Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barisan Belakang
Hujan lagi.
Aruna menarik napas dalam-dalam, napas yang terasa berat di tenggorokan, seakan ada yang mengganjal di sana—entah apa, mungkin kebiasaan menelan semua kata-kata yang seharusnya keluar. Jari-jarinya main-main dengan ujung pulpen, tanpa sadar mencoret-coret pinggiran buku catatan. Garis-garis tak beraturan. Lingkaran-lingkaran kecil yang nggak ada artinya.
Di luar jendela, langit abu-abu. Tetesan air hujan meluncur pelan di kaca, satu per satu, kadang bergabung jadi satu garis panjang yang tiba-tiba... jleb, jatuh. Hilang. Aruna suka bagian itu. Bagian di mana sesuatu yang kecil dan sendirian tiba-tiba... nggak ada.
"Aruna, kamu dengar nggak sih?"
Suara Kayla. Samar. Aruna kedip-kedip, baru sadar kalau sahabatnya itu udah manggil dari tadi.
"Hah? Apa?"
Kayla cemberut, tapi matanya khawatir. Selalu begitu. Selalu khawatir. "Kamu melamun lagi. Bu Maita lagi ngomong penting, lho."
Aruna menoleh ke depan. Bu Maita berdiri di depan kelas dengan map biru di tangan, bibirnya bergerak tapi Aruna nggak denger apa-apa tadi. Semua suara kayak... tenggelam. Kayak lagi di bawah air.
"Jadi," Bu Maita ngelap kacamatanya sebentar, terus pasang lagi. "Tugas kelompok kali ini tentang ekosistem. Kalian berdua, harus bikin laporan dan presentasi. Saya yang tentukan pasangannya, jadi nggak usah protes."
Oh, tidak.
Tidak tidak tidak.
Aruna langsung tegang. Tangannya yang tadi main-main pulpen sekarang kaku, menggenggam erat sampai buku-buku jarinya putih. Dia nggak suka kerja kelompok. Nggak pernah suka. Karena kerja kelompok artinya... bicara. Artinya ketemu orang. Artinya harus... terlihat.
"Dengarkan baik-baik ya. Nisa dengan Dimas. Kayla dengan Riko..."
Aruna mulai berdoa dalam hati. Semoga dapat yang pendiam juga. Semoga dapat yang nggak akan maksa dia ngomong banyak. Semoga—
"Aruna Pratama dan Dhira Aksana."
Deg.
Waktu kayak berhenti sebentar. Cuma sebentar. Tapi cukup buat bikin Aruna lupa cara bernapas.
Dhira... Aksana?
Nggak mungkin. Pasti dia salah denger. Pasti—
Tapi bisikan udah mulai. Nyaring. Berisik.
"Serius? Aruna sama Dhira?"
"Wah, kasian Dhira deh..."
"Emang siapa sih Aruna itu? Yang duduk pojok belakang kan?"
Aruna nunduk. Dalam-dalam. Rambutnya jatuh menutupi wajah dan dia biarkan saja, karena lebih baik begini. Lebih baik nggak keliatan. Jantungnya dag dig dug nggak karuan, kayak mau copot. Tangannya gemetaran—kenapa gemetaran sih—dan dia sembunyikan di bawah meja, remas-remas ujung rok seragamnya.
Dhira Aksana.
Cowok yang... yang selalu dikelilingi orang. Yang kalau jalan, orang-orang minggir dengan sendirinya bukan karena takut, tapi karena... ya begitulah. Karena dia Dhira. Ganteng, pintar, jago basket, ramah tapi nggak lebay. Suaranya tenang. Senyumnya... Aruna pernah lihat sekali, waktu dia lagi ngobrol sama temen-temennya di kantin, senyum yang bikin orang lain ikut senyum juga.
Dan sekarang dia harus... kerja bareng cowok itu?
"Aruna? Kamu nggak apa-apa?" Kayla berbisik, nunduk dari bangku sebelahnya. Wajahnya cemas banget.
Aruna cuma menggelengkan kepala kecil. Nggak percaya. Masih nggak percaya.
Di depan sana, barisan kedua dari depan, Dhira cuma... diam. Nggak kaget. Nggak protes. Cuma angguk pelan, terus nulis sesuatu di bukunya. Seolah dapet pasangan siapa aja ya nggak masalah buat dia.
Tapi buat Aruna... ini masalah besar.
Karena Aruna itu... dia itu cuma... bayang-bayang. Orang yang duduk di pojok kelas, yang nggak pernah angkat tangan, yang jalannya nunduk, yang makannya sendirian di kantin pojok deket jendela yang kacanya retak. Dia bukan siapa-siapa.
Dan Dhira itu... cahaya. Terang. Semua orang liat dia.
Bagaimana mungkin cahaya dan bayang-bayang bisa jadi satu kelompok?
Bel istirahat berbunyi, tapi Aruna nggak gerak. Kayla udah berdiri, ngeliat Aruna dengan tatapan yang Aruna hapal banget—tatapan "aku-khawatir-sama-kamu-tapi-aku-nggak-tahu-harus-ngomong-apa".
"Aruna, yuk ke kantin. Aku traktir es teh manis—"
"Nggak usah, Kay. Aku... aku mau ke perpus aja."
"Sendirian lagi?"
Aruna nggak jawab. Dia berdiri, masukkin buku-buku ke tas dengan gerakan terburu-buru, nggak rapi, ada yang jatuh tapi dia ambil lagi dengan tangan yang masih... masih gemetar kenapa sih.
