NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Lima Tahun yang Lurus

“Don, kamu masih inget nggak, waktu pertama kali kamu nembak aku di belakang lab biologi? Kalau nggak salah, kita waktu itu masih kelas sepuluh, ya?”

Suara Marcella terdengar lembut, berpadu dengan denting pisau dan garpu yang beradu di atas piring porselen. Malam ini, mereka sedang merayakan hari jadi hubungan mereka yang ke-lima tahun di sebuah restoran dekat kampus. Marcella tampak cantik malam ini, seperti biasa. Rambut panjangnya yang terurai nampak begitu berkilau, gaun berwarna merah jambu yang dikenakannya sangat cocok dengan gaya elegannya, tak jarang pula ia memperlihatkan senyumnya yang begitu simetris. Dia adalah definisi wanita yang tidak pernah membuat kesalahan dalam berpenampilan. Sempurna. Anggun.

Doni menghentikan kunyahannya sesaat, lalu tersenyum tipis. “Iya bener, waktu itu kita masih kelas sepuluh. Ya pasti aku inget, dong! Waktu itu aku gemeteran sampai jatuhin botol minum, kan? Udah lah, nggak usah diinget-inget lagi. Malu, tauk!”

Marcella terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya yang masih memegang pisau, sebuah tawa yang sopan dan tertata. “Oh, kamu bisa malu juga?”, goda Marcella. “Aku sampai dua kali, lho, nolak kamu, tapi kamu masih terus aja nyoba nembak aku. Walaupun pada akhirnya aku terima juga. Soalnya kamu effort banget. Lucu, ya, kalau diinget lagi. Rasanya kayak baru kemarin. Waktu kayaknya cepet banget berlalunya.”

“Iya, ya”, jawab Doni singkat. “Cepet banget.”

Doni kembali memotong steak-nya. Sebenarnya, di dalam hati, Doni sudah tidak merasa seperti dulu lagi waktu awal-awal mereka berpacaran. Kini, di hatinya terasa seperti ada gua yang kosong. Lima tahun. Angka yang terbilang cukup lama untuk ukuran hubungan anak muda dari zaman SMA hingga bangku perkuliahan. Teman-teman kuliah mereka sering kali memuji mereka sebagai relationship goals. Mereka jarang bertengkar, tidak pernah ada gosip miring, dan masa depan mereka seolah sudah terencanakan dengan sangat rapi.

Namun, bagi Doni, lima tahun ini terasa seperti mengendarai mobil di jalan tol yang lurus, sepi, dan tanpa hambatan. Di awal, memang seru, rasanya bagaikan ada kupu-kupu di perut. Seperti yang orang bilang “butterfly era”. Tapi lama-kelamaan, rasa bosan dan jenuh yang luar biasa mulai menyerang. Tidak ada kejutan. Tidak ada tantangan. Tidak ada ups-and-downs. Semuanya terlalu dapat diprediksi.

“Oh ya, Don”, Marcella memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Doni dengan mata yang berbinar manja, layaknya anak kucing yang meminta ikan segar. “Sabtu besok rumahku kosong, lho. Papa sama Mama ada kondangan ke luar kota dari pagi. Dan kayaknya nyampe rumahnya bisa tengah malam, atau malah mungkin bisa jadi nginep disana sampai besok pagi.”

Doni menaikkan sebelah alisnya, tersenyum tipis. “Oh, ya? Berarti kamu bakal sendirian, dong, di rumah? Nggak takut?”

“Nah, makanya kamu harus datang ke rumah jam tujuh malam! Oke?”, Marcella merengek pelan, bibirnya sedikit dikerucutkan dengan imut, sebuah gestur manja yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati Doni. “Kita harus nonton drama Korea baru yang tayang di Netflix yang rilis kemarin itu, Don! Soalnya udah banyak banget yang share di Tiktok sama di Instagram, dan kayaknya seru banget! Aku udah penasaran setengah mati, tapi aku sengaja nahan diri buat nggak nonton sendiri biar bisa nobar sama kamu. Kamu nggak ada acara Sabtu malam, kan? Pokoknya harus bisa! Ya? Please, please, please!”

