# Proses revisi tanda baca dan lainnya, dimulai dari bab paling belakang #
Ini tentang gadis bernama Ava Angelina Putri, gadis keras kepala, naif, dan suka mecampuri urusan orang lain yang sedang mencoba menjelajahi dunia SMA yang selalu dia ingin dan banggakan.
Tidak hanya sendiri, Ava juga ditemani oleh dua sahabat seperjuangannya yaitu, Agnes Tri Sukmawati dan Isyana Aziva Delina yang juga ingin tahu bagaimana rasanya.
Proses pendewasaan diri pasti akan selalu ada yang namanya pencarian jati diri, tantangan, cinta monyet, ambisius, kehilangan arah, keingintahuan yang tinggi, proses penyelesaian masalah, mencari tujuan hidup, cita-cita, visi, misi, dan segala hal yang berhubungan dengan usia pertumbuhan.
Akankah Ava beserta para sahabatnya menemukan apa yang mereka cari?
Atau justru dihadang jalan buntu sehingga menyimpulkan kalau masa SMA tidak seistimewa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KaniaPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 ~ Jawaban Memuaskan
...
...
"Lo rela ngelakuin apapun demi bisa ngedapetin gue. Nggak tahu lo suka beneran, naikin pamor atau cuma obsesi doang. Tapi, lo, 'kan, yang udah ngempesin ban motor Alan dan nonjokin dia sampai babak belur di jalanan?" Menekankan setiap kata, agar cowok di depannya ini paham bahwa Ava tidak sedang main-main sekarang.
Dan, tentu saja Aras sangat tercengang dengan pernyataan itu. Darimana Ava tahu tentang itu?
"Kalau sampai lo ngelakuin hal itu lagi atau ngancam Alan dan juga teman serta sahabat gue, tentu gue nggak akan pernah tinggal diam dan nggak akan nerima lo sampai kapan pun. Lo tahu kalau sekolah ini nggak kenal yang namanya sogok menyogok, memaksa atau di paksa karena uang, lebih menjunjung tinggi perilaku. Dan, kalau dewan guru tahu kejadian ini, kira-kira apa yang bakal terjadi sama, Kak Aras? Nilai berkurang, hukuman dilaksanakan, dan nilai merah dalam buku BK? Terlebih, tahun ini Kak Aras UN. Saya cuma nggak mau kalau Kak Aras menyesal di kemudian hari. Dan saya juga nggak mau kalau cara Kak Aras seperti ini ..."
Ava menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengatur emosi kemudian menjauhkan wajahnya dari telinga Aras. Menatap sengit cowok di depannya.
"Gue nggak nutup kesempatan buat Kak Aras ..." Berkata lebih lembut dari sebelumnya, "... tapi Kak Aras harus bisa berubah. Bukan berubah karena gue tapi karena kemauan Kak Aras sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Kak Aras tahu kalau gue nggak suka menjadi alasan orang lain. Gue nggak bermaksud untuk mempermalukan Kak Aras di depan umum kayak gini, tapi apa yang Kak Aras lakuin itu salah. Kalau Kak Aras gini terus dan menyalahgunakan kekuasaan yang Kak Aras punya, suwaktu-waktu entah kapan itu, Kak Aras bisa kehilangan semua yang Kak Aras punya. Bahkan, sahabat lo sendiri ..."
Apa yang dikatakan Ava kali ini ada benarnya juga untuk Aras. Kalau bukan karena Ava, mungkin ia tak akan pernah berubah dan tetap seperti itu.
Ava merapikan kerah seragam yang Aras pakai. "Gue harap Kak Aras mengerti maksud gue ..." Memegang kedua bahu cowok di depannya. "... mungkin, rasa suka gue ke Kak Aras nggak akan pernah berubah, karena gue sangat bersyukur bisa disukai sama ketua Molyvdos yang keren dan anak terkaya di sekolah ini. Itu akan menjadi salah satu pengalaman berkesan selama sekolah di sini ..." Seraya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.
Apakah cemburu itu wajar? Karena sekarang Alan mengalami hal itu. Walaupun ia tahu kalau Ava sudah memilih dirinya.
