku dengan kosa kata yang tak terdengar jelas. Aku meraih gelas itu dan membawanya lagi ke dapur. Kutambahkan gula merah dan mengaduknya.
Membawanya lagi ke abah lalu menyerahkan gelas itu padanya.
"Ini, Bah. Udah Nur tambahin gula," kataku seraya meletakkan gelas itu di samping abah. Tanpa menoleh abah mengangguk.
"Taruh aja di situ," katanya dengan lidah yang semakin tak jelas saat mengucapkannya. Ada apa dengan abah? Tarikannya napas pun sudah lain.
Aku kembali duduk bersama Aceng dan teteh. Menonton televisi dengan asik. Meski tak berwarna, tapi inilah hiburan kami satu-satunya.
Kulirik wedang di samping abah, masih utuh. Itu artinya abah belum menyentuhnya. Kualihkan mataku pada dada abah memastikannya masih berdenyut. Masih, dadanya masih naik-turun.
Aku kembali fokus pada kotak hitam putih di hadapan. Tak lama abah melihat kami sekilas lalu kembali menghadap ke depan. Ia bersandar pada bantal yang sengaja ditumpuk untuk sandaran.
Huft!
Sebuah tarikan napas yang jelas terdengar dari arah abah, tapi napas itu tak pernah dihembuskannya. Aku mengernyit dan belum bereaksi.
Aku menoleh pada teteh dan Aceng bergantian. Kami saling memandang satu sama lain.
"Sana ... periksa Abah!" titah teteh padaku. Aku kembali beringsut mendekati abah. Kulihat dadanya tak lagi naik-turun, tangannya pun berhenti perputar.
Kualihkan pandanganku menatap wajah abah. Mata yang terpejam, mulut sedikit terbuka dan membentuk garis lengkung ke atas tersenyum meski samar. Wajahnya tampak berbeda, lebih terlihat bercahaya di mataku.
"Apa Abah tidur?" tanyaku pada diri sendiri. Aku mengangkat wajah melihat teteh. Ia menggeleng.
"Bah! Abah! Bangun, diminum wedangnya nanti dingin," kataku sembari mengguncang-guncang tubuhnya yang terasa berbeda. Dingin dan kaku.
Aku berlari ke luar rumah dan berteriak memanggil paman. Meminta bantuan siapa saja yang bisa menolong.
"Mang ... Mamang! Tolong Nur! Tolong periksa abah Nur!" teriakku dengan bergetar. Berdiri di depan rumah pamanku yang lainya. Bibirku gemetar ingin menangis.
Gugup, dan takut. Keringat dingin sudah mengucur dengan deras di wajahku. Aku takut. Ya ... aku takut. Aku takut ya Allah.
Paman keluar dan menatapku heran.
"Kenapa, Nur? Kok, bibir Nur pucat banget?" tanyanya. Aku meremas-remas jemariku karena cemas.
"Mang, periksain abah ... abah Nur diem aja," kataku sedikit terbata saat mengucapkannya. Tanpa berkata lagi, paman bergegas ke rumahku. Aku berdiri di belakang paman menunggu dengan cemas.
Teteh dan Aceng masih duduk di tempatnya. Paman memeriksa dada abah, lalu meletakkan dua jarinya di lubang hidung abah. Ia mendesah.
"Atuh Abah kalian, mah, udah gak ada," katanya penuh sesal.
Tunggu dulu! Gak ada? Apa maksud dari kata gak ada yang diucapkan paman.
"M-maksud, Paman, apa?" tanyaku ingin jelas.
"Abah kalian udah pergi, meninggal," katanya. Aku terdiam saat mendengar jawabannya. Teteh sudah menangis, Aceng masih terbengong belum mengerti.
Aku? Aku masih terdiam, termangu di tempatku berdiri. Kujatuhkan tubuh di samping abah, kupeluk tubuh kaku abah dengan erat.
