Kisah dari seorang dokter wanita yang jenius, cantik, baik hati, ahli meracik obat atau racun dan multi talenta yang menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya, kalau dia adalah anak angkat dari salah satu ketua anggota mafia kejam di dunia.
Callysta Angelina mengalami kehidupan yang penuh lika liku dan menguras segala emosinya yang terkadang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.
Callysta di hadapkan pada dua pilihan yang paling berat dalam hidupnya, hidup yang terus di tentukan oleh orang lain membuatnya semakin muak, Callysta tidak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Callysta berpikir hanya kematiannnya saja yang bisa membuatnya lepas dari semua rasa sakit, tetapi bukannya mati malah dia berada pada dunia lain.
Mampukah seorang Callysta Angelina menemukan pilihan hidup yang di inginkanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TDT angreni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Perasaan Hangat Carissa.
***Area Latihan Istana***
Carissa melihat dan mengulurkan tangannya pada Verdian untuk membantu Verdian bangun, dalam hati Carissa tidaklah marah pada Verdian tentang serangannya, karena ini cuma latihan yang berhadiah baginya.
Dengan cepat Verdian menyambut uluran tangan dari Carissa yang ingin membantunya bangun, Carissa masih memasang mimik wajah datar dan dinginnya melihat Verdian yang berdiri di depannya berusaha membersihkan pakaiannya yang kotor, Verdian mengusap lembut pipinya yang tadi terkena tendangan dari Carissa.
"kau cukup kuat dan cerdik dalam setiap gerakan mu, aku suka berlatih tanding denganmu…mungkin lain kali kita bisa berlatih bersama lagi…?" tanya Verdian seraya tersenyum senang karena dia mendapatkan teman yang seimbang untuk berlatih bela diri dan berpedang.
Carissa hanya diam tidak menjawab apapun tentang rencana dan keinginan Verdian, yang dia mau adalah hadiahnya karena ada yang dia inginkan dan rencanakan saat ini.
"kenapa kau hanya diam saja…?" tanya Verdian yang melihat Carissa hanya diam saja.
"apa hamba sudah boleh mendapatkan hadiah hamba yang mulia." tanya Carissa pada poinnya langsung, karena dia malas berbasa-basi lagi, tubuhnya cukup lelah, karena kondisi tubuh asli Carissa sangatlah lemah, tidak seperti kondisi tubuhnya saat menjadi Callysta.
"tentu saja kau akan mendapatkan nya, dan kau dapat dua hadiah dari ku, aku sangat puas dengan latihan ini bersamamu." ucap Verdian tersenyum manis pada Carissa.
Putra mahkota dan pangeran kedua sangat tidak suka cara senyum Verdian, yang biasa di gunakan Verdian untuk menaklukkan seorang wanita, karena Verdian terkenal dengan julukkan pangeran nakal, Verdian sangat suka dengan semua wanita cantik tetapi tidak ada satupun yang bisa mendapatkan hati Verdian, semua wanitanya hanya di jadikan teman bermain untuk kesenangannya saja.
Carissa masih diam dan tidak merubah mimik wajahnya sama sekali.
"jadi apa yang kau inginkan?" tanya Verdian masih tersenyum manis pada Carissa.
"apa harus di katakan saat ini juga?"
"iya tentu saja, kenapa? apa kau ingin menunda hadiahmu?"
"tidak menunda hanya masih berpikir."
"apa yang kau pikirkan, biasanya nona seperti mu akan meminta emas, perhiasan dan gaun-gaun cantik."
"hamba tidak tertarik dengan semua itu." ungkap Carissa yang membuat Verdian mengerutkan keningnya heran melihatnya.
"lalu apa yang kau inginkan?"
"apa boleh hamba mengatakannya di saat kita hanya berdua saja?" ungkap Carissa tersenyum tipis karena ingin memancing Verdian yang ia tahu adalah pengeran nakal yang suka dengan wanita cantik.
"oooo....tentu saja kau boleh datang ke paviliunku kapan saja untuk meminta hadiahmu itu."balas Verdian dengan sangat senang hati karena dia juga mulai menyukai Carissa.
Semua yang melihat dan mendengar percakapan mereka pun terkejut, sebab tidak ada satu wanita pun yang di izinkan masuk ke paviliun pribadi Verdian dengan mudah, bila Verdian ingin bersenang-senang dengan seoarang wanita, dia akan menggunakan kamar tamu istana yang ada di dalam area istana kediaman keluarga kerajaan.
