Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Dari Sisimu
Kevin menatap dalam ke arah Tania yang menunduk sambil menitikkan air matanya. Mobilnya sudah berhenti di pinggir jalan raya.
Kevin sangat terkejut saat mendengar pengakuan dari mulut Tania, bahwa dirinya sudah tak perawan lagi.
"Benarkah apa yang barusan kau katakan itu Tania?" Tanya Kevin dengan bibir bergetar.
Tania menunduk sambil menganggukan kepalanya, air matanya berjatuhan membasahi pipinya.
"Iya Kevin ... aku sudah tidak perawan lagi, kehormatan ku sudah hilang, aku sangat tidak layak untukmu!" Isak Tania.
"Tapi kenapa kau bisa kehilangan kehormatan mu? Apakah kau pernah punya pacar sebelumnya? Apakah kau pernah melakukan hubungan yang terlarang? Jawab Tania!" Tanya Kevin dengan tatapan yang tajam.
Tania menggelengkan kepalanya, dia tidak sanggup menjawab semua pertanyaan Kevin. Tangannya mendekap erat Meira yang saat itu berada dalam pangkuannya.
"Kevin, maafkan aku, aku belum bisa menceritakan semuanya padamu, ini terlalu menyakitkan! Maafkan aku Kevin !" Ucap Tania dengan tangisan yang semakin memilukan.
Kevin mengambil Meira yang berada dalam pangkuan Tania, kemudian Kevin merengkuh bahu Tania bersandar padanya. Kini kepala Tania berada di dada Kevin.
"Jangan menangis Tania, setiap orang punya masa lalu, aku tidak menyalahkan mu, aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi satu hal yang harus kau tau, semua yang terjadi padamu tidak merubah perasaanku padamu ... Aku tetap mencintaimu dengan segala kekuranganmu!" Ucap Kevin.
Tania terus menangis sesenggukan, apalagi saat dia mendengar pernyataan Kevin, yang benar-benar tulus mencintainya.
"Trimakasih Kevin, tapi maaf, saat ini aku belum bisa menerima dirimu, aku merasa berdosa dan sangat tidak layak untukmu ... " Jawab Tania.
"Tidak apa-apa Tania, mungkin kau punya trauma masa lalu, aku mengerti, dan aku akan tetap menunggumu, sampai kau siap menjadi istriku dan menjadi calon Mami buat Meira, saat ini hanya aku yang Meira miliki, dan aku sangat menyayangi dia ... " Ungkap Kevin.
Setelah Tania tenang, Kevin melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat Tania bekerja. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Kevin, trima kasih ya sudah mengantarku!" Ucap Tania sambil bersiap akan turun, sebelum turun, Tania mengecup Meira yang ada dalam pangkuan Kevin.
"Ya Tania, nanti kalau kau sudah pulang, tunggu aku di depan minimarket! Nanti aku akan mengantarmu pulang!" Seru Kevin.
Tania hanya tersenyum tanpa menjawab Kevin, dia langsung turun dan berjalan cepat memasuki rumah sakit tempatnya bekerja itu.
Kevin langsung menancap gas menuju ke minimarket karena ia sudah terlambat.
Sesampainya di minimarket dengan cepat Kevin memarkirkan mobilnya, kemudian segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
"Mbak Yanti! Joni! Kenapa kalian diam saja? Biasanya kalian sangat ribut jika aku terlambat!" Seru Kevin yang melihat Yanti dan Joni yang hanya berdiri menatapnya.
"Bagaimana aku bisa memarahi seorang pengusaha sukses sepertimu?" Tanya Yanti yang kini suaranya sudah berubah menjadi lembut.
"Iya, walaupun kau terlambat berjam-jam, aku juga tidak pantas untuk menegurmu! Bukankah kau jauh di atas kami? Kami ini siapa berani menegurmu? Apalagi memarahimu!" Tambah Joni.
Kevin tertegun mendengar pernyataan dari rekan kerja yang sudah menemaninya selama setahun itu.
"Aku tetaplah Kevin yang sama seperti saat pertama kali kalian mengenalku dulu, please jangan berubah hanya karena kalian sudah tau siapa aku sebenarnya ... !" Ucap Kevin.
Drrrt.....drrrrt.....drrrrt....
Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar, buru-buru dia merogoh ponselnya dan mengusap layarnya.
"Halo!"
"Halo Vin! Gawat! Tadi gue hampir kepergok sama si Lukman dan anak buahnya! Waktu gue lagi lari pagi!" Seru Paul dengan nafas terengah-engah.
"Lagian lari pagi kenapa tidak pakai masker??!" Sentak Kevin.
"Ya kali orang lari pagi pakai masker, bisa pingsan gue kekurangan oksigen!" Sahut Paul.