Ia juga sedikit penasaran dengan apa yang di bicarakan keduanya sampai tidak terdengar sedikit pun.
Aras mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut sang gadis. Entah kenapa, semarah apapun dirinya ia tidak bisa marah kepada Ava.
Cowok itu sangat kalut kepada gadis di depannya ini. Bagi Aras, Ava adalah segalanya. Karena dari sekian banyaknya gadis yang mendekati atau pernah singgah di hatinya, hanya Ava yang dirasa sesuai kriteria dan yang paling cocok dengan Aras.
Maka dari itu Aras rela melakukan apa pun demi bisa bersama dengan Ava. Walaupun itu sakit, Aras harus terima keputusan gadisnya, tapi Aras juga senang saat ia mengetahui rasa suka Ava kepada dirinya tidak akan pernah berubah.
Apa itu mungkin bisa terjadi? Mungkin saja jika takdir berkehendak.
Cowok itu sudah kehabisan kata-kata. Ia ingin marah tapi tertahan di tenggorokan. Ingin bernafas tapi terasa sangat sesak di bagian dada. Apa kalian pernah merasakan hal itu? Yang bisa Aras lakukan saat ini adalah menutup mulut dan memikirkan semua yang Ava katakan
Setelah selesai menjelaskan dan mengeluarkan isi hatinya, Ava berbalik menyusul Alan yang ada di ambang pintu lapangan basket.
"Tapi, gue suka sama lo, Ava! Jangan tinggalin gue, Va! Lo juga udah tahu kalau gue suka sama, lo!" teriak Aras memohon sepenuh hati.
Gadis itu menoleh sambil tersenyum. "Kak Aras cuma suka sama gue. Sedangkan Alan sayang sama gue, dan gue juga sayang sama Alan. Jadi, kalau kita sama-sama sayang, Kak Aras bisa apa? Karena Kak Aras hanya suka." Ava menekankan dua kalimat terakhir sebagai penegasan.
"Woa!!" Seluruh siswa di sana langsung terkejut dan bertepuk tangan karena jawaban tak terduga yang dilontarkan Ava.
Benar-benar terlihat keren saat baru kali pertama ini ada yang berani menolak sang ketua Molyvdos.
Ava menatap ke arah Agnes. "Nes, jawaban atas pertanyaan lo tempo hari itu, bakal gue jawab di sini,"
Agnes yang ada di sudut lapangan hanya tersenyum kikuk. Bingung pertanyan apa yang di maksud Ava. Terlebih, saat ini ia yang menjadi sorotan siswa dan siswi di sana.
"Pertanyaan apa, sih?" tanya Syarifa keppo sambil menyenggol lengan Agnes.
Yang ditanya sama sekali tak menjawab. Jangankan menjawab, mendengarnya pun tidak.
"Sebenarnya, gue udah sadar kalau Alan suka dan sayang sama gue. Bahkan, sejak pertama gue tahu mana yang namanya Alan. Tapi, gue selalu ngeyakinin diri gue bahwa Alan nggak pernah suka sama gue, karena posisi gue saat itu masih suka sama Kak Aras. Semakin ke sini dan Alan pun udah nyatain rasa sayangnya ke gue, itu udah jadi jawaban bagi gue untuk nggak perlu ragu akan hal itu."
Agnes membalas senyuman Ava. Dirinya sangat tahu pertanyaan mana yang di maksud sang gadis.
Ava tersenyum ke arah Alan yang kini di gandengnya, kemudian pergi dari kerumunan itu. Tidak memperdulikan ribuan pasang mata yang terlihat seperti ingin membunuh Ava. Keduanya sama-sama tidak perduli akan itu semua.
Dinda datang menghampiri Aras yang masih tak berkutik di tempatnya. Masih tidak percaya bahwa baru kali ini cintanya di tolak oleh seorang gadis yang benar-benar ia sukai. Kini, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa selain meratapi nasib.
