ongoing
Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.
Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Malam itu tidak berakhir dengan ledakan. Tidak ada tembakan, tidak ada teriakan, tidak ada darah yang membasahi lantai. Yang ada hanya deru mesin mobil, lampu kota yang berlari mundur, dan perasaan di dada Wei Li yang perlahan berubah dari tegang menjadi dingin. Bukan dingin karena takut. Dingin karena sadar.
Mobil berhenti di sebuah gedung rendah yang tampak biasa dari luar. Lampunya minim, hanya satu papan nama kecil yang tidak mencolok. Wei Li turun, menutup pintu dengan hati-hati, seolah suara keras bisa memancing sesuatu yang tidak terlihat. Di dalam, suasananya rapi, bersih, dan terlalu sunyi. Wei Li berdiri di tengah ruangan utama. Tangannya melipat di depan dada, lalu terlepas. Ia menggeser berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. Gerakan kecil, nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan pikirannya bekerja cepat. “Ini salah satu titik aman,” kata Kun A Tai di belakangnya. “Seharusnya.”
Wei Li menoleh. “Kata ‘seharusnya’ itu bikin gue nggak nyaman.” Kun A Tai tidak membantah. Beberapa orang bergerak cepat di ruangan sebelah, suara langkah mereka teredam. Monitor menyala satu per satu, menampilkan data, grafik, dan rekaman kamera. Wei Li mendekat ke salah satu layar. Ia menyipitkan mata, membaca cepat. Bahunya menegang, lalu perlahan turun. “Mereka masuk lewat jalur legal,” katanya. “Bukan hacking kasar.”
Kun A Tai berdiri di sampingnya. “Shen Yu An suka cara bersih.” Wei Li mengangguk. “itu bikin orang lengah.” Ia mengangkat tangan, menunjuk layar lain. “Ini… bukan serangan buat nyakitin. Ini buat ganggu.”
Kun A Tai menatapnya. “Jelaskan.” Wei Li menarik kursi, duduk, lalu memutar layar ke arah mereka. Jarinya bergerak cepat, menunjuk beberapa baris data. “Dia ngerusak ritme,” kata Wei Li. “Delay kecil, kesalahan administratif, miskomunikasi antar pihak. Nggak ada yang fatal, tapi cukup bikin orang mikir aku ceroboh.”
Kun A Tai menyilangkan tangan. “Reputasi.” Wei Li tersenyum tipis. “Exactly.” ia bersandar ke kursi, menghela napas pelan. “Ini lebih licik dari yang aku kira.” Kun A Tai menatapnya dari samping. “Kau terdengar… tertarik.”
Wei Li melirik. “aku menghargai musuh yang pinter.” Ia berdiri lagi, berjalan mondar-mandir pelan. Tangannya mengusap dagu, lalu turun ke lengan, menekan kulit sendiri seolah memastikan ia benar-benar ada di sini. “Dia nggak pengin aku hancur,” lanjut Wei Li. “Dia pengin aku ragu.”
Kun A Tai mengangguk. “Dan?” Wei Li berhenti. Ia menatap Kun A Tai lurus. “Dan itu kesalahan dia.” Kun A Tai mengangkat alis sedikit. “Kenapa?” Wei Li tersenyum bukan senyum lebar, melainkan lengkung kecil di sudut bibir yang jarang muncul. “Karena aku paling berbahaya waktu aku yakin.”
Keheningan jatuh sebentar. Jae Hyun masuk, membawa tablet. Wajahnya santai seperti biasa, tapi matanya fokus. “Maaf ganggu momen seriusnya,” katanya. “Tapi ada yang menarik.” Wei Li menoleh. “Apa?”
Jae Hyun menyerahkan tablet. “Shen Yu An nyentuh satu aset kecil. Yang anda bahkan nggak peduli.” Wei Li membaca cepat. Alisnya berkerut, lalu mengendur. “Dia nyentuh yang ini?” katanya.
“Iya,” jawab Jae Hyun. “Aneh, kan?” Wei Li tertawa pelan. “Bukan aneh. Ceroboh.” ia mengangkat wajah. “Dia ngira aku nggak bakal perhatiin yang kecil.”
