NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

***

Matahari sore merendah di ufuk barat, memancarkan semburat jingga yang membakar langit di atas Pondok Pesantren Al-Falah. Bagi para santriwati, waktu setelah jamaah asar adalah saatnya menghela napas bebas. Area belakang asrama putri—tempat sumur bor dan barisan jemuran bambu yang panjang—mendadak ramai oleh deru tawa, suara cipratan air, dan obrolan ringan.

Namun, kedamaian sore itu tidak berlaku bagi Naya. Dengan wajah cemberut dan napas yang sesekali diembuskan kasar, gadis itu berjongkok di depan sebuah ember plastik hitam raksasa yang diletakkan di dekat mesin pompa sumur. Di dalam ember itu, bertumpuk belasan mukena inventaris asrama yang tebal, putih kusam, dan berbau apek.

"Sialan! Ini namanya eksploitasi anak di bawah umur! Tangan gue bisa kapalan kalau begini caranya!" umpat Naya, meremas sepotong kain mukena tebal dengan gerakan asal-asalan. Busa sabun cuci meluber ke mana-mana, mengotori lantai ubin becek di sekelilingnya.

"Heh, Santri Baru! Yang bersih menguceknya! Jangan cuma diaduk-aduk kayak cendol!" sebu sebuah suara melengking yang teramat familier di telinga Naya.

Naya mendongak tajam. Fida—si Mbak Hijau—berdiri berkacak pinggang tidak jauh dari tempatnya berjongkok. Di belakang Fida, tiga orang santriwati senior yang menjadi antek-anteknya ikut melipat tangan di dada dengan senyuman meremehkan.

"Gue udah ngucek sekencang tenaga gue ya, Mbak Hijau!" balas Naya, langsung berdiri tegak hingga gamis hitam barunya yang kedodoran menyapu ubin basah. "Kalau lu ngerasa kurang bersih, kenapa enggak lu aja yang cuci sendiri? Tangan lu kan nganggur tuh, cuma dipakai buat berkacak pinggang doang!"

"Kurang ajar ya kamu! Saya ini pengurus kedisiplinan! Tugas saya memantau kerjaan kamu yang malas-malasan di masjid tadi siang!" bentak Fida, wajahnya memerah karena tidak terima dilawan di depan publik. "Cepat selesaikan! Kalau belum bersih, jangan harap kamu bisa mandi sore ini!"

"Bodo amat!" ketus Naya, kembali berjongkok lalu membanting mukena di tangannya ke dalam ember hingga air sabunnya menciprat ke arah kaki Fida.

Fida melangkah mundur dengan jijik. Ia melirik ke arah kirinya, di mana Sarah sedang sibuk menjemur pakaian-pakaian bersih milik kamar mereka di sebatang bambu jemuran. Sebuah ide licik melintas di kepala senior berwajah judes itu. Fida memberikan kode mata yang samar kepada salah satu temannya yang bertubuh agak bongsor.

BRAK! SREEK!

"Astagfirullah!"

Suara pekikan melengking disusul bunyi gesekan bambu yang patah membuat Naya menoleh cepat. Jantungnya mencelos melihat sebatang bambu jemuran milik kamarnya sudah ambruk ke tanah. Sialnya, bambu itu mendarat tepat di atas kubangan tanah becek sisa pembuangan air sumur. Baju-baju gamis, kerudung, dan pakaian bersih milik Sarah yang baru saja selesai dicuci kini berubah warna menjadi cokelat berlumpur.

Sarah mematung di tempatnya. Air matanya langsung merebak di pelupis mata, membasahi pipinya yang tembam. "B-baju aku... kotor lagi..." cicit Sarah lirih, bahunya bergetar hebat karena menahan tangis.

Teman Fida yang bertubuh bongsor berpura-pura menutup mulutnya dengan ekspresi yang dibuat-buat panik. "Aduh, maaf ya! Enggak sengaja kesenggol tadi. Lagian jemurnya sembarangan sih, jalanan asrama kan sempit."

Fida terkekeh sinis, melirik Naya dengan tatapan puas. "Makanya, kalau punya teman baru itu diajarin sopan santun. Biar enggak bawa sial buat sekamar."

Darah Naya mendadak mendidih seketika. Sifat bar-bar-nya yang sempat ia tekan demi kontrak ponsel kini meledak tanpa bisa ditahan lagi. Tatapan matanya berubah menjadi sangat liar dan berbahaya, persis seperti saat ia bersiap menekan pedal gas di arena balap liar Jakarta.

"Mbak Nay... jangan, Mbak..." cicit Sarah, mencoba memegang ujung baju Naya sambil terisak.

Naya tidak mendengarkan. Ia melangkah lebar menepis tangan Sarah, menghampiri keran sumur bor utama yang tersambung dengan sebuah selang karet hijau berdiameter besar. Keran itu dalam posisi menyala penuh karena pompa air sedang bekerja keras.

"Kalian benar-benar cari mati ya," desis Naya dengan nada rendah yang mengerikan.

SET!

Dengan gerakan secepat kilat, Naya merenggut ujung selang karet itu, mengarahkannya tepat ke depan wajah Fida, lalu menekan ujung selang dengan jempolnya agar tekanan airnya memancar lurus dan tajam bak senapan mesin air.

SYUUUUTTTTT!

"Aaaaakkkhhh!"

Tembakan air bertekanan tinggi itu mendarat telak di tengah wajah Fida. Kekuatan airnya begitu keras hingga membuat jilbab hijau rapi milik Fida langsung koyak dan melekat erat di wajahnya. Fida terhuyung mundur, berteriak histeris saat air dingin merangsek masuk ke hidung dan mulutnya.