Mengambil kesempatan, Dinda memegang lengan Aras. Mengelusnya pelan. "Udah lah, Ras. Gadis kayak gitu nggak usah lo kejar dan perjuangin. Lo bisa cari yang lebih dari dia, karena masih banyak kok, nggak cuma dia doang,"
Aras langsung melepas gandengan dan menatap Dinda tajam. "Lo kalau nggak tahu apa-apa mendingan lo diam! Beruntung, karena hanya sedikit yang tahu gimana lo sebenarnya! Jangan urusin urusan orang lain saat lo masih menjadi gadis fake!"
Teman bahkan sahabat Aras pun tidak berani mendekati cowok itu saat emosisnya sedang tidak stabil. Lah ini? Dinda dengan sangat berani mendekati dan berbicara seperti itu. Sangat wajar jika gadis itu mendapat amukan dari Aras.
Dinda berdecak sebal. Sejak kedatangan Ava, Aras jadi semakin ketus dan jauh padanya. "Lo tunggu dan lihat pembalasan dari gue, Ava. " Batinnya. Ia mulai mengibarkan bendera perang yang ditujukan untuk Ava.
Karena geram, Aras tidak memperdulikannya. Dinda dan teman-temannya pergi dari sana tanpa mau mengusik Aras lagi.
Entah karena beruntung atau sebuah kebetulan, semua siswa di sana tidak ada yang mengabadikan kejadian tersebut dengan kamera ponsel atau benda elektronik lainnya. Mungkin juga karena terkejut dan kejadian itu tiba-tiba saja terjadi. Jadi, Aras sedikit bersyukur akan hal itu. Sayangnya, berita ini akan sangat cepat menyebar ke seluruh sekolah lain. Maka dari itu ia harus bergerak cepat dan menyuruh anak buah dan juga teman-temannya mengatasi masalah ini.
Aras mengkode dengan kedua jarinya agar salah satu temannya maju ke depan. "Lo beresin ini semua. Jangan sampai ada yang tahu apalagi sekolah lain, karena hal itu akan menjadi boomerang untuk kita."
Cowok yang di ketahui namanya Vino itu langsung menyuruh kerumunan yang ada di sana bubar untuk masuk ke kelas masing-masing, karena nantinya akan di beri tahukan kepada semua kelas agar tidak ada yang bergosip tentang kejadian ini.
"Ava, gue janji nggak bakal ngeganggu hubungan lo sama Alan, dan nurutin apa yang lo mau. Tapi, gue nggak bisa janji untuk terus ada di samping lo saat lo butuhin gue. " janji Aras menatap lurus ke depan.
***
Sepanjang perjalanan menuju kelas, tak ada henti-hentinya cercaan, hinaan, dan tatapan membunuh dari siswa dan siswi terdengar di telinga Alan dan Ava. Entah apa sebabnya? Mungkin juga, mereka tidak terima bahwa idola mereka di perlakukan seperti itu. Ava bisa memaklumi itu semua.
Tapi, keduanya juga lega karena masih ada banyak orang yang turut mendukung keputusan mereka. Meskipun tak sebanyak sebelumnya baik saat Ava masih sendiri atau saat bersama Alan.
Segerombolan gadis kelas XII menghadang keduanya. Bisa Ava tebak bahwa gadis-gadis itu adalah gadis yang sukanya caper dan sok kecentilan sana sini.
"Eeh, lo tuh jangan sok jual mahal, yaa, jadi orang. Pake sok-sokan nolak Aras. Nggak ngaca dulu, ya, sebelumnya?" sindir cewek dengan seragam sumper minim dan ketat.
"Lo lebih milih ni bocah yang gantengnya biasa aja, daripada milih Aras yang beda jauh sama dia?" sambung cewek dengan rambut ikal sebahu sambil menunjuk ke arah Alan.
Sebelum Alan melontarkan pembelaannya, gadis di sampingnya sudah terlebih dulu berbicara.
"Yaa terserah gue dong mau pilih yang mana! Orang cantik mah bebas. Beda kalau orang nggak cantik dan nggak laku-laku terus nyari mangsa di pinggir jembatan sambil megang dan mainin ecekran," ejek Ava lebih sadis. Alan mengulum bibir karena menahan kekehannya.
