Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Banget Sampe Ngikutin Terus?
Davina menghela nafas berkali-kali saat melihat cermin. Dia memasang antingnya dengan berat hati. Berkali-kali bertanya dalam hati, sanggupkah dia melakukan semua ini? Datang ke acara pernikahan orang lain, melihat mereka mendapatkan happy endingnya. Sementara dia? Masih tidak jelas bagaimana kelanjutan nasibnya.
Davina berpikir ulang.
Dia memang berusaha menghindar dari pergaulan sosial selama beberapa minggu ini. Tapi Yuni adalah salah satu support system-nya dulu, dan kehadiran Yuni di hidupnya tepat di saat-saat terberatnya. Bagaimana mungkin dia mengabaikan permintaan sederhana Yuni untuk sekedar ikut merasakan kebahagiaannya sendiri.
“Ini cuma acara pernikahan, ini cuma acara pernikahan!” Davina merapalkan kalimat itu berulang-ulang, agar tidak lagi terdengar menakutkan.
Untungnya Yuni tidak berasal dari satu circle yang sama dengan Davina, mereka memang baru saling mengenal selama beberapa tahun belakangan saja. Di Eropa sana pula, saat-saat Davina sedang giat-giatnya menggali ilmu balet. Mungkin lingkaran pertemanan mereka hanya beririsan sebatas orang-orang Nararya saja.
Davina masih kuat menghadapi teman-temannya di Nararya. Karena pada dasarnya, mereka sudah seperti keluarga untuk Davina. Dan mereka tidak akan kurang ajar menanyakan hal-hal iseng tentang batalnya pernikahan Davina. Mereka bukan seperti netizen-netizen julid Indonesia yang lain.
Davina mematut cerminan dirinya sekali lagi depan cermin. Dia mengenakan gaun putih yang dipilihkan Angel, Ibunya Nikolas dulu. Gaun itu melekat dengan sempurna di tubuh Davina. Cantik. Tapi kenapa Davina tidak suka dengan tampilannya sendiri saat ini?
Dia suka berdandan cantik dan elegan saat menari. Namun, dia ingin terlihat sebiasa mungkin di kehidupan sehari-sehari. Jika boleh memilih, dia hanya ingin mengenakan blouse putih dan kain serut batik, lalu dipadu dengan flat shoes saja. Namun alih-alih berpenampilan sederhana, Davina justru mengeluarkan satu-satunya high heels mahal yang dia miliki dari Jimmy Choo.
Davina mengetukkan sepatunya pelan ke lantai. Dia benci mengenakan high heels! Dia sudah terlalu sering menyiksa kakinya saat menari balet, haruskah dia tetap mengenakan sepatu berhak sepuluh centimeter ini sekarang?
“Tante Davina, can I come in?” Keysha mengintip malu-malu dari balik pintu.
(Tante Davina, boleh Key masuk?)
“Sure! Come here!” Davina melambai-lambai pada Keysha.
(Boleh dong! Sini, sini!)
“Tante, mau kemana?” tanya Keysha sambil mendekat pada Davina.
“Mau ke pesta, Sayang.”
“Pesta ulang tahun?” Mata Keysha terlihat berbinar.
“Bukan, sayang. Pesta pernikahan.”
“Oh, like Princess Cinderella!”
(Oh, kayak Putri Cinderella!)
“Iya.” Davina tertawa.
“Like you and Om Raka!” kata Keysha lagi.
Davina kaget.
“Kok Om Raka sih, Key? Om Nikolas dong.” Davina cemberut. Walaupun dia tahu percuma saja ngambek dengan anak umur enam tahun.
“No! Om Raka!” Giliran Keysha yang ngambek.
“Kok Keysha bisa bilang Om Raka sih?”
“I saw the picture!”
(Key lihat fotonya!)
“Foto apa?”
“Sini, sini!” Keysha menarik tangan Davina terburu-buru. Davina kaget. Tidak terbiasa mengenakan hak tinggi membuat kakinya melangkah ke arah yang salah. Dia hampir jatuh, namun untung saja tangannya yang bebas langsung menumpu pada meja.
Keysha langsung berbalik. Wajahnya panik.
“Tante, Key minta maaf.”
“Gak apa-apa.” Davina mengibaskan tangan.
Saat dia akan melangkah lagi, dia langsung meringis. Sepertinya dia sedikit keseleo.
“Tante sakit?”
“E-enggak.” Davina menggeleng cepat, takut kalau keponakannya semakin merasa bersalah.
“Beneran?”
“Bener. Tadi Key mau ngajak Tante kemana?” tanya Davina.
“Kesini.” Keysha menarik Davina lagi, tapi kali ini dengan pelan.
Davina mengikuti keponakannya dengan hati-hati, mencoba mengabaikan rasa sakit yang mulai menggigit.
Ternyata Keysha hanya membawanya ke ruang keluarga, menunjukkan sebuah album foto. Ah, waktu mereka ke Disney Land dulu!
Sebenarnya, tanpa Keysha menunjukkan foto-foto itu, Davina sudah tahu persis foto mana yang membuat Keysha berpikir bahwa om dan tantenya adalah cinderella dan pangeran.