"Naya! Apa yang kamu lakukan?! Berhenti!" teriak teman-teman Fida panik.

"Lu mau juga?! Nih, rasain!" Naya tertawa lepas, mengalihkan arah selang airnya ke samping. Ia menyemprot ketiga antek Fida secara bergantian tanpa ampun.

BYURRR! BYURRR!

"Aaaa! Baju aku basah! Naya gila! Berhenti!" jerit mereka kocar-kacir, berlarian menyelamatkan diri di antara barisan jemuran. Namun, Naya dengan lincah terus mengejar mereka menggunakan semprotan air selang yang tak ada habisnya.

Suasana area sumur asrama putri mendadak berubah menjadi medan perang yang sangat riuh. Puluhan santriwati lain yang menyaksikan kejadian itu melotot syok, beberapa ada yang menjerit panik, namun tidak sedikit yang diam-diam menahan senyum puas melihat runtuhnya keangkuhan geng Fida.

Fida yang sudah basah kuyup seperti ayam sayur, mencoba berdiri tegak dengan napas tersengal-sengal. "Naya! Kamu melanggar aturan! Kamu bakal dikeluarkan dari pesantren ini!" terangnya histeris, menyeka air dari matanya yang perih.

Naya berkacak pinggang di dekat mesin pompa, tangan kanannya masih mantap memegang selang air yang mengucur deras ke lantai. Rambut pirangnya yang mencuat dari balik jilbab abu-abunya tampak sedikit basah, namun wajah cantiknya memancarkan kepuasan yang luar biasa.

"Gue dikeluarkan? Silakan! Gue malah senang bisa balik ke Jakarta hari ini juga!" teriak Naya lantang, tawanya menggelegar penuh kemenangan. "Tapi sebelum gue pergi, gue pastiin muka-muka sok kuasa kalian ini bersih total kena air sumur! Rasain nih, semprotan maut dari gue!"

Naya bersiap mengarahkan selang itu kembali ke arah Fida yang sudah gemetaran ketakutan.

"Mbak Nay! Stop! Tolong berhenti, Mbak!"

Tiba-tiba, Aliyah berlari menerobos kerumunan santriwati, langsung memeluk tubuh Naya dari belakang untuk menahan pergerakannya. Di saat yang sama, Sarah yang matanya masih sembap ikut memegangi lengan kanan Naya, mencoba merebut gagang selang karet tersebut.

"Mbak Nay, lepasin selangnya! Tolong, Mbak, dengerin kita dulu!" mohon Aliyah dengan suara bergetar panik.

"Lepasin gue, Al! Gue belum selesai mandiin bebek-bebek lumpur ini!" seru Naya, mencoba berontak dengan ke-bar-bar-annya.

"Mbak Nay, ingat kontrak kamu sama Gus Zayyan!" ucap Sarah tepat di samping telinga Naya, menyebut nama sakral itu dengan nada penuh kepanikan.

Kata-kata 'Gus Zayyan' dan 'kontrak' seketika bekerja laksana rem darurat pada otak Naya. Gerakan brutal Naya mendadak terkunci. Jantungnya berdegup kencang, dan bayangan wajah sedingin es milik Gus Zayyan yang mengancam akan mengunci ponselnya di dalam brankas selama satu tahun penuh langsung berputar di kepalanya.

"K-kontrak..." cicit Naya, suaranya mendadak melemah.

"Iya, Mbak! Kontrak kerja sama kalian baru dimulai siang tadi!" bisik Aliyah cemas, matanya melirik ke sekeliling lorong, takut jika Ustadzah Maryam atau bahkan pengawal Gus Zayyan tiba-tiba muncul karena keributan ini. "Kalau Ustadzah Maryam tahu Mbak Nay bikin keributan lagi pakai menyemprot pengurus, Mbak Nay bisa dihukum kurung, dan HP Mbak Nay enggak akan pernah balik selamanya!"

Naya terdiam. Ia memandangi selang air di tangannya, lalu melirik Fida dan gengnya yang kini sedang merapikan baju-baju mereka yang basah kuyup sambil melemparkan tatapan penuh dendam kesumat.

"Sialan..." umpat Naya lirih. Dengan hentakan kesal, ia melemparkan selang air itu ke lantai ubin begitu saja, membuat airnya mengucur liar sebelum akhirnya Aliyah dengan sigap mematikan keran utama.

Naya mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang masih tersisa di dada. Ia menatap Sarah yang wajahnya masih pucat. "Baju lu yang kotor... biar gue yang cuci ulang nanti malam. Gue enggak suka lihat lu nangis gara-gara nenek sihir itu."

Sarah tersenyum haru, menggeleng pelan. "Enggak usah, Mbak Nay. Kita cuci bareng-bareng aja nanti. Makasih ya, Mbak Nay udah belain aku."

Naya hanya mendengkus, mengalihkan pandangannya dengan gengsi tinggi khas anak kota. Sementara itu, Fida yang masih menggigil dikelilingi teman-temannya menunjuk Naya dengan jari gemetar.

"Lihat aja kamu, Nayanika! Kejadian ini pasti saya laporkan ke bagian keamanan! Kamu tidak akan lolos!" ancam Fida ketus sebelum akhirnya berjalan tergesa-gesa meninggalkan area sumur bersama gengnya untuk berganti pakaian.

Seisi area sumur lambat laun kembali senyap, meninggalkan Naya yang berdiri dengan napas yang masih memburu. Hari pertamanya di Al-Falah bahkan belum genap dua puluh empat jam, namun si ratu onar ini telah menabuh genderang perang yang jauh lebih besar di asrama putri.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!