Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: SENTUHAN SINTETIS
Pagi di perbukitan datang menyusup lewat selimut kabut putih yang menyapu kaca-kaca jendela kediaman Alden.
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah pepohonan pinus jatuh di atas lantai kayu kamar, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang hangat.
Sesil terbangun dari tidurnya yang lelap, merasakan sensasi kehangatan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya—sebuah rasa nyaman yang semalam suntuk melindunginya dari bayangan buruk tentang sosok pria bernama Rian.
Ketika ia membalikkan badan, ia menemukan Alden duduk di tepi tempat tidur. Pria itu sudah mengenakan pakaian rapi—kemeja rajut berwarna cokelat keabuan yang mempertegas bahunya yang tegap.
Di tangannya, Alden memegang sebuah nampan perak berisi secangkir teh aromatik, sepotong roti panggang dengan selai buah segar, dan setangkai bunga mawar putih yang masih basah oleh embun pagi.
"Selamat pagi, Sayang," tegur Alden. Suaranya begitu halus dan bergetar penuh kelembutan, bagaikan alunan musik klasik yang menenangkan saraf-saraf Sesil yang tegang.
Sesil tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terbit secara alami tanpa ada keraguan yang menahannya. "Selamat pagi, Alden... Kamu bangun cepat sekali?"
"Aku tidak ingin melewatkan momen saat kamu membuka mata," jawab Alden seraya meletakkan nampan di meja nakas, lalu mengambil mawar putih itu dan menyodorkannya pada Sesil. "Bunga ini baru saja kupetik dari taman dalam rumah. Sama seperti dirimu—indah, murni, dan harus dijaga dari terpaan angin luar yang kasar."
Sesil menerima mawar itu, menghirup aromanya yang lembut. Dada Sesil berdesir hebat. Ada gelombang afeksi yang mendadak membuncah di dalam hatinya—sebuah rasa kasih sayang yang begitu pekat dan hangat yang merayap ke seluruh dinding dadanya.
Sejak insiden teror Rian dua hari lalu dan penjelasan berulang dari Alden, pandangan Sesil terhadap pria di hadapannya ini telah berubah secara drastis.
Alden tidak lagi sekadar seorang tunangan yang asing atau pria yang patut dicurigai; Alden telah bertransformasi menjadi pilar eksistensi tunggal baginya. Pria ini adalah pelindungnya, pahlawannya, dan satu-satunya alasan mengapa ia masih merasa aman di dunia yang terasa membingungkan dan penuh ancaman ini.
"Terima kasih, Alden," bisik Sesil, matanya berkaca-kaca oleh emosi yang membumbung tinggi. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak ada di sisiku..."
Alden mendekat, menyelimuti tubuh Sesil yang bersandar di papan ranjang dengan dekapan hangatnya. Pria itu mengecup pelipis Sesil perlahan, mengusap punggung tangannya dengan usapan lembut berirama.
"Jangan pernah memikirkan kemungkinan itu, Sesil," bisik Alden tepat di telinganya. "Aku mendedikasikan seluruh hidupku hanya untuk memastikan aku bisa menjagamu. Nyawamu, senyumanmu, dan masa depanmu adalah milikku untuk kulindungi."
Kata-kata itu terdengar begitu indah, begitu romantis, dan begitu memikat. Namun di balik kesadaran Sesil yang nampak berbunga-bunga, ada kenyataan biologis yang bekerja secara terstruktur tanpa disadarinya.
Efek senyawa khusus dalam obat penenang rutin yang diberikan Alden setiap malam—senyawa yang diam-diam meretas sistem saraf pusatnya—kini telah mencapai taraf manifestasi psikologis yang sempurna.
Obat itu tidak hanya membatasi ingatan masa lalu dan melumpuhkan daya kritisnya, tetapi juga menciptakan ketergantungan emosional sintesis.
Senyawa tersebut merangsang produksi hormon oksitosin dan dopamin secara paksa saat ia berinteraksi dengan figur yang mendominasi hidupnya: Alden.
Romansa yang dirasakan Sesil saat ini bukanlah benih cinta alami yang tumbuh dari waktu dan pengenalan mendalam, melainkan sebuah 'afeksi buatan' yang direkayasa secara kimiawi dan ditanamkan melalui manipulasi emosional bertubi-tubi.
"Mari kita keluar sebentar sore nanti," ujar Alden seraya melepaskan dekapannya dan menatap wajah Sesil dengan binar penuh kepuasan terselubung. "Di bagian belakang kediaman ini ada rumah kaca berisi tanaman hias eksotis. Aku ingin menunjukkan tempat itu padamu. Kita bisa minum teh di sana."
"Rumah kaca?" mata Sesil berbinar. "Aku sangat ingin melihatnya."
"Apa pun untukmu, Sayang," jawab Alden manis.
Sore harinya, matahari meredup di balik gumpalan awan tipis perbukitan, memancarkan warna jingga keunguan yang menawan.
Alden memandu Sesil melangkah menyusuri lorong tertutup berbahan kaca tebal di bagian belakang kediaman utama yang menghubungkan bangunan ke sebuah conservatory atau rumah kaca berarsitektur kaca dan besi hitam yang sangat megah.
Di dalam rumah kaca tersebut, ratusan jenis tanaman hias tropis, anggrek langka, dan tanaman merambat bertumbuh subur di bawah naungan pencahayaan lampu-lampu gantung hangat dan sistem pengatur suhu otomatis.
Udara di dalam rumah kaca beraroma tanah basah, kelopak bunga, dan kesegaran dedaunan.
Di tengah rumah kaca, sebuah meja rotan putih dan dua kursi bergaya klasik telah ditata rapi oleh Ibu Marta. Di atas meja, tersaji teko porselen berisi teh bunga melati dan kue-kue kering.
"Tempat ini luar biasa indah, Alden..." ujar Sesil terkagum-kagum, jemarinya mengusap lembut helai daun tanaman anggrek hitam yang mekar anggun di dekatnya.
"Aku membangun tempat ini khusus untukmu beberapa bulan sebelum rencana pernikahan kita," kebohongan lain mengalir dengan sangat alami dari mulut Alden.
Pria itu berdiri di belakang Sesil, merangkul pinggang wanita itu dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Sesil. "Aku tahu kamu menyukai tanaman dan ketenangan. Tempat ini adalah simbol dari cinta kita—terisolasi dari marabahaya luar, namun tetap bisa merekah dengan indah di dalam kendaliku."
Sensasi sentuhan kulit Alden di lehernya dan aroma sandalwood yang menjadi ciri khas pria itu membuat dada Sesil kembali dihantam gelombang rasa terharu yang amat sangat. Air mata kehangatan menetes pelan di pipinya.
"Mengapa kamu begitu baik padaku, Alden?" tanya Sesil dengan suara bergetar emosional. "Aku hanyalah seorang wanita yang rusak... wanita yang tidak mengingat masa lalunya, yang hanya bisa merepotkanmu setiap hari..."
Alden memutar tubuh Sesil secara perlahan, memaksanya menatap lurus ke dalam sepasang mata gelapnya yang memikat. Pria itu menyapu tetesan air mata di pipi Sesil dengan ibu jarinya yang hangat.
"Jangan pernah menyebut dirimu rusak, Sesil," tegas Alden dengan nada suara yang berwibawa namun sarat afeksi mendalam. "Kamu tidak merepotkanku. Setiap detik yang kuluangkan untuk merawatmu, memberimu obat, dan menjagamu dari orang-orang jahat seperti Rian adalah kehormatan terbesarku. Aku berutang kebahagiaan padamu, dan kamu berutang kepercayaan padaku. Kita saling melengkapi."
Konsep tentang "berutang kepercayaan" dan "berutang nyawa" meresap ke dalam benak Sesil bak racun yang manis.
Logikanya yang tumpul oleh efek zat kimia menyerap narasi itu bulat-bulat. Ya, ia berutang segalanya pada Alden. Alden adalah orang yang menyelamatkannya dari jalanan basah, membawanya ke fasilitas pengobatan terbaik, memberinya rumah yang megah, dan melindunginya dari monster masa lalu yang bernama Rian. Kedewasaan Alden, ketenangannya, dan perlindungan tanpa celah yang ditunjukkannya membuat Sesil merasa tidak ada alasan lagi di dunia ini untuk meragukan sang tunangan.
Alden membungkuk perlahan. Bibirnya menyentuh bibir Sesil dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sangat dominan.
Sesil memejamkan matanya rapat-rapat, membalas ciuman itu dengan kepatuhan dan kepasrahan emosional yang bulat. Di dalam kungkungan rumah kaca yang terisolasi dari dunia luar, di antara ribuan bunga yang mekar di bawah rekayasa suhu buatan, rasa cinta Sesil kepada Alden telah merekah sepenuhnya—sebuah keindahan sintesis yang mekar di atas tanah kebohongan, dipupuk oleh manipulasi psikologis dan zat kimia penunduk jiwa.
Saat Alden menarik diri dari ciuman itu, pria itu menatap Sesil dengan senyuman kemenangan yang mengembang sempurna. Pria itu tahu, penjaranya kini tidak lagi membutuhkan dinding atau gembok besi. Sesil telah dengan sukarela menyerahkan kunci hatinya, terpesona oleh jaring-jaring romansa buatan yang berhasil melumpuhkan seluruh naluri bertahan hidupnya.