NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:961
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: BADAI DI KOTA ZURICH

BAB 18: BADAI DI KOTA ZURICH

Awan kelabu mengepul rendah di atas Pegunungan Alps, menyelimuti Kota Zurich dengan hawa dingin yang menusuk hingga minus tiga derajat Celsius.

Angin salju tipis berembus perlahan, menyapu lanskap kaku jalanan batu tua di sekitar Grand Hotel Solder tempat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Kedokteran Internasional.

Di dalam jet pribadi taktis yang baru saja mendarat di area hanggar privat Zurich Airport, Reno Devano mengenakan mantel hitam tebal berkerah tinggi.

Di sebelahnya, dr. Sara Maheswari merapikan tas ransel medis khusus berisi puluhan ampul serum penawar toksin Project Phoenix serta instrumen bedah mikroskopis yang telah disterilkan.

"Dion, bagaimana situasi di sekitar gedung konferensi?" tanya Reno seraya memasang earpiece bernavigasi satelit.

"Gue udah berhasil meretas sistem CCTV dan sensor termal Grand Hotel Solder," sahut suara Dion melalui saluran komunikasi terenkripsi dari markas VPCI Jakarta.

"Ada lebih dari lima ratus delegasi dokter spesialis dan pejabat kesehatan dunia yang berkumpul di Grand Ballroom lantai tiga. Tapi ada masalah besar, Ren..."

Reno memicingkan mata. "Masalah apa?"

"Sistem tata udara dan ventilasi central di lantai tiga gedung itu baru saja diisolasi oleh program siber asing tiga belas menit lalu," ujar Dion, suaranya dipenuhi ketegangan.

" Raymond Devano tidak berniat menyuntikkan racun itu satu per satu. Dia berencana melepas racun aerosol Project Phoenix melalui saluran pendingin udara utama tepat saat pidato pembukaan dimulai dalam waktu dua puluh menit dari sekarang!"

dr. Sara menatap Reno dengan tatapan horor yang tajam.

"Jika racun itu menyebar dalam bentuk aerosol di ruang tertutup, ratusan dokter terbaik dunia akan tewas dalam hitungan detik tanpa ada jejak kimia yang bisa terdeteksi oleh peralatan medis standar!"

"Kita tidak punya waktu lagi," kata Reno tegas.

"Bara, kamu dan tim Interpol Swiss kunci perimeter bawah dan ruang kendali listrik. Sara, kamu dan aku naik langsung ke pusat sistem pemurni udara di lantai atap!"

"Siap, Bos!" sahut Bara yang langsung memeriksa magazine senjata taktisnya sebelum melompat turun dari jet.

Menit-menit berikutnya berjalan bagaikan mimpi buruk yang berpacu dengan maut. Reno dan dr. Sara menyusuri tangga darurat bagian belakang Grand Hotel Solder.

Suasana di lorong servis lantai atas sangat sepi dan dingin, terpisah dari keriuhan Grand Ballroom di lantai bawah yang dipenuhi gaun malam dan stelan jas elegan para elit kedokteran dunia.

Lampu indikator di pergelangan tangan dr. Sara berkedip kuning menandakan adanya peningkatan tipis kadar racun kimia sintesis yang mulai mengalir di saluran pipa udara.

"Konsentrasi senyawa Phoenix mulai merayap dari tangki utama!" ringis dr. Sara seraya mempercepat langkahnya menaiki anak tangga besi yang membeku.

"Reno, jika katup utama dibuka penuh dari pusat kendali, kita hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum gas itu memenuhi ballroom!"

Klek.

Reno mendobrak pintu baja menuju area pusat filtrasi udara di atap gedung.

Di dalam ruangan seluas lapangan basket yang dipenuhi pipa-pipa raksasa bertekanan tinggi, tampak sebuah tangki titanium berlabel simbol mata timbangan terhubung langsung ke mesin blower utama.

Dan di samping tangki tersebut, berdiri tiga orang tentara bayaran bersenjata lengkap dengan topeng gas taktis, dipimpin oleh seorang pria jangkung berjas abu-abu gelap dengan wajah hasil rekayasa bedah yang sempurna.

dialah Raymond Devano.

Di tangan kanannya, Raymond memegang sebuah detonator nirkabel kecil berlampu merah yang siap menekan tombol pelepas katup gas Project Phoenix.

"Tepat pada waktunya, Keponakanku..." suara berat Raymond bergema dingin menembus deru mesin blower yang bergemuruh. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, memamerkan senyuman miring yang penuh rasa superioritas.

"Kamu dan Dokter Sara selalu tahu cara membuat pintu masuk yang dramatis."

Reno melangkah maju tanpa ragu, memosisikan tubuhnya di depan dr. Sara. Tatapan matanya membakar penuh ketajaman.

