Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJENGUK PAK HANDOYO
Singkat cerita, setelah kejadian pagi tadi, aku lanjutkan aktifitas seperti biasa. Menemani bapak sarapan sambil mengobrol tentang Pak Handoyo dan sakitnya yang tiba-tiba, lalu menemani bapak ke kebun karena aku sedikit merasa bosan di rumah, istirahat siang ketika sudah kembali dari kebun, dan juga mengajar mengaji anak-anak di pendopo Ustadz Furqon di sore harinya.
Tapi sore ini aku hanya sebentar saja mengajar mengaji anak-anak. Karena Bu Fatimah (istri Ustadz Furqon) berniat untuk mengajakku menjenguk Pak Handoyo bersama suaminya nanti malam.
"Nisa, nanti malem habis sholat isya, ikut jenguk Pak Handoyo yuk. Kamu udah tau belum kalo beliau sakit?" ucap Bu Fatimah yang menghampiriku di pendopo, sambil aku merapikan alat-alat mengajar.
"Oh, iya Bu, saya udah tau. Tadi pagi dapat kabar juga dari Bu Marsinah." jawabku.
"Ya sudah kalo kamu udah tau. Ikut ya nanti malem, ajak juga bapakmu. Nanti kita berangkat bareng dari sini." kata Bu Fatimah.
"Iya Bu." responku. Aku lanjutkan merapikan alat-alat mengajar, dan melipat tikar yang dipakai anak-anak untuk duduk selama mengaji tadi.
"Oh iya Bu, Dinda sama Ningrum diajak juga gak?" aku menanyakan ke Bu Fatimah, apakah dua temanku itu akan ikut nanti malam.
"Oh iya, mereka udah Ibu ajak juga kok. Nanti mereka dateng juga ke sini." jawab Bu Fatimah.
"Alhamdulillah kalo mereka ikut juga. Biar di sana nanti Nisa gak sendirian Bu." responku.
"Iya... Lagian misalnya kalo mereka gak ikut pun, kan di sana pasti banyak orang yang jenguk. Masa iya kamu sendirian? Ngobrol dong sama warga lain." jelas Bu Fatimah.
"Hehehe... Kan Ibu tau, kalo saya ini pemalu buat ngobrol sama orang yang belum akrab, jarang ketemu, apalagi belum kenal sebelumnya. Ya cuma Dinda sama Ningrum aja temen akrabku Bu." jawabku.
"Heleh... Kamu itu Nis, Nis... Gimana nanti kamu mau dapet jodoh kalo gak pinter bergaul sama orang lain?" timpal Bu Fatimah.
"Yeeeh... Ibu... Kenapa jadi ke arah sana ngomongnya? Kan kalo soal jodoh itu udah diatur sama Alloh, nanti juga dateng sendiri." jawabku sambil sedikit tersenyum.
"Hem... Iya deh... Ya udah, kamu pulang dulu, udah sore. Jangan lupa diajak bapakmu nanti habis isya ya." pinta Bu Fatimah.
Lalu aku berpamitan untuk pulang dari pendopo.
Ketika sampai di rumah, dan sudah rapi semuanya. Aku sudah berbuka puasa mutih, sudah sholat maghrib dan isya jama'ah dengan bapak, kami berdua pun akhirnya menuju ke pendopo Ustadz Furqon. Dan di sana sudah datang duluan Dinda sama Ningrum. Bapak terlihat langsung menghampiri Ustadz Furqon dan istrinya yang sudah menunggu di teras rumahnya. Di sana juga sudah ada ayah dari Dinda dan Ningrum.
"Nis... Akhirnya si pemalu ikut keluar malem juga..." ucap Dinda sambil wajahnya agak meledek bercanda ke arahku.
"Iya nih, tumben mau keluar rumah malem-malem, cah ayuuu..." Ningrum menimpali sambil mencolek daguku.
"Heh, inget, kita ini mau jenguk orang yang sakit. Bukan mau jalan-jalan ke mall." jawabku.
"Iiiiih... Bercanda kali Nis... Serius amat jadi perawan." ucap Ningrum.
"Tau nih, masih muda jangan serius-serius napa kalo dibercandain. Nanti tampangmu tua loh!" timpal Dinda sambil mencubit pipiku pelan.
"Apaan sih, iya-iya..." jawabku.
Setelah sebentar kami semua mengobrol, kami semua akhirnya berjalan bersama menuju rumah Pak Handoyo.
Jumlah kami berdelapan. Tapi... Jumlah sebenarnya adalah bersembilan. Dan kalian para pembaca pasti sudah bisa menebak, siapa satu lagi yang kumaksud?
Dayang Putri...