NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Matahari kian beranjak naik, memancarkan poros cahaya terik yang membiaskan debu-debu halus di udara kamar utama. Cahaya siang itu kini sepenuhnya menggusur nuansa remang-remang pagi, menerangi setiap sudut peraduan king-size yang masih menjadi saksi kekehadiran sang penguasa yang enggan beranjak.

Sudah tak terhitung berapa kali Aurora membujuk pria bertubuh tegap di dekapannya itu untuk bangun.

"Gabriel, ini sudah hampir tengah hari," bujuk Aurora lagi dengan nada lembut, jemarinya terus bergerak pelan mengusap rambut hitam tebal sang Don. "Kau belum sarapan sama sekali. Setidaknya mandilah terlebih dahulu, lalu kita makan siang bersama. Bi Mien pasti sudah menyiapkan hidangan di bawah."

Namun, respons yang didapat Aurora hanyalah gumaman berat yang malas. Gabriel sama sekali tidak bergeming. Kepala tebalnya masih tertanam nyaman di lekuk leher Aurora, menghirup aroma tubuh wanita itu bagaikan pecandu yang tak ingin kehabisan pasokan doosisnya. Setiap kali Aurora mencoba menggeser bahu kokohnya, lengan Gabriel yang penuh urat dan ukiran tato justru makin mengetat di pinggangnya, mengunci tubuh kecil Aurora agar tetap berbaring sejajar bersamanya.

"Gabriel..." hembusan napas lelah lolos dari bibir Aurora.

Aurora akhirnya menyerah. Menghadapi keras kepalanya sang raja mafia yang sedang merajuk bagaikan anak kecil ini tidak akan ada habisnya. Ia memilih untuk membiarkan tubuhnya rileks, menyandarkan kepalanya di atas bantal sutra dan menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik bergaya Renaisans.

Di dalam keheningan yang menyelimuti kamar, pikiran Aurora kembali melayang pada rencana pelariannya. Paspor palsu atas nama identitas barunya diperkirakan akan selesai dalam kurun waktu lima hari ke depan. Dana rahasia yang ia kumpulkan dari penukaran aset di bank swasta independen sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya yang tenang di benua lain selama bertahun-tahun. Semuanya berjalan sesuai skenario yang rapat dan rapi. Ia hanya perlu bertahan sedikit lagi, terus memainkan peran sebagai selir yang penurut dan penuh kasih sayang, hingga momentum itu tiba.

Namun, di tengah lamunan dinginnya yang sarat akan kalkulasi pelarian, keheningan di atas peraduan itu mendadak pecah.

Gabriel menggeser posisi tubuhnya secara perlahan. Pria itu mengangkat kepalanya dari leher Aurora, menopang berat tubuh besarnya dengan satu siku di samping dada wanita itu.

Matanya yang kelam menatap lurus ke dalam manik mata Aurora. Tidak ada lagi sisa-sisa kemanjaan anak kecil seperti tadi pagi. Tatapan Gabriel kini berubah menjadi sangat dalam, pekat, dan sarat akan sebuah intensitas yang belum pernah Aurora lihat sebelumnya sebuah tatapan yang memancarkan tekad mutlak yang mengunci kesadaran Aurora seketika.

Perlahan, tangan kanan Gabriel yang besar dan hangat terulur turun.

Jemari kasarnya yang dipenuhi bekas luka pertempuran merayap perlahan menyusuri gaun tidur sutra yang dikenakan Aurora, melewati lekuk pinggangnya, lalu berhenti tepat di atas perut rata wanita itu.

Gabriel melingkarkan telapak tangannya di sana, mengelus perut rata Aurora dengan gerakan melingkar yang sangat lembut, seolah-olah di balik kulit halus itu sudah bersemayam sebuah keajaiban yang teramat berharga.

"Hari ini..." suara Gabriel berbariton rendah, serak, dan bergetar oleh kepemilikan yang teramat dalam, "kita harus membuat pewaris tahtaku di sini."

Deg.

Demi apa pun di dunia ini, darah di dalam tubuh Aurora mendadak berhenti mengalir.

Sebuah kejutan hebat menghantam kesadarannya bagaikan sambaran petir di siang bolong. Matanya terbelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh sendi di tubuhnya seketika menjadi kaku bagai batu. Pikirannya yang biasanya bekerja sangat cepat dan penuh perhitungan mendadak hening total, mengalami korsleting akibat kata-kata yang baru saja meluncur dari bibir sang Don.

Pewaris tahta?!

Gema kata-kata itu membentur dinding-dinding kepalanya dengan gaung yang sangat menakutkan.

"Ga... Gabriel?" bisik Aurora dengan suara yang bergetar hebat, tak sanggup menyembunyikan rasa syok yang melingkupi raut wajahnya. "Apa... apa yang baru saja kau katakan?"

Gabriel tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Jemarinya terus mengelus perut rata Aurora dengan kelembutan yang menyiksa, seolah memberikan stempel kepemilikan abadi atas rahim wanita itu. Sebuah senyuman tipis senyuman yang mencampurkan kehangatan murni dan kegilaan obsesi terukir di wajah tampannya.

