-Saat aku tidak tau apa itu cinta, kamu datang memelukku- Cicil Bouw
Cicil Bouw gadis blesteran Belgia-Indonesia yang sudah terlahir kaya raya, tidak ada dalam kamus hidupnya kekurangan uang. Semua yang dia inginkan pasti dia dapatkan, tapi ada satu hal yang tidak bisa dia dapatkan.
Cinta seorang Riki Trina.
Riki Trina seorang anak petani biasa. Lelaki yang hanya ada selama 2 minggu didalam hidupnya, namun mampu menjungkir balikkan perasaan Cicil. Lelaki yang meninggalkan Cicil dan tidak mau berjuang untuk ada disamping Cicil hanya karena status Cicil yang kaya raya.
Setelah satu tahun berselang Cicil bertemu kembali dengan Riki, Cicil yang sedang terkurung dengan hubungan Toxic bersama Albert Connor. Akhirnya jatuh kembali kedalam pelukkan Riki.
Bisakah Riki dan Cicil mempertahankan hubungan beda kasta tersebut?
Dapatkan Riki mendapatkan restu dari keluarga Cicil yang kaya raya?
Mampu kah Cicil keluar dari hubungan Toxic nya bersama Albert Connor?
Dan yang terpenting mampukah Cicil beradaptasi dengan kehidupan sederhana Riki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gallon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu... kamu... kamu...
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Cicil, Laura, Riki dan Edy saat ini sudah sampai di parkiran penthouse milik Cicil. Entah kesambet apa tapi saat ini mereka menggunakan pakaian serba hitam. Terima kasih pada Edy yang memberikan ide sinting itu.
“Kenapa kita pake baju item-item sih Aa? Emang kita mau kepemakaman?” tanya Cicil bingung sambil melihat pakaian yang dikenakan Laura, Riki dan Edy.
“Tau ini gara-gara si Edy,” jawab Riki sambil menunjuk Edy yang sedang menelepon Ki Berondong.
“Ki Berondong?” tanya Cicil bingung.
“Iya dukunnya dia, pokoknya Edy tuh paling percaya sama ilmu klenik,” ujar Riki.
Cicil mengerutkan dahinya, ini tahun 2021 kenapa masih zaman percaya ilmu klenik.
“Siap Ki, doakan semuanya lancar yah Ki,” ujar Edy sambil menutup sambungan teleponnya.
“Lele, kamu nelpon siapa sih?” tanya Laura sambil mengikat rambutnya menjadi ikatan ponnytail.
“Ki Berondong, dukun sakti mandraguna. Dia udah kasih berkat buat kita, tapi katanya hati-hati sama air, katanya kita berempat nggak cocok deket-deket air.” ujar Edy sambil mengacungkan jempolnya pada Riki.
“Berlima, Dy. Aku nggak diitung?” sebuah suara bariton tiba-tiba terdengar dibelakan Edy.
Riki, Cicil, Laura dan Edy langsung menengok sumber suara yang ada dibelakang Edy. Seutas senyum langsung terpancar di wajah Riki.
“Rozak....”
“Hai Aa,” ujar Rozak sambil mengangkat tangan kanannya. Rozak yang datang menggunakan celana jeans dan kaos putih ditambah kemeja kotak-kota flanel berwarna hitam entah kenapa menambah pesonanya. Iya, memang antara Rozak dan Riki, Rozak lebih tampan dari pada Riki. Semua orang mengakuinya, termasuk....
“Laura Subagja, kamu bisa panggil aku Laura...” ujar Laura tiba-tiba sambil maju mendekati Rozak dan mengangkat tangannya bermaksud untuk berjabat tangan.
“Oh, hai... Rozak. Panggil aja Rozak,” jawab Rozak sambil menjabat tangan Laura dan memberikan senyuman yang mampu membuat Laura meleleh.
“H...h...hai....” jawab Laura sambil tersipu-sipu.
Edy yang merasakan bahaya atas kehadiran Rozak, langsung menarik tubuh Laura menjauh dari Rozak. “Zak, ini Laura. Pacar saya,” ujar Edy sseperti mengatakan pada Rozak, Laura adalah miliknya dan jangan coba-coba mendekatinya apapun yang terjadi.