"Berani lo, ya, sama gue?!" Melayangkan tangannya berniat menampar pipi sang adik kelas.
Dengan gerakan tak terduga, Alan yang tadinya ada di samping Ava kini berdiri di depan gadis itu sambil mencengram kuat tangan kakak kelas yang ingin menampar Ava. "Mau apa?"
"Lepasin nggak?! Eh! Tolongin gue dong, jangan diam aja!" ujar gadis itu pada antek-anteknya yang ada di belakang.
Baru saja akan melangkah Alan sudah membuat mereka semua mengurungkan niatnya. "Kalian maju satu langkah aja, gue bisa patahin tangan dia. Gimana? Pilih yang mana?"
Sorot mata cowok itu menampakkan kilatan cahaya kemarahan yang tidak main-main. Rahangnya mengeras seketika. Raut wajahnya pun datar dan auranya terlihat sangat menakutkan. Semanis apa pun dirinya, saat ia sedang marah akan sangat menakutkan.
Ava menepuk bahu Alan. Kepalanya menyembul dari belakang. "Dia nggak pernah main-main dengan ucapannya."
Gadis yang di depan Alan sama sekali tidak berkutik. Mau berontak pun tidak bisa karena dia ancam dan tenaga laki-laki itu sangat kuat.
"Jangan jadi orang yang sok berkuasa kalau seragam lo aja masih kurang bahan,"
Perlahan-lahan cengraman tangan Alan melonggar dari gadis di depannya. Cowok itu menarik tangan Ava untuk menjauhi kerumunan gadis nakal tersebut.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Alan menyempatkan menoleh ke belakang. "Sekarang, gue nggak akan meminta kalian untuk minta maaf sama dia. Tapi, saat kalian ngelakuin ... Tidak! Bahkan, saat kalian nampakin diri di depan dia, gue nggak akan segan-segan ngasih pelajaran ke kalian semua."
"Waw! Keren banget. Ini Alan, 'kan? Ko-kok bisa keren dan terlihat kejam? Berbeda dengan wajah asli dia." puji Ava dalam hati. Ia menganga sekaligus menatap Alan tidak percaya.
"Paham, 'kan?" Setelah mengatakan hal itu, Alan dan Ava pergi dari sana. Tidak lagi memperdulikan sekitar dan menganggap bahwa kejadian tadi tidak pernah terjadi.
"Sialan! Dasar jabingan lo! Gue balas lo nanti!" murka gadis yang tangannya di cengram Alan.
"Nggak ganteng sih orangnya, tapi manis juga gitu. Ya nggak salah juga sih kalau Ava milih dia." jujur gadis berponi dengan rambut panjang bergelombang sepunggung.
Semua yang ada di sana sontak menatap sengit gadis berponi tersebut. Ia tergolong gadis polos tapi mau di begoin sama siswi yang lain dan mau ikut gabung sama mereka.
"Sekali lagi, lo bahas dia. Gue robek bibir lo!" Ancam sang ketua.
Gadis berponi itu langsung menunduk. Nyalinya menciut seketika.
...***...
...Menurut kalian gimana?...
...Apa pilihan Ava sudah benar saat gadis itu memilih Alan?...
...Atau, sebaiknya Ava memilih Aras?...
...***...
...Ditulis tangggal 05 Juni 2020...
...Dipublish tanggal 10 Maret 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
karena Alan itu orangnya bikin aku greget terus(pengen aku tabok rasanya kepala Alan saat Alan mutusin Ava 😬😂)tapi meskipun begitu aku tetap mau kasih 💜💜💜 buat Babang Alan 😙😁🤭
Dan menurutku yang kurang disini tuh ada di epilognya, karena kayak ngegantung gitu loh. Tapi,nggak apa2 lah ya aku tetap suka sama endingnya.😁
So,aku berharap ada season 2 untuk novel ini Thor,karena aku susah move on untuk novel ini 😭
Tetap semangat ya Thor untuk membuat karya yang bagus2 dan seru pastinya ❤😁