"terima kasih atas kebaikan anda yang mulia." ucap Carissa seraya memberikan hormat anggunnya pada Verdian.
"tentu saja aku akan menunggumu datang." balas Verdian dengan mengedipkan sebelah matanya genit ke arah Carissa.
Carissa tetap tidak bergeming atas apa yang Verdian lakukan, Carissa segera berbalik badan dan melangkah mendekati putra mahkota dan pangeran kedua.
"hamba sudah selesai yang mulia, apa hamba boleh kembali?" ucap Carissa pada putra mahkota karena dia merasakan tubuhnya sangat lelah.
"apa kau tidak ingin ikut tantangan untuk mendapatkan hadiah dariku dan juga pangeran kedua?" tanya putra mahkota yang belum puas untuk mengetes Carissa.
"maaf yang mulia, bukannya hamba menolak, berikanlah kesempatan pada putri yang lainnya." balas Carissa sopan, dia benar-benar lelah.
"tapi aku ingin kau yang melakukan tantangan dariku dan tantangan dari ku tidaklah melelahkan bagimu, karena aku tahu saat ini tubuhnya lelah bukan?" ungkap Leonard yang tidak ingin penolakan dari Carissa.
Carissa diam tidak menjawab.
'apa lagi yang dia inginkan dariku?' gumam Carissa dalam hatinya.
"bagaimana?"
" apa yang harus hamba lakukan kali ini?"
Bukannya menjawab, Leonard malah menepukkan tangannya beberapa kali, dan datanglah pengawal membawa dua nampan besar yang terisi 4 senapan api yang sangat Carissa tahu dan sering dia gunakan sewaktu menjadi pembunuh bayaran.
Carissa melihat Leonard dan nampan berisi beberapa senapan api secara bergantian.
'apa maksudnya ini?' gumam Carissa dalam hatinya.
"menembakkan menggunakan semua senapan itu, bila kau berhasil menembak sasaran dengan tepat menggunakan senapan itu, aku akan memberikan kau hadiah di tambah kau boleh memiliki satu dari senapan itu." ungkap putra mahkota yang membuat semua orang terkejut dan tidak percaya.
Karena mereka tahu kalau di kerajaan ini hanya seorang pria saja yang bisa menembak dan mengerti cara menggunakan senjata api, jadi tantangan itu sangat mustahil bagi Carissa untuk di lakukan, itu pikiran semua orang disana.
Sedangkan putra mahkota ingin membuktikan apakah ucapan Damian benar, kalau Carissa bisa menggunakan laras panjang dan bisa menembak dengan tepat sasaran dari jarak yang paling jauh.
Damian hanya diam melihat mimik wajah Carissa yang datar dan dingin, yang sangat sulit di baca oleh orang yang melihatnya, Damian sebenarnya tidak ingin Carissa melakukan ini, tetapi perintah putra mahkota tidak dapat di bantah oleh siapapun???
Sedangkan Carissa melihat pada Damian yang juga melihatnya, Carissa melihat Damian karena hanya dia yang tahu kalau Carissa bisa menebak dengan menggunakan senjata api, Damian pun tahu akan tatapan mata Carissa padanya.
"maafkan aku…saat penyelidikan serangan tadi aku harus berkata jujur." jawab Damian yang tahu akan tatapan mata dari Carissa padanya.
Carissa menghela nafasnya karena dia tahu Damian tidak ada niat buruk padanya. Feyrin sudah menceritakan padanya, bahwa hanya pangeran Damian lah yang mau menerima Carissa menjadi calon selir di saat putra mahkota dan pangeran ketiga tidak memilihnya, hanya pangeran Damianlah yang menerima Carissa yang tidak bisa apapun agar tidak menjadi malu, pangeran kedua adalah pangeran yang baik hati di kerajaan Holmes.
Carissa tidak mempunyai alasan untuk tidak suka dan menyalahkan Damian begitu saja, dia malah bersyukur Carissa yang dulu bertemu dengan Damian yang baik hati, dan Carissa ingin membalas budinya.
"tidak masalah, aku mengerti." ungkap Carissa dengan tatapan lembutnya pada Damian, yang membuat hati Damian lega karena Carissa tidak kesal dan menyalahkannya.
"hamba ada satu pertanyaan yang mulia?" ungkap Carissa melihat putra mahkota dengan wajah dinginnya, yang membuat putra mahkota sedikit tersinggung karena tadi dia melihat tatapan lembut Carissa pada Damian, sedangakan padanya Carissa menatapnya tajam.
"apa itu…?" tanya Leonard ketus.