“Ah, iyah yang udah nggak jomblo,” dengus Rozak sambil mengusap hidungnya.
“Udah ah, jadi ini gimana? Kita langsung ke tempat Neng aja?” tanya Riki pada Cicil yang sibuk melihat layar handphonennya.
“Kayanya kita bisa langsung masuk deh, nggak ada apa-apa juga di penthouse aku,” ujar Cicil sambil mengamati CCTV yang terhubung ke handphonennya.
Akhirnya mereka berlima memasuki lift dari basement dengan menggunakan kunci yang dipegang Cicil. Saat mencapai lobby tiba-tiba pintu lift terbuka dan dihadapan mereka berdiri Jeff Bouw.
“Papih,” bisik Cicil sambil menatap Riki dengan wajah ketakutan.
“Om jeff,” desis Laura spontan pada Rozak yang ada didekatnya.
Saat itu posisi Cicil berada di dekat Riki dan Laura berada didekat Rozak, sedangka Edy ada di dekat tombol lift.
Untungnya Jeff sedang menundukkan kepalanya melihat karena sedang melihat handphonen miliknya.
Dengan cepat Riki langsung mendorong Cicil kepojokan lift dan menutupi tubuh Cicil dengan tubuh Riki, menyembunyikan wajah Cicil di dada Riki.
Cicil benar-benar tertutupi dengan sempurna oleh badan Riki, tangan Cicil langsung menelusup ke pinggang Riki memeluk tubuh Riki dengan erat, menghirup wangi papermint Riki.
Sedangkan Laura masih kebingungan, bagaimana cara dirinya menutupi dirinya. Edy ada disebrang lift. Sedangkan Jeff mengenalnya sebagai sahabat Cicil. Kalau Jeff melihat Cicil habislah sudah. Rencana mereka akan gagal.
Rozak melihat Laura panik menutupi mukanya dengan kedua tangannya, akhirnya mengambil inisiatif. Dengan cepat Rozak menarik pinggul Laura kemudian memeluknya.
Tinggi badan Laura yang hanya 160cm dan tinggi badan Rozak yang 175cm membuat bagian wajah laura ada dibagian dada Rozak.
Laura yang kaget langsung menengadahkan kepalanya menatap Rozak. Rozak langsung menutupi badan Laura dengan kemejanya, hal itu membuat badan Laura mau tidak mau menempel dengan erat di badan Rozak. Wangi tubuh Rozak langsung menggelitik hidung Laura.
“Eh...” hanya kata itu yang meluncur turun dari mulut Laura saking kagetnya.
Rozak menundukkan wajahnya untuk melihat Laura, telunjuk tangan kanan Rozak menyentuh bibir Laura, tanda meminta Laura untuk tidak berisik.
“Jangan berisik,” bisik Rozak sambil mengedipkan matanya.
Ambyar....
Laura langsung merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, kakinya seperti tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Rasanya tubuhnya akan merosot.
Rozak yang merasa tubuh Laura seperti akan terjatuh, langsung mengeratkan pelukkannya. Sialnya, hal itu membuat Laura makin salah tingkah.
“Maaf bisa tolong lantai 12,” ujar Jeff pada Edy yang menutupi tombol lift dengan tubuhnya.
“Oh, siap,” ujar Edy sambil pura-pura memencet tombol 12.
Jeff melihat sekelilingnya, ah kenapa dia ada didalam lif bersama pasangan-padangan yang sedang kasmaran dan seorang...
Jeff terdiam melihat wajah Edy, sebentar sepertinya dia ingat siapa lelaki didekat tombol lift itu. Wajah-wajah mirip ikan lele itu nggak mungkin bisa Jeff lupakan. Ah... tapi dimana dia liatnya.
Edy yang merasa kikuk diperhatikan oleh Jeff hanya bisa pura-pura melihat kearah lain. Saat melihat ke arah Laura jantungnya seperti mencelos. Gimana tidak, detik ini Laura sedang di tutupi kemeja milik Rozak dan Edy yakin 100 persen kalau saat ini Rozak sedang memeluk Laura. Argh... sialan harusnya tadinya dia yang berdiri di sebelah Laura.
“Ah... iya,” tiba-tiba Jeff berkata sambil menjentikkan jarinya.