Saat itu Davina dan Raka sedang berada di depan Castle Disney Land. Nayla hendak memfoto mereka berdua, tapi tali sepatu Davina lepas. Raka yang saat itu sedang cinta-cintanya tentu saja sok baik mengikatkan sepatu Davina. Dia tidak peduli sama sekali dengan ledekan Azel dan Dave. Dia melakukannya. Karena dia peduli dan sayang.
Lalu diam-diam Nayla mengabadikan momen itu. Kata Nayla, jarang-jarang melihat anak iblisnya bisa bertekuk lutut di depan seorang wanita.
Tentu saja foto itu ibarat pangeran yang sedang memasang sepatu Cinderella, bagi Keysha.
Tapi bukankah pesona kisah cinta Cinderella punya batas kadaluarsa? Jam dua bulas malam bagi Cinderella. Bulan Desember bagi Davina.
Davina hanya tersenyum kecil saat Keysha menunjukkan foto itu.
“Cinderella and the prince!” kata Keysha.
(Cinderella dan pangerannya!)
Davina mengelus kepala Keysha.
“It was...”
(Dulunya...)
Keysha mengernyit tidak mengerti.
Davina tidak bisa menjelaskan lebih lanjut pada keponakannya, karena saat itu pula ponselnya berdering. Nikolas sudah tiba di depan rumahnya.
“Tante pergi dulu ya.” Davina berdiri, sedikit menahan sakit saat berjalan. Sepertinya tadi cedera kakinya lumayan serius. Namun, dia tidak punya waktu lagi untuk mengeluh. Dia segera berjalan ke arah mobil Nikolas.
Begitu tiba di dalam mobil, Nikolas langsung tersenyum, “Thank you for being so beautiful.”
“Gombal!” ledek Davina, sambil memasang sabuk pengaman.
“Kamu yakin mau ke kondangan?” tanya Nikolas sambil melajukan mobilnya.
“Enggak.”
“Lah? Terus?”
“Ini Yuni, Nik. Aku gak mungkin gak dateng. Tapi kita gak usah lama-lama lah, yang penting salam, langsung balik.”
“Iya, iya, sayang. Apa yang enggak buat kamu hari ini.”
***
Pernikahan Yuni adalah salah satu yang termegah di kalangan kaum borjuis tahun ini. Berlangsung di hotel terbaik di Jakarta dan juga berlimpah dengan makanan di setiap sudutnya.
Luar biasa.
Namun Davina tidak senang berada di pesta ini. Dia sudah berusaha keras menghindar dari para tamu, tapi apa daya, ternyata Nikolas malah bertemu dengan beberapa koleganya. Mereka bersenda gurau dalam kelompok.
Davina hanya bisa tersenyum kecil, tampak tidak bisa masuk sama sekali dalam percakapan mereka. Ini perbincangan bisnis kelas atas. Memangnya pemilik kursus balet beromset ratusan juta bisa ikut membicarakan hal apa?
Lagipula, saat ini, kaki Davina sedang berdenyut tak tertahankan. Sepertinya cederanya tadi cukup parah. Ditambah dengan sepatu Jimmy Choo itu! Membuat Davina semakin tersiksa saja!
“Kamu gak nyaman ya? Mau kita misahin diri?” bisik Nikolas, setelah beberapa saatmengabaikan Davina.
“Gak usah, Nik. Aku ambil minum kesana dulu deh,” kata Davina.
Nikolas mengangguk, lalu membiarkan Davina berjalan menuju gelas-gelas minuman.
Davina segera meneguk air putih dengan perasaan was-was. Dia tidak ingin terlihat siapa pun! Dia pun berjalan ke sudut ruangan agar dia semakin tidak tertangkap radar sosialisasi.
Lalu dia berdiri sambil bersandar di tembok. Dia sempat mengamati cokelat fondue fountain di sebelahnya. Ada marshmellow dan strawberry juga. Akan sangat lezat jika beberapa marshmellow dicelupkan ke dalam lelehan cokelat...
Belum apa-apa Davina sudah ngiler membayangkan kelezatannya.
“Kamu mau?” Tiba-tiba seseorang dengan suara familiar menyapa Davina. Oh tidak! Dia tidak bisa mempercayai pendengarannya...
Davina cepat-cepat menoleh ke asal suara, berharap dia salah.
Namun harapan tinggal kenangan.
Hatinya mencelos saat melihat Raka tiba-tiba berdiri di sebelahnya sedang memegang piring marshmellow yang sudah dicelupkan ke cokelat foundue.
“Ka-mu kok disi-ni?” Davina bertanya dengan nada terbata. Diam-diam dia mengamati Raka dari atas sampai ke bawah. Dari kemeja sampai ke sepatu semuanya serba hitam. Tapi hal itu malah semakin menambah kesempurnaan Raka. Davina bingung dimana kira-kira dia bisa mendapat celah Raka?
Raka malah terkekeh, “Justru aku yang mau nanya. Kok kamu disini? Cinta banget ya sampe ngikutin terus?”
Davina terpelongo.
Namun Raka selalu... sepercaya diri biasanya...
Rasanya Davina ingin melempar Raka dengan sepatu hak tingginya!!!
***
Readers, kalau kalian ngutip part dari novelku, alangkah baiknya kalau kalian cc ke IG-ku jg ya, jgn malah ke penulis lain hehe. Sebagai bentuk apresiasi kalian aja ke tulisanku. Makasih ya, love 🤗
IG : @ingrid.nadya
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian