Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.
Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.
Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.
Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.
Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?
***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.
by Senja Cewen...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 Raavero Tertembak...
***************
"Kamu ingin kakak mencari Don Huan?"
Rania menemani Summer sarapan. Mereka hanya berdua saja dalam kamar. Summer terlihat tak peduli. Dia terus makan dalam diam.
"Kamu harus minum obatmu, agar suara-suara di kepalamu hilang. Jika kamu ingin bertemu Don Huan, aku akan menemuinya dan meminta datang kemari."
Satu suapan terakhir dan Summer patuh untuk minum obat tanpa bantuan perawat. Gadis itu minum segelas air sampai tandas. Dia menengok pada Rania.
"Bisakah kita pergi jalan-jalan? Aku ingin menghirup udara segar."
Permintaan mendadak Summer membuat Rania tersenyum lebar. Ini sebuah kemajuan.
"Tentu saja."
Rania bangkit berdiri, mengambil sweater tebal dan memakaikannya pada Summer. Untuk pertama kalinya, Summer ingin pergi keluar setelah didiagnosa sakit. Saat ini, gadis cantik itu menjalani psikoterapi selama dua kali seminggu dan minum obat-obatan teratur setiap hari. Dia tak pernah kedapatan menangis histeris lagi. Semoga ini pertanda dia akan kembali pulih. Rania rindu pesona dan celoteh riang Summer seperti ketika dia masih sehat
"Kamu mau topi dan syal?"
Summer mengangguk lesu. "Tak apa kita pergi keluar?"
"Tentu saja. Kita hanya akan pergi jalan-jalan sebentar ke taman belakang. Kakakmu menyewa banyak pengawal untuk melindungimu. Jadi, kita akan aman."
"Baiklah."
Mereka bergandengan tangan menuju halaman belakang. Topi dan syal hangat Summer menutupi separuh wajah. Dia mirip seorang ninja.
Keduanya berpapasan dengan ibu Margareth dan bunda Hana yang baru keluar dari dapur. Dia jelas tidak suka. Rania memberi isyarat untuk tidak membuat keributan.
"Kami hanya akan jalan-jalan sebentar, Bu."
Rania lebih dulu memberi informasi sebelum Margareth mulai protes. Beliau memberi kode pada pengawal untuk mengikuti keduanya. Rania tersenyum hangat pada bunda Hana, tetapi wanita itu tak membalas. Ekspresinya datar. Ini aneh. Apa ibu Margareth memarahinya? Rania akan konfirmasi pada bunda Hana nanti.
Mereka melewati halaman belakang menuju tepian hutan yang ditumbuhi pepohonan akasia, Summer berhenti sebentar.
"Aku cepat lemas, Kak."
"Mau kembali? Itu efek dari minum obat. Kamu akan lebih sering mengantuk."
"Tidak. Aku harus bicara denganmu, Kak."
Dia mengamati sekeliling dengan waspada. Di ujung halaman berjejer rumah-rumah burung merpati. Mereka jinak dan segera terbang ke arah Rania dan Summer, menunggu Rania melempar sesuatu dari tangannya.
"Aku tidak nyaman bicara di kamar. Aku merasa diperhatikan seseorang."
"Tenanglah, Summer! Ini rumahmu. Tak ada musuh di sini. Ada apa?"
Sekali lagi pandangan menyapu ke sekitar. Setelah yakin mereka hanya berdua, dia merapat pada Rania. Kakinya berjinjit sedikit dan berbisik pelan.
"Kau tahu kalau aku punya kakak laki-laki selain Raavero. Bernama James dan dia sepertinya kembali ke kota ini."
Rania cukup terkejut mendengar penuturan Summer. Apakah dia mulai berhalusinasi? Seorang dengan gejala awal skizofrenia sering berhalusinasi dan mengalami delusi.
"Apa kamu yakin? Kamu melihatnya?"
"Yah ... Dia datang ke pernikahan kakak dan mengikuti kita ke desa waktu itu. Aku mengenalinya."
Summer masih terlalu kecil ketika James menghilang. Bagaimana bisa dia berpikir mengenali wajah James setelah puluhan tahun? Rania kuatir.
"Mau kembali?"
"Kakak tidak percaya padaku?"
"Em ... aku percaya padamu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah tenangkan dirimu. Lalu rajin minum obat."
"Aku berharap kakak percaya padaku."
Rania menghela napas panjang. "Tentu. Mari pulang!"
Rania melemparkan biji-bijian di tangannya dan gemuruh suara merpati yang berebutan makanan itu memenuhi taman belakang. Namun, tak berapa lama berselang. Satu persatu burung - burung itu mati. Mereka tergeletak begitu saja. Berserakkan di atas rerumputan.
Rania terkejut dan saat keduanya kembali untuk mencari bantuan, mendadak rumah begitu sepi. Para pengawal menghilang entah ke mana. Begitu pula semua orang di dapur. Bahkan ibu Margareth juga. Padahal mereka tadi berpapasan di depan pintu dapur. Itu belum 10 menitan lalu.
"Ke mana perginya semua orang, Kak?" tanya Summer gelisah.
Tiba-tiba terdengar bunyi letusan senapan dari arah dalam. Keduanya saling memandang. Rania memegangi tangan Summer menuju kamar. Betapa terkejutnya mereka berdua menemukan banyak tetesan darah di lantai. Jejak kaki-kaki kecil penuh darah juga terlihat di sana. Mirip jejak kaki ...
"Selena?"
Mereka mengikuti jejak itu dan tertegun. Di lantai kamar Summer terlihat genangan darah mengalir dari tubuh Margareth. Di atas ranjang Raavero berlumuran darah. Septi dan dua orang perawat sepertinya telah tewas terbunuh.
"Mommy???!!!" teriak Summer ketakutan. Dia berlari lalu berlutut di atas tubuh ibunya.
"Siapa kamu?"
Suara Rania bergetar. Tak jauh dari mereka, seorang bocah laki-laki tak begitu jelas wajahnya, berdiri di sisi pembaringan. Dia memegang senjata dan menatap Rania. Lalu beralih pada Summer. Senyuman seringai terlukis di wajah putih pucatnya. Tatapannya menakutkan sebelum berkata.
"Kau mencariku, Rania? Akulah James."
Senjata ditodongkan ke arah mereka. Dia menarik pelatuk ke arah Summer.
"Kakak, tolong aku!"
"Summer!!!"
Rania menjerit histeris melihat tubuh Summer ambruk ke lantai.
"Sekarang giliranmu. Akhirnya aku menemukanmu."
Dia tertawa penuh kengerian. Rania berbalik dan melarikan diri dari sana. Bocah itu mengejarnya dari belakang. Rania terus berlari ke arah luar halaman mencari bantuan. Tidak ada satupun pekerja di ladang. Buah stroberi telah lenyap berganti kumpulan-kumpulan api. Rania susah melangkah. Napasnya hampir habis. Dia menuju parkiran dan tak temukan satu mobil pun parkir di sana.
Lalu dia melihat bunda Hana dari arah gerbang depan. Wanita itu menatapnya tanpa ekspresi. Bocah berpistol telah sampai di belakangnya dengan cepat.
"Bunda Hana, tolong aku! Seseorang telah menghabisi keluarga Alves," teriaknya histeris.
Ketika Rania mendekat, dia melihat bunda Hana memegang nampan. Dan di atas nampan itu ada kepala ... Raavero.
Raav??? Raaaaaaaaav!!!
******************************
******************************
"RANIA! ANDRANIA!!! Rania!!!"
Seseorang mengguncang tubuh Rania kencang. Itu suara Raavero. Mata Rania terbuka. Air mata mekar dari dua pelupuk mata. Raavero menariknya ke dalam pelukan hangat pria itu. Napas Rania terengah-engah di pundak Raav. Dia menelan ludah susah payah. Tenggorokannya kering kerontang. Peluh membasahi hampir seluruh tubuh.
"Kamu baik-baik saja, Rania?"
"Aku sesak napas, Raav. Dadaku sesak."
Raavero melepaskan pelukan, pergi menuangkan air dalam gelas dan memberi Rania minum.
"Raav? Kau baik-baik saja?" tanyanya mengendalikan diri. Rania mencubit jemarinya.
"Awwwhhhh ... Yah, Tuhan syukurlah. Mimpi apa itu tadi???"
Dia kembali memeriksa Raav. Pria itu baik-baik saja. Rania tanpa sadar memeluk Raav erat.
"Heiii ... tenanglah, Rania!"
Raavero menghapus peluh yang membasahi wajah dan leher Rania. Dia mengusap lengan Rania mencoba menenangkan. Teringat pada Summer, Rania panik dan hendak berdiri, tetapi Raavero memeluknya erat.
"Aku harus melihat Summer."
"Summer baik-baik saja, Rania. Dia sedang tidur. Para pengawal berjaga-jaga di depan kamar dan ada dua perawat di sana."
Raavero mengelus rambut Rania perlahan. Rania mungkin terlalu letih. Seharian Rania menemani Summer terapi. Mereka makan siang bersama dan mengobrol sekalipun Summer tak menanggapi.
"Kamu bermimpi buruk lagi? Apakah memimpikan pria brengsek ... "
"Ini lebih buruk dari itu. Aku bermimpi bertemu James."
Pelukkan Raavero berubah kaku. Tubuh pria itu menegang dan dia berhenti bernapas sejenak.
"Apa kamu mencari tahu tentangnya selama ini?"
Rania menggeleng di pundak Raav. "Tidak pernah terjadi. Aku tiba-tiba melihat rupa kecilnya. Foto itu!" Rania menunjuk ke arah tembok. "Dia seperti itu dalam mimpiku."
"Apa yang dia lakukan?"
Rania terdiam. "Sangat buruk."
Lebih buruk lagi, mimpi itu terlihat nyata. Sangat nyata. Raavero memegang kedua lengan Rania, mendorongnya menjauh dan memandanginya. Di bawah temaram lampu kamar, mata Raavero tampak sendu.
"Aku berusaha menemukan adikku itu, Rania. Tetapi, dia seperti hilang ditelan bumi."
Tangan Raavero terangkat merapikan helaian rambut Rania yang menempel di keningnya.
"Itulah maksud ayahku, Raav. Jika kamu berhasil menemukan dalang dibalik pembunuhan om Robertus malam itu, kita akan tahu ke mana James menghilang."
Raavero memikirkan kata-kata Rania. Gadis itu mungkin tak tahu, Raavero sedang berusaha. Rania mengangkat wajahnya, memohon.
"Bawa Don Huan kembali, Raav. Dia akan menjaga Summer dengan baik. Aku tenang jika Don Huan di sini!"
"Akan ku pikirkan, Rania. Dia menggoda adikku. Itu sulit termaafkan."
"Dia tak pernah lakukan itu. Bukankah kamu cukup lama bersamanya?"
"Bukti bahwa Summer jatuh cinta pada Don Huan, aku tak sanggup menerimanya."
"Aku tak percaya mendengar ini dari seorang pengacara hebat sepertimu."
Raavero menggeleng. Don Huan pria pendiam dan kikuk. Dia hanya mematung jika tak diajak bicara, masuk akal dia menggoda Summer? Kecuali jika "diam-diamnya" itu membuat Summer tergoda.
"Kembalilah tidur! atau mau ku temani?"
"Tidak!" seru Rania cepat. "Pergilah! aku baik-baik saja."
"Apa kamu mau mendengar sebuah kisah?"
Rania mencibir. "Puteri Penyihir dan dadar gulung?"
Raavero terkekeh. "Yakin kamu mau ditinggal sendiri?"
Rania mengangkat wajahnya ragu. Dia tidak punya pilihan.
"Emmmm ... Raav. Aku takut tidur sendiri."
*******************
Jangan lupa like, comment, share, vote dan dukung Author dengan follow author.
Selamat membaca...
Author
Senja Cewen...