Perkataan Jeff yang tiba-tiba membuat jantung Edy, Laura, Cicil, Rozak dan Riki bertalu-talu. Mereka bersiaga seandainya Jeff sadar kalau di lift itu ada anak semata wayangnya atau sadar kalau ada Laura disana.
“Kamu...” ujar Jeff sambil menunjuk wajah Edy. Edy langsung mundur sampai menabrak dinding lift.
“Sa...sa...ya,” jawab Edy terbata-bata, dia takut kalau Jeff ingat dia adalah salah satu koki yang memasak untuk restoran Water Teapot dan saat ini restoran tersebut sedang bekerja sama dengan perusahaan milik Jeff.
“Kamu....”
“Saya...” ujar Edy lagi.
“Kamu iya kamu,” ulang Jeff sambil terus menunjuk wajah Edy, membuag jantung kelima orang di dalam lift tersebut ketar ketir.
“Saya.. saya.. saya...” jawab Edy masih bingung kenapa pula dengan Jeff ini.
“Edrosh...” Jeff menggantungkan kalimatnya sambil mundur dua langkah kebelakang.
“Iya....” jawab Edy pelan.
Semua orang disana langsung menahan napasnya, jantung mereka berlima bertalu-talu berharap kalau meraka tidak akan ketahuan oleh Jeff.
Jeff mengangkat kedua tangannya ke atas kemudian berteriak keras, “ EDROSH HIGH UP...!!”
Gudubrak....
Rasanya jantung Cicil, Riki, Rozak, Edy dan Laura kembali berdetak dengan normal, paru-paru didalam diri mereka kembali bekerja dengan baik. Ternyata Jeff adalah penonton setia channel youtube Edrosh.
Edy langsung tersenyum jumawa, memang pesona dirinya sebagai seorang youtuber papan pengilesan, eh salah papan atas tidak bisa dipungkiri lagi.
Edy pun langsung mengangkat kedua tangannya dan berteriak “Edrosh HIGH UP...!”
“HIGH UP,” teriak Edy dan Jeff berbarengan.
Laura langsung membenturkan dahinya ke dada Rozak sambil menahan tawanya. Kelakuan si Lele benar-benar membut dirinya mengeleng-gelengkan kepalanya.
Jeff langsung tersenyum kemudian menjabat tangan Edy. “Wah kamu tinggal disini?” tanya Jeff pada Edy.
“Oh, saya mau ketemu temen saya,” jawab Edy cepat.
“Lantai berapa?” tanya Jeff saat melihat lampu tombol lift hanya menyala di angka 12. Seingatnya langai 12 hanya ada penthouse milik putrinya. Apa Edy teman Cicil?
“Ah, saya lupa pencet,” ujar Edy sambil memencet sembarangan tombol.
“Rooftop? Temen kamu tinggal di Rooftop?” tanya Jeff bingung.
“Eh....”
‘Astaga kenapa dia memencet lantai rooftop, emang temennya sejenis burung merpati?’ maki Edy didalam hati.
“Ah, temen saya mau ngajak buat konten, di atap gedung ini,”jawab Edy cepat, konten apaan di atap gedung mana malem-malem?
“Konten di atap?” tanya Jeff sangsi.
“Ah, iya konten. Nama kontennya mencari jejak kuntilanak merah titisan siluman lele,” jawab Edy ngasal.
“Ah...” Jeff hanya menganggukkan kepalanya, walau dalam hati dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Edy.
Ting...
Pintu lift terbuka dilantai 12, dengan cepat Jeff keluar lift.
“Baiklah permisi Edy,” ujar Jeff.
“Iya,” jawab Edy sambil memencet tombol tutup pintu lift dengan cepat.
Saat pintu lift tertutup seketika itu juga kelima orang tersebut menghembuskan napas lega.
“Sekarang gimana cara aku ambil barangnya, Aa?” tanya Cicil yang langsung dijawab tatapan bingung dari Riki,Rozak,Edy dan Laura.
•••
Hmmm.... gimana ini ambil barangnya !?
Riki terkesan lemah,lalai
luar biasa 😍
coba ada Abah.. tambah deh serunya
😂😂😂😂
Mak jaaan
kangen mereka
nyesek banget 😭😭
dengan Legawa nya , Islah melepaskan apa yang sebenarnya menjadi haknya.