"Matikan pemicu katup itu, Raymond! Posisimu sudah dikepung oleh Interpol dan tim taktis!"

Raymond tertawa hampa sebuah tawa yang sengau dan bergidik.

"Interpol? Mereka hanyalah pion-pion kecil di atas papan caturku, Reno. Malam ini, di kota ini, seluruh dunia akan menyaksikan betapa berkuasanya racun ciptaanku. Ketika lima ratus elit kedokteran di bawah sana tewas tanpa jejak, para penguasa dunia akan mengantre di pintuku hanya untuk membeli keselamatan mereka!"

"Sains bukan milik iblis sepertimu, Raymond!" teriak dr. Sara murka, jemarinya mencengkeram erat tabung penawar racun di dalam tasnya.

"Kamu mengkhianati ibuku, membantai keluargamu sendiri, dan menjadikan ilmu medis sebagai alat pembunuhan massal!"

"Ibumu dan ayah Reno adalah penakut yang menolak kemajuan, Sara!" potong Raymond tajam, matanya memerah oleh amarah yang obsesif.

"Dan malam ini, aku akan menghapus warisan mereka untuk selamanya!"

Raymond menaikkan ibu jarinya di atas tombol detonator merah!

"Tembak!" perintah Raymond pada tiga tentara bayarannya!

DOR! DOR! DOR!

Dua tembakan membentur dinding pipa beton saat Reno dan dr. Sara berguling menyelamatkan diri ke balik pilar besi!

Dalam hitungan detik, pertarungan sengit pecah di antara kepulan uap dingin dan gemuruh mesin blower! Bara yang baru saja berhasil menjebol pintu tangga bersama dua personel Interpol Swiss langsung memberondongkan tembakan balasan!

BAM! BAM!

Dua tentara bayaran Raymond tersungkur menghantam lantai beton, namun tentara ketiga sempat memutus kabel pendingin darurat hingga memicu percikan api yang menyambar tangki kimia!

PRANG!

Tekanan gas di dalam pipa membumbung gila-gilaan! Pipa utama retak, menyemprotkan uap pekat berwarna ungu keruh gas aerosol Project Phoenix—langsung ke arah udara terbuka!

"Katupnya bocor! Gasnya mulai masuk ke saluran utama ballroom!" jerit Dion dari earpiece.

"Timer digital menunjukkan angka dua menit sebelum konsentrasi gas mencapai tingkat mematikan!"

"Sara! Amankan katup penutup manual di belakang tangki!" teriak Reno seraya melompat menembus kepulan uap kimia yang membakar kulit!

Raymond yang melihat rencana cadangannya terancam langsung menarik pisau lipat taktis berbilah tebal dan menghadang langkah dr. Sara!

"Kamu tidak akan pernah menyentuh katup itu, Putri Eleanor!"

Namun, sebelum pisau Raymond sempat menyentuh dr. Sara, Reno menerjang dari samping dengan kecepatan yang luar biasa! Pukulan besi pertahanan diri Reno menghantam pergelangan tangan Raymond hingga pisaunya terlempar ke dalam kipas blower yang berputar gila!

CRASH!

Kedua pria yang memiliki pertalian darah itu berguling dan menghantam panggung baja di bawah guyuran uap kimia beracun!

"Reno! Gunakan maskermu!" jerit dr. Sara yang berjuang merangkak menuju katup manual di tengah semprotan gas ungu yang makin pekat!

Reno tidak menghiraukan masker oksigennya. Dalam kondisi gas beracun yang mulai mengikis saluran pernapasan dan memicu pusing dahsyat di kepalanya, Reno membuang besi pertahanan dirinya.

Dalam posisi terdesak di bawah tekanan fisik Raymond yang terlatih, sarung tangan kulit Reno terlepas seketika.

Jemari bertelanjang milik Reno mencengkeram erat leher dan garis rahang rekonstruksi wajah Raymond secara langsung!

Kulit telanjang Reno menyentuh jaringan parut bekas operasi plastik di leher paman kandungnya itu!

DEG!

Hantaman psychometry meledak begitu dahsyat di dalam ruang kesadaran Reno—sebuah ledakan memori paling mengerikan dan paling kelam dari seluruh kasus yang pernah disentuhnya!

Dunia di sekeliling Reno meledak dalam kilatan memori masa lalu dua belas tahun lalu di malam tragedi itu.

Reno dilempar ke dalam ingatan di mana Raymond berdiri di dalam ruang kontrol laboratorium tua, menekan tombol detonator yang membakar mobil orang tua Reno.

Reno mendengar jeritan terakhir ayahnya, melihat bagaimana Raymond tersenyum dingin di balik kobaran api, dan merasakan setiap detail konspirasi gila yang dirancang Raymond bersama pejabat-pejabat korup dunia selama belasan tahun!

