Zareena sungguh tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah sang kakak malah bertemu sosok pria menyebalkan bernama Tristan. Lebih parahnya lagi, saudaranya malah menitipkan dirinya kepada pria itu. Lantas, apa yang terjadi? Tristan yang merupakan casanova dan Zareena yang ingin melepaskan kegadisannya. Siapa di antara mereka yang akan takluk lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelab
Sebenarnya Zareena malas untuk berkunjung ke kelab malam. Namun, Colin memaksanya untuk pergi karena kelab ini lebih bergengsi dari Night Summer yang menjadi langganan mereka. Untuk memasuki kelab ini, Colin membeli kartu berlangganan sebesar satu juta dollar. Begitu Fantastis hanya untuk berpesta yang menurut Zareena sangat membuang uang.
"Aku sangat penasaran dengan kelab ini. Di sini anak-anak orang kaya berkumpul," kata Colin
"Jadi, aku tidak punya kartu member. Bagaimana caranya aku masuk?" tanya Zareena.
"Ini kunjungan pertamaku sebagai anggota. Mereka memperbolehkan member baru membawa satu orang teman. Itu sebabnya aku mengajakmu."
"Seharusnya kau mengajak Justin."
"Ini kunjungan pertama. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu," kata Colin.
Baru saja sampai di arena kelab malam, Zareena bisa melihat betapa mewah dan berkelasnya kelab itu. Pastinya orang-orang kaya berpesta di sini dengan sangat nyaman.
"Kita turun," kata Colin.
Keduanya keluar mobil bersama. Colin langsung menunjukkan kartu member kepada petugas kemudian masuk ke kelab setelah diizinkan.
"Wah! Ini sungguh berkelas," ucap Colin kagum.
Kelab yang didominasi dengan warna emas. Benar-benar berkilauan termasuk pengunjungnya.
"Kita ke atas," ajak Colin.
"Sepertinya harus orang khusus. Kau tidak lihat ada penjaga di anak tangga itu," kata Zareena.
"Aku sudah bilang jika kunjungan pertama ini sangat berkesan. Aku juga membeli member seharga satu dollar Amerika. Kau tahu berapa itu, Zareena. Mereka menjual kartunya dengan dollar Amerika."
"Baiklah, aku tahu. Sekarang kita pergi ke atas dan berpesta."
Colin menunjukan kartunya pada petugas jaga. Setelah diizinkan, keduanya naik ke atas. Memang berbeda. Di atas sini lebih kepada arena pribadi. Tempat duduknya di pisah oleh tirai kasa berwarna kuning emas.
Seorang pelayan pria menghampiri, mempersilakan Zareena dan Colin untuk masuk ke meja kosong yang masih tersedia.
"Astaga! Aku sangat suka di sini. Kita bisa bersenang-senang hanya di meja, oh, ruang kamar ini," kata Colin yang tidak henti kagum.
Keduanya memesan minuman serta cemilan ringan sebagai teman. Zareena menatap layar ponsel. Terakhir, Tristan menghubunginya pada saat jam makan malam. Ia senang pria itu perhatian dan tidak lupa untuk mengabarinya.
"Bagaimana hubunganmu bersama Tristan?" tanya Colin.
Zareena tersenyum. "Sepertinya aku jatuh hati padanya."
"Kau sungguhan?"
Zareena mengangkat bahu. "Entahlah, tapi aku sangat mengharapkan dirinya."
"Oh, Sayang. Kau sungguh jatuh cinta padanya."
"Aku tidak tahu, Colin," sahut Zareena. "Aku butuh toilet."
"Perlu kutemani?"
"Aku bisa sendiri. Aku akan tanya pada pelayan," kata Zareena.
Pelayan begitu ramah menunjukkan arah kamar mandi pada pelanggannya. Sayangnya, setelah Zareena menuntaskan diri, ia lupa di tirai mana Colin berada.
"Astaga! Aku lupa melihat nomor mejanya dan melupakan tasku." Zareena menepuk keningnya sendiri.
Ia mencoba mengingat meja yang ditempati sahabatnya. Zareena juga bertanya pada pelayan, sayangnya bukan orang pertama yang melayani mereka tadi.
Zareena dapat melihat samar-samar pengunjung yang berada di dalam meja mereka. Ia tersenyum saat melihat baju warna silver karena Colin mengenakan gaun warna itu.
Zareena menyibak tirai dan langsung masuk saja. "Colin, aku hampir terse ...."
Pengunjung di dalam sana kaget akan kedatangan orang asing termasuk Zareena yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tristan!"
Tristan dengan kemeja yang terbuka bersama dua orang gadis di sisi kiri dan kanannya. Tristan yang tidak akan pernah mengubah kebiasaannya.
"Zareena!"
Bersambung