"Aku menginginkan anak darimu, Aurora," tegas Gabriel tanpa ragu, suaranya terdengar begitu pasti dan tak terhentikan. "Seorang putra atau putri yang membawa darah Moretti dan kecantikanmu. Seorang pewaris yang akan meneruskan seluruh kekuasaan, darah, dan takhtaku di dunia bawah ini."

Ia membungkuk mendekat, menekan dahinya ke dahi Aurora hingga hembusan napas hangat mereka saling beradu rapat.

"Aku sudah lelah bertempur di luar sana sendirian," lanjut Gabriel lirih, nada suaranya berubah menjadi pengakuan yang begitu emosional. "Selama berminggu-minggu di negara sebelah, di tengah darah dan pengkhianatan musuh, aku menyadari satu hal... aku tidak hanya membutuhkanmu sebagai wanita di peraduanku. Aku membutuhkanmu untuk mengikat hidupmu sepenuhnya denganku. Dengan adanya benihku di dalam rahimmu... kau tidak akan pernah bisa pergi dariku. Kita akan menjadi keluarga yang utuh."

Setiap patah kata yang diucapkan Gabriel terasa bagaikan rantai besi raksasa yang dililitkan rapat-rapat mengelilingi leher Aurora.

Dunia Aurora terasa runtuh dalam seketika.

Pria ini tidak sedang bercanda. Gabriel tidak sedang meracau dalam buaian gairah biasa. Penguasa mafia ini sedang merencanakan tindakan paling mematikan untuk mengunci kebebasannya secara permanen. Gabriel ingin menanamkan benih kekuasaannya di dalam tubuh Aurora sebuah ikatan darah yang tak akan pernah bisa diputus oleh paspor palsu, uang simpanan, atau pelarian ke ujung dunia mana pun.

Jika Aurora sampai hamil... jika rahimnya sampai terisi oleh darah keturunan Moretti... maka seluruh rencana pelarian yang telah ia bangun dengan menumpahkan air mata dan sandiwara berdarah dingin selama bertahun-tahun akan hancur berantakan tanpa sisa. Seorang anak akan menjadi jangkar abadi yang menambatnya di dalam sangkar emas ini selamanya.

Rasa takut yang luar biasa rasa takut yang jauh lebih mengerikan daripada ancaman penyiksaan fisik merebak cepat membanjiri aliran darah Aurora. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dadanya terasa sakit menahan guncangan.

Namun, di tengah kepanikan yang membakar jiwanya, naluri bertahan hidup Aurora yang tajam memaksanya untuk tetap berdiri tegak di atas panggung sandiwara.

Ia tidak boleh menunjukkan penolakan yang keras. Jika ia menolak atau memperlihatkan ketakutan akan kehamilan ini secara terang-terangan, Gabriel yang gila kontrol itu akan langsung mencurigai niatnya dan membongkar seluruh skenario pelarian yang sudah di ambang pintu keberhasilan.

Aurora memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menekan getaran di dadanya. Ketika ia kembali membuka mata, ia memaksa bibirnya untuk membentuk sebuah ukiran senyuman tipis sebuah senyuman yang tampak sangat malu-malu dan tersipu, padahal di dalam hatinya ia sedang menjerit histeris.

"Gabriel..." jemari Aurora yang agak gemetar terangkat, mengusap rahang kokoh Gabriel secara perlahan. "Kau... kau mengejutkanku. Aku tidak pernah berpikir bahwa seorang Don sepertimu ingin memiliki anak dariku..."

Gabriel mengecup telapak tangan Aurora yang berada di pipinya, matanya berbinar oleh pemandangan reaksi wanita di bawahnya. "Aku hanya menginginkannya darimu, Aurora. Hanya dirimu."

"Tapi... apakah ini tidak terlalu cepat?" bisik Aurora lagi dengan suara yang dibuat sehalus mungkin, mencoba mencari cela untuk menunda takdir menakutkan ini. "Tubuhku... aku baru saja sembuh total dari luka-luka masa lalu. Apakah tidak lebih baik jika kita menunggunya sedikit lebih lama?"

Gabriel tersenyum gelap, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada lagi kata menunggu, Cara mia."

Tangan Gabriel yang mengelus perut Aurora perlahan merayap naik, mencengkeram pinggul wanita itu dengan kehangatan yang mulai membara oleh gairah yang tak terhentikan. Tatapan mata sang Don kembali berubah menjadi redup dan sarat akan tuntutan mutlak.

"Hari ini... di bawah sinar matahari siang ini... aku akan memastikan benih itu tertanam di dalam tubuhmu," bisik Gabriel serak di bibir Aurora.

Sebelum Aurora sempat meracik alasan lain di dalam kepalanya, Gabriel telah menunduk dan mengunci bibirnya dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, dominan, dan panas.

Di bawah peraduan yang kini berubah menjadi medan pertempuran takdir, Aurora memejamkan mata rapat-rapat. Ia membalas ciuman pria itu seraya merasakan jari-jemari Gabriel yang mulai menanggalkan pakaiannya.

Di dalam kegelapan batinnya yang paling dalam, Aurora menjerit dalam doa yang keputusasaan: ia harus mempercepat rencana pelariannya. Waktunya tidak lagi lima hari. Ia harus keluar dari puri ini secepat mungkin sebelum iblis yang sedang melumat tubuhnya berhasil menanamkan ikatan darah yang akan memenjarakannya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!