"Terus kau ketauan tidak ?" Tanya Kevin.
"Hampir Vin, tapi gue berhasil ngumpet, kayaknya mereka sudah mencium keberadaan kita di kota ini, karena mereka cuma fokus di kota ini saja, kau harus hati-hati Vin!" Kata Paul memperingatkan.
"Iya, feeling ku juga begitu, aku sering sekali melihat si Lukman berkeliaran di kota ini!" Tambah Kevin.
Kemudian Kevin menutup ponselnya. Yanti dan Joni masih berdiri dan tidak beranjak dari tempatnya.
"Mas Kevin sedang di cari ya sama orang tuanya?" Tanya Yanti.
"Iya Mbak, sebenarnya sekarang aku tidak masalah untuk kembali ke Jakarta, aku hanya memikirkan Meira!" Sahut Kevin.
"Mas Kevin sudah tidak takut di jodohkan lagi?" Tanya Yanti lagi. Kevin menggelengkan kepalanya.
"Dulu aku sangat takut di jodohkan, sekarang karena aku sudah menemukan tambatan hatiku, aku sudah tidak takut lagi!" Jawab Kevin.
"Siapa tambatan hatimu Vin? Pasti Tania kan?" Tanya Joni. Kevin Menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya Jon, Tania ... aku sudah menyatakan perasaanku padanya, cuma dia masih menolak aku, tapi tidak apa-apa, aku akan tetap menunggunya...!" Ucap Kevin.
Tiba-tiba Yanti menundukkan wajahnya, sejurus kemudian dia sudah berlari ke belakang menuju ke gudang. Kevin melongo keheranan.
"Mbak Yanti kenapa Jon?" Tanya Kevin.
"Ah, kau ini tidak peka jadi cowok Vin, Mbak Yanti itu cemburu, karena kau nembak Tania! Dia tuh sudah lama suka sama kamu Vin!" Jelas Joni.
"Hah? Masa sih?" Tanya Kevin tak percaya.
"Tanya saja sendiri sama orangnya! Memangnya kau tidak sadar, perhatiannya padamu lebih dari sekedar teman!?" Ujar Joni. Kevin nampak mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam minimarket dan langsung menepuk punggung Kevin. Kevin terperanjat dan menoleh kebelakang.
"Selamat pagi Den Kevin, Tuan besar sedang menunggu anda pulang!"
Bagai di sambar petir di siang bolong, Kevin terkejut saat melihat siapa orang yang sudah berdiri di hadapannya. Dia adalah Lukman, tangan kanan dari Pak Herry, Papanya Kevin.
"Aku bukan Kevin!" Cetus Kevin.
"Maaf, semua bukti sudah mengarah kesana, anda adalah Den Kevin Setiawan, pemilik perusahaan besar di Jakarta!" Jawab Lukman.
"Mana buktinya?" Tanya Kevin.
Lukman kemudian mengeluarkan beberapa foto Kevin saat sedang bejalan di mall, saat di rumah sakit, saat di area rumahnya dengan tidak memakai masker.
"Maaf, anda tidak bisa mengelak lagi Den Kevin, saya akan membawa anda sekarang juga pulang ke Jakarta!" Ujar Lukman sambil memegang tangan Kevin. Kevin tidak ada pilihan lain selain menyerah.
"Baiklah, aku akan ikut kalian, tapi jangan pegang tanganku! Aku bukan penjahat!" Kevin menepis kasar tangannya yang di pegang oleh Lukman.
Kemudian dia meraih Meira yang ada dalam stroller, dan menggendongnya dengan erat. Wajah Joni nampak pucat melihat pemandangan di depannya.
"Vin, kau akan pergi?" Tanya Joni sedih.
"Iya Jon, aku titip kunci mobilku, nanti Paul sepupuku yang akan mengambilnya, trimakasih sudah mau jadi temanku...!" Sahut Kevin.
"Kau serius mau pergi Vin?" Tanya Joni lagi tak percaya.
"Iya Jon, salam buat Mbak Yanti, tolong sampaikan pada Tania suatu hari aku akan kembali untuk menjemputnya!" Kevin menepuk-nepuk punggung Joni.
"Vin! Jangan lupain kita!" Seru Joni.
Kevin merogoh dari dompetnya secarik kartu nama, lalu diberikannya pada Joni.
"Ini kartu namaku Jon, kalau kalian ada masalah atau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku...kalian adalah teman terbaikku!" Kevin lalu memeluk Joni, setelah itu dia mengikuti Lukman keluar dari minimarket itu.
Sebuah mobil sudah menunggu Kevin di depan minimarket. Tanpa menunggu Kevin segera masuk ke dalam mobil itu sambil menggendong Meira.
*****