"Aruna—"
"Aku nggak apa-apa. Beneran."
Bohong.
Kayla pasti tahu itu bohong. Tapi Kayla nggak maksa. Kayla nggak pernah maksa, dan itu salah satu alasan kenapa Aruna sayang banget sama dia.
Aruna keluar kelas, langkahnya cepet, kepala nunduk, tas dipeluk di depan dada kayak tameng. Koridor ramai. Terlalu ramai. Suara ketawa, suara obrolan, suara sepatu yang nyenggol lantai keramik—semua itu bikin kepalanya pusing. Dia mau cepet-cepet sampai perpustakaan, tempat yang sepi, tempat yang—
"Aruna Pratama?"
Aruna berhenti.
Jantungnya... jantungnya serasa mau meledak.
Dia kenal suara itu. Semua orang kenal suara itu. Suara yang tenang, nggak tinggi tapi jelas, bikin orang dengerin tanpa maksa.
Perlahan, Aruna noleh.
Dan di sana, berdiri Dhira Aksana. Tinggi, dengan seragam yang rapi—kok bisa sih seragam sekolah biasa keliatan... begitu di dia—ransel di satu bahu, tangan kanan di saku celana. Rambutnya agak berantakan, mungkin habis olahraga tadi. Matanya... cokelat muda, lurus menatap Aruna.
Aruna lupa cara bernapas. Lagi.
"Iya?" suaranya keluar kecil banget. Hampir nggak kedengeran.
"Kita mulai kapan?"
Dhira bertanya dengan nada datar. Nggak dingin, tapi juga nggak ramah-ramah amat. Cuma... netral. Seperti nanya tugas ke siapa aja.
Aruna menggenggam tali tasnya. Erat. "A-aku... terserah kamu aja."
Kenapa dia gagap sih. Kenapa.
Dhira mikir sebentar, terus angguk. "Besok sepulang sekolah gimana? Di perpus?"
"O-oke."
"Oke." Dhira senyum. Tipis. Cuma sekilas. Terus dia jalan, lewat samping Aruna tanpa nengok lagi, langkahnya santai, kayak nggak ada yang baru terjadi.
Tapi buat Aruna... seluruh dunia serasa miring.
Dia berdiri di tengah koridor itu, sendirian, sementara orang-orang berlalu-lalang. Ada yang nyenggol bahunya, ada yang ngeloyor cepet sambil ketawa, ada yang teriak manggil temannya. Tapi Aruna nggak denger apa-apa.
Yang dia denger cuma detak jantungnya sendiri.
Dag. Dig. Dug. Dag. Dig. Dug.
Cepet banget.
Kenapa cepet banget?
Sore itu, Aruna duduk di kamarnya yang kecil. Kamar dengan dinding warna krem yang udah mulai kusam, ada poster lama pemandangan gunung yang dipasang Arya—kakaknya—waktu Aruna masih kelas enam SD. Jendela kamarnya ngadep ke jalanan kecil yang basah karena hujan siang tadi.
Di pangkuannya, jurnal bersampul cokelat.
Jurnal itu udah lusuh. Pinggiran sampulnya udah robek-robek dikit, ada noda tinta di pojok kanan bawah. Tapi Aruna nggak pernah ganti. Jurnal ini... temen satu-satunya yang nggak pernah menghakimi dia.
Dia buka halaman baru, pulpen di tangan, ujungnya dia gigit-gigit sebentar—kebiasaan buruk yang nggak bisa ilang—terus mulai nulis.
Tulisannya berantakan. Huruf-hurufnya miring ke kanan, kadang terlalu rapet, kadang terlalu renggang.
___
...Hari ini, namaku dipanggil bersamaan dengan nama yang paling terang di sekolah ini....
...Dhira Aksana....
...Aku nggak tahu kenapa Bu Maita nyodorin kami berdua. Mungkin dia nggak tahu. Nggak tahu kalau aku ini... bukan siapa-siapa. Kalau aku cuma bayangan yang duduk di pojok kelas, yang nulisnya di jurnal karena nggak berani ngomong keras-keras....
...Tadi dia nanya, "Kita mulai kapan?"...
...Suaranya... biasa aja. Kayak nanya ke temen biasa. Padahal aku... aku bahkan nggak yakin dia pernah sadar aku ada di kelas yang sama....
...Dadaku berdebar. Aku nggak ngerti kenapa. Aku nggak suka rasanya. Rasanya... kayak aku mau jatuh dari tempat tinggi tapi belum jatuh, cuma... melayang gitu. Ngambang. Takut....
...Besok kami mulai ngerjain tugas....
...Aku harap aku nggak ngecewain dia....
...Aku harap aku nggak bikin dia nyesel....
Aruna berhenti nulis. Dia natap kalimat terakhir itu, terus coret perlahan.
Aku harap aku nggak bikin dia nyesel.
Dia tutup jurnalnya. Pelan. Terus rebahan di kasur, memeluk jurnal itu di dada, menatap langit-langit kamar yang polos.
Hujan mulai turun lagi.
Suaranya pelan, kayak orang ngetuk pintu tapi nggak yakin mau masuk.
Dan Aruna... nggak tahu kenapa matanya jadi panas.
Nggak tahu kenapa dadanya terasa sesak.
Nggak tahu kenapa dia tiba-tiba takut.
Takut besok. Takut ketemu Dhira lagi. Takut... terlihat.
Karena selama ini, dia udah terbiasa nggak terlihat.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya...
Barisan belakang bukan lagi tempat yang aman.