"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang pertama
Satu bulan kemudian~
"Kurang ajar!! Banjiingan! Brengsek!" umpat seorang laki-laki berambut pirang yang kini sedang berada tak jauh dari dekat rumah Jimmy. Agar gerak-geriknya tak dicurigai, Frans menggunakan mobil berbeda untuk mengikuti mereka.
"Selama itu kamu membohongiku?! Aku dosa apa sama kamu Mutia?!" teriaknya keras di dalam mobil.
Laki-laki itu memperhatikan pergerakan mereka berdua yang tengah turun dari mobil dan menurunkan barang-barang belanjaannya. Sudah lama Frans memata-matai Mutia, dan kali ini dia sudah percaya saat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang suruhannya itu memang benar. Bahwa Mutia, kekasihnya, sudah menikah.
"Aaaarrgh!! Kamu sudah menikah, setahun lalu? Itu sebabnya kamu nggak kunjung menerima lamaranku dan berulang kali menolaknya. Licik sekali kamu Mut!! Kamu merusak semua harapanku."
"Kamu meninggalkanku dan menikah dengan pria lain. Dan kamu juga menyuruhku menunggu? Apa sih maumu?!"
"Apa kata keluargaku nanti jika mereka tahu aku berhubungan dengan wanita bersuami!! Apa maksudmu Mut!! Apa?? Sudah aku berikan semuanya!"
Hancur dan sakit sekali Frans sekarang. Sakit. Sangat sakit. Tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa perempuan yang selama ini dicintainya sudah dinikahi orang lain.
Entah bagaimana cara Frans menjelaskan kepada orang tuanya nanti.
"Dasar pembohong! Pendusta! Perempuan licik, perempuan kurang ajar!"
Frans mengeluarkan cincin cantik dari kantong saku celananya. Melihatnya dengan sendu sambil memutar-mutar cincin itu. "Kamu nggak akan pernah sampai ke tangan dia," gumamnya, lalu mobil pun langsung melesat.
Setelah Jimmy dan Mutia menurunkan barang belanjaan mereka, Mutia langsung membereskannya dan memasukkan bahan-bahan masakan itu ke dalam kulkas. Dan kini kulkas pun sudah terlihat penuh, karena mulai besok, dia akan rutin memasak.
"Sini Mas bantuin," Jimmy mengambil alih pisau yang dipegang Mutia.
"Yaudah aku goreng ikannya ya," Mutia menyalakan kompor lalu menuangkan minyak kedalam wajan. "Aku takut nanti minyaknya meletuk-letuk."
"Kalau ikannya sudah dimasukkan, kamu sedikit menjauh biar nggak kena."
Berduaan di dapur seperti ini adalah pertama kali bagi mereka. Ternyata, menyenangkan juga, membuat mood mereka jauh lebih baik.
Dorr!
"Tuh kaaan! meletuk ikannyaa!" rengek Mutia.
Jimmy terkekeh melihat cara masak Mutia yang terdengar ribut sendiri.
"Kok malah senyum-senyum?"
"Kamu lucu,"
Mutia mengerucutkan bibirnya.
Setelah berapa menit berkutat di dapur kemudian makanan pun terhidang di atas meja.
"Mas Jim, ternyata ikannya kurang asin. Hambar rasanya." ujar Mutia saat mengecap ikan yang baru saja ia goreng.
"Nggak pa-pa."
Mutia mengambilkan nasi untuk Jimmy. Dia masih ingat almarhum Mamanya dulu melayani Papa Ahmad seperti itu ketika mereka sedang makan. "Segini? Lagi nggak?"
"Sudah cukup."
Ting tong!
"Biar aku aja yang buka, Mas Jim.."
Jimmy mengangguk.
Mutia membuka pintu, dan ternyata Ibu Dwi yang datang. "Eh, Ibu..."
"Iya nak, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, masuk Bu."
"Kamu ada dirumah, tumben ini kan hari rabu."