Namun, di tengah gelombang memori penderitaan itu, ketajaman psychometry Reno menangkap satu kunci fisik penting yang baru saja terjadi sepuluh detik lalu: Raymond menyimpan kunci enkripsi pembatalan darurat berbentuk chip biometrik di dalam cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kirinya!

BRAK!

Kesadaran Reno tersentak kembali ke realita! Pandangannya sudah kabur dan memerah oleh efek racun aerosol yang mulai merusak sarafnya. Pelipisnya berdarah, dadanya sesak parah, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah padam.

"Darah orang tuaku... dan semua korbanmu... menuntut keadilan malam ini, Raymond!" bisik Reno dengan suara serak yang memutus napasnya.

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Reno memutar lengan kiri Raymond, melumpuhkan persendian bahu paman kandungnya itu, dan secara paksa mencabut cincin emas berkepala mata timbangan dari jari manis Raymond!

Reno melemparkan cincin emas tersebut menembus uap ungu pekat, lurus ke arah dr. Sara yang sedang berjuang di depan konsol pemurni udara!

"Sara! Tempelkan chip di cincin itu ke pemindai konsol!" teriak Reno lantang seraya menahan tubuh Raymond yang meronta histeris!

dr. Sara dengan sigap menangkap cincin emas melayang tersebut. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, sang dokter forensik menempelkan batu pirus pada cincin itu tepat ke atas layar sensor biometrik mesin utama!

BIP! BIP! BIP!

Layar konsol yang tadinya menyala merah mendadak berubah menjadi biru jernih! Suara katup darurat meraung, memotong aliran gas Project Phoenix secara total, dan secara otomatis menyemprotkan larutan netralisasi berupa uap penawar asam ke seluruh pipa pendingin udara!

WUUUSHHH!

Asap ungu pekat beracun yang melayang di udara mendadak luruh dan terurai menjadi uap air jernih yang tak berbahaya!

"Sistem netralisasi berhasil dipicu!" jerit dr. Sara seraya menyuntikkan dua ampul serum penawar langsung ke leher Reno yang terkulai lemah di atas panggung baja.

Di bawah guyuran uap penawar yang dingin, Raymond Devano tergeletak lemas.

Cincin kekuasaannya telah direbut, dan seluruh rencana pembantaian massalnya hancur berantakan di tangan keponakannya sendiri.

Pria yang selama belasan tahun mengendalikan jaringan kejahatan medis internasional itu menatap langit-langit atap yang bersalju dengan mata terbelalak hampa, meratapi kekalahannya yang mutlak.

"Kenapa..." bisik Raymond dengan suara pecah dan tersedak. "Kenapa kamu tidak membunuhku saat kamu melihat ingatan itu, Reno?!"

Reno berdiri perlahan di atas lantai beton dengan bantuan dr. Sara yang memeluk bahunya erat.

Sang detektif menatap pamannya dengan pandangan dingin yang penuh martabat sebuah pandangan dari seseorang yang berhasil menaklukkan kegelapan tanpa pernah kehilangan jiwanya.

"Karena aku bukan kamu, Raymond," kata Reno dengan suara pelan namun bergema kuat menembus deru angin salju.

"Hukum yang sah dan meja otopsi kebenaran... itulah tempat terakhir di mana kamu akan mempertanggungjawabkan setiap tetes darah korbanmu."

Suara sirene taktis Interpol dan helikopter polisi menggema dari udara, memancarkan sorotan lampu terang yang menyinari seluruh atap Grand Hotel Solder.

Puluhan personel taktis menerobos masuk, langsung mengepung dan mengamankan Raymond Devano serta sisa-sisa pasukannya.

dr. Sara menyapukan kain kasa steril ke luka di pelipis Reno, lalu menatap matanya dengan rasa bangga, haru, dan kasih sayang yang mendalam.

Badai tergelap yang membayangi hidup Reno Devano selama dua belas tahun kini telah resmi sirna di atas tanah perbukitan Zurich yang bersalju.

"Kita berhasil, Reno," bisik dr. Sara lembut, mengusap air mata lega di sudut matanya. "Semuanya sudah berakhir."

Reno menatap ke arah lanskap Kota Zurich di bawah sana kota yang kini aman dan tenang tanpa menyadari bahwa ratusan nyawa baru saja diselamatkan dari ambang kematian.

Sang detektif menggenggam jemari dr. Sara dengan erat, meresapi kehangatan murni dari manusia yang dicintainya.

"Ya, Sara," jawab Reno dengan senyuman hangat yang membaja. "Babak kegelapan telah selesai. Dan kini... fajar keadilan yang sejati telah terbit untuk VPCI."

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!