"apa bila hamba tidak bisa dan gagal dalam tantangan ini bagaimana? apa hamba akan di hukum?" tanya Carissa yang ingin tahu apakah putra mahkota menginginkan sesuatu darinya apa tidak???
"aku tidak akan meminta apapun darimu bila kau gagal." balasnya yang membuat Carissa lega dan memutuskan untuk menerima tantangan ini agar cepat selesai.
"jadi hamba boleh menolak juga yang mulia?" tanya Carissa hati-hati dan mencari jalan pintas untuk selesai dari tantangan ini.
"kalau kau menolak, kau akan aku hukum, jadi mana yang kau akan pilih? kau lakukan tantangannya bila kau gagal kau tetap aman, atau kau menolak tantangannya kau akan menjadi pelayan pribadi ku untuk selamanya, dan di keluarkan dari calon selir pangeran kedua karena kau akan menjadi pelayanku." ungkap Leonard yang membuat Damian terkejut dan tidak terima akan keputusan dari Leonard yang merebut calon selirnya untuk di jadikan pelayan pribadi nya untuk selamanya.
"aku tidak setuju" jawab Damian menolak yang membuat Carissa dan putra mahkota melihat padanya.
"hamba tidak setuju bila calon selir hamba di jadikan pelayan pribadi yang mulia." ungkap Damian tidak terima sekaligus membela Carissa.
"kau ingin menentang perintah ku pangeran kedua?" ucap keras Leonard tidak suka Damian membela Carissa.
"maafkan hamba yang mulia itu sudah kewajiban hamba untuk mempertahankan hak dan milik hamba yang mulia, karena bagaimana juga Carissa adalah calon selir hamba.???" ungkap Damian halus dengan membungkukkan badannya tanda hormat sekaligus meminta maaf karena sudah berani menentang perintah putra mahkota.
Hati Carissa menghangat akan pembelaan dari Damian, dia senang masih ada orang baik di zaman ini yang mau membela dan mendukungnya, dan Carissa tidak ingin Damian mendapatkan masalah karena dia.
"baiklah yang mulia hamba menerima tantangan anda." balas Carissa yang langsung mendapat tatapan dari Leonard dan Damian.
"bagus…cepatlah mulai aku tidak ingin kau membuang waktu terlalu lama." balasnya dengan nada masih kesal lalu dia bertepuk tangan kembali.
Dan keluarlah 4 pengawal yang akan membawa beberapa sasaran untuk di tembak, sebuah kendi air, botol minuman, buah apel dan buah strawberry.
"kau harus menembak sasaran di atas kepala mereka dengan senapan yang akan aku tunjuk, bila kau meleset sedikit saja, nyawa mereka taruhannya, dan otomatis semua keluarga dari mereka adalah tanggung jawab mu." ungkap putra mahkota yang membuat semua orang terkejut bukan main, sedangkan Carissa hanya diam dan menatap jauh sasarannya.
"apa kau mengerti?"
Carissa hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Leonard langsung menunjukkan satu per satu senjata api yang akan di gunakan Carissa untuk menembak sasarannya, Carissa melihat lama pada senjata-senjata tersebut.
"apa kau yakin?" tanya Damian melihat Carissa hanya diam melihat semua senjata api koleksi pribadi dari putra mahkota.
Carissa melihat ada raut kekhawatiran pada wajah Damian saat melihatnya, dan hati Carissa lagi-lagi menghangat karena sudah lama sekali tidak ada yang memasang wajah khawatir seperti wajah Damian saat ini untuknya, terakhir kalinya dia melihat wajah kekhawatiran sang mama sebelum meninggal dunia.
Carissa tanpa sadar tersenyum manis pada Damian, karena pengaruh hatinya yang menghangat melihat raut wajah khawatir Damian padanya.
"hamba harus mencobanya, apa yang mulia bisa percaya pada hamba?" balas dan tanya balik Carissa dengan senyum manis dan tulusnya yang membuat Damian terpana dan terpesona, dengan repleks Damian menganggukkan kepalanya tanda setuju dan percaya pada Carissa.
Putra mahkota dan pangeran ketiga juga terpana dan terpesona melihat senyum manis dan tulus Carissa untuk Damian, ini untuk pertama kalinya mereka berdua melihat senyum dari wajah Carissa yang selalu datar dan dingin.
'sangat cantik dan manis gadis ini.' gumam putra mahkota dan pangeran ketiga terpesona melihat Carissa.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.
Jangan lupa vote dan like nya.
semangat menulis kk😊😊