Ingin kumeraung dengan sekuat-kuatnya, mengatakan padanya,
ABAH JANGAN PERGI! JANGAN TINGGALKAN NUR! ABAH KEMBALI! SETIDAKNYA KATAKAN SESUATU PADA KAMI SEBELUM PEGI, BERIKAN PESAN TERAKHIR ABAH UNTUK ANAK-ANAK ABAH INI!
Aku ... aku masih butuh abah di sampingku. Aku masih menginginkan kasih sayangnya. Aku masih membutuhkan perlindungannya dari dunia yang keras ini. Aku masih ingin mencecap ilmunya. Aku masih ingin bermain bersamanya. Aku masih ingin memeluknya. Aku masih terlalu kecil untuk ditinggalkan abah. Aku masih membutuhkan abah. Aku ... Aku ...
Aku meraung tanpa suara, tanpa air mata, dan tanpa suara isak tangis yang kukeluarkan. Aku tidak ingin menangis.
Katanya, jika kita menangisi orang yang meninggal, itu akan memberatkan perjalanannya menuju tempat abadi.
Tak lama, rumahku dipenuhi orang. Mak pun sudah datang dijemput saudara. Paman menarik tubuhku agar menjauh dari abah.
Pelukanku yang erat pada tubuh abah, membuat paman harus berusaha sekuat tenaga memisahkanku dari jasad kaku itu. Sambil terus mengucapkan kalimat penenang untukku.
Akhirnya, kulepaskan pelukan meski enggan. Mataku tak lepas dari menatap abah yang tersenyum. Seolah mengatakan abah baik-baik saja.
Kujatuhkan tubuh bersandar pada tembok, lunglai tak bertenaga. Aku duduk dengan tatapan kosong.
Telingaku mendengar suara isak tangis mak dan teteh. Aceng tak ada suaranya. Mungkin hanya aku yang tidak menangis. Jasad itu sudah terbujur kaku ditutupi sehelai kain.
Ada beberapa orang yang mulai membaca yasin, gegas kuambil Al-Qur'an hadiah dari abah sebelum puasa ini.
Kubuka surat yasin dan membacanya bersama orang-orang. Di sampingku Aceng duduk bersila tanpa kata. Perlahan dan lirih mulai kulantunkan ayat demi ayat surat yasin tersebut.
Di tengah bacaanku, samar telingaku mendengar suara isak tangis dari adikku. Aku masih melanjutkan bacaan dengan tenang. Sampai,
"Maafin Aceng, Bah! Aceng bahkan belum bisa jadi anak yang baik buat Abah, Aceng selalu menyusahkan Abah, Aceng selalu minta apa-apa dari Abah. Maafin Aceng," lirih bocah itu dengan bergetar.
Mendengar suaranya yang lirih, runtuhlah pertahananku. Benar, kami belum bisa menjadi anak yang baik untuk abah, selalu menyusahkan abah dengan permintaan yang diluar kemampuannya.
Kata-kata Aceng semakin membuatku dihujam besi panas. Mataku panas, bacaanku tersendat-sendat karena isak ingin ikut keluar.
Aku tak dapat menahannya lagi, jatuh sudah air mataku. Meski tangan ini berkali-kali menyekanya, air mata yang jatuh seolah tak ada habisnya. Lagi dan lagi.
Kututup Al-Qur'an dan berlari ke kamar, kututup pintu dan menangis tersedu di dalam. Meraung sendiri dalam sunyi. Kutumpahkan segala tangis di ruang kecil ini.
"Abah!" raungku sembari mendekap Al-Qur'an pemberian abah. Aku terus menangis, bayangan abah yang tersenyum saat aku mendapatkan hadiah Al-Qur'an ini melintas di kepalaku.
"Abah, harusnya abah bilang kalau mau pergi!" lirihku lagi terus menangis dengan Al-Qur'an dalam dekapan. Hanya itu peninggalan abah satu-satunya untukku.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