Kun A Tai menatapnya. “Dan kau perhatikan.” Wei Li mengangguk. “Selalu.”
a mengembalikan tablet ke Jae Hyun. “aku mau balas.”
Jae Hyun menyeringai. “Dengan cara anda?” Wei Li meliriknya. “Cara yang bikin dia mikir ini cuma kebetulan.” Kun A Tai menatap Wei Li lebih lama. “Tidak berdarah.”
Wei Li mengangguk. “Belum.” Mereka bergerak cepat, tapi tanpa tergesa. Wei Li duduk di depan layar, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan gerakan yang tenang, hampir malas. Bahunya rileks, wajahnya datar. Di dalam kepalanya, semua tersusun rapi.
'kau ingin aku ragu?' pikirnya 'Oke. Sekarang giliran lo' Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika Wei Li akhirnya bersandar, ruangan terasa lebih ringan bukan karena bahaya hilang, tapi karena kendali kembali ke tangannya. “Udah,” katanya.
Kun A Tai mendekat. “Apa yang kau lakukan?” Wei Li memutar kursi sedikit, menatapnya. “aku bikin dia sibuk. Nggak rusak. Nggak ketauan. Tapi cukup bikin dia mikir ada orang ketiga.” Kun A Tai menyipitkan mata. “Kau memecah fokusnya.” Wei Li mengangguk. “Dan orang kayak dia benci itu.”
Jae Hyun tertawa kecil. “Cantik.” Wei Li berdiri, meregangkan bahu. “aku capek.” Kun A Tai menatap jam. “Sudah lewat tengah malam.” Wei Li mengusap wajah. “aku ingin pulang.”
Mobil melaju kembali ke apartemen. Kali ini lebih pelan. Kota sudah lebih sepi. Lampu jalan membentuk lingkaran cahaya yang berulang, menenangkan. Di dalam mobil, Wei Li diam. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya mengetuk pelan ritme kecil yang hanya ia sadari setengah. Kun A Tai melirik. “Kau baik-baik saja?” Wei Li mengangguk. “Cuma… mikir.”
“Tentang?” Wei Li menatap ke luar. “Tentang betapa cepatnya hidup berubah.” Kun A Tai tidak menjawab. Ia membiarkan Wei Li bicara.
“aku cuma pengin hidup tenang,” lanjut Wei Li. “Tapi tiap sadar, orang kayak aku nggak dikasih opsi itu.” Kun A Tai berkata pelan, “Tenang sering kali dibeli.” Wei Li tersenyum kecil. “Dan harganya mahal.”
Mereka sampai. Apartemen terasa sunyi, tapi aman. Wei Li melepas sepatu, berjalan tanpa alas kaki ke ruang tengah. Ia menjatuhkan diri ke sofa, menyandarkan kepala, menatap langit-langit. Kun A Tai berdiri tak jauh. “Kau seharusnya istirahat.” Wei Li mengangguk. “Iya.” Ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. “Tai.”
“Ya.”
“kau menyesel berdiri di sisi ku?” Kun A Tai terdiam sejenak. Lalu berjalan mendekat, berdiri di depannya. “Tidak,” katanya. “Aku jarang yakin. Tapi kali ini, aku yakin.” Wei Li menatapnya. Tangannya naik, mengusap lengan sendiri gerakan refleks saat emosi naik. “Ini bakal makin gelap,” katanya.
“Aku tahu.” Wei Li menghela napas, panjang. “Oke.” Ia berdiri, melangkah ke jendela. Kota di bawah tampak tenang, seolah tidak ada apa-apa yang berubah. Padahal, sesuatu sudah bergeser.
Di kejauhan, Shen Yu An akan merasakan gangguan kecil itu. Tidak cukup untuk panik. Tidak cukup untuk marah. Tapi cukup untuk bertanya. Dan pertanyaan adalah awal dari kesalahan. Wei Li menyadari satu hal dengan jelas malam itu: Ia tidak lagi hanya bertahan Ia mulai bermain. Dan ia tidak berniat kalah.