"Mutia sudah resign..."
"Oiya?" Tanya ibu meyakinkan dan dibalas oleh Mutia dengan anggukan kepala. "Sebenarnya Ibu juga mau ngomong begitu sama kamu nak, hanya saja ibu nggak enak. Eh tapi malah kamu punya pemikiran sendiri, ya syukurlah. Jadi kamu bisa fokus mengurus suamimu dirumah. Jimmy lagi dimana nak?"
"Kita lagi makan,"
"Owalahh, Ibu ganggu berarti."
"Nggak Bu, gabung makan siang saja sekalian yuk..."
"Ayo..." keduanya menuju ruang makan. "Wahh makan apa Jim, lahap banget toh kelihatannya enak."
"Eh ibu, iya Bu..." Jimmy mencium Ibundanya.
"Ini semua kamu yang masak nak?" tanya Ibu kepada Mutia.
"Kita berdua,"
"Seneng kalau lihat kalian begini..." ucap Ibu tulus. "Eh Ya Allah, malah ibu cengar-cengir wae sampai lupa tujuan kesini mau ngapain."
"Ada apa Bu?" tanya Jimmy.
"Ini, keponakan-mu mau dikhitan, tapi di kampungnya bulan depan. Hanung minta kalian datang ke-acara syukuran kecil-kecilannya mereka."
Ya, kalau kita masih bersama, batin Jimmy berucap.
"Iya, insyaallah kita akan kesana." jawab Jimmy kemudian. "Bapak lagi sehat kan? Lama nggak kelihatan. Kalau Jimmy kesana pasti beliau nggak ada."
"Lagi sibuk karaokean."
"Sudah tua ada-ada saja."
"Kamu ngatain tua begitu Bapakmu nggak terima lho, marah dia."
"Emang sudah tua, kayak ibu juga sudah tua."
"Hissshhh! Dasar anak durhaka." akhirnya kuping pun kena jewer.
***
Cklek~
Mutia melihat Jimmy masuk dari pantulan cermin karena saat ini dia berada di depannya, menyisir rambut.
"Kamu sudah siap?" tanya Jimmy membuka suara.
Mutia tahu kemana arah pembicaraan Jimmy barusan. "Aku takut," jawab Mutia lirih.
Jimmy mendekatinya dan memeluk Mutia dari belakang, terdengar suara detak jantung Mutia yang menggila. Sama seperti dirinya.
Cup! Kecupan mendarat di pelipis Mutia.
"Apa ini yang pertama kali untukmu?"
Mutia langsung berbalik badan, "Mas Jimmy ini mikir apa? Kamu yang akan menjadi orang pertama, aku gak serendah itu sampai mau melakukan ..." lidah Mutia terlalu kelu untuk melanjutkan kata-katanya yang mungkin bisa terdengar risih.
Senyum mengembang di bibir Jimmy setelah mendengar pernyataan itu dari Mutia.
"Ehhh..." tubuh Mutia terangkat ke udara, lalu diturunkan pelan-pelan ke ranjang dengan posisi duduk.
"Kamu sudah shalat isya?" tanya Jimmy.
"Sudah,"
Jimmy menyibak rambut Mutia ke belakang. Mutia mulai merasakan sentuhan-sentuhan lembut yang mendarat di kulit tubuhnya. Ya Tuhan, perasaan apa ini? kenapa dengan jantungnya ...
"Jangan gugup dek ..."
"Euuhh..." lenguh Mutia pada saat tengkuknya disentuh oleh benda kenyal yang sedikit basah itu. Pelan, baju-bajunya dilepas oleh tangan nakal hingga menyisakan kain-kain kecil saja.
"Mas Jim, baca doa dulu!"
Oh iya, ya ampun kenapa mendadak jadi lupa daratan begini. Rutuk Jimmy pada dirinya sendiri.
Jimmy memejamkan matanya. Bismillahirrahmanirrahiim.
Tik!
Lampu dimatikan.
***
To be continued.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