Doni mengingat-ingat jadwalnya. Sebenarnya tidak ada agenda penting. Di satu sisi, melihat Marcella merengek manja seperti ini selalu mengingatkannya pada masa-masa awal mereka pacaran. Namun di sisi lain, ada rasa lelah yang samar karena dia tahu persis bagaimana jalannya malam minggu mereka nanti: duduk rapi di sofa, menonton drama Korea pilihan Marcella yang sebenarnya kurang begitu dia sukai, sambil sesekali mengangguk setuju agar kekasihnya itu senang.

“Hmm… gimana, ya…”, Doni balik menggoda Marcella. “Ya bisa, dong, Cell. Apa, sih, yang nggak buat pacar aku tercinta, tersayang, dan ter-gemes ini. Sabtu malam jam tujuh, kan? Siap, Tuan Putri! Pangeran Doni pasti datang!”, jawab Doni bercanda, sembari mengulum senyum terbaik yang bisa dia pamerkan.

“Yay! Makasih, Sayang! Kamu memang Pangeran yang terbaik!”, Marcella tersenyum sangat lebar, matanya menyipit bahagia.

Marcella memang selalu seperti ini. Teratur, penuh rencana, dan tidak menyukai kejutan yang bisa merusak jadwalnya. Bahkan, Doni tahu persis alasan kenapa Marcella begitu gigih mempertahankan hubungan ini meskipun percikan asmara di antara mereka sudah lama meredup. Marcella pernah mengatakannya setahun yang lalu: “Aku malas kalau harus putus, Don. Capek harus kenalan lagi sama orang baru, pendekatan lagi dari awal, patah hati lagi. Lebih baik kita jalani ini saja sampai nikah nanti. Kita udah saling cocok juga, ‘kan.”

Cocok. Kata itu terasa begitu dingin di telinga Doni. Hubungan mereka dipertahankan bukan karena gairah cinta yang berapi-api, melainkan karena kenyamanan dan keengganan Marcella untuk menghadapi kerumitan hidup. Marcella yang perfeksionis, dan tidak mau ribet.

Saat mereka berjalan menuju tempat parkir, Marcella menggandeng mesra lengan Doni. Langkah kakinya anggun, menyesuaikan dengan ritme langkah Doni.

“Makasih ya buat makan malamnya, Don. Aku bahagia banget, deh, hari ini”, ucap Marcella tulus sambil menatap mata Doni saat mereka sudah berada di dalam mobil.

Melihat ketulusan di mata kekasihnya, Doni didera rasa bersalah yang mendalam. Marcella tidak pernah berbuat salah. Dia wanita baik-baik, pintar secara akademis, selalu berpikir jauh ke depan, merencanakan semuanya matang-matang sebelum mengambil keputusan, dan lebih sering meminta maaf duluan jika mereka berselisih paham atau sedikit berbeda pendapat, hanya demi menjaga kedamaian hubungan mereka. Doni tidak punya alasan yang logis untuk mengeluh. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, dia merasa kosong. Hampa. Hubungan selama lima tahun ini tak ubahnya seperti rutinitas karyawan kantoran yang masuk jam 7 pagi, pulang jam 5 sore. Begitu-begitu saja.

“Sama-sama, Cell. Aku juga bahagia”, bohong Doni, sambil merangkai senyum terbaik yang bisa ia tunjukkan.

Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang di malam itu. Doni tidak pernah tahu, bahwa ajakan Marcella di hari Sabtu besok bukan hanya sekedar kencan nonton bersama yang seperti biasanya. Sabtu besok adalah hari di mana takdir akan mempertemukannya dengan badai besar yang siap mengobrak-abrik jalan tol lurus yang selama ini dia lalui.

Badai itu bernama Olivia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!