Elza Rose Arabella berniat membalas dendam akibat meninggalnya kakak kandungnya keluarga satu satunya , dia bunuh diri disebabkan oleh kandasnya hubungan percintaan akibat perselingkuhan yang pacarnya lakukan.Elza berjanji pada dirinya sendiri akan menuntut balas pada seorang pria yang sama sekali dia belum kenal.
Tama Aditya seorang pengusaha sukses, perusahaan nya sangat berkembang pesat saat bekerja sama dengan global grup perusahaan milik sahabatnya Arsenio kalandra bramantyo, selain itu pelindung dari perusahaannya adalah TIGER WHITE kelompok mafia nomor satu dinegara ini mampu membuat perusahaan peninggalan mendiang orang tuanya semakin kuat.
Selain kesuksesannya wajah Tama yang Tampan mampu membuat semua wanita manapun tertarik terhadapnya membuat Tama menjadi seorang Casanova dia memacari setiap wanita yang mengutarakan perasaannya. Tidak ada cinta, dia hanya membutuhkan belaian dari para wanitanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona manies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hubungan simbiosis mutualisme
"tuan" Elza meletakan secangkir coffee dan camilan dimeja, setelah makan malam Tama mengerjakan pekerjaannya diruang tengah, dengan memangku leptop dan kacamata yang dia kenakan Tama tampak begitu tampan dengan wajah serius itu.
Tama mendongak, dan tersenyum manis melihat wanita itu "terimakasih"
Elza mengangguk, dia membalas senyum Tama tak kalah manis.
Tama menyeruput pelan coffee tersebut "kenapa tidak manis?" tanya Tama dwngan wajah agak heran.
"benarkah? apa kurang ya? kalau begitu biar saya ganti tuan" mendekat dan hendak meraih cangkir yang ada ditangan Tama.
"karena manisnya diambil semua oleh kamu el" ucap Tama dengan wajah jenakanya.
Tangan Elza yang terulur berhenti diudara, dia mendongak menatap Tama yang sedang tersenyum menggoda padanya "senyummu itu sangat manis, bahkan manis dicoffee ini tak ada apa apanya"
Elza tergelak, dia memundurkan tubuhnya "anda sangat lucu"
"ck padahal aku sedang merayumu bukan sedang melawak"
Hahaha
Tawa wanita itu meledak mendengar ucapan aneh pria itu, kalau saja wanita lain yang dirayu seperti itu pasti akan bersemu merah, tapi berbeda dengan Elza yang mengatakan kalau hal ini adalah lelucon belaka.
"kamu sangat cantik" ujar Tama saat melihat Elza tertawa lepas.
Elza yang tersadar segera berdehem dan meringis malu, di bahkan menggaruk tengkuknya karena merasa salah tingkah.
"apa yang sedang anda kerjakan?" tanya Elza untuk mengalihkan suasana canggung yang dia rasakan.
"hanya mengecek laporan dari kepala semua bagian devisi kantor"
Elza angkat bahu "oh saya tak terlalu mengerti tuan"
"apa jurusan yang kau ambil?" tanya Tama penasaran, dia menepuk sofa disebelahnya meminta agar wanita itu duduk disana, dan dengan senang hati Elza segera duduk di sebelah Tama.
"saya mengambil jurusan seni dan desain"
Tama tampak terkejut "benarkah?"
Elza mengangguk, dia tersenyum "ya, saya sangat suka menggambar dan pekerjaan yang nanti saya harapkan adalah bekerja diperusahaan dan mendesain produk mereka atau nanti saya menjadi pelukis saja? entahlah, saya masih bingung dengan masa depanku nanti" Elza kembali meringis geli setelah mengucapkannya.
"kamu masih sangat muda, lakukan apa yang membuatmu nyaman dan mulai mencoba hal baru agar bisa mengevaluasi apa yang akan kamu lakukan kedepannya"
Elza tersenyum dan mengangguk, dia tampak berfikir sejenak , obrolan terus berlanjut sembari Tama mengecek data yang dikirimkan oleh Raka barusan.
"apa tuan benar benar memiliki pacar banyak?" tanya Elza setelah beberapa waktu mereka terdiam.
Tama menoleh dengan kernyitan didahinya, dia tampak heran dengan apa yang ditanyakan wanita cantik ini.
"ah-maaf saya lancang tuan, mulut saya hanya asal bicara saja tadi, lupakan saja" ucapnya sedikit tak enak hati, dia mengalihkan pandangannya kesamping.
"siapa yang mengatakan hal ini?"
"kak Reyna" Elza kembali menoleh dan menatap mata Tama.
Air muka Tama sedikit berubah, dia menatap intens wajah cantik dihadapannya itu dengan tatapan serius"apa yang dikatakan oleh Reyna benar"
Elza sedikit tertegun, karena yang awalnya dia menyangka Tama akan menyangkal ternyata dia mengakui hal ini.
"apa sekertarisku itu mengatakan agar kamu berhati hati saat dekat denganku?"
Elza mengangguk ragu, dia agak sedikit takut karena Reyna adalah bawahan Tama dan bisa saja pria ini marah lalu melampiaskannya pada wanita yang telah di anggap kakak nya sendiri itu. "jangan marah dengan kak Reyna tuan" ucapnya memohon.
Tama sedikit tergelak, dia mengabaikan leptop yang masih setia menyala "hahaha, dia pasti memakiku setiap menceritakan hal ini kan?"
Elza tak berani menjawab, tapi dari raut wajahnya Tama dapat memastikan Reyna pasti mengatakan hal buruk di depan Elza.
Tama tak menampik kalau dia memang sebrengsek itu, dia berpacaran bebas sampai melakukan hal intim, tapi hanya pada wanita yang mau memberikannya dan menyuguhkan badan dengan suka rela, dia akan dengan senang hati melakukan hal itu karena setelahnya dia pun akan memberikan apapun yang wanita itu inginkan.
Hubungan yang terjalin tanpa adanya perasaan sama sekali, mereka hanya melakukan hubungan simbiosis mutualisme, Tama terpuaskan wanita tersebut senang dengan apa yang dia dapatkan, tapi
akan lain cerita jika wanita itu tak mau melakukannya dia tak akan memaksa atau pun meminta.
"ucapan Reyna memang benar, jadi kamu berhati hatilah!" ucap Tama sembari menyeringai, dia mendekatkan wajahnya kearah wajah Elza.
Elza membelalakan matanya, dia sampai mundur kebelakang menjauhi Tama yang masih menyeringai itu, dia merasa takut sekarang.
"sudah tahu aku sebrengsek ini, kamu masih berani tinggal disini?" tanya Tama dengan nada sedikit meremehkan.
"i-itu.."
"hahaha jangan difikirkan el, aku hanya bercanda kok" memundurkan tubuhnya dan kembali fokus keleptop "aku tak akan melewati batas, kalau wanita itu sendiri yang tak memancing dan menggodaku"
Elza menatap Tama dengan pandangan yang sulit diartikan, intinya dia sedang mencerna apa yang dikatakan Tama barusan.
👍👍👍👍👍
👍👍👍👍👍