NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 — Ya Sudah, Nggak Rugi Juga

Keesokan pagi, Anindya menemukan Arya tertidur di meja kerja.

Laptop masih terbuka pada diagram alur gudang. Di samping tangannya terdapat catatan waktu muat, daftar indikator, dan dua cangkir kopi yang sudah kosong.

Anindya mengambil selimut tipis dari sofa lalu menutupkan ke punggungnya.

Arya bergerak dan membuka mata. "Jam berapa?"

"Hampir enam. Mas belum tidur di kamar?"

"Aku cuma mau menyelesaikan rancangan awal."

"Kalimat itu biasanya diucapkan orang yang tertidur tiga jam di kursi."

Arya duduk dan mengusap wajah. "Hari pertama uji coba dimulai pukul delapan."

"Karena itu Mas perlu mandi dan sarapan, bukan menambah garis di diagram."

Anindya menutup laptop sebelum ia sempat protes.

"Aku bisa mengurus diri sendiri."

"Aku tahu. Aku juga bisa tetap merawatmu. Dua hal itu tidak saling membatalkan."

Arya menatap selimut di bahunya. Ia teringat malam Anindya mabuk, ketika posisi mereka berbalik dan dirinya yang menjaga sampai pagi.

"Kamu sudah tidak minum lagi sejak malam itu," katanya.

Anindya langsung menegang. "Aku tidak mau membahasnya."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingat banyak, dan semua orang tersenyum aneh setiap kali melihatku."

Ponselnya berdering tepat pada saat yang buruk. Nama Tania muncul di layar.

Anindya menerima panggilan video. "Apa?"

Wajah Tania memenuhi layar. "Aku mau memastikan perkembangan rencana besar kita. Sudah ada hasil setelah dua minggu?"

"Rencana apa?"

"Jangan pura-pura lupa. Pura-pura mabuk, bersandar, lalu—"

Anindya buru-buru mengecilkan suara. Arya sudah mendengar semuanya.

"Jadi memang rencananya lebih panjang?" tanyanya.

Tania melihat Arya di belakang Anindya dan tersenyum lebar. "Wah, Mas Arya ada. Bagus. Saya cuma ingin menjelaskan bahwa kegagalan malam itu bukan kesalahan strategi. Pelaksananya tidak mengikuti takaran."

"Tania!"

"Dia seharusnya pura-pura mabuk dan mencium Mas. Kenyataannya, baru satu gelas sudah mengaku sedang pura-pura."

Wajah Anindya memerah sampai telinga. "Aku tutup."

"Tunggu. Kalian malam itu tidur satu kamar, kan?"

Anindya menatap Arya. "Mas tidur di sofa, kan?"

Arya mengangkat alis. "Aku mencoba."

"Mencoba?"

"Kamu memeluk pinggangku dan tidak mau melepaskan."

Tania menjerit senang dari ponsel. Anindya hampir menjatuhkannya.

"Aku melakukan apa?"

"Kamu juga melarangku kembali ke Karina, mencari perempuan lain, dan pergi bulan depan."

"Tidak mungkin."

"Kamu bilang bahuku milikmu karena sudah dipijat."

Anindya menutupi wajah dengan satu tangan. Potongan ingatan mulai kembali: bahu Arya, wedang jahe, janji bahwa pria itu masih ada besok, dan kehangatan di bawah selimut.

"Apakah aku… melakukan hal lain?"

Arya sengaja diam beberapa detik.

"Mas Arya!"

"Tidak. Aku membantumu minum, melepas sepatu, lalu kamu tidur."

Anindya mengintip dari sela jari. "Mas tetap di sana semalaman?"

"Aku tidak punya banyak pilihan. Pelukanmu kuat sekali."

Tania bertepuk tangan. "Kalau begitu, rencananya berhasil setengah."

"Tidak ada yang berhasil," protes Anindya.

"Mas Arya tinggal semalaman. Target kedekatan tercapai."

Anindya hendak membantah, tetapi sudut bibirnya justru naik. Ia memang kehilangan kesempatan menjalankan rencana romantis. Namun, Arya menjaga, tidak memanfaatkan keadaan, dan tetap tinggal ketika ia meminta.

"Ya sudah," katanya pelan. "Nggak rugi juga."

"Apa?" Arya mendekatkan telinga.

"Aku bilang Tania yang rugi karena minumannya dibayar Reza."

"Bohong."

"Mas harus berangkat kerja."

Anindya memutus panggilan dan mendorong Arya ke arah kamar mandi. Tania segera mengirim deretan pesan dan simbol hati, tetapi ia mengabaikannya.

Sebelum masuk kamar mandi, Arya menahan pintu. "Ada satu hal yang belum kuceritakan."

Anindya membeku. "Aku melakukan sesuatu yang lebih memalukan?"

"Kamu bicara tentang seseorang dari masa sekolah."

Wajah Anindya yang sudah merah berubah tegang. "Aku bilang apa?"

"Dia duduk dekat jendela. Kamu masih bertemu setiap hari dan masih sangat menyukainya."

Anindya meremas ujung selimut. Alkohol ternyata hampir menghancurkan rahasia tujuh belas tahunnya.

"Aku tidak menyebut nama?"

"Tidak."

Ia mengembuskan napas lega terlalu jelas.

Arya menangkapnya. "Kenapa lega?"

"Karena itu cerita lama. Tidak penting."

"Kamu bilang masih menyukainya."

Ada nada cemburu tipis yang tidak bisa disembunyikan Arya. Anindya menatapnya, lalu keberanian kecil muncul.

"Kalau aku masih suka, Mas keberatan?"

"Kita menikah. Wajar kalau aku ingin tahu."

"Pernikahan kontrak."

"Tetap pernikahan."

Jawaban cepat itu membuat jantung Anindya berdebar. Ia hampir menyebut nama Arya saat itu juga. Namun, rasa takut bahwa pria itu hanya menjaga hak formal menahannya.

"Orang itu tidak akan mengganggu pernikahan kita," katanya.

"Kamu yakin?"

"Sangat yakin. Dia bahkan tidak tahu sudah dicintai selama itu."

Arya merasakan campuran lega dan tidak puas. "Dia bodoh sekali."

Anindya menahan tawa. "Kadang memang begitu."

"Kalau dia sudah menikah, kamu seharusnya berhenti menunggu."

"Sulit. Istrinya terlalu dekat denganku."

Arya mengerutkan dahi, berusaha memahami teka-teki tersebut. Anindya buru-buru mendorong pintu kamar mandi sampai tertutup.

"Mandi. Nanti terlambat."

Di balik pintu, Arya memikirkan lelaki tak dikenal itu. Di luar, Anindya menempelkan tangan ke dada dan tersenyum. Pria yang cemburu pada dirinya sendiri baru saja menyebut dirinya bodoh.

Di meja makan, sarapan sudah tersedia. Anindya meletakkan telur, roti, dan kopi tanpa gula di depan Arya.

"Aku bukan anak sekolah," ujar Arya.

"Benar. Anak sekolah tidak memimpin uji coba gudang."

"Aku juga belum memimpin. Baru mulai."

"Pak Hendra memilih metode Mas. Itu awal yang nyata."

Arya makan sambil memeriksa jadwal. Anindya berdiri di belakang kursinya, lalu membenarkan kerah kemeja yang terlipat.

Gerakan itu terasa begitu alami hingga keduanya terdiam sesaat.

"Apa?" tanya Anindya gugup.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang melihatmu."

Kalimat itu mengingatkannya pada pengakuan mabuk bahwa ia ingin Arya melihatnya.

"Sudah terlihat?"

"Sudah."

Tatapan Arya bertahan lebih lama daripada biasanya. Anindya ingin bertanya apa yang dilihatnya, tetapi bunyi pesan dari kepala gudang memecah momen.

Pak Darto melewati ruang makan dan melihat mereka saling menatap. Ia berbalik tanpa suara sebelum keduanya sadar.

"Kenapa Pak Darto tidak masuk?" tanya Arya.

"Mungkin lupa sesuatu."

Di lorong, lelaki tua itu tersenyum sendiri. Vila yang bertahun-tahun terlalu sunyi kini dipenuhi sarapan untuk dua orang, selimut yang berpindah bahu, dan alasan kecil untuk saling menunggu. Ia tidak membutuhkan laporan lain untuk mengetahui syarat wasiat telah berubah menjadi sesuatu yang nyata.

Arya berdiri dan mengambil tas laptop.

"Aku berangkat."

"Semoga hari pertamanya lancar."

Arya berjalan dua langkah, lalu kembali. Ia menarik selimut yang tadi dipakai dari bahu dan meletakkannya ke tangan Anindya.

"Simpan ini untuk nanti malam. Aku mungkin pulang terlambat."

"Aku tunggu."

Arya hampir berkata bahwa ia sudah tahu. Selama ini, Anindya selalu menunggu.

Ia hanya belum memahami sejak kapan penantian itu dimulai.

Jawabannya tersimpan sangat jauh di masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!