"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Khawatir
Lobby utama gedung Atma Group pagi itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya.
Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga aula utama. Beberapa wartawan telah memenuhi area yang telah disediakan.
Karena, hari ini merupakan momen penting bagi dunia bisnis.
Setelah melalui proses tender yang berlangsung ketat selama dua bulan, Atma Group akhirnya resmi menjalin kerja sama dengan WIN Group untuk proyek pembangunan resort mewah dan hotel berbintang yang bernilai triliunan rupiah.
Di dalam aula, sebuah meja panjang telah disiapkan di atas panggung. Dua map berisi dokumen kontrak tertata rapi, sementara latar belakang panggung menampilkan logo besar kedua perusahaan.
Tidak lama kemudian, pintu aula terbuka.
Beberapa staf Atma Group langsung menyambut kedatangan Kenan.
"Selamat pagi, Tuan Kenan."
Kenan mengangguk tipis. "Selamat pagi."
Di belakangnya, Doni membawa beberapa dokumen pendukung sambil memastikan seluruh persyaratan administrasi telah lengkap.
Tidak berselang lama, dari sisi lain aula, CEO Atma Group, Dino Atma Pradana dan Arga memasuki ruangan bersama jajaran direksi.
Seketika, lampu kamera mulai berkedip tanpa henti.
Dino berjalan menghampiri Kenan sambil mengulurkan tangan.
"Selamat, Tuan Kenan. Saya harap kerja sama ini menjadi awal yang baik bagi kedua perusahaan."
Kenan menyambut uluran tangan itu dengan senyum profesional.
"Terima kasih, Tuan Dino. Kami juga berharap proyek ini dapat berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik."
Keduanya berjabat tangan cukup lama hingga memberi kesempatan kepada para fotografer mengabadikan momen tersebut.
"Baik, kita akan memulai prosesi penandatanganan kontrak," ujar pembawa acara.
Seluruh dewan direksi pun duduk di tempat masing-masing.
Dokumen kerja sama diserahkan kepada kedua CEO.
Kenan membuka halaman terakhir dan membacanya sekali lagi. Di sisi lain, Dino melakukan hal yang sama.
Setelah memastikan seluruh isi kontrak telah sesuai, keduanya mengambil pena yang telah disediakan dan membubuhkan tanda tangan di sana.
Suara tepuk tangan riuh langsung memenuhi ruangan.
Dino dan Kenan kembali berdiri. Mereka saling bertukar map kontrak, lalu berjabat tangan sekali lagi di hadapan puluhan kamera.
"Pak Dino!"
Seorang wartawan mengangkat tangan.
"Bagaimana tanggapan Anda setelah memenangkan mitra kerja melalui proses tender yang cukup ketat?"
Dino menerima mikrofon. "Atma Group selalu mengutamakan profesionalisme. Kami memilih mitra berdasarkan kualitas proposal, kemampuan teknis, dan komitmen dalam menyelesaikan proyek. WIN Group memenuhi seluruh kriteria tersebut, sehingga kami yakin kerja sama ini akan memberikan hasil terbaik."
Para wartawan mengangguk sambil mencatat. Lalu, Wartawan lain mengalihkan pertanyaan kepada Kenan.
"Tuan Kenan, banyak yang mengatakan kemenangan WIN Group merupakan kejutan karena berhasil mengalahkan beberapa perusahaan besar. Apa tanggapan Anda?"
Kenan tersenyum tenang. "Kemenangan ini bukan keberuntungan. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim kami selama dua bulan terakhir."
Ia menatap satu persatu para wartawan.
"Saya percaya setiap perusahaan memiliki peluang yang sama selama mampu menawarkan kualitas terbaik."
Seorang wartawan kembali mengangkat tangan.
"Apakah benar konsep Eco-Luxury Experience yang diajukan WIN Group menjadi faktor utama kemenangan tender ini?"
Kenan tersenyum tipis. "Itu memang salah satu nilai lebih kami. Namun, keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama seluruh divisi. Tidak mungkin proyek sebesar ini dimenangkan oleh satu orang saja."
Di belakang Kenan, Doni tersenyum bangga. Ia tahu siapa sosok yang pertama kali mengembangkan konsep tersebut.
Dia adalah Alena.
Tapi, sesuai keputusan perusahaan, nama anggota tim inti memang tidak diumumkan kepada publik.
Setelah sesi wawancara selesai, pembawa acara kembali mengambil alih.
"Dengan ditandatanganinya kontrak ini, maka secara resmi Atma Group dan WIN Group menjadi mitra dalam proyek pembangunan resort dan hotel berbintang."
Sekali lagi, tepuk tangan menggema memenuhi aula. Sementara di luar gedung, siaran langsung dari berbagai media mulai menayangkan berita tersebut.
"Hari ini Atma Group resmi menandatangani kontrak kerja sama dengan WIN Group setelah proses tender yang berlangsung ketat. Proyek bernilai fantastis ini diprediksi menjadi salah satu pembangunan terbesar tahun ini dan diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi serta membuka ribuan lapangan pekerjaan baru."
Berita itu membuat iri para pengusaha, terutama Arsen yang juga ikut dalam tender tersebut. Dan, berita itu justru mengingatkan harga dirinya yang jatuh karena kalah dengan seorang ibu rumah tangga.
Di sisi lain, di perusahaan WIN Group. Silvi baru saja kembali ke perusahaan setelah menyelesaikan pertemuan dengan salah satu klien.
Begitu masuk, ia segera mencari Alena.
Ya, ia telah memikirkan banyak hal dan mengambil keputusan.
Memang, rumor tentang Alena masih menjadi bahan perbincangan di kantor. Namun, Silvi tahu persis bagaimana perjuangan wanita itu saat mengerjakan proyek Atma Group.
Ia melihat sendiri Alena sering pulang paling akhir, bahkan rela mengorbankan waktu istirahat demi menyempurnakan konsep yang akhirnya memenangkan tender.
Karena itu, dalam hati Silvi yakin, Alena memang pantas diangkat menjadi karyawan tetap.
Jadi, ia memutuskan untuk menemani Alena menemui Tuan Bram agar wanita itu tidak pergi sendirian.
Tapi, begitu masuk ruang kerja, langkah Silvi langsung terhenti melihat meja Alena yang tampak rapi.
Silvi menoleh ke kanan dan kiri sebelum menghampiri salah seorang rekan kerja.
"Di mana Alena?" tanyanya.
"Oh, dia baru saja keluar."
"Keluar?" Silvi mengernyit. "Ke mana?"
"Sepertinya menemui klien."
Silvi mulai merasa ada yang tidak beres. "Klien siapa?"
"Itu... kliennya Anisa."
Jantung Silvi seketika berdegup lebih cepat. "Maksud mu, Tuan Bram?"
Rekannya itu mengangguk pelan.
Wajah Silvi langsung pucat seketika.
"Bagaimana bisa? Bukannya janji temu mereka nanti siang?"
"Tadi, Anisa bilang jadwal pertemuannya dimajukan. Jadi, dia meminta Alena untuk segera menemui Tuan Bram."
Silvi mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu, Alena pergi dengan siapa?"
"Sendiri."
DEG!
"Sial!" Tanpa membuang waktu sedetik pun, Silvi langsung berlari keluar ruangan. Ia menekan tombol lift berkali-kali dengan gelisah.
"Ayo, cepat!"
Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan turun menuju lobby.
Sesampainya di lantai dasar, Silvi kembali berlari secepat mungkin. Tapi, karena terlalu terburu-buru, ia hampir saja menabrak dua orang yang baru memasuki gedung.
Brukh!
"Ah!" Silvi buru-buru mundur dan membungkukkan badan. "Maaf, Tuan! Saya benar-benar tidak sengaja."
Doni mengernyit heran. "Silvi? Kenapa berlari seperti itu?"
Silvi mengangkat wajahnya. Napasnya masih terengah-engah.
"I-itu, Pak..."
"Ada apa?"
"Saya mau menyusul Alena."
Doni semakin bingung. "Menyusul? Memangnya dia ke mana?"
"Dia sedang menemui Tuan Bram."
"Tuan Bram?" ulang Doni dengan nada terkejut.
Silvi mengangguk cepat. "Iya, Pak. Saya khawatir terjadi sesuatu."
"Kenapa?"
Silvi tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya memberanikan diri berkata,
"Karena... Saya mendengar banyak rumor tentang Tuan Bram. Katanya beliau sering menggoda wanita yang bekerja sama dengannya."
Belum sempat Silvi melanjutkan penjelasannya, wajah Kenan yang sejak tadi diam mendadak berubah dingin. Sorot matanya mulai menajam.
"Siapa yang menyuruh Alena pergi?" tanyanya dengan suara rendah.
Silvi menelan ludah. "A-anisa, Tuan."
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Kenan langsung berbalik. Langkahnya panjang dan tergesa, di susul Doni yang segera mengikutinya
Ia membuka pintu mobilnya sendiri, lalu masuk ke kursi pengemudi.
Melihat itu, Doni jadi bingung. Akhirnya, ia masuk ke kursi penumpang.
Mesin mobil langsung meraung. Ban berdecit saat mobil melesat keluar dari halaman perusahaan dengan kecepatan tinggi.
Silvi hanya bisa memandang mobil itu hingga menghilang dari pandangan.
Ia mengembuskan napas lega. Setidaknya, sekarang Alena tidak akan menghadapi Tuan Bram seorang diri. Namun, ia juga tersadar, melihat reaksi Doni dan Kenan begitu khawatir saat mendengar tentang Alena, membuatnya berpikir, apa itu rumor itu benar?
nakal sdkit gpp ,, yg penting nnti kek dapet cucu menantu idaman ,,
aduhh😂😂😂